
"Iya om, sebagai tanda keseriusan saya ingin mengenalkan Erina kepada keluarga saya sebagai ..... calon istri."
⭐⭐⭐⭐
Tiga orang lain yang berada di dalam ruangan yang sama terdiam mendengar ucapan Daffa.
"Daf, kita kan baru..."
"Iya, Rin. Aku tahu kita baru saja menjalin hubungan ini. Tapi mengingat bagaimana perjalanan cinta kita di masa lalu sepertinya kita nggak perlu terlalu lama berkencan. Kita memang tidak akan menikah dalam waktu dekat, tapi aku juga tak ingin menunda mengenalkanmu kepada keluarga, terutama kepada bunda."
Erina tak mampu mengucapkan apa-apa. Ada suatu rasa aneh yang ia rasakan. Rasa yang akhir-akhir ini sering muncul saat bertemu Daffa. Cinta? Entahlah. Erina tak berani mengatakan itu cinta. Yang ia sadari betapa ia semakin mengagumi pria yang saat ini duduk di sampingnya.
"Jadi kamu mau mengajak Erina bertemu keluargamu?" Daffa mengangguk mantap.
"Itupun kalau om dan tante mengijinkan."
"Kenapa kamu merasa perlu meminta ijin kami?"
"Karena kalian orang tua Erina dan saya tidak ingin dituduh menculik putri kalian yang cantik ini. Apalagi ini bukan sekedar pertemuan biasa, tapi sekalian berlibur di vila milik keluarga kami."
"Apa yang akan kamu lakukan bila kami tak mengijinkan dia ikut denganmu?"
"Saya nggak akan bisa protes kalau om dan tante tak mengijinkan. Itu artinya saya harus menunda perkenalan ini hingga kami pulang dari vila."
"Hmm..." Sebenarnya Andrew tidak bermasalah Erina ikut menginap di vila karena Erina pun biasa menginap di rumah Ardian. Tapi ia ingin mengetes seberapa jauh keseriusan Daffa
"Apakah kamu serius dengan hubungan ini?"
"Insyaa Allah om. Kalau memang ini takdir yang Allah tentukan buat kami, maka saya hanya akan mengikuti takdir ini."
"Kamu yakin akan mengenalkan putri om kepada orang tuamu. Putri om tidak memiliki nilai plus yang bisa dibanggakan untuk menjadi istri."
"Dad, how can you say something like that to your own daughter? The one and only kid you have," protes Erina.
"Benar apa yang dikatakan om Andrew. Erina itu tomboy, manja, urakan. Kamu benar-benar yakin? Yang sudah pacaran tahunan aja ragu mengenalkan dia pada orang tuanya."
"Itu karena mereka tidak berusaha mengerti dan mengenal Erina lebih jauh. Saya yakin dibalik sikap yang selama ini dia tunjukkan kepada dunia, sebenarnya Erina hanyalah gadis biasa yang memiliki hati yang rapuh dan penuh kasih sayang. Bahkan saya yakin dia akan menjadi istri dan ibu yang baik."
"Bagaimana dengan sifat dan kebiasaan buruk dia?"
"Bukan hanya Erina, sayapun punya kebiasaan buruk. Tidak ada manusia yang tidak memiliki kebiasaan buruk. Kalau mencari yang sempurna, maka sampai kapan pun saya nggak akan menemukan calon istri. Kedua orang tua saya juga tidak akan ikut campur terlalu jauh mengenai pilihan saya. Buat mereka yang penting saya dan pasangan bisa bahagia "
"°Apakah kamu tidak keberatan memiliki istri yang bertato?" tanya Andrew lagi.
"Walaupun saya tidak bertato, buat saya itu tidak masalah. Apalagi dia mentato tubuhnya sebelum dia bersama saya."
__ADS_1
Lagi-lagi jawaban Daffa membuat hati Erina bergetar. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana kagetnya orang tua Zafran saat secara tak sengaja melihat tato di pergelangan kakinya.
"Baiklah om akan mengijinkan Erina ikut berlibur denganmu. Kalian sudah dewasa dan tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Om harap, pertemuan itu memberikan hasil yang baik bagi hubungan kalian nanti."
Sementara itu, Zafran yang menunggu di ruang tamu merasa gelisah. Apalagi saat tak terdengar lagi canda tawa dari dalam ruang makan. Dulu ia yang sering dijamu oleh Yuna dan Andrew. Kini posisinya digeser oleh lelaki itu. Aku nggak boleh mengalah begitu saja, pikir Zafran. Aku harus merebut kembali Erinaku.
⭐⭐⭐⭐
"Selamat malam om, tante, Erin," sapa Zafran. Ia segera mencium punggung tangan Andrew dan Yuna.
"Silahkan duduk nak Zafran. Maaf, lama ya menunggunya?" tanya Andrew. "Rin, kasih tau mbok Siti untuk membuatkan daddy kopi. Daf, nak Zafran, mau kopi?"
"Terima kasih om," tolak Zafran.
"Dad, gimana kalau Daffa yang membuatkan kopi? Dia pernah jadi barista lho saat kuliah di London," usul Erina.
"Beneran Daf?" tanya Yuna. "Daddynya Erin punya alat membuat kopi tapi jarang dipakai. Tante mau membuktikan omongan Erina mengenai kemampuanmu sebagai barista."
"Ah, saya cuma barista biasa tante. Kopi buatan saya nggak seenak kopi di cafe." Daffa terlihat malu.
