TAKLUK

TAKLUK
LOOKING FOR A MAN


__ADS_3

"Di, gimana dong. Elo harus bantuin gue," rengek Erina. Hanya di depan Ardian Erina berani merengek seperti saat ini. "Gue nggak mau nikah sama Dipo. Kemarin eyang sudah mulai membahas hal tersebut."


"Ya gimana. Elo picky banget. Minggu lalu gue kan sudah setting blind date tapi elo malah nggak muncul. Dia itu partner bisnis gue. Gara-gara elo nggak muncul hampir aja dia batalin perjanjian kerja sama kita."


"Elonya juga nggak benar. Masa elo mau jodohin gue sama cowok botak kayak dia," sanggah Erina tak terima disalahkan.


"Penampilan dia mungkin kurang, tapi dia tuh tajir melintir, Rin. Anak tunggal, duda ditinggal mati. Umurnya juga sudah cukup matang. 35 tahun."


"Ya, tapi jangan botak juga lah. Gue geli liat orang botak."


"Kalau sama si Boris gimana? Dia kan naksir elo sejak SMA dulu. Sekarang dia juga sudah sukses jadi pengusaha travel."


"Dari dulu gue nggak suka sama dia dan sampai sekarang juga tetap nggak suka," tolak Erina.


"Kenapa? Dia lumayan ganteng. Nggak akan bikin malu lah kalau dikenalin ke keluarga besar."


"Kebiasaan kentut sembarangannya belum juga hilang. Elo ingat nggak waktu kita reunian tiga bulan lalu? Dia belum berubah. Kebayang nggak sama elo kalau pas gue ajak dia ketemu eyang dan keluarga besar tiba-tiba dia kentut sembarangan?"


Ardian tergelak mendengar ucapan Erina yang absurd namun masuk di akal.


"Mau lo yang gimana sih? Kalau si Julian gimana? Karirnya lumayan sukses." Erina menggeleng.


"Toro? Bagus? Fadli? Kyle? Boy?" Semua nama yang diajukan ditolak oleh Erina. Ardian hanya bisa menghela nafas kesal. "Daffa?"


"Daffa yang dulu sekelas sama elo? Yang pernah pacaran sama Brit?" Ardian mengangguk. Erina tampak berpikir.


"Hmm.. lumayan juga sih," Erina menyatakan pendapatnya. "Pas reunian kemarin kita sempat ngobrol. Orangnya cukup asyik."


"Bagaimana kalau malam Sabtu besok kita hangout bareng. Ya, semacam double date gitu deh," usul Ardi


"Lo yakin dia mau ketemu gue?" tanya Erina ragu. "Eh, tunggu dulu. Tadi lo bilang double date. Emangnya sekarang lo lagi dekat sama siapa?"


Ardian menghela nafas kesal. Salah satu kebiasaan buruk Erina, suka tidak peka dengan sekitarnya saat dirudung masalah percintaan.


"Gue nggak bingung kalau Zafran nggak jadi ngawinin elo. Sifat nggak peduli lo masih nggak hilang juga."


"Kenapa bawa-bawa Zafran sih? Dia tuh nggak keberatan dengan semua sifat buruk gue. Buktinya dia masih mau married sama gue," gerutu Erina kesal.


"Zafran emang nggak peduli. Dia bucin berat. Tapi keluarganya yang keberatan dengan semua sifat dan kebiasaan buruk lo. Sayangnya kebucinan Zafran, kalah dengan the power of emak."


"Aaah.... sudah deh nggak usah bahas soal itu. Sekarang jawab pertanyaan gue tadi. Lo lagi pdkt sama siapa?"


"Bukan pdkt lagi. Sudah seminggu gue jadian dengan Giana, anak salah satu manajer di kantor gue."


"Cantik?"


"Pastilah. Mana pernah sih gue pacaran sama cewek yang biasa-biasa aja."


"Seksi?" Ardian tak menjawab dan hanya tersenyum.


"Jago masak kayak mama Amel?" Kali ini Ardian mengangguk.


"Dari mana lo tau tuh cewek jago masak? Kalian kan baru seminggu jadian."


"Gue pernah nyicipin bekal bapaknya. Beneran enak banget."

__ADS_1


"Lo yakin itu masakan si Giana? Bukan nyokap atau pembantunya?"


"Yakinlah. Si Giana itu punya channel youtube yang isinya tentang kegiatan dia masak. Gue sudah liat salah satu videonya. Subscriber-nya sudah 500 ribu lebih. Keren kan?" Ardian bercerita dengan penuh semangat sehingga membuat kesal Erina.


