TAKLUK

TAKLUK
MISI RAINA


__ADS_3

Erina menatap kesal ke arah jendela kamarnya. Kondisinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Mual, pusing dan muntah selalu dirasakannya akhir-akhir ini. Bukan hanya itu, ia pun enggan bangkit dari tempat tidurnya. Sinar matahari pagi yang sangat disukai oleh sebagian besar manusia di muka bumi ini menjadi musuh terbesarnya.


Sejak kembali ke rumah hingga hari ini, Erina tak banyak keluar kamar. Bahkan ia mengambil cuti dari pekerjaan kantornya. Bukan suatu hal yang ia senangi. Erina yang terbiasa sibuk, kini tak banyak berkegiatan. Ada beberapa alasan, di antaranya kondisinya yang hamil muda membuatnya malas melakukan apapun. Selain itu Yuna dan Andrew pun melarangnya pergi ke kantor atau kemanapun yang ia inginkan. Bahkan Yuna menyuruh asisten rumah tangganya untuk membereskan barang-barang di apartemennya agar Erina tak kembali kesana.


"How are you feeling dear?" tanya Andrew prihatin saat memasuki kamar putri tunggalnya.


"Terrible. Horrible. Mention every bad words for my condition," jawab Erina kesal. "Sampai kapan Erin harus stay di rumah, dad?"


"Ask you mom. She's the one who forbid you."


"Tapi daddy pun tidak membantah hal tersebut. Erin bosan di rumah terus," sungut Erina sambil mengerucutkan bibirnya.


"Nggak usah ngomel. Kondisimu tidak memungkinkan untuk beraktifitas di luar sana," ucap Yuna yang baru masuk sambil membawa segelas susu dan sepiring buah-buahan.


"But mom, aku jenuh. Lagipula banyak proyek yang harus Erin kerjakan."


"Urusan pekerjaan biar daddymu yang urus. Di kantor juga banyak karyawan yang bisa membantu menyelesaikan pekerjaanmu."


"At least, ijinkan Erina bekerja dari rumah."


"No, radiasi laptop nggak bagus untuk perkembangan janinmu. Mommy nggak mau cucu mommy terlahir cacat."


"Apa yang mommy mu katakan itu benar Rin. Pikirkan kesehatanmu dan calon bayi di kandunganmu."


Erina menatap kesal perutnya yang masih terlihat datar. Kenapa sih elo pakai hadir di perut gue, makinya dalam hati. Lebih baik elo nggak hadir ke dunia ini, batin Erina. Gue nggak menginginkan elo. Gara-gara elo, gue sengsara begini.


"Jangan salahkan bayi itu. Dia tidak tahu apa-apa. Bukan dia yang memilih kalian sebagai orang tua," ucap Yuna seolah mengetahui isi pikiran Erina.


"Mom, I don't want him!" seru Erina kesal. "I HATE HIM!"


"Kenapa kamu membenci dia? Apa karena dia hadir sebagai hadiah atas kesalahan yang telah kalian perbuat? Dear, suka atau tidak suka dia sudah hadir dalam perutmu. Dia sudah menjadi bagian dari dirimu."


"But mom.... " rengek Erina. "Kehadirannya hanya membuat hidup Erin tambah kacau."


Tiba-tiba....


"Assalaamu'alaykum! Yuhuu, mommy Alea and Alena is here!" Terdengar suara cempreng bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka. "Girl, do you miss me?"


"Maaf tuan, nyonya, saya nggak berhasil melarang nona Raina masuk." ucap bi Imas yang mengikuti di belakang Raina.

__ADS_1


"It's okay bi. Tolong buatkan minum untuk Raina." Yuna memeluk Raina. Lalu berbisik," Rai, tolong bujuk dia untuk berdamai dengan keadaan."


"Insyaa Allah, aunty. Akan makan waktu untuk membujuk dia, tapi Rai akan coba. Doain saja hatinya menjadi lembut."


"Ngapain lo bisik-bisik sama mommy gue?" tanya Erina judes. "Nge-ghibahin gue?"


"Dih, pengenan banget lo dighibahin," balas Raina sambil melangkah menuju Andrew dan memeluknya hangat. "Uncle kok tambah ganteng aja, sih? Aunty, jagain uncle baik-baik. Di luaran sana banyak hyena mengincar."


"Ah, kamu bisa saja Rai. How's baby Alea and baby Alena?" tanya Andrew sambil terkekeh. "Lagipula nggak akan ada hyena yang mau dengan grandpa."


"Eeeh.. justru banyak yang mau uncle. Para hyena disana justru cari yang matang dan mapan seperti uncle."


"Ngapain sih bahas hyena segala. Daddy nanyain kabar anak lo. Kok nggak lo ajak si kembar? Gue kan belum ketemu sama keponakan-keponakan gue itu."


"Mereka sehat uncle." jawab Raina sambil mengeluarkan ponselnya. "Nih, sudah mulai miring-miring tidurnya. Elo sih pake acara ngilang segala, jadinya kan elo nggak bisa nungguin lahirannya si kembar."


