
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore saat Erina terbangun. Dilihatnya suasana kamar yang temaram dan hening. Hanya terdengar dengkuran halus yang keluar dari mulut Daffa. Untunglah Daffa menempati ruang VIP, sehingga Erina bisa dengan nyaman merebahkan diri di sofa bed yang tersedia. Erina bangun dan menuju kamar mandi.
"Sayang, apa nggak sebaiknya kita ceritakan yang sebenarnya pada Erina?" Terdengar Mira berkata pada Irwan. Sepertinya mereka baru datang. Erina yang hendak keluar kamar mandi langsung menahan langkahnya untuk mendengar lebih banyak
"Biarkan Daffa yang menceritakan langsung kepada Erina kalau memang dirasa perlu."
"Tapi sayang. aku takut gadis ini meninggalkan dan membatalkan rencana pernikahan mereka."
"Kalau memang begitu yang terjadi kita nggak bisa berbuat apapun."
"Kasihan Daffa kalau pernikahan ini gagal. Kamu lihat sendiri kan betapa bahagianya dia saat bersama Erina."
"Aku tahu, tapi kalau dia nggak bisa menerima kenyataan yang ada dan lebih memilih meninggalkan anak kita mau bagaimana lagi."
"Makanya kita ceritakan saja yang sebenarnya pada Erina sebelum dia mengetahuinya dari orang lain."
"Sebaiknya Daffa yang menceritakan hal tersebut pada Erina. Kalau memang dia serius ingin memulai hidup dengan gadis itu, dia harus bisa jujur dan terbuka."
Sejenak tak terdengar lagi percakapan antara Irwan dan Mira. Erina masih menahan diri di dalam kamar mandi. Ia masih ingin mendengar lebih banyak lagi.
"Sayang, kita ke ruangan Aidin dulu yuk. Sekalian kita tanya gimana kondisi Daffa," ajak Mira.
"Ayo. Daffa juga sedang istirahat. Sekalian aku mau bertemu dengan Mas Guntoro. Kemarin dia bilang mau membicarakan mengenai perluasan rumah sakit ini."
Rumah sakit? Apakah ini rumah sakit milik keluarga Hermawanto? tanya Erina dalam hati. Wow, dibalik kesederhanaannya ternyata keluarga Daffa bukan keluarga sembarangan, puji Erina. Hmm.. apakah aku pantas bersanding dengan putra kesayangan Irwan Hermawanto. Erina mulai meragu.
Sang daddy memang seorang CEO perusahaan kontraktor. Namun perusahaan mereka tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan konglomerat seperti Hermawanto. Gedung Prince hanya salah satu gedung yang mereka miliki. Masih ada beberapa apartemen dan bisnis yang dimiliki oleh keluarga ini. Dan sekarang, rumah sakit. Sebanyak apa kekayaan yang dimiliki keluarga ini, batin Erina.
Setelah menunggu beberapa saat dan meyakini kedua orang tua Daffa telah keluar kamar, barulah Erina keluar dari kamar mandi. Ia duduk di sofa. Dipandangnya Daffa yang masih terlelap. Ada rahasia besar apa dalam hidup pria ini? Kenapa sampai saat ini dia tak juga menceritakannya padaku. Lalu bagaimana dengan surat kaleng yang pernah kuterima? Siapa Honey? Apakah sebaiknya kuceritakan padanya mengenai surat kaleng yang kuterima? Batin Erina dipenuhi berbagai pertanyaan.
"Lho, ada Erin?" Mira terlihat terkejut saat memasuki ruang perawatan. "Kamu sudah dari tadi?"
"Oh, Erin baru balik dari cafetaria," jawab Erina cepat agar kedua calon mertuanya tak mengetahui kalau tadi ia mencuri dengar percakapan mereka. Wajah Mira terlihat lega mendengar jawaban Erina.
"Kamu dari tadi belum pulang?" tanya Irwan.
__ADS_1
"Belum om. Kasihan Daffa kalau ditinggal sendiri."
"Maaf ya, tadinya tante pikir bisa cepat kembali ke sini. Nggak taunya Rinda tadi minta ditemani bertemu dokter kandungannya. Kebetulan Boy nggak bisa menemani."
"Iya nggak papa tante. Kebetulan Erin juga sudah ijin kalau hari ini mau menemani Daffa." Erina memamerkan senyum lebarnya.
"Rin, apakah kalian nggak ada rencana segera menikah?" tanya Irwan tiba-tiba. "Kalian kan sudah tunangan. Tunggu apalagi?"