"Ayo aku tunjukkan dimana daddy menyimpan peralatan dan biji kopinya. Daddy pasti senang banget kalau ada yang menggunakan peralatan tersebut." Erina mengulurkan tangannya kepada Daffa lalu menariknya menuju dalam.
"Rin, jangan lupa kasih tahu mbok Siti untuk membuatkan minuman lagi untuk nak Zafran."
"Maaf, lama ya menunggunya?" tanya Yuna. "Memangnya kamu nggak mengabari Erina kalau mau kemari? Kalau tahu kamu mau kemari tante masak gulai ayam kesukaanmu."
"Tapi lumayan juga lho kamu menunggu satu jam lebih disini. Sepertinya ada yang penting yang mau kamu sampaikan. Ada hal apa nak Zafran?" tanya Andrew.
"Bagaimana kabar kedua orang tuamu? Erina sudah lama ya nggak main ke rumahmu. Jadi kami nggak tahu kabar mereka."
"Tadinya tante pikir kamu dinas keluar kota karena akhir-akhir ini jarang banget datang kesini. Lagi sibuk apa sih?" tanya Yuna.
"Ummi dan abi baik-baik saja om. Eeenghh.. akhir-akhir ini Zafran memang agak sibuk. Maklum cuma pegawai," jawab Zafran.
"Oh ya, kamu sudah lama juga ya menjalin hubungan dengan Erina. Apakah kalian ada rencana melangkah ke jenjang yang lebih serius?" tanya Yuna yang tidak mengetahui bahwa hubungan Erina dan Zafran sedang tidak baik-baik saja.
Berbeda dengan Andrew yang mengetahui hal tersebut, walau tidak tahu pasti apa masalah utamanya. Namun ia dapat menangkap bahwa orang tua Zafran tidak dapat menerima Erina.
"Ehem.. makanya malam ini saya datang kesini untuk membahas hal tersebut," Ucap Zafran ragu.
Padahal tadi saat berangkat dari rumah ia sangat percaya diri. Namun melihat bagaimana keluarga Erina menerima Daffa dengan baik, membuatnya sedikit ragu.
"Bagaimana kalau kita tunggu Erina. Biar dia mendengar langsung apa tujuanmu kemari. Karena ini menyangkut masa depan dia."
Tak lama Erina dan Daffa kembali dengan membawa 3 mug kopi. Dari wanginya sudah terbayang nikmatnya kopi panas tersebut.
__ADS_1
"Ini buat om. Untuk malam ini one shot saja. Sementara ini yang mochacino buat tante."
"Darimana kamu tahu kopi kesukaan kami?" tanya Andrew sambil menerima kopi tersebut. "Hmm... wanginya enak. Lebih enak dari kopi yang biasa dibuat mbok Siti. Om coba ya."
"Bagaimana om?" tanya Daffa deg-degan. Seperti tes menjadi barista.
Andrew tidak langsung menjawab. Ditatapnya Daffa dengan wajah serius.
"Bagaimana dad?"
"Ada rencana buka cafe, Daf? Om akan menjadi pelanggan pertamamu. Kopi racikan kamu pas dengan selera om."
"Honey, beneran seenak itu? Kamu itu kan sering protes kalau aku yang membuatkan kopi. Padahal kopi yang kuseduh dan mbok Siti seduhkan sama saja."
"Coba kamu minum mochacino mu. Kamu rasakan sendiri bagaimana kopi buatan calon menantumu."
Calon menantu? Apakah itu artinya Daffa sudah melamar Erina? Berbagai pikiran berkecamuk di pikiran Zafran.
"Hmm.. daddy mu benar. Takarannya pas. Mommy suka kopi buatan Daffa."
"Kamu nggak ngopi Rin?" tanya Andrew.
"Bareng sama Daffa aja, dad."
Apa? Minum dari gelas yang sama? Itu sama artinya secara tidak langsung mereka berciuman. Kembali pikiran Zafran teraduk-aduk.
"Wah, saking enaknya kopi buatan Daffa, om sampai lupa ada nak Zafran. Coba sekarang nak Zafran ungkapan apa yang tadi mau disampaikan."
"Begini om, tante... Zafran berniat melamar Erina untuk dijadikan istri."
"Apa? Kamu melamar Erin? Tapi Erin dan Daffa..... " Yuna terlihat bingung.
"Apakah orang tuamu sudah bisa menerima Erin menjadi calon menantu? Karena Erin pernah bercerita kalau orang tuamu menolak dia menjadi menantu," ucap Andrew setelah menyesap kopinya.
"Eh.. itu... Zafran yakin ummi dan abi pada akhirnya akan menerima Erin."
"Kamu yakin bisa melawan kehendak ummi mu?" Zafran terdiam mendengar pertanyaan tersebut.
"Maaf Dad, karena yang dibahas disini adalah masa depan Erin maka ijinkan aku bicara," potong Erina. "Erin nggak mau menikah dengan Zafran."
"Tapi rin, bukankah ini yang kamu tunggu-tunggu. Kalian saling mencintai dan hubungan kalian sudah berjalan dua tahun. Mommy rasa itu akan menjadi dasar utama menjalani rumah tangga."
"Dulu mungkin Erin sangat berharap bisa menikah dengan kak Zafran walau Erin tau ummi kak Zafran tidak menyukai Erin. Tapi sekarang Erin sudah nggak ingin lagi menikah dengan dia."
"Apakah ini karena Daffa?" tanya Yuna bingung.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