TAKLUK

TAKLUK
UNBELIEVABLE


__ADS_3

"Lex, please kasih tahu gue keberadaan Erin," bujuk Ardian saat bertemu dengan Alexia.


Sejak kejadian malam itu Ardian belum berhasil menemui Erina lagi. Sehari setelah kejadian, Ardian kembali ke apartemen. Ia mencoba memasukkan pass-code namun tak berhasil. S***, sepertinya Erin telah mengganti pass-code nya. Ya tuhan, bagaimana keadaannya? Bagaimana kalau dia melakukan tindakan nekat dan aku tak bisa menolongnya. Tuhan, sampai kapanpun aku takkan pernah siap kehilangan dia. Tuhan, tolong jaga dia untukku. Berikan aku kesempatan menjaganya seumur hidupku. Berikan aku kesempatan membahagiakannya. Hanya itu doa yang terus menerus Ardian


"Sudahlah Di, elo nggak usah cari Erin. Dia nggak mau ketemu sama elo. Gue nggak tahu kesalahan apa yang sudah lo perbuat, tapi yang pasti dia marah banget sama elo." ucap Alexia dan ia tak berbohong. Erina memang belum bercerita apa-apa padanya, tapi tegas gadis itu melarang memberitahu Ardian dan Daffa mengenai keberadaannya.


FLASHBACK ON


Setelah mendapat telpon dari Erina, Alexia kembali ke kamar dan didapatinya Raymond telah terbangun.


"Beb, kenapa bangun?"


"Aku khawatir karena kamu lama banget terima telponnya. Ada apa? Apa yang terjadi pada Erina?"


Alexia menceritakan semua pembicaraannya dengan Erina kepada sang suami. Raymond mendengarkan semuanya dengan sampai akhir tanpa memotong sedikitpun.


"Kasihan Erin. Aku yakin masalah yang harus ia hadapi pasti sangat pelik."


"Bagaimana kita bisa membantunya, sayang?"


"Sesuai permintaan dia, kita carikan tempat untuk dia."


"Tapi dimana? Nggak mungkin kita menyuruh Erina ke salah satu villa milik keluargaku atau keluargamu karena Ardian tahu semua tempat itu." Alexia terlihat cemas.


Raymond yang memang suami pengertian dapat melihat kecemasan itu lalu ia menarik Alexia ke dalam pelukannya. Ia yakin istrinya sangat mencemaskan Erina. Saat di dalam pelukannya, pertahanan Alexia pun jebol. Ia menangis tesedu-sedu.


"Ssshhh... sudahlah jangan menangis. Erina menelponmu bukan karena ingin membuatmu sedih. Kamu harus tegar dan kuat bila ingin membantu Erina." Raymond membujuk Alexia sambil mengusap-usap punggung sang istri. "Tugas kita saat ini adalah membantu tanpa mendesaknya untuk bercerita. Aku yakin suatu saat nanti, saat sudah siap, Erina akan memberitahukannya padamu."


"Aku takut Erina berbuat nekat seperti dulu."


"Kalau dia mau nekat, nggak mungkin dia akan menelpon dan memintamu mencarikan tempat persembunyian baginya." Raymond terus menenangkan istrinya.


"Iya sayang, kita harus membantunya."

__ADS_1


Pada akhirnya Raymond berhasil meminjam cottage milik koleganya. Tadinya mereka yang akan menempati cottage tersebut saat merayakan ulang tahun pernikahan mereka.


FLASHBACK OFF


Ardian terdiam mendengar ucapan Alexia. Ia tahu Erina saat ini sangat membencinya. Itu lebih baik asal Erina tidak berbuat nekat. Ia sendiri berencana menceritakan perbuatannya pada Arga, sang ayah. Lalu ia akan menghadap Andrew untuk melamar Erina. Ia tahu pasti nggak akan semudah itu mendapatkan ijin dari kedua orang tua Erina, terutama dari Andrew. Dan bukan hal mustahil Andrew akan menghajarnya hingga babak belur bila mengetahui Ardian sudah merenggut keperawanan Erina, putri satu-satunya. Belum lagi ia pasti akan dihajar habis-habisan oleh Daffa.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" tanya Alexia penasaran. Setelah keberangkatan Erina, ia mengajak Ardian bertemu. Ia sangat penasaran sekaligus khawatir telah terjadi sesuatu pada kedua sahabatnya itu.


"Apakah dia nggak cerita apa-apa ke elo?" Ardian balik bertanya. Alexia menggeleng.


"Gue mau melamar dia."


"What?! Are you insane?" tanya Alexia tak percaya. "What the h*** are you thinking? Are you serious?"


"Gue serius Lex. Gue mau melamar Erin."


"°Apa elo yakin dia bakal terima lamaran lo? Nggak usah ngada-ngada deh," tanya Alexia. "Lo kan tahu kalau dia sudah tunangan dengan Daffa."


"Entahlah. Gue cuma tahu kalau gue harus bertanggung jawab atas apa yang telah gue lakukan ke Erin."


"Dia nggak cerita apa-apa ke elo?" Alexia menggeleng. Ardian menghela nafas kasar. Lalu ia menghisap dalam-dalam rokoknya.


