
"Kamu marah?" Akhirnya Erina membuka percakapan saat mereka sudah bersiap tidur.
"Hmm..."
"Di, ngomong dong. Kamu tuh kenapa sih sejak tadi pagi diam saja? Kamu tiba-tiba pergi ke proyek. Nggak sarapan, nggak bawa bekal, nggak kirim kabar. Kamu kan tahu hari ini ulang tahun mama dan kamu janji mau antar aku ambil hadiah sekalian berangkat ke rumah mama."
"Hmm.. gue capek. Matikan lampu kalau elo mau tidur."
Perkataan Ardian membuat mata Erina membulat. Oh my God, dia kenapa sih? Kenapa ngomongnya pake elo gue lagi? Gue salah apa?
"Sayang ..."
"Rin, dengar nggak sih omongan gue? Gue tuh capek, pulang dari proyek langsung pergi lagi ke rumah mama papa. Bisa ngerti nggak kalau suami capek tuh jangan kebanyakan ditanya?! Elo lihat nggak sih sekarang jam berapa? Ini sudah hampir jam 2 malam. Waktunya tidur, bukan waktunya ngobrol! Kalau elo belum bisa tidur jangan ganggu orang yang mau istirahat! Kalau mau ngobrol, sana elo ngobrol sama bang Mamat di pos security!" potong Ardian dengan nada tinggi lalu dia tidur dengan membelakangi Erina.
Ya tuhan, kenapa jadi sensi banget sih nih orang? tanya Erina dalam hati. Perasaan gue nanya baik-baik, kenapa dia ngomong nadanya kayak gitu? Tengah malam buta kok ngajak ribut. Erina yang pada dasarnya nggak sabaran. mulai terpicu emosinya. Apalagi melihat suami yang memunggunginya benar-benar menyulut kemarahan Erina.
Akhirnya .... PLAK!! Sebuah pukulan yang tak dapat dikatakan pelan mendarat di lengan Ardian. Rupanya Erina benar-benar tersinggung dengan sikap dan perkataan Ardian.
"Ouch.. apaan sih pake pukul-pukul segala?" omel Ardian sambil mengusap-usap lengannya. Wajahnya tampak marah.
"Kenapa? Nggak suka?" balas Erina.
"Iyalah! Siapa yang suka tengah malam mau tidur malah dipukul?!"
"Lo pikir cuma elo yang bisa marah? Gue juga bisa marah, Di!"
"Kenapa jadi elo yang marah? Harusnya gue yang marah!" balas Ardian emosi. Kini ia merubah posisinya menjadi duduk.
"Oh, jadi elo marah. Kenapa nggak bilang dari tadi kalau lagi marah. Alih-alih pergi ke proyek, seharusnya kamu bisa bilang apa alasan kamu marah." Mendadak suara Erina melembut. Bahkan tatapan matanya pun melembut. Tentu saja perubahan tersebut membuat Ardian serba salah.
"Ya... iya gu... eh aku marah sama kamu." Ardian kembali merubah panggilan. Kini suaranya tak lagi terdengar emosi.
"Maaf ya aku pukul lenganmu. Soalnya kamu sudah bikin aku bingung seharian tadi. Tiba-tiba pergi, nggak menghubungiku sama sekali. Aku bingung dimana salahku." Erina mengusap-usap lengan Ardian yang tadi dipukulnya. "Sakit?"
"Sakit. Pukulanmu nggak berubah."
"Sorry." Erina memeluk tubuh Ardian dan bersandar nyaman di dada sang suami.
"Hmm.."
"Masih marah?" Cup.. Erina mengecup cepat bibir Ardian.
"Cuma segitu aja?"
__ADS_1
"Maunya gimana?"
Tanpa menunggu lagi, Ardian mencium Erina. Yang awalnya ciuman beralih menjadi permainan cinta yang panas. Tak cukup hanya sekali, mereka mengulanginya lagi dan lagi hingga akhirnya terkapar lemas di atas ranjang.
"Masih marah?" tanya Erina dengan nafas masih tersengal. Kini keduanya tidur saling berpelukan.
"Kalau masih apakah kita akan bertempur lagi?" tanya Ardian sambil mencium kening Erina.
"Memangnya masih bisa?"
"Sepertinya aku butuh istirahat sayang. Pertempuran tadi cukup menguras tenagaku."
"Siapa suruh kamu melakukannya lagi dan lagi. Aku nggak yakin nanti bisa jalan. Semua bagian tubuhku sakit."
"Maaf ya. Tapi memang sulit bagiku menolak pesonamu," rayu Ardian.
"Gombal."
"Cuma sama kamu, sayang."
"Sebelum tidur tolong kasih tahu apa alasanmu marah. Aku nggak mau tidur membawa rasa penasaran."
"Aku marah karena ....."
"Sangat. Bagaimana mungkin aku nggak cemburu saat kamu langsung nyuekin aku dan lebih memilih membaca berita tentang dia."