"Sudah ah. Ngapain jadi bahas si Giana sih? Fokus sama masalah gue dong!"


"Lah, kok elo jadi marah? Tadi kan elo yang nanya," ucap Ardian bingung plus kesal.


"Iya.. iya... Sekarang gimana urusan gue?"


"Elo beneran mau blind date sama Daffa? Serius?"


"Iya. Gue serius. At least gue ada pasangan kalau nanti eyang nyuruh gue datang."


"Daffa mau lo jadiin bemper?"


"Hmm.. semacam itulah. Tapi siapa tau gue cocok sama dia dan bisa lanjut."


"Elonya juga harus berubah, Rin. Kalau sifat-sifat jelek nggak lo rubah, nggak bakal ada cowok yang mau kawin sama elo."


"Gue sudah mulai berubah kok. Nih, gue sudah mulai ngurangin minum."


"Rokok?"


"Hmm.. pelan-pelanlah. Lagian gue yakin si Daffa nggak sekolot itu. Dia pasti sudah terbiasa liat cewek minum dan merokok. Hal wajarlah buat kaum milenial kayak kita," elak Erina.


"Mengenai itu gue nggak begitu tau. Kita liat aja nanti. Semoga apa yang lo bilang nggak meleset.


⭐⭐⭐⭐


Erina sedang asyik menghadapi laptopnya saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Dilihatnya nama Zafran yang muncul. Zafran? Ada apa, batin Erina sambil menyentuh icon hijau di layar ponselnya.


"Hmm... ini Erina?" Terdengar suara lembut seorang wanita. Dahi Erina langsung berkerenyit. Jantungnya berdegup kencang. Ia yakin ini bukan suara ummi Habibah. Apakah itu suara...


"Saya Zulfa, calon istri bang Zafran."


"Oh... eh... ada apa ya?"


"Bisa kita bertemu?"


"Bertemu? Untuk apa?"


"Ada yang ingin saya bicarakan dan itu tidak bisa melalui telpon."


"Hmm..... "


"Nggak akan lama."


"Kak Zafran... apakah dia akan ikut?"


"Tidak. Bang Zafran tidak perlu tau pertemuan kita."


"Kenapa?"


"Nanti akan saya jelaskan bila kita bertemu." Mereka mengakhiri pembicaraan setelah membuat janji bertemu di sebuat cafe dekat kantor Erina.

__ADS_1


"Di, please tolong gue," Erina langsung menghubungi Ardian setelah menutup percakapannya dengan Zulfa.


"Tolong apaan?"


"Zulfa ngajak ketemuan nanti malam."


"Zulfa? Zulfa siapa?"


"Calonnya Zafran."


"Mau ngapain dia ngajak ketemuan? Apa dia tau rencana Zafran mau menikahi lo?"


"Entahlah Di. Gue bingung."


"Elo takut ketemu Zulfa?"


"Gue bukan takut, tapi gue bingung aja harus ngomong apa saat ketemu nanti. Elo temenin gue ya, Di."


"Jam berapa?"


"Dia ngajak ketemuan di cafe String jam setengah delapan nanti."


"String? Tempat lo dan Zafran...."


"Iya. Ngapain ya dia pilih tempat itu? Lo bisa kan nemenin gue?" pinta Erina dengan suara memelas. Di ujung sama Ardian tergelak.


"Di, elo nggak peka banget sih?" omel Erina. "Kenapa elo malah ketawa?"


"Yang orang ketiga itu Zulfa. Tapi kenapa sekarang elo yang berasa pelakor?"


"Nggak usah ngeledek deh. Bisa atau nggak?"


"Sorry gue nggak bisa. Gue mau jemput Giana."


"Kok lo tega sih sama gue?"


"Ini bukan urusan tega atau nggak tapi ini demi masa depan gue."


"Maksud lo? Elo mau nikah sama Giana?"


"Kenapa nggak? Secara kriteria dia masuk banget buat jadi calon istri gue."


"Tapi elo kan baru sebentar kenal sama dia."


"Memang baru sebentar, tapi gue sreg banget sama dia dan nggak ada salahnya kalau kali ini gue bersikap egois."


"Maksudnya?"


"Gue nggak bisa jelasin sekarang. Sebentar lagi gue ada meeting."


"Nggak usah cari-cari alasan!"


"Gue benar-benar ada meeting, Rin. Kapan-kapan gue jelasin ke elo."


"Kapan?" desak Erina

__ADS_1


"Soon. Bye." Ardian langsung memutus pembicaraan. Meninggalkan Erina yang termanggu sendirian.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2