
Erina membuka mata. Ia memandang sekelilingnya. Dimana ini? Butuh waktu beberapa saat untuk menyadari saat ini ia berada di rumah sakit. Dilihatnya jam yang terpasang di dinding menunjukkan pukul 5. Ah, sudah pagi rupanya. Erina melihat ke sampingnya. Dilihatnya Ardian tertidur sambil duduk di kursi. Tangannya dijadikan bantal. Erina menatap Ardian. Berbagai perasaan berkecamuk di dadanya.
Di, kenapa hubungan kita jadi seperti ini? Kenapa elo memaksakan pernikahan ini padahal elo tau gue nggak cinta sama elo. Seandainya saja nggak ada kejadian itu, hubungan kita pasti masih baik-baik saja. Gue butuh elo sebagai sahabat gue yang dulu, batin Erina. Perlahan tangannya terangkat ingin mengelus kepala Ardian namun ia urungkan saat dilihatnya kepala Ardian bergerak sambil mengerang. Pasti badannya pegal-pegal karena semalaman tidur seperti itu.
"Hmmmm... kamu sudah bangun?" tanya Ardian setelah ia menggeliat menggerakkan ototnya yang kaku.
"Sudah."
"Bagaimana kondisimu pagi ini? Perutnya masih sakit? Kepalanya pusing nggak? Kamu mau minum? Atau mau ke kamar mandi?" tanya Ardian lembut.
"I'm fine," jawab Erina singkat. "Gue cuma mau ke kamar mandi. Sudah jam 5."
"Aku gendong ya?"
"Gue masih bisa jalan sendiri. Yang sakit kepala gue, bukan kaki." Tapi Erina tak menolak saat Ardian mengulurkan tangan untuk membantunya turun dari tempat tidur. "Thanks."
Tak lama keduanya sudah selesai shalat subuh. Erina kali ini memilih tak protes saat Ardian mengangkat tubuhnya ke atas ranjang rumah sakit.
"Kapan gue boleh pulang?"
"Tunggu dokter visit ya. Kalau sampai dokter visit nanti tidak ada keluhan, mungkin kamu boleh pulang," jawab Ardian sambil merapikan selimut untuk menutupi tubuh Erina.
"Lapar," ucap Erina pelan.
"Apa yang?" tanya Ardian sambil mendekatkan wajahnya.
"Ngapain dekat-dekat?" Erina balik bertanya dengan curiga.
"Aku cuma mau tanya kamu bilang apa."
"Aku lapar." Ardian menahan senyum mendengar ucapan Erina.
"Kamu dan anak-anak mau makan apa?"
"Sok perhatian."
"Aku bukan sok perhatian tapi aku benar-benar perhatian. Kamu istriku, yang berada di dalam rahimmu adalah anak-anakku. Sudah menjadi kewajibanku untuk memperhatikan kalian," Ardian mengelus lembut kepala Erina. Entah malaikat mana yang berada di dekat Erina, pagi itu dia tak marah walaupun tetap cemberut.
"Lebay." Ardian tak membalas ucapan Erina. Hatinya terlalu bahagia karena Erina tak menghindar saat dielus kepalanya.
__ADS_1
"Mau bubur manado buatan mama Amel? Atau risotto buatan mommy?" tanya Ardian lagi.
"Bubur ayam depan rumah sakit," jawab Erina.
"Darimana kamu tahu ada tukang bubur ayam di depan rumah sakit ini?" tanya Ardian heran.
"Ini tempat Daffa dulu dirawat." Ardian memperhatikan nama rumah sakitnya dan barulah ia menyadari hal tersebut. Wajah Ardian langsung menggelap ketika menyadarinya.
"Nanti saat dokter visit, kita minta surat untuk dirawat di rumah sakit lain."
"Kenapa?"
"Karena ini rumah sakit milik keluarga Daffa. Apakah kamu nggak khawatir bertemu dengan pria itu ataupun keluarganya?"
"Kenapa gue harus khawatir? Gue tak melakukan kesalahan. Gue hanya memutuskan pertunangan kami. Daffa juga sudah menerima hal itu."
Aku nggak mau dia merebutmu dariku, batin Ardian. Apalagi kalau dia sampai merebut anak-anakku. Terus terang saja Ardian masih memiliki kekhawatiran Erina memilih kembali dengan Daffa. Walaupun saat ini mereka terikat dalam pernikahan, bukan berarti hubungannya dengan Erina baik-baik saja.
"Ooh .... Rin, aku beli bubur ayam dulu ya." Ardian memilih menghindari Erina pagi ini agar istrinya tak tahu perasaannya.
"Sambalnya yang banyak. Jangan lupa, nggak pakai seledri dan bawang goreng. Oh iya, kerupuknya juga minta yang banyak ya," seru Erina. Ardian hanya mengangguk.
Daffa : 'Bagaimana keadaanmu? Semalam sampai rumah dengan selamat kan? Tolong kabari aku kapan kita bisa bertemu. Ada yang ingin kutanyakan.'
