
"Daf, gue mendadak nggak yakin," ucap Erina saat mereka makan siang bersama.
"Nggak yakin untuk menikah denganku?"
"Bukan itu."
"Lalu kenapa?"
"Gue nggak yakin siap bertemu dengan keluargamu."
"Seorang Erina bisa gugup juga ya?" ledek Daffa. Tangannya mengelus kepala Erina dengan lembut. "Nggak usah gugup. Mereka baik kok. Dan seingatku mereka nggak makan orang."
Mau tak mau Erina tertawa mendengar lelucon tersebut. "Garing banget sih joke-nya."
"Nggak apa dibilang joke-nya garing, yang penting kamu tertawa."
"Ih, sumpah nggak lucu banget." Erina memukul pelan lengan Daffa.
"Buktinya kamu tertawa." Daffa menangkap tangan Erina dan mencium lembut punggung tangan Erina.
"Daf, apaan sih." Erina berusaha menarik tangannya namun Daffa tak melepaskannya.
"Kenapa? Malu?" tanya Daffa sambil menatap dalam mata Erina.
"Hemm.. nggak juga." Erina berusaha meredakan debaran jantungnya. "Nggak enak aja kalau dilihat orang lain."
"Apa yang kulakukan adalah hal yang wajar. Kecuali kamu takut dilihat oleh mantanmu."
"Mantan?"
"Iya, kudengar dari Ardian kamu belum lama putus dari mantanmu."
Hingga saat ini kami belum putus. Atau tidak ada kata putus diantara kami. Bahkan hingga saat ini Zafran masih rajin mengirim pesan menanyakan kabarnya. Padahal dalam waktu dekat Zafran akan menikah.
"Kenapa diam? Masih belum bisa melupakan mantan?" Erina hanya mengangkat bahu.
"Mungkin di antara kita memang tidak ada atau belum tumbuh rasa cinta. Tapi kalau nanti kita menikah, aku nggak mau masih ada urusan yang belum selesai di antara kalian." Daffa tetap tak melepaskan genggamannya.
Erina hanya terdiam mendengar ucapan Daffa. Cinta. Apakah mungkin tumbuh cinta diantara mereka? Tapi kenapa jantungku bertingkah seperti tadi.
"Erin?" Tiba-tiba terdengar suara yang sangat akrab di telinganya. Erina menoleh ke arah suara tersebut. Terlihat Zafran yang sepertinya baru selesai makan siang dengan kliennya.
"Siapa dia Rin? Mantanmu?" bisik Daffa di telinga Erina, yang membuat Erina merinding. Apalagi nafas hangat Daffa terasa menyentuh lehernya.
"Kamu sama siapa, Rin?" tanya Zafran dengan wajah tak ramah.
"Kenalin, aku calon suami Erina. Daffa." Daffa melepaskan genggamannya dan mengulurkan tangan kanannya pada Zafran, namun tangan kirinya melingkari bahu Erina.
Zafran memandang Erina menuntut penjelasan. Erina membuang pandangnya.
"Anda?"
__ADS_1
"Zafran. Calon suami Erina." Erina menoleh cepat pada Zafran.
"Maaf pak Zafran. Mungkin anda kurang update. Menurut orang tuanya, nona Erina belum pernah ada yang melamar. Itu artinya dia belum memiliki calon suami," ucap Daffa ramah namun tegas. Kini lengannya malah pindah ke pinggang Erina dan menariknya hingga tubuh mereka menempel.
Erina terlihat bingung tak tahu harus bicara apa. Namun satu hal yang pasti ia merasa nyaman dalam pelukan Daffa.
"Rin, jelaskan apa maksud semua ini? Aku kan sudah mengajakmu menikah."
Kini tangan kanan Daffa kembali menggenggam jemari Erina. Entah mengapa Erina merasa mendapat kekuatan melalui genggaman jemari pria itu.
"Maaf, hubungan kita sudah selesai. Aku bukan calon istrimu. Tolong jangan menyakiti hati wanita yang akan menjadi istrimu."
"Tapi Rin, aku kan sudah bilang kalau aku akan menikahimu." Zafran terlihat tak mau mundur.
"Maaf, tapi kurasa apa yang Erina katakan sudah jelas. Hubungan kalian sudah selesai dan sepertinya dia tak ingin menjadi istri anda." Kembali Daffa ikut bicara. "Dan mengingat temperamen calon istri saya, sebaiknya Anda segera meninggalkan tempat ini."
"Rin..."
"Kamu sudah mendengar ucapan calon suamiku. Tolong segera menghilang dari hadapanku. Maaf bukan hanya dari hadapanku, tapi tolong menghilanglah dari hidupku," ucap Erina dingin. Jemarinya menggengggam erat jemari Daffa. "Sekali lagi kutegaskan hubungan kita sudah selesai. Zulfa adalah wanita yang paling tepat untukmu."
