TAKLUK

TAKLUK
LOVE = BLIND & STUPID


__ADS_3

"Mas, bagaimana hubunganmu dengan Erina? Bunda dengar, dia sudah kembali ke rumahnya."


"Daffa belum berhasil menghubungi dia, bun. Sepertinya nomor Daffa di blokir oleh Erin."


"Memangnya selama ini kak Erin kemana sih, mas?" tanya Rinda sambil menggendong bayinya. "Mas Daffa putus dengan kak Erin? Kenapa?"


"Dia nggak bisa menerima Honey dan anaknya."


"Ya ampun, mas Daffa juga aneh sih. Mana ada perempuan yang mau berbagi. Mas harus bisa memilih Honey atau kak Erin."


"Justru itu masalahnya Rin. Masmu ini sampai sekarang nggak bisa melepaskan Honey. Dia mau saja digelendotin sama cewek bule itu. Padahal kalau cuma urusan tanggung jawab kamu kan bisa mengirimkan sejumlah uang setiap bulannya untuk mereka."


"Daffa masih merasa bersalah, bun. Karena Daffa hidup Honey berantakan. Karena Daffa, Honey harus hidup sendiri."


"Bukannya dia punya saudara perempuan?" tanya Irwan.


"Memang benar dia punya saudara perempuan, tapi dia tidak tinggal di Inggris. Lagipula Daffa sudah berjanji akan bertanggung jawab selamanya."


"Kalau begitu kenapa tidak kamu nikahi saja si Honey itu? Toh, kalian juga sudah memiliki anak."


"Aku tidak mencintai dia, yah."


"Mas mencintai kak Erin?" tanya Rinda hati-hati. Daffa tak langsung menjawab. "Kok mas Daffa mikir sih? Apa itu artinya mas nggak yakin dengan perasaan mas Daffa terhadap kak Erin?"


"Bukan begitu Rin, mas hanya takut dengan perasaan ini."


"Kenapa takut?"


"Mas takut perasaan mas ke Erin terlalu besar, sementara dia tidak memiliki perasaan sebesar perasaanku."


"Apakah mas Daffa pernah menyatakan perasaan ke kak Erin?" Daffa mengangguk. "Lalu?"


"Dia sepertinya juga mencintaiku."


"Kalau memang dia juga mencintai mas Daffa, lalu kenapa mas Daffa menyerah begitu saja?" cecar Rinda. "Kenapa mas Daffa menerima begitu saja keputusan kak Erin, tanpa berusaha memperjuangkan cinta kalian? Itu artinya perasaan cinta mas Daffa tidak sebesar yang mas Dafa kira."


"Aku sangat mencintainya. Karena itulah aku memilih melepaskan dia. Mungkin kebahagiaannya memang bukan bersamaku. Aku akan


sangat bahagia bila dia bahagia."


"Jadi lagi-lagi kamu mengorbankan kebahagiaanmu sendiri?" tanya Irwan. Daffa hanya terdiam.

__ADS_1


"Mas, kenapa kamu tidak perjuangkan kembali cinta Erin?" tanya Mira.


"Daffa takut kecewa, bun."


"Kecewa adalah hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan ini. Dengan kekecewaan demi kekecewaan yang kamu alami, akan membuatmu menjadi lebih kuat," ucap Mira sambil mengusap lembut bahu Daffa.


"Daffa tahu mengenai itu. Tapi Daffa memang bersalah karena tidak jujur sejak awal kepada dia. Itu sebabnya Daffa tak memaksa Erin untuk kembali kepadaku. Selain itu aku juga tak bisa memungkiri kenyataan ada Chloe dan Honey dalam hidupku."


"Seharusnya mas Daffa terus berjuang demi cinta dan kebahagiaan mas Daffa."


⭐⭐⭐⭐


"C'mon Lex, tolong bujuk Erin supaya mau ketemu dengan gue."


"Mau ngapain nemuin dia? Mau ngebujuk dia biar mau kawin sama elo?"


"Iyalah. Mau ngapain lagi gue minta ketemu dengan Erin. Ya masa buat ngajak di sparing," jawab Ardian kesal.


"Di, kenapa sih Erin nggak mau ketemu sama elo?" tanya Raina yang hari itu berkesempatan hang out bersama para sahabatnya. Ya sejak melahirkan, Raina agak jarang ikut berkumpul.


Bukannya menjawab pertanyaan Raina, Alexia malah nyengir ke arah Ardian. "Elo kan memang mau ngajak dia jadi lawan sparing di kasur."


"Apa?! Sparing di kasur?!" tanya Raina dengan suara cukup keras sehingga membuat beberapa customer yang ada di resto tersebut menoleh ke arah mereka.


"Ya, gue kan kaget Lex. Sparing di kasur yang elo maksud adalah teman melakukan 'itu' kan?" tanya Raina hati-hati. "Maksud lo, Ardi mau ngajak Erin gituan? Waaah, kacau lo Di! Erin kan sudah punya tunangan. Masa iya elo mau ngajak dia gituan. Kalaupun belum punya tunangan, dosa melakukan itu karena kalian kan belum menikah. Makanya waktu gue usulin kalian menikah, seharusnya kalian terima usulan gue. Nggak ada salahnya kan sahabat menikah. Lebih seru malah. Lah ini, giliran Erin punya tunangan elo malah mau ajak dia mesum-mesuman. Memangnya elo nggak takut ditendang sama dia? Atau jangan-jangan selama ini kalian sudah FWB-an?"