"Di, ada apa sih dengan kalian berdua? Gue yakin ini bukan pertengkaran biasa di antara kalian." Ardian tak menjawab. Ia hanya menghembuskan asap rokoknya dan memandanginya hingga asap itu menghilang.


"Kalian berdua aneh. Nggak satupun di antara kalian yang mau cerita tentang apa yang sudah terjadi. Bagaimana gue bisa membantu kalian kalau kalian bersikap seperti ini. Kalian pikir gue cenayang yang bisa membaca pikiran kalian?" Alexia mulai kesal pada Ardian.


"Gue sudah melakukan ketololan yang akan membuat dia membenci gue seumur hidup."


"Ya ampuuun.. please bilang terus terang apa yang sudah terjadi! Bagaimana mungkin dia akan menerima lamaran lo kalau memang elo sudah melakukan kesalahan fatal." Alexia mulai kehilangan kesabaran. Ia menenggak habis lemon tea-nya.


"Please kasih tau gue dia ada dimana? Gue harus menjelaskan semuanya ke Erin dan meminta dia untuk menikah dengan gue."


"Di, gue nggak tahu Erin dimana. Terakhir telpon dia nggak cerita apa-apa. Dia cuma bilang nggak mau bertemu elo ataupun Daffa." Alecxia terpaksa berbohong demi Erina. Walaupun tidak 100% berbohong.

__ADS_1


"Gue ... gue nggak tahu harus darimana menceritakannya. Gue tahu gue terlambat menyadari perasaan cinta ini. Tapi gue nggak peduli. Gue cuma mau dia selalu ada dalam hidup gue, sebagai pendamping dan sebagai ibu dari anak-anak gue."


"Meskipun dia akan membenci lo seumur hidup?"


"Meskipun dia akan membenci gue seumur hidup." jawab Ardian. "Itu masih lebih baik daripada gue kehilangan dia."


"Apa yang akan lo lakukan seandainya dia menolak lamaran lo?"


"Gue akan terus menunggu sampai dia menerima lamaran gue."


"Bagaimana kalau ternyata dia lebih memilih Daffa?"


"Entahlah Lex. Gue nggak pernah memikirkan hal itu. Gue akan mengatakan yang sebenarnya pada Daffa dan keluarganya, agar mereka mau memutuskan pertunangan itu."


"Jangan nekat Di."


"Gue nggak akan menyerah untuk merebut Erin dari Daffa. Apalagi kalau nantinya Erin hamil akibat perbuatan gue."


"OH LORD! WHAT THE F*** ... ARE YOU SERIOUS?! OH MY GOD!" Ardian hanya diam sambil memandang gelasnya yang setengah terisi wine.


Alexia memandang Ardian tak percaya. Apakah benar apa yang Ardian katakan, seandainya Erin hamil akibat perbuatannya. Hamil oleh Ardian? What.... S***, gue butuh minuman keras, omel Alexia. Apakah itu artinya selama ini Erina berselingkuh di belakang Daffa? Apakah selama ini hubungan mereka lebih dari sekedar sahabat? Apakah selama ini mereka sudah tidur bersama? Friend With Benefit? Unbelievable!


"Jadi selama ini kalian ..... S***, it's unbelievable. Euugh... I can't imagine... you and Erin? Elo pasti nge-prank gue kan? Ini pasti skenario kalian berdua, sebagai hadiah anniversary gue dan Raymond." Alexia masih tak percaya dan menyangkal hal tersebut. "Bercandaan kalian nggak lucu tau!"


Ardian hanya diam, tak bereakasi. Ia hanya menenggak habis wine yang tersisa di gelasnya. Alexia tersadar... s**t, Ardian nggak nge-prank. Dia serius, batin Alexia. Tapi mana mungkin mereka.... sementara mereka .... aaaarghh, bisa gila gue mikirin dua alien ini!


"Kalian nggak pernah three**** kan?" Alexia menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengenyahkan bayangan menjijikan yang tiba-tiba muncul di benaknya. Erina mungkin terkesan liar, tapi dia memiliki prinsip dalam hidupnya terutama mengenai virginitas. Dari dulu Erina selalu berkata akan memberikan keperawanannya pada suaminya kelak. Apakah dia sangat putus asa sehingga pada akhirnya menyerahkan mahkotanya pada Ardian?


"Jangan mikir yang aneh-aneh. Lo tau kan gimana Erin. Mana mungkin kami melakukan hal sehina itu," bela Ardian.


"Di, setelah mendengar ucapan lo tadi gue nggak yakin mengenal Erin dengan baik. Karena Erin yang gue kenal nggak akan melakukan itu, walau sama elo sekalipun. Gue tau kalian sering berbagi ranjang, tapi gue juga tahu kalau kalian sangat menjaga batasan tersebut. Apakah akhirnya kalian menyerah?" cecar Alexia.


"I did it while she was unconscious. She was drunk," ucap Ardian pelan sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"WHAT THE F***?! YOU'RE SON OF A B****!" Dan telapak tangan Alexia mendarat di pipi Ardian. Tamparan yang sangat keras dan menimbulkan bunyi yang cukup kencang, sehingga membuat beberapa pengunjung yang ada di restaurant itu menoleh ke arah mereka.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2