Setelah berbincang mengenai Alea, akhirnya Yuna dan Andrew meninggalkan Raina berdua dengan Erina.


"Gimana kabar lo?"


"Not good."


"Kenapa gue jahat?"


"Karena elo nggak cerita apapun ke gue. Karena elo nggak memberi kesempatan gue menjadi sahabat yang baik buat elo. Karena elo nggak memberi gue kesempatan menemani di saat elo butuh teman," ucap Raina sambil terisak.


"Rai, yang lagi kena musibah kan gue. Lah, kenapa elo yang nangis kayak gitu?"


"Hehehe.. karena gue sedih sekaligus marah sama elo."


"Sorry Rai, saat itu pikiran gue sangat kalut. Yang ada di otak gue cuma sesegera mungkin pergi menjauh untuk menghindari mereka dan menenangkan pikiran gue. Lagipula gue nggak mungkin melibatkan elo dalam permasalahan gue karena elo lagi hamil tua. Gue nggak mau elo ikutan stress lalu baby lo lahir prematur." Keduanya saling berpelukan.


"Sekarang gimana perasaan lo? Masih marah sama cowok-cowok brengsek itu?" Raina terlihat emosi.


"Hahahaha... nggak cocok elo ngomong kayak gitu Rai," Erina tertawa melihat sikap Raina yang dianggapnya lucu.


"Gue ikutan kesal, Rin. Gue nggak tau apa permasalahan lo dengan Daffa, tapi gue ikutan kesal sama si sontoloyo itu."


"Sontoloyo? Siapa?"

__ADS_1


"Ya besti lo yang tercinta itulah. Siapa lagi?!" ucap Raina gusar.


"Ooh."


"Kok cuma ooh? Elo nggak pengen menghajar dia atau memaki-maki dia? Gue yakin elo pasti benci banget sama dia."


Erina hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Raina yang berapi-api.


"Gue nggak mau buang energi untuk manusia-manusia nggak penting itu," ucap Erina singkat. Baru saja selesai bicara, tiba-tiba Erina mual. Ia segera berlari ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Raina menyusul Erina. Ia bantu Erina yang memuntahkan seluruh isi perutnya. Setelah selesai, Erina hanya mampu bersandar lemas di dinding kamar mandi.


"Elo masih mual?" tanya Raina. Erina menggeleng. "Sini gue bantu elo ke tempat tidur."


"Rai, apa elo juga begini waktu pertama ketahuan hamil si kembar?"


"Iya. Awalnya gue malah nggak tau kalau hamil karena haid gue memang sering mundur. Eh, pas anniversary kita bulan ke empat gue mulai mual-mual dan muntah. Bahkan gue sempat pingsan karena pusing. Pas diperiksa dokter ternyata gue sudah hamil 6 minggu."


"Gue masih ingat elo telpon sambil nangis-nangis. Gue pikir mas Henry melakukan KDRT."


"Dia melakukan KDRT yang bikin gue hamil," ucap Raina sambil cekikikan. Erina otomatis menoyor kepala Raina.


"Mesum lo!"


"Kok mesum? Kalau nggak keras ya nggak kejadian dong."


"Sudah ah, omongan lo menodai kuping gue," omel Erina. Raina malah tergelak mendengar omelan Erina.


"Kondisi kehamilan tiap orang berbeda. Kondisi gue pas 3-4 bulan pertama tuh parah banget. Setiap pagi gue muntah dan nggak bisa mencium parfum mas Henry. Tapi kalau dia pulang dari kantor gue malah maunya mencium wangi parfum dia. Jadilah setiap malam mas Henry harus memakai parfum supaya boleh tidur bareng."


"Elo kapok nggak hamil?"


"Alhamdulillah gue nggak kapok. Karena selama mas Henry selalu mendampingi gue. Dia menjadi suami siaga. Dan kini dia juga menjadi ayah siaga, yang siap membantu mengurus si kembar di malam hari. Makanya elo buruan nikah, biar ada yang mendampingi."


"Gue berencana menggugurkan bayi ini."


"JANGAN! DOSA RIN! Memangnya belum cukup dosa yang selama ini elo bikin sampai elo mau tambahin dengan dosa menggugurkan kandungan?!"


Erina terdiam. Ia tahu itu dosa, tapi bayi yang ada di dalam kandungannya hadir bukan atas keinginannya. Bayi ini hadir akibat ulah Ardian. Bukan ini cara yang ia inginkan untuk mendapat anak. Ia ingin mendapat anak dari pria yang mencintai dan menikahinya.


"Gue tahu jalan pikiran lo. Memang impian semua wanita untuk menikah dan mengandung bayi dari suami yang dicintainya. Saat ini gue nggak tahu siapa pria yang lo cintai. Kemungkinan besar bukan Daffa. Lalu kenapa elo nggak menikah dengan Ardian? Dia mencintai lo dan dia ayah dari bayi yang ada di dalam perut lo."

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2