"Erin, dengarkan..."
"Anda sudah mendengar sendiri kata-kata Erina. Jangan lagi mengganggu hidupnya dan sekarang tolong tinggalkan kami sebelum saya panggilkan security."
"Baik kali ini aku akan pergi. Aku akan datang ke rumahmu dan melamarmu." Zafran meninggalkan mereka dengan kemarahan yang jelas terlihat di wajahnya.
"Are you okay, Rin?" Daffa masih belum melepaskan tangannya. Bahkan ia menarik kepala Erina agar bersandar di dadanya. "Jangan tahan tangismu. Mulai saat ini kamu boleh menangis di dadaku dan kuharap itu bisa membantu meringankan perasaanmu."
"Tell me when you need shoulder to lean on," bisik Daffa sambil mencium pucuk kepala Erina.
⭐⭐⭐⭐
"Dad, mom.. Daffa nanti malam mau bertemu," ucap Erina kepada kedua orang tuanya saat mereka sarapan.
"Daffa anak pak Irwan?" Erina mengangguk.
"Kamu pacaran sama dia?" tanya Yuna penasaran. Walaupun wajah terlihat datar, namun di matanya terlihat binar bahagia.
"Entahlah. Mungkin aku akan menikah dengannya," jawab Erina sambil meraih selembar roti gandum dan mengoleskan selai strawberry. "Dad, do you want bread?"
"No thanks. I guess this juice is enough for me dear," tolak Andrew.
"Ayahmu lagi diet, sayang."
"Really dad? Diet? Why?" tanya Erina berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Rin, kamu serius mau menikah dengan Daffa?" Kembali Yuna mengajukan pertanyaan.
"Sepertinya."
"Kenapa kamu terlihat ragu?" Kali ini Andrew yang bertanya.
__ADS_1
"Rin, jangan gegabah mengambil keputusan bila memang hatimu belum yakin." Yuna menasihati putri kesayangannya.
"Apakah kamu melakukan ini karena tak ingin dijodohkan dengan pilihan eyang Fatma?"
"Salah satunya itu."
"Do you love him?"
"I don't know yet, dad."
"Rin, jangan menikah tanpa cinta," nasihat Yuna. "Mommy khawatir kamu akan kecewa."
"Mom, Erin sudah berkali-kali jatuh cinta. Pada akhirnya Erina kecewa dan ditinggalkan. Kali ini Erin nggak mau mengedepankan cinta dalam memulai sebuah hubungan," jawab Erina. "Mungkin saat ini kami masih belum mencintai, tapi bukan hal mustahil kalau nantinya kami bucin."
"Bucin? What's that mean?" tanya Andrew bingung.
"Itu Istilah anak muda dad," jelas Erina sambil tertawa. "Budak Cinta. Love Slave."
"Mommy nggak akan melarangmu menemukan kebahagiaan. Kalau memang kamu merasa nyaman dengan dia dan begitu juga sebaliknya, silakan lanjutkan rencana kalian. Mommy nggak mau ada satu pihak yang merasa terpaksa."
"Your mom is right dear," Andrew menambahkan. "Kamu sudah lihat bagaimana pernikahan yang dilakukan terpaksa seperti uncle Tito dan aunty Wirda. Menikah karena terpaksa yang berujung perceraian."
"Makanya aku nggak mau dijodoh-jodohin, dad. I wanna choose my own partner. Coz' I'm the one who know the right one for me."
"Jadi Daffa orang yang tepat untukmu?" tanya Yuna.
"Entahlah mom. Sejauh ini kami cukup klik."
"Do you feel something in your heart?" tanya Andrew. "What about your heartbeat?"
"Dad, I don't know yet. But I guess I feel something when I'm with him," jawab Erina sambil mengingat pertemuan terakhirnya dengan Daffa.
Yuna dan Andrew tersenyum bijak mendengar jawaban Erina. Mereka akan sangat bersyukur bila putri mereka bisa segera menemukan jodohnya.
"Tanya Daffa dia suka makan apa, nanti mommy akan buatkan."
"Apa itu artinya mommy menyetujui rencana kami?"
"Mommy memang khawatir, tapi kalau kamu merasa yakin dengan hubungan kalian maka nggak ada alasan mommy menentangnya. Mommy malah bahagia kalau kamu sudah menemukan seseorang yang akan menjagamu."
Erina bangkit dari duduknya dan memeluk erat Yuna. Andrew tersenyum melihat hal tersebut.
"Jam berapa Daffa akan kemari?" tanya Andrew. "Daddy akan sesuaikan jadwal."
"Apakah dia akan datang bersama keluarganya?"
"Belum mom. Erina saja belum kenal dengan keluarganya selain pernah beberapa kali bertemu pak Irwan."
"Kami akan menunggu kedatangan Daffa."
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1