Erina hanya membaca pesan tersebut. Ia teringat semalam bertemu secara tak sengaja dengan Daffa di club. Pertemuan yang berakhir dengan makan malam bertiga di resto Sunda. Sepanjang makan malam itu ia tak banyak berbicara dengan Daffa. Ia hanya menjawab singkat pertanyaan dari Daffa. Ia tahu Daffa terkejut melihat dirinya yang berbadan dua, namun pria itu tak menanyakan apapun. Berkali-kali pria itu berusaha menggiring percakapan ke arah putusnya pertunangan mereka, namun dengan lihainya Alexia berhasil mengalihkan ke topik yang lain. Setelah pulang, Erina tak mengingat apapun kecuali kepalanya sakit akibat terbentur jendela mobil.
Masuk lagi notifikasi pesan. Pasti itu Daffa lagi, pikir Erina. Ia melirik nomor pengirim pesan. Walaupun ia belum menyimpan nomor tersebut, ia tahu itu sama dengan pengirim pesan sebelumnya.
Daffa : Rin, semalam kamu kecelakaan? Bagaimana kondisi kamu? Perutmu nggak apa-apa kan?
Kenapa dia masih mencemaskanku padahal ia tahu kini aku hamil anak lelaki lain. Akhirnya jari jemari Erina mengetik untuk membalas pesan dari Daffa.
Erina : I'm fine.
Daffa : Sebentar lagi aku sampai. Tadi dek Arini yang mengabariku kalau tadi malam kamu masuk IGD.
Dek Arini? Siapa itu? Erina lupa bahwa ia pernah berkenalan dengan dokter Arini. Doker muda yang mengambil darah saat Daffa dirawat di rumah sakit itu. Wah, ngapain Daffa kesini? Bagaimana kalau mereka bertemu disini? Apa yang akan terjadi? Selama ini Erina berusaha menghindari percakapan mengenai hubungan segitiga mereka.
Baru saja Erina meletakkan ponselnya, Ardian masuk bersama Daffa. Apa?! Daffa sudah tiba disini? Gawat, kenapa mereka bisa barengan?
__ADS_1
"Rin, kamu nggak apa-apa?" Daffa langsung mendekati tempat tidur Erina dan meraih tangan gadis itu dan mengecupnya. Sebelah tangannya mengelus mesra kepala Erina.
Ardian yang melihat hal itu hanya diam saja. Ia malah sibuk menyiapkan sarapan Erina. Lalu ia membuat teh hangat untuk dirinya dan Erina. Beda dengan Erina yang terlihat bingung, tak tahu harus bersikap seperti apa saat Daffa bersikap mesra kepada dirinya. Diliriknya Ardian yang terlihat cuek. Apakah ia melihat apa yang barusan Daffa lakukan? Kenapa sepertinya ia tak peduli? Berbagai pertanyaan muncul di benak Erina.
"I'm okay."
"Rin, sarapan dulu." Ardian meletakkan bubur yang baru dibelinya di hadapan Erina. "Sesuai request."
"Lho, kamu kan lagi sakit sayang. Memangnya pihak rumah sakit belum mengirim sarapan? Apakah makanan disini tidak sesuai seleramu? Apa aku perlu memesan ke bagian dapur makanan khusus untukmu? Kamu mau apa, bubur ayam, bubur kacang hijau, bubur sumsum, steak, atau yang lainnya? Kamu bilang aja, mereka pasti akan menyediakannya."
"Nggak usah, aku lagi kepengen makan bubur ayam ini," potong Erina cepat.
Gaya bicaranya saat bersama Daffa lebih formal daripada saat bersamaku, batin Ardian. Ia berusaha menahan rasa sakit yang dirasakannya saat ini. Ah, aku lupa. Aku hanyalah sahabatnya, yang kebetulan menjadi suami dan ayah anak-anaknya. Seseorang yang tak dicintai oleh Erina. Seseorang yang telah merusak hidup sahabatnya sendiri.
"Mau aku suapi?" tanya Daffa lembut. Ardian menatap tajam ke arah tangan Daffa yang sepertinya tak ingin melepas tangan Erina.
"Nggak usah disuapin. Kepalanya yang kepentok, tangan dan kaki dia baik-baik saja," potong Ardian dengan nada ketus. "Iya kan?"
"Eh, iya. Tanganku baik-baik saja. Biar aku makan sendiri, Daf." Kenapa nada bicaramu bisa begitu lembut padanya, bisik hati Ardian tak suka.
"Nggak papa. Sini aku suapi. Waktu aku sakit, kamu yang sibuk urusin aku. Sekarang biarkan aku yang mengurusmu."
"Nggak perlu. Ada gue yang akan urusin Erin," ucap Ardian seraya mengambil sendok dari tangan Daffa.
"Di, gue bisa makan sendiri," desis Erina kesal.
"Aku yang akan urusin kamu. Bukan orang lain," ucap Ardian lembut namun tetap terdengar tegas sehingga membuat Erina enggan membantahnya.
"Siapa elo sehingga merasa berhak urusin Erina? Gue tau elo sahabat baiknya, tapi gue calon suami Erina," ucap Daffa tak terima.
"Mantan calon suami lebih tepatnya." ucap Ardian membenarkan dengan nada sinis.
"Gue akan memperjuangkan cinta dan kepercayaan Erin lagi," balas Daffa dengan nada yakin. "Gue saranin, sebagai sahabat Erina sebaiknya elo mendukung kebahagiaan dia."
"Elo perlu tahu satu hal. Gue ini su....."
"Kalian mau terus berdebat? Gue mau makan, Di. Oh ya Daf, aku bisa kok makan sendiri. Thanks anyway," potong Erina sebelum Ardian menyelesaikan ucapannya.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1