"Ya ampun, kenapa kamu nggak bilang kalau kamu kesal. Wah kalau Raina tahu kamu seperti ini, dia pasti akan tertawa ngakak."
"Apakah kamu sedih membaca berita itu?"
"Haruskah aku sedih?"
"Aku nggak tahu bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya kepada Daffa. Maaf aku salah satu penyebab hubungan kalian kandas. Kalau saja dulu aku tak merenggut kesucianmu, mungkin kalian bisa berbaikan dan melanjutkan hubungan kalian. Gara-gara aku menghamilimu..." Jemari Erina menutup mulut Ardian.
"Ssstt.. itu sudah lewat. Nggak usah dibahas lagi. Sudah jalan hidupku seperti ini. Harus mengalami berkali-kali kegagalan cinta hingga akhirnya memiliki 2 anak dari pria yang dulu sahabatku."
"Apakah kamu pernah menyesal menikah denganku?"
"Hmm.. bukan hanya menyesal, tapi juga membenci pernikahan dan bahkan kehadiran anak-anak dalam hidupku. Tapi seiring waktu dan karena kegigihanmu, akhirnya aku mencoba menerimanya. Mengenai hubunganku dengan Daffa, aku sempat teringat saat membaca berita tersebut. Bahkan aku sempat berpikir seandainya begini, seandainya begitu."
"Lalu?"
"Sepertinya aku harus menerima takdirku menghabiskan hidupku dengan pria menyebalkan yang dulu pernah menamparku. Dan perlu kamu ingat, hanya kamu pria yang pernah melakukan itu padaku. Bahkan daddy tak pernah melakukannya."
__ADS_1
"Apakah itu artinya .... "
"Ya, artinya kamu harus menerima hukumannya seumur hidupmu." Lalu Erina mengecup singkat bibir Ardian.
"Bila hukuman itu adalah selalu berada disisimu, maka aku akan menerimanya dengan senang hati. I love you, Rin."
"Love you too, bestie. Lebih baik sekarang kita mandi. Sebentar lagi adzan subuh."
"Janji sama aku, kamu nggak akan tergoda oleh para mantanmu. Karena kutahu para mantanmu masih ada yang menyimpan rasa padamu."
"Bagaimana denganmu? Jumlah mantanmu lebih banyak dariku. Bahkan Nathalie masih sangat mengharapkanmu. Apakah kamu yakin takkan tergoda olehnya?"
"Bagaimana aku akan tergoda olehnya, kalau aku sudah jatuh terlalu jauh ke dalam pesona dan permainan cintamu. Dulu saja aku tak tergoda apalagi sekarang setelah aku merasakan kenikmatan tubuhmu," jawab Ardian.
"Mesum." Erina hendak melepaskan pelukan Ardian namun Ardian tak melepaskannya. "Sayang, aku mau mandi."
"Sebentar lagi. Kamu tau nggak kalau ini pertama kalinya aku marah sama kamu setelah kita gencatan senjata dan kamu belajar menerima cintaku."
"Oh ya? Masa sih?"
"Biasanya aku yang dibuat kelimpungan oleh sikapmu. Tapi sekarang kamu yang kubuat kelimpungan. Satu hal yang membuatku amazed adalah sikapmu yang tetap tenang."
"Itu karena aku nggak sadar kalau kamu marah. Lebih tepatnya aku nggak peka saat kamu ngambek seperti tadi pagi." Erina cekikikan.
"Jadi, kamu... "
"Iya, aku pikir kamu memang sedang banyak pekerjaan. Ditambah lagi pikiranku sedang fokus pada ulang tahun mama Amel."
"Ternyata kamu bisa dewasa juga. Daddy dan mommy pasti bangga sama kamu."
"Sayang, bagaimana kalau kita ke Texas. Aku mau kenalin kamu ke grandpa dan saudara-saudara daddy. Sekalian kita honeymoon. Bagaimana? Kamu pasti suka deh dengan ranch-nya grandpa."
"Lalu bagaimana ajakan Alexia?" tanya Ardian.
"Liburan bersama keluarga besar Lexi? Berarti disitu juga akan ada Nat."
"Sepertinya begitu karena Nat batal melanjutkan studinya tahun ini."
"Kok kamu tahu?" tanya Erina tak suka. "Kamu masih berhubungan dengan dia?"
"Nggak juga. Cuma beberapa hari lalu Nat kirim DM ke aku dan cerita tentang hal itu." Hati Erina sakit mendengar betapa santainya Ardian memberitahukan hal tersebut.
Erina melepaskan diri dari pelukan Ardian. Ia turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Ia melakukan itu semua tanpa banyak kata. Sementara itu Ardian menatap heran istrinya yang tiba-tiba berubah mood. Kenapa tiba-tiba moodnya berubah? Perasaan kami baru saja berbaikan. Apakah sisa hari ini akan kami lalui dengan pertengkaran? Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Ardian.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