TAKLUK

TAKLUK
I HATE YOU


__ADS_3

Tanpa mempedulikan bajunya dan tempat tidur yang kembali basah, Ardian meletakkan Erina dengan lembut di atas ranjang. Buru-buru ia mengambil handuk lalu mengeringkan tubuh Erina yang terasa dingin dan gemetar. Bibir Erina membiru. Wajahnya memucat. Setelah tubuh Erina kering, Ardian membungkus tubuh gadis itu dengan selimut.


Ardian memandang baju dan celananya yang kembali basah. Aaah, nggak penting bajuku basah. Yang terpenting adalah bagaimana menghangatkan dengan cepat tubuh Erina. Ardian teringat cara salah satu sepupunya yang memeluk bayinya saat demam sambil bertelanjang dada. Apakah itu bisa diterapkan pada tubuh Erina yang masih terus menggigil. Akhirnya tanpa pikir panjang, setelah mematikan AC kamar serta membungkus rambut basah Erina dengan handuk, Ardian membuka kembali baju dan celana panjangnya lalu dengan hanya memakai bokser ia naik ke atas ranjang dan ikut masuk ke dalam selimut. Ia memeluk tubuh polos Erina dan berharap panas tubuhnya mampu membantu meningkatkan panas tubuh Erina yang masih menggigil.


Ardian menatap bibir Erina yang membiru dan gemetar. Lalu Ardian pun mencium bibir tersebut. Saat ini yang ada dalam otaknya hanya bagaimana mencegah Erina mengalami hipothermia. Masalah nanti dia akan ditampar atau bahkan dibunuh oleh Erina adalah masalah lain. Yang pasti ia tak ingin terjadi sesuatu pada Erina.


Ardian melepaskan bibirnya saat dirasanya bibir Erina sudah tak lagi gemetar.


"Rin, please jangan tinggalin gue. Elo boleh pukul gue sepuas lo. Elo boleh memaki gue sampai capek. Bahkan gue rela elo bunuh asal jangan elo yang ninggalin gue. Please, bangun Rin," bisik Ardian cemas sambil memeluk erat tubuh Erina. Mencoba mentransfer panas tubuhnya.


Hampir satu jam Ardian memeluk tubuh Erina. Perlahan ia dapat merasakan tubuh Erina tak lagi gemetar dan berangsur hangat. Ardian perlahan melepaskan pelukannya. Dilihatnya Erina tertidur pulas. Bibirnya tak lagi pucat. Wajahnya pun demikian Sudah mulai normal. Ardian hanya bisa berharap Erina tidak demam.


Ardian keluar dari dalam selimut. Hanya dengan memakai bathrobe, Ardian keluar kamar lalu menghubungi sebuah nomor.


"Bro, gue butuh bantuan lo."


"................."


"Gue baik-baik saja."


".................."


"Gak usah terlalu khawatir, gue beneran baik-baik aja. Gue bukan anak kecil."


",,,,,,,,,........"

__ADS_1


"Iya.. iya. Elo aja yang kasih tau mereka. Oh iya, tolong lo kirimin baju gue ke apartemennya Erina."


"...............?!"


"Kapan-kapan gue ceritain ke elo. Sekarang lo kirim aja apa yang gue minta. Ya, elo jelasin aja ke mama Amel gue semalam nginap di tempat Erin. Oh ya, tolong kasih tau om Arya gue hari ini ijin nggak masuk."


"..........."


"Okay bro. Thanks a lot."


Ardian kembali ke dalam kamar setelah usai menelpon. Dilihatnya Erina masih tertidur. Ardian menatapnya khawatir. Dia akan masuk angin bila tidur dengan rambut basah seperti itu. Ardian mendekati tempat tidur dan berlutut di sampingnya. Dipandangnya wajah sahabat yang dicintainya selama ini. Kenapa tidak sejak dulu kusadari perasaan ini? Kalau saja sejak dulu aku menyadari dan mengakuinya, dia takkan mengalami berbagai kepahitan cinta. Seandainya dulu aku mengakui perasaanku padanya, pasti saat ini kami adalah pasangan paling bahagia. Bahkan mungkin kami sudah memiliki anak yang lucu. Anak? Ya tuhan... Ardian terpaku saat mengingat kejadian tadi malam. Ia dapat mengingat dengan jelas apa yang terjadi semalam. Dan ia mengeluarkannya di dalam. Bagaimana kalau dia hamil?


