TAKLUK

TAKLUK
BEROBAT


__ADS_3

"Iya aku tahu, tapi aku ingin melepaskan ketegangan ini denganmu, bukan dengan tanganku." bisik Ardian mesra. Lalu ia mengangkat tubuh Erina dan meletakkannya dengan lembut di atas ranjang mereka.


⭐⭐❤⭐⭐


"Tapi kamu kan harus berangkat pagi ini, sayang." Erina duduk seraya menutupi tubuh polosnya di balik selimut. Perasaannya saat itu sudah tak karuan. Jantungnya berdegup kencang karena gugup, takut sekaligus excited.


Ardian mengambil handuk lalu membungkus rambut Erina yang basah. Lalu ia mengambil ponsel dan menghubungi sebuah nomor.


"Ya halo pak Edwin. Pak, bisa tolong suruh Riko yang berangkat menggantikan saya?"


"....... "


"Oh saya nggak apa-apa kok pak. Oh iya, hari ini Erin juga nggak masuk ya. Iya, kami ada urusan mendesak." jawab Ardian.


Sambil menelpon, tangan Ardian membuka satu persatu kancing kemejanya. Lalu ia membuangnya sembarang. Tangannya juga mulai membuka gesper dan kancing celananya. Dalam sekejap, ia hanya mengenakan boxer dan kaos putih yang melekat di tubuhnya yang lumayan kekar.


Erina hanya bisa memandang tak percaya pada apa yang suaminya lakukan. Gawat, dia mau apa? Oh tuhan, apa hari ini gue harus kehilangan keperawanan gue? Erin bego! Elo kan sudah nggak perawan, batinnya.


"Di, kamu mau apa?" tanya Erina gelisah, saat Ardian duduk di sampingnya.


Ardian mulai membuka jam tangannya, lalu membuka kaos putih yang dipakainya. Kini di hadapan Erina tampak suguhan roti sobek milik Ardian. Erina tak berani melirik ke arah bawah tubuh Ardian karena tadi ia bisa merasakan gairah suaminya telah bangkit.


"Aku mau kamu," bisik Ardian mesra sambil mengikis jarak di antara mereka. Erina bisa mencium wangi parfum maskulin yang Ardian pakai. Oh god, kenapa tubuh gue begini hanya gara-gara mencium wangi parfumnya.


"Kasihan mbok Siti dan bi Imas harus menjaga anak-anak. Mereka pasti bingung kalau kita terlalu lama di dalam kamar."


"Sayang, bi Imas dan mbok Siti bukan anak perawan yang nggak mengerti hal seperti ini. Kamu lupa, mereka bahkan sudah punya cucu." Ardian terkekeh melihat Erina terus mencari-cari alasan.


"Aku khawatir dengan anak-anak. Mereka pasti...."


Ardian mengukung Erina dengan kedua tangannya. Lalu ia mengecup cepat bibir Erina. Setelah itu ia kembali melakukan panggilan telpon.

__ADS_1


"Assalaamu'alaykum, ma." Mama?


"Iya, ada apa Di?" Terdengar suara Amelia di seberang sana.


"Ma, boleh kami minta tolong?"


"Minta tolong apa, Di?" Kali ini terdengar suara Arga. "Bahu kamu baik-baik saja kan?"


"Iya pa. Bahu Ardi baik-baik saja. Ardi mau minta tolong papa mama untuk menjemput si kembar. Mama papa boleh ajak mereka jalan-jalan. Ajak bi Imas dan mbok Siti buat bantuin jaga si kembar."


"Lho, kamu kenapa Di? Kalian mau ke rumah sakit? Apa yang sakit Di?" Suara Amelia terdengar panik. "Nggak biasanya kalian membolehkan kami mengajak si kembar jalan-jalan tanpa kalian."


"Nggak ma, kami nggak mau ke rumah sakit. Tapi memang ada yang sakit sejak subuh tadi, dan harus segera disembuhkan oleh Erina."


"Apa yang sakit, Di? Kenapa Erina yang musti menyembuhkan. Erina kan bukan lulusan kedokteran. Kamu jangan ngada-ngada deh. Nanti kalau salah pengobatannya gimana? Jangan berbuat yang aneh-aneh lho." cerocos Arga.


"Senjata Ardi, pa," jawab Ardian sambil menahan malu. Ah elah, nggak ngertiin amat sih. Sejenak hening.


"Senjata? Sejak kapan kamu punya senja .... " Kata-kata Amelia terputus. Sepertinya Arga membisikkan sesuatu karena sesudahnya mereka berdua cekikikan.