Mampus gue, keluh Erina. Gue musti jawab apa? Masa gue harus bilang kalau gue nunggu anak mereka menyatakan perasaan cintanya ke gue. Padahal dari awal gue sudah bilang cinta nggak penting buat kami. Apa gue bilang aja ya kalau mau cari rumah dulu? Tapi kalau tau-tau disuruh menempati apartemen yang mereka punya gimana? Atau sebaiknya gue tanyakan kepada mereka tentang masa lalu Daffa?
"Sayang," Terdengar suara Daffa yang baru bangun tidur. Fiuuuh... save by the bell. Erina bergegas menghampiri Daffa.
"Kenapa Daf?"
"Aku mau buang air kecil. Bisa bantu aku ke kamar mandi?" Apa?! Buang air kecil? Oh my god... no no no.. masa gue harus menodai mata suci gue dengan... Otak Erina traveling kemana-mana.
"Kata Aidin, kamu nggak boleh turun dari tempat tidur. Kalau mau buang air kecil pakai pispot saja." Mira bergegas mengambil pispot yang ada di bawah tempat tidur. "Lagian kamu tuh gimana sih, masa ke kamar mandi minta temenin Erin. Belum halal mas."
Daffa tersenyum kikuk mendengar omelan sang bunda. "Lupa bun."
Syukurlah mata gue tidak ternoda. Bayangin aja kalau kami cuma berdua dan si Daffa kebelet buang air kecil. Masa harus gue yang.... hiii.. Erina bergidik geli.
⭐⭐⭐⭐
Erina terlihat tak konsentrasi saat mengikuti meeting dengan klien. Matanya menatap report yang ada di depannya namun pikirannya berkelana. Ia masih teringat percakapan orang tua Daffa. Masa lalu seperti apakah yang selama ini disembunyikan oleh Daffa. Memang sih kami berdua sepakat tidak akan mempermasalahkan hal tersebut namun separah apa masa lalu itu, batin Erina. Apakah ada hubunganngannya dengan surat kaleng yang kuterima.
Sikap Erina yang tidak seperti biasanya tak luput dari pengamatan Andrew. Hmm.. apakah Erina sangat mengkhawatirkan calon suaminya sehingga terlihat tidak konsentrasi, pikir Andrew.
"Ya demikianlah pertemuan kita hari ini. Semoga ke depannya proyek ini bisa berjalan dengan lancar. Demikian juga dengan pembayarannya. Bukan demikian?" Pertemuan ditutup dengan sedikit joke dari anak buah Andrew.
"Rin, I wanna talk to you after this okay? Let's have lunch together."
"Okay dad."
"Tell me what happened? Apakah kondisi Daffa parah?" Tanpa basa basi Andrew langsung bertanya saat mereka menunggu hidangan disajikan.
__ADS_1
"What? Daffa? He's getting better dad."
"Lalu kenapa kamu terlihat tidak fokus saat meeting tadi? Bahkan kamu terlihat tidak siap saat klien bertanya. It's not Erin that I know."
"I don't know dad. I have a lot in my mind."
"About what? Marriage?"
"Itu salah satunya dad."
"Kamu ragu menikah dengan Daffa?" Erina terdiam mendengar pertanyaan itu.
"I'm not sure about many things."
"Do you wanna cancel the plan? Masih belum terlambat untuk itu."
"Tapi kami sudah bertunangan."
"Have you discussed with him?" Erina menggeleng.
"Dad, what do you thing about someone past?"
"Depend. Is it good or bad. Will it bother you or not. Is it about his past?"
"I guess so. Erin bingung."
"Tanyakan langsung pada Daffa. Jangan berasumsi tanpa memiliki bukti apapun." Apakah sikapku salah sementara ada surat kaleng yang kuterima, seseorang bernama Honey yang tersimpan di ponsel Daffa serta frekuensi ke London yang menurutku terlalu sering.
"Dad, mungkinkah seorang pembunuh bertaubat?"
"What do you mean? A killer? He's a killer?" tanya Andrew tak percaya lalu tergelak. "It's impossible dear. Daffa is a kind person. Bahkan seekor lalatpun takkan sanggup ia bunuh. Lagipula daddy kenal dengan keluarganya. Tak pernah ada sejarah pembunuhan dalam keluarga mereka. You're so funny."
"But dad..."
"Setelah dia sembuh, bicarakan hal ini. Bicarakan semua kegalauanmu. Bila kalian serius ingin menikah, maka selesaikan dulu segala permasalahan yang ada. Jangan sampai permasalahan itu menjadi duri dalam hubungan kalian."
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