TAKLUK

TAKLUK
DIPAKSA


__ADS_3

Ardian duduk bersandar di mobil. Meeting berjalan lancar. Kini ia dalam perjalanan pulang. Tadi setelah shalat dzuhur ia sempat menghubungi Erina namun tak diangkat. Lalu ia menghubungi bi Imas dan diberitahu kalau Erina sedang tidur siang.


"Bang, kita mampir ke tempat oleh-oleh dulu ya."


"Baik den."


Setelah membeli oleh-oleh, Ardian melihat gerobak seblak yang ramai didatangi pembeli. Hmm.. pasti seblaknya enak nih, pikir Ardian. Lalu ia membelinya untuk Erina.


"Bang Kardi, nanti kita langsung ke rumah Erin ya," perintah Ardian.


"Siap den. Malam ini den Ardi menginap lagi di rumah non Erin?"


"Iya bang."


"Den.. maaf ya den kalau saya lancang. Den Ardi dan non Erin kan belum menikah, kayaknya kurang bagus deh kalau den Ardi keseringan menginap disitu. Khawatir disenggol setan, den."


"Justru saya lagi berusaha membujuk dia supaya mau menikah dengan saya. Lagipula orang tuanya yang menyuruh saya menjaga non Erin."


"Memangnya non Erin lagi sakit?"


"Iya bang, sedang kurang sehat. Bang, saya tidur dulu ya." Ardian langsung memejamkan mata menghindari pertanyaan lebih lanjut dari bang Kardi.


Untunglah traffic hari itu cukup bersahabat. Jam setengah tujuh malam Ardian sudah sampai di rumah Erina.


"Bang, nanti minta tolong sampaikan ke mama Amel untuk kirimin baju ya. Pakai ojek online aja kirimnya, biar bang Kardi bisa istirahat."


"Siap bos."


Erina sedang melipat mukena saat Ardian masuk ke kamarnya.


"Baru selesai shalat sayang?"


"Iyalah. Masa baru selesai main congklak," sahut Erina judes. Ardian berjalan mendekati Erina. "Stop! Elo bau! Sana mandi dulu!"


Tanpa membantah Ardian menuruti perintah Erina. Setelah mandi, dengan hanya mengenakan celana panjang Ardian keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih terlihat basah.


"Kenapa nggak pakai baju?"


"Kan tadi disuruh cepat-cepat mandi. Gue pinjam kaos lo ya." Erina tak menyahut.


"Elo ngapain kesini lagi?" tanya Erina.


"Ya nemenin elo lah. Orang tua lo kan baru besok balik ke rumah."


"Di, gue mau tanya sesuatu."


"Apaan?"


"Semalam apa yang terjadi?"


"Nggak ada apa-apa. Gue shalat dulu ya. Khawatir keburu Isya."


Erina menunggu hingga Ardian selesai shalat.

__ADS_1


"Jelasin apa maksud omongan lo tadi pagi!"


"Elo sudah makan malam?"


"Belum," jawab Erina.


"Kenapa belum? Masih muntah nggak? Sudah minum vitamin?"


"Nggak usah nanya melulu! Jelasin sama gue apa yang semalam terjadi!"


"Yang mana? Yang elo cium gue? Atau yang elo ngelindur minta ditemenin?" tanya Ardian sambil mendudukan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Apa maksud lo gue mencium elo? Nggak usah mengada-ada deh. Lagian siapa juga yang suka ngelindur."


"Semalam setelah elo tidur, gue berniat tidur di kamar tamu. Sebelumnya gue mencium kening lo. Pas gue mau berdiri, tiba-tiba elo menarik gue sampai gue hampir menimpa tubuh lo dan elo mencium gue. Setelah itu elo ngelindur dan nggak ngebolehin gue ninggalin elo. Semalaman lengan gue lo pegangin dan lo peluk. Gue mau tarik tangan takut elo bangun. Mau tidur di samping elo juga nggak mungkin karena elo tidurnya minggir banget. Terpaksalah semalaman gue tidur di kursi dengan satu lengan terentang."


Erina memandang Ardian tak percaya.


"Kalau nggak percaya, tanya aja sama bi Imas. Semalam jam 3an dia kesini ngecek keadaan lo."


Berarti Ardian dan bi Imas nggak bohong. Atau jangan-jangan mereka sekongkol buat ngebohongin gue?


"Gue bawain oleh-oleh buat elo. Gue nggak tau apa yang lo mau jadi gue beli aja semua yang kira-kira lo doyan."


"Thanks," jawab Erin singkat.


"Makan malam dulu yuk," ajak Ardian."Gue dengar tadi siang bi Imas masak sop iga."


"Makan yang banyak, biar elo dan anak-anak kita sehat," ucap Ardian sambil menyiapkan piring untuk Erina.


"Anak-anak? Anak mbak Erin kembar?" tanya mbok Siti dan bi Imas kaget. Keduanya tampak bahagia mendengar berita tersebut. "Laki-laki atau perempuan den?"


"Belum keliatan, bi."


"Ya Allah bibi senang banget dengarnya. Akhirnya rumah ini akan ramai dengan suara bayi."