"Oke, oke. Kami mengerti. Berobatnya nggak usah buru-bu0ru ya. Sebentar lagi kami akan menjemput anak-anak. Jangan lupa kunci pintu dan aktifkan peredam suaranya," nasihat Arga sambil cekikikan dengan Amelia.


"Berobat berhari-hari juga nggak apa-apa. Persediaan ASI Erin banyak kan? Oh iya Rin, obatin anak mama sampai sembuh ya," terdengar perkataan Amelia yang diucapkan dengan nada riang. "Oh iya Di, nanti mama buatin jamu untuk kalian. Jangan lupa diminum biar Ardian cepat sembuh." Telpon langsung ditutup setelah sebelumnya pasangan tua itu kembali cekikikan macam mbak Kunti.


"Dasar pasangan aneh," omel Ardian sambil tersenyum lalu menaruh handphone yang di silent di atas nakas.


Ardian menoleh ke arah Erina yang sedari tadi ikut mendengarkan.


"Kamu siap sayang?"


"Siap apa? Siap ke kantor?" tanya Erina berlagak bodoh padahal detak jantungnya saat ini semakin tak karuan. Mampus, gue kena arithmia nih.

__ADS_1


"Kamu nggak bisa mengelak lagi sayang. Maaf aku nggak punya kesabaran untuk menunggu lebih lama lagi."


Ardian kini benar-benar mengikis jarak di antara mereka. Ia mencium Erina dengan lembut. Erina membalasnya. Ciuman yang berawal manis kini mulai panas saat lidah mereka saling membelit.


Saat berciuman, tangan Ardian sibuk membelai tubuh Erina. Selimut yang tadinya menutupi tubuh Erina kini tergeletak di lantai. Lenguhan halus lolos dari mulut Erina membuat Ardian bersemangat untuk melakukan lebih.


Mereka melepaskan tautan b**** mereka dan saling menempelkan dahi mereka karena pasokan oksigen yang mulai menipis. Nafas keduanya tersengal.


"Rin, kamu sadar kan kalau kali ini aku nggak bisa dan nggak akan mau mundur lagi?" bisik Ardian dengan nada parau akibat gelombang gairah yang mulai memasuki aliran darahnya.


"Maafkan aku karena selama ini sudah egois. Aku istrimu yang sah. Demi baktiku padamu, maka mulai hari ini aku akan memenuhi kewajibanku sebagai istri."


"Aku yang minta maaf karena tak bisa menahan diriku lagi. Kalau selama ini aku ... mmpphhhh..." Ardian tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena kali ini Erina yang memagut bibirnya.


Bahkan tangan Erina tak tinggal diam dengan sibuk membelai dada dan roti sobek milik Ardian.


"Kamu terlalu cerewet." bisik Erina sambil menatap mata Ardian. "Lakukan apa yang ingin kamu lakukan."


"Kamu menggodaku, sayang. Aku bisa gila kalau kamu terus menyentuhku seperti ini." desah Ardian saat tangan Erina semakin nakal.


Ardian sudah sangat ingin melepaskan ketegangannya, namun ia tahu sang istri juga membutuhkan persiapan. Ia kembali mencium bibir Erina sementara tangannya sibuk membelai tubuh sang istri. Erina menahan nafas saat bibir Ardian meninggalkan tanda kepemilikan di lehernya. Ia ingin protes namun sensasi aneh muncul saat bibir dan tangan Ardian semakin nakal. Bahkan akhirnya mampu membuat Erina melayang dan mencapai puncak.


Nafas Erina tersengal dan tubuhnya bergetar akibat kenikmatan yang diberikan suaminya. Pemandangan yang sangat indah di mata Ardian. Kini posisi Ardian menindih dan mengukung tubuh Erina.


"Rin, kamu siap? Maaf kalau awalnya kurang nyaman."


"Lakukan dengan lembut, Di. Aku yakin sakitnya takkan lama." Erina membelai rambut Ardian.


Mendapat lampu hijau dari sang istri, Ardian langsung bersiap memulai serangan pertamanya. Erina hanya mampu menutup mata karena malu melihat tubuh polos Ardian.


"Buka matamu sayang. Lihatlah aku," bisik Ardian. Lalu ia membisikan sebaris doa sebelum akhirnya mulai menyerang.

__ADS_1


Erina terkejut sekaligus gugup saat serangan pertama dilakukan. Mengerti kegugupan sang istri, Ardian melakukannya sedikit demi sedikit dengan lembut agar tak menyakiti Erina.


⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2