Alexia dan Ardian tak menyela sedikitpun ucapan Raina.


"Sudah selesai ngomelnya?" tanya Alexia.


"Siapa yang ngomel? Gue kan cuma mengutarakan pendapat gue. Walaupun gue rada bloon, tapi gue tau mana yang boleh mana yang nggak boleh."


"Sejak jadi ibu, elo tambah cerewet ya!" omel Alexia.


"Sudah, sudah. Please bantuin gue," potong Ardian sebelum dua sahabat itu kembali bertengkar.


"Gimana gue harus bantu elo? Sejak Erin balik, dia nggak mau ketemu gue. Menurut dia, gue pengkhianat karena Raymond melaporkan kondisinya kepada Ardian. Dia juga marah karena aku membawa uncleAndrew dan aunty Yuna ke tempat persembunyiannya."


"Coba elo ceritain ke gue apa masalahnya. Siapa tau gue bisa bantu. Lagipula kenapa mendadak elo pengen ajak Erin kawin? Elo kan tau sendiri kalau dia sudah tunangan," ucap Raina. "Siapa tahu kalau gue yang ngomong, Erin mau menemui gue."


"Gue nggak yakin elo bisa."

__ADS_1


"Eit.. jangan meremehkan gue," ucap Raina sewot. "Lo ingat nggak, siapa yang dulu berhasil ngademin Erin, setelah dia ngancurin mobil Ardi."


Ardian dan Alexia hanya saling pandang. Memang, terkadang mereka melupakan hal itu. Raina dengan gaya polosnya berhasil membuat Erina dan Ardian berdamai bahkan menjadi sahabat.


"C'mon Di, ceritain ke gue apa yang terjadi antara elo dan Erin," bujuk Raina. Akhirnya setelah berpikir beberapa saat, Ardian pun menceritakan semuanya pada Raina, kecuali mengenai Daffa.


"Astaghfirullah... elo benar-benar gila ya, Di! Dia itu kan punya tunangan dan sebentar lagi mereka akan menikah. Kok bisa sih, elo merenggut kesucian sahabat lo? Elo tuh pintar dikit dong kalau mau main, pakai pengaman biar nggak sampai hamil."


"Malam itu mereka putus."


"Oh ya? Lo tau darimana? Kenapa mereka putus? Daffa selingkuh? Atau Erin yang selingkuh sama elo?" Raina membombardir Ardian dengan pertanyaan.


"Untuk masalah itu lo tanya sendiri sama Erin. Gue nggak akan cerita karena itu bukan urusan gue."


"Ya ampun Di, buruan shalat tobat lo! Elo sudah bikin malu keluarga. Eh, tapi gimana tanggapan om Andrew dan aunty Yuna? Apakah mereka setuju elo nikahin si Erin?"


"Dengan adanya si jabang bayi di perut Erin, mereka malah sangat mendukung Ardian untuk menjadi menantu mereka." sahut Alexia.


"Jadi sudah nggak ada masalah dong? Dalam agama kita kan yang penting walinya setuju. Eh, tapi Erinnya gimana?"


"Justru itu masalah utamanya, Rai. Sejak kejadian malam itu Erin memblokir nomor gue. Kalau bukan karena bantuan Raymond, mungkin sampai sekarang gue nggak akan tahu kalau dia hamil anak gue."


"Wait, elo yakin itu anak lo? Bukan anaknya Daffa?"


"Yakin banget Rai. Dia masih pe****n waktu gue melakukan itu."


"Gue speechless. Elo tuh super duper t***l. Kalau memang ujungnya bakal begini, mendingan dari dulu elo bilang perasaan lo yang sebenarnya ke dia. Kuliah tinggi tapi b*** urusan perasaan. Bahkan dulu saat mas Henry pertama bertemu kalian pernah komentar kenapa Ardian tidak pacaran saja dengan Erin."


"Penyesalan memang selalu datang belakangan Rai," celetuk Alexia. "Dan teman kita yang satu ini lagi ngalamin hal itu."


"Gue rela kalian hujat sepedas apapun. Tapi please bantu gue meyakini Erin."


"Elo yakin sanggup menjalani perjuangan yang sangat berat untuk menaklukan Erin?" tanya Raina. "Termasuk dicuekin seumur hidup?"


"Gue siap. Yang penting Erin mau menikah dengan gue."


"Apa karena ada calon debay makanya elo ngotot mau nikahin dia?" tanya Raina.


"Nggak Rai. Gue benar-benar cinta dia dan gue nggak mau dia menghabiskan hidupnya bersama lelaki lain. Gue ikhlas dicemberutin, dimaki-maki dan dibenci oleh Erin, asal dia mau menjadi istri gue."


"Ah, gokil lo! Nggak kebayang sama gue, pernikahan macam apa yang bakal lo jalanin nanti bersama Erin. Itupun kalau dia mau menikah dengan elo." ucap Alexia.

__ADS_1


"Itulah cinta, Lex. Mampu membuat orang buta dan rela menjadi orang bodoh."


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2