"Ayo makan." Erina tak bergeming.


"Kenyang."


"Non Erin kan tadi siang makan nasinya sedikit, padahal bibi sudah masakin pesanan non Erin. Malahan non Erin lebih banyak makan rujak," adu bi Imas. Sementara itu mbok Siti yang berdiri di samping bi Imas manggut-manggut.


"Makan nasinya yang banyak dong Rin. Jangan makan rujak dan seblak aja. Kalau begitu seblak ceker yang gue bawa dari Bandung buat mbok Siti dan bi Imas saja deh. Lumayan bi, seblaknya ngetop di Bandung. Seblak viral."


Mata Erin berbinar mendengar kata seblak. Seblak ceker asli dari Bandung. Pasti enak banget.


"Kok gitu? Nggak niat ya bawain oleh-olehnya?" Erina merajuk.


"Makanya makan nasi dulu biar perutnya nggak sakit kalau nanti makan seblak. Gue suapin ya."


Untunglah kali ini Erina kembali menuruti permintaan Ardian. Akhirnya mereka makan sepiring berdua. Hebatnya lagi Erina bahkan minta tambah sepiring lagi. Bi Imas dan mbok Siti seakan tak percaya menyaksikan Erina makan dengan lahap. Tadi siang Erina hanya makan setengah piring. Itupun tak habis. Tapi malam ini semuanya berbeda. Apakah itu karena kehadiran dan ketelatenan Ardian?


"Mana seblaknya?" tanya Erina.

__ADS_1


"Memang masih kuat makan lagi?" tanya Ardian tak percaya. Erina mengangguk. "Biar dipanasin dulu sama bi Imas ya. Sekalian perut lo istirahat dulu. Tadi kan makannya banyak."


"Gue masih lapar."


Tak lama seblak telah terhidang di hadapan mereka.


"Suapin."


"Makan berdua lagi?"


"Nggak. Elo nyuapin aja."


Dengan telaten Ardian menyuapi Erina yang makan dengan tenang sambil bermain ponsel. Ardian heran bagaimana mungkin Erina tidak kepedesan. Padahal tadi saat dihangatkan, bau pedasnya sangat menyengat.


"Pedas nggak?"


"Nggak," jawab Erina santai.


"Serius?" Erina mengangguk. Karena penasaran Ardian mencicipi seujung sendok. Tidak pakai lama, wajah Ardian memerah karena kepedesan.


"Ssshhhh... elo gila ya! Rasanya kayak makan api lo bilang nggak pedas?! Ssshhh aaaah... ssshhh aaah .... Mbok tolong ambilin susu kotak dong di kulkas!"


Setelah menghabiskan dua kotak susu UHT barulah Ardian berhasil menghilangkan rasa pedas tersebut.


"Kenapa sih lebay banget!"


"Gue bingung, saraf pedas lo mati kali ya? Makanan segitu pedasnya lo bilang nggak pedas. Ini aja gue masih bisa ngerasain sisa-sisa pedasnya. Padahal sudah minum 2 kotak susu UHT."


"Elonya aja cemen. Sudah ah, gue kenyang."


"Sedikit lagi Rin, nanggung kalau nggak dihabisini. Paling 2 sampai 3 sendok lagi."


"Ya sudah elo aja yang habisin."


"Hah?! Gue yang musti habisin seblak dari neraka? Lo pengen gue masuk UGD?" tanya Ardian tak percaya sekaligus ngeri. "Tadi gue nyicip sedikit aja sudah kepedesan. Apalagi disuruh ngabisin. Mana gue sanggup."


"Katanya elo siap menuruti keinginan anak-anak lo. Dan mereka mau pipinya ngabisin seblak," ucap Erina dengan nada manis merayu namun dengan senyuman licik. "Kalau makan sedikit memang kerasa pedas banget, kalau makan banyak nggak kerasa kok."


"Tapi rin ...."


"Ternyata ayah kalian suka berbohong." Erina berbicara sambil mengelus perutnya.


"Oke, oke... gue akan habisin. Demi elo dan anak-anak." Ardian akhirnya menyerah.


Sementara itu bi Imas dan mbok Siti memperhatikan dengan prihatin sekaligus mau tertawa. Sabar ya den Ardi.


Setelah membaca doa, akhirnya Ardian memakan seblak yang tersisa. Rasa pedas dan panas langsung menyerangnya. Wajah dan bibirnya memerah. Matanya berkaca-kaca menahan pedas dan keringat mulai keluar di dahinya. Erina memperhatikan itu semua. Ia berusaha menahan wajah datar padahal ia ingin tertawa. Ardian berusaha melawan rasa pedas itu dan akhirnya setelah beberapa saat ia mampu menghabiskan makanan tersebut.


Erina tertawa ngakak melihat Ardian megap-megap kepedasan. Bi Imas dan mbok Siti sekuat tenaga menahan tawa mereka. Mbok Siti membawakan 2 kotak susu UHT untuk diminum Ardian.


Setelah mentertawakan Ardian, dengan santai Erina meninggalkan Ardian dan masuk ke dalam kamar.


⭐⭐😅⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2