TAKLUK

TAKLUK
PERANG DINGIN


__ADS_3

Ardian baru selesai mandi ketika Erina masuk ke kamar membawa sepiring kue dan teh hangat. Tumben, pikir Ardian. Tanpa menegur Erina, ia mengenakan pakaian. Lalu ia mengambil rokok dan menuju balkon kamar. Baru saja hendak menyalakan rokoknya Erina menegurnya.


"Elo mau anak-anak kita keracunan asap rokok?" tegur Erina ketus. Ardian mengurungkan niatnya merokok.


"Tumben mikirin anak-anak kita," ucap Ardian sinis.


"Iyalah. Mereka kan ada di dalam perut gue. Kalau mereka kenapa-napa, gue juga yang susah."


"Oh, jadi sebenarnya elo bukan mengkhawatirkan mereka. Elo hanya nggak mau ikutan susah. Hmm.. ibu yang egois," sindir Ardian.


Tak ada lagi panggilan aku kamu. Kini mereka kembali membahasakan diri dengan elo gue. Ini seolah menandakan Ardian menyerah.


"Elo yang egois. Lo bilang sayang sama gue dan anak-anak kita."


"Bukannya elo nggak mengharapkan kehadiran mereka?" Erina terdiam. "Nggak usah sok mempedulikan mereka. Gue yakin, setelah mereka lahir elo akan merasa terbebaskan dari beban selama 9 bulan."


"Elo jahat, Di!"


"Lebih jahat mana, ibu yang mau mengugurkan kandungannya atau seorang suami yang mengatakan kebenaran yang menyakitkan?" tanya Ardian. "Nggak usah dijawab. Karena menurut lo menggugurkan kandungan hasil pemerkosaan adalah hal yang benar."


"Tapi pada kenyataannya gue kan nggak jadi menggugurkan mereka!" balas Erina tak mau kalah.


"Elo memang nggak jadi menggugurkan mereka, tapi elo nggak mempedulikan mereka. Dalam kondisi hamil elo malah pergi clubbing. Apa bedanya dengan sekarang gue merokok? Di sana lebih banyak asap rokok yang terhisap oleh hidung lo. Lebih banyak zat beracun yang masuk dalam tubuh lo. Belum lagi minuman...."


"Perlu lo catat, GUE NGGAK MENGKONSUMSI MINUMAN BERALKOHOL! Elo boleh tanya sama Lexi!" balas Erina dengan perasaan geram. Seenaknya aja Ardian menuduhnya seperti itu.


"Lalu kamu pikir membawa anak-anak kita ke tempat seperti itu bagus? Joget-joget nggak karuan itu bagus? Rin, gue nggak mau anak-anak kita terkontaminasi dengan hal-hal kayak gitu! Cukup kita berdua yang melakukan kesalahan seperti itu."


"Di, mereka itu masih di dalam perut! Mereka belum tahu dunia luar, mereka belum bisa mendengar hal-hal yang ada di luar rahim gue!" balas Erina tak mau kalah.

__ADS_1


"Elo salah Rin. Mereka sudah bisa mendengar suara kita, mereka sudah bisa mendengar apa yang terjadi di luar sini. Dan elo sudah mengenalkan dunia seperti itu kepada mereka!" ucap Ardian pedas.


Erina terhenyak mendengar ucapan Ardian. Bukan karena apa yang Ardian ucapkan adalah fakta, tapi sikap dan nada suara Ardian tidak seperti Ardian yang selama ini dia kenal. Tak ada kelembutan di suara Ardian. Yang ada hanyalah kemarahan. Kenapa dia semarah itu padaku. Bukankan berdebat adalah hal yang biasa kami lakukan, tanya Erina dalam hati.


"Memangnya salah kalau gue mau menghibur diri gue sendiri? Elo nggak pernah tau gimana rasanya sampe kayaknya gue nggak kepengen hidup saking bosannya. Mommy, elo, kalian selalu melarang gue pergi. Kalian selalu melarang gue bekerja. Gue nggak bisa hidup kayak gini! Seharusnya elo tahu gimana penderitaan gue kalau gue kebanyakan dilarang beraktivitas. Kenapa nggak sekalian aja elo bikin gue cacat, biar gue benar-benar nggak bisa ngapa-ngapain dan selalu tergantung sama kalian! Atau kalau perlu elo pasung atau rantai aja sekalian!" Kali ini Erina benar-benar marah. Ia nggak peduli kalau suaranya terdengar seisi rumah.