Ardian tersenyum membayangkan kemungkinan Erina hamil akibat perbuatannya. Itu akan memberinya kesempatan lebih besar untuk menikahi Erina. Ardian mencium lembut kening Erina. Syukurlah dia tidak demam, gumam Ardian lega. Lalu perlahan diguncangnya tubuh gadis itu untuk membangunkannya.


"Rin, bangun sayang." Ia memberanikan diri memanggil Erina dengan sebutan sayang. Ardian berjanji pada dirinya sendiri, takkan menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.


"ELO MEMANG BA****N! ELO JAHAT! BA****T!" Berbagai kata makian meluncur dari mulutnya sambil tangannya menampar sahabatnya.


Ardian tak berusaha menghindar ataupun menahan tangan Erina. Ia ikhlas menerima hukuman itu karena ia memang bersalah. Bahkan ia rela dipukul atau ditendang setiap hari oleh Erina, selama ia tak kehilangan gadis itu. Selama ia bisa terus berada di samping gadis itu.


"Sorry." Ardian hanya mampu mengucapkan satu kata itu untuk menunjukkan penyesalannya. Bukannya mereda, kemarahan Erina semakin memuncak. Ia terus memukuli Ardian hingga akhirnya kehabisan tenaga dan hanya mampu menangis.


"Kenapa elo tega banget sama gue? Apa salah gue sama elo? Kenapa Di? Kenapa?" tanya Erina lemah karena energinya terkuras saat melampiaskan kemarahannya tadi. Erina terkulai di atas tempat tidur.


"Sorry Rin. Apapun alasan yang gue ucapkan, gue sadar banget kalau gue salah. Maafin gue yang sudah merusak elo. Gue cinta sama elo dan gue siap bertanggung jawab. Ayo kita nikah!"

__ADS_1


Erina tidak merespon ucapan Ardian. Ia hanya terdiam. Air matanya masih terus mengalir. Ardian mengambilkan bathrobe untuk Erina.


"Rin, pakai ini. Sini gue bantu elo ngeringin rambut. Gue nggak mau elo jatuh sakit."


"JANGAN PERNAH ELO MENYENTUH GUE! GUE JIJIK SAMA ELO!!" Erina kembali meradang. Ardian mundur menjauhi tempat tidur.


"NGAPAIN ELO MASIH DISITU? BELUM PUAS ELO NGELIAT TUBUH TELANJANG GUE? BELUM PUAS ELO PERKOSA GUE? KELUAAAARRR!!"


Ardian tak membantah perintah Erina. Ia keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu. Ia tahu ia salah. Seandainya saja waktu bisa diputar ulang, ia pasti takkan melakukan hal itu.


Selama setengah jam Ardian terdiam di sofa ruang tamu. Gustav yang disuruh membawakan baju belum datang juga. Baru saja ia akan menelpon Gustav, Erina keluar dari kamar sudah memakai piyamanya. Rambutnya dibiarkan tergerai. Cantik, puji Ardian dalam hati. Ardian beranjak dari sofa dan mendekati


"Kenapa elo masih ada disini? Please tinggalin gue sendiri. Gue nggak mau ngeliat muka lo," ucap Erina lemas. "Pergi lo dari sini! PERGI! JANGAN PERNAH MUNCUL LAGI DALAM HIDUP GUE. GUE BENCI SAMA ELO!!"


Erina mendorong tubuh Ardian dengan keras hingga Ardian terhuyung ke belakang. Untunglah Ardian tak sampai jatuh karena dorongan Erina. Ardian tak menyerah, ia mencoba mendekati Erina.


"Stop! Elo maju selangkah lagi, gue nggak bakal ragu memakai ini buat ngebunuh elo. KELUAR!!" Entah sejak kapan Erin sudah memegang tongkat pemukul baseball. Erina mengangkat tongkat itu dan bersiap memukulkannya


"Oke.. oke... tapi tolong dengarkan penjelasan gue."


"Penjelasan apa? Penjelasan bagaimana elo memperkosa gue? Apa ini cara lo merusak hubungab gue dengan Daffa? Atau semuanya memang sudah elo rencanain dari awal?" Erina kembali meradang. Ia menunjuk Ardian dengan tongkat yang ia pegang.


"Bukan gue yang merusak hubungan kalian. Apa yang terjadi semalam nggak gue rencanain sama sekali. Elo musti percaya sama gue, Rin." Kini posisi Ardian terdesak antara pintu dan tongkat pemukul yang dipegang Erina.


"Gue nggak mau dengar apapun alasan lo. Sekarang juga elo keluar dari sini dan dari hidup gue selamanya!" Erina bersiap melayangkan tongkat tersebut. Dengan tergesa Ardian membuka pintu dan keluar dari dalam apartemen.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2