"Gue tanya sama elo. Memangnya elo pernah nanya gue mau melakukan apa? Nggak! Elo cuma nyuruh gue makan, jaga kesehatan dan periksa kandungan. Ibu hamil juga butuh hiburan! Gue bukan mainan tamagotchi yang hanya butuh makan dan tidur." Erina meninggalkan Ardian sendiri di balkon. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan disana ia berteriak sekencang-kencangnya.


Ardian membanting rokok yang dipegangnya ke lantai. Lalu ia mengusap kasar wajahnya. Entah kenapa sejak mendengar percakapan Erina dengan Yuna tentang bagaimana perasaan Erina terhadap Daffa, perasaannya dipenuhi dengan kemarahan dan kekecewaan. Ya tuhan, apakah sesusah ini menjalani pernikahan dengan Erina. Ini baru awal pernikahan. Mampukah aku bertahan? Mampukah aku menaklukan hatinya? Tuhan, beri aku kekuatan dan kesabaran dalam menjalani pernikahan ini. Aku ingin bahagia bersamanya, bersama anak-anak kami. Aku sungguh mencintainya, namun sanggupkah aku bertahan jika dia tak juga mau mencintaiku. Ardian duduk terdiam sambil menatap langit senja.


⭐⭐⭐⭐


"Jeng Yuna, bagaimana anak-anak kita?" tanya Amelia saat mereka makan siang bersama.


"Entahlah jeng Amel. Mereka masih tidur sekamar namun hubungan mereka terasa kaku dan dingin. Sepertinya mereka sedang bertengkar hebat. Suasana meja makan menjadi dingin karena mereka tak saling bertegur sapa. Bahkan terkadang Ardian lebih memilih membawa bekal untuk sarapan di kantor."


"Jeng Amel harus maklum. Erina sepertinya masih belum bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya. Sementara itu mungkin Ardian mulai merasa lelah mencoba membujuk Erina. Dalam hal ini cinta saja tidak cukup."


"Apakah kita perlu turun tangan, jeng?" tanya Amelia. "Saat mau menikahkan mereka, para ayah yang sudah turun tangan. Kini saatnya kita para ibu yang membantu mereka."


"Apakah jeng Amel punya ide?"


"Bagaimana kalau kita minta bantuan eyang Fatma?"


"Hmm.. ide bagus."


⭐⭐⭐⭐


"Di, kok kamu nggak mengajak Erina ke sini?" tanya Amelia saat Ardian mampir untuk makan malam.

__ADS_1


"Erina sudah mulai aktif di kantor ma. Mungkin dia sibuk."


"Kalian kan satu kantor. Kenapa nggak pulang bareng?" tanya Arga.


"Tadi dia bilang mau menyelesaikan proyek Prince Building yang sempat tertunda."


"Bukannya keluarga Hermawanto membatalkan kerja sama itu?" tanya Amelia.


"Untuk proyek baru memang dibatalkan. Tapi untuk proyek yang sudah berjalan masih diteruskan."


"Siapa contact person dari pihak Prince Building?" tanya Arga. Ardian mengangkat bahu tak peduli.


"Sebagai pengganti bapak mertuamu, seharusnya kamu tahu siapa contact personnya" ucap Amelia.


"Daffa," jawab Ardian pendek. Arga dan Amelia saling berpandangan.


"Kamu nggak masalah mereka sering bertemu?" tanya Amelia hati-hati.


"Ma, pa, Ardi malam ini nginap disini ya."


"Lho, nanti istrimu nyariin."


"Erin nggak akan peduli walau Ardi nggak ada. Dia sudah nggak butuh Ardi. Dia sudah melewati masa-masa morning sickness-nya."


Ardian langsung ngeloyor naik ke lantai atas menuju kamarnya. Ia benar-benar lelah lahir batin karena akhir-akhir ini beban pekerjaan kantor yang menumpuk dan menghadapi permasalahannya dengan Erina Apalagi ia beberapa kali melihat Erina menerima telpon dari Daffa. Sepertinya hubungan mereka mulai membaik. Bahkan beberapa kali Erina makan siang dengan Daffa dengan alasan meninjau proyek Prince Building. Luna, sekretaris Erina, memang memberitahu tentang pertemuan itu. Tapi sebagai istri, bukankan seharusnya Erina sendiri yang menginfokan atau meminta ijin. Apalagi ini perginya untuk bertemu dengan mantan tunangan. Walaupun konteksnya untuk urusan pekerjaan, tetap saja itu tak bisa dianggap biasa.


Ardian pernah ingin membahas hal ini dengan Erina, tapi sikap istrinya itu dari hari ke hari semakin dingin. Hal itu membuatnya malas membicarakan hal ini dengan Erina.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2