
"Assalaamu'alaykum. Malam dad, mom," sapa Ardian yang malam itu baru pulang dari kantor. Jam dinding menunjukkan pukul setengah 10 malam.
"Baru pulang Di? Kamu lembur?" tanya Andrew yang sedang menikmati siaran televisi.
"Iya dad. Tadi ada yang harus dipersiapkan untuk pengajuan tender besok. Doain proposal tendernya lolos, dad," jawab Ardian. "Ardi masuk kamar dulu, mau bersih-bersih."
Baru dua menit, Ardian sudah keluar kamar.
"Mom, Erin mana?" tanya Ardian khawatir.
"Pergi sama Lexi. Lho, memangnya dia nggak ngabarin kamu?"
"Nggak mom. Mereka pergi kemana ya?" Ardian terlihat bingung karena tak menemukan istrinya di dalam kamar.
"Ya ampun tuh anak, padahal tadi mommy sudah bilang ke dia untuk kirim pesan ke kamu," ucap Yuna gusar. "Coba kamu telpon Erin."
Ardian menuruti permintaan ibu mertuanya. Namun berkali-kali ia menelpon, Erina tak mengangkat.
"Nggak diangkat mom."
"Bagaimana dengan Lexi? Tadi dia yang menjemput istrimu."
"Sama mom. Nggak diangkat juga. Mungkin dia lagi menyetir." Ardian tampak resah.
"Kenapa tidak menelpon Raymond. Mungkin dia tahu kemana istrinya dan Erin pergi," usul Andrew.
Ardian mencoba menelpon Raymond. Pada deringan ke sepuluh akhirnya Raymond mengangkat telponnya.
"Ada apa bro?"
"Bang, elo lagi sama Lexi?"
"Nggak. Gue baru selesai meeting dengan para dosen. Sekarang gue lagi dalam perjalanan ke rumah sakit?"
"Ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Tadi Lexi bilang nggak mau pergi kemana dengan Erin?"
"Lexi cuma bilang diajak jalan sama Erina. Tapi setengah jam yang lalu ia minta dijemput. Mobilnya diseruduk mobil lain dari belakang."
"Apa? Mobilnya diseruduk? Bagaimana keadaan Erin? Bagaimana keadaan anak-anak gue?" tanya Ardian cemas.
"Untungnya mereka pakai seatbelt jadi mereka aman. Hanya saja kepala Erina memar karena terbentur jendela mobil. Sekarang gue mau jemput mereka. Menurut Lexi mereka dibawa ke rumah sakit Bina Husada."
"Rumah sakit? Oke, oke gue akan kesana, bang."
Ardian langsung bergegas masuk ke kamar. Tak lama ia sudah memakai jaket dan bersiap pergi.
"Mom, dad, Ardi pergi dulu menjemput Erin."
"Bagaimana keadaan Erin?" tanya Yuna cemas. "Kenapa dia dibawa ke rumah sakit?"
"Menurut info dari Raymond, mobil Lexi diseruduk mobil lain. Katanya kepala Erin memar karena terbentur jendela. Mom, nanti Ardi kabari lebih lanjut dari rumah sakit."
__ADS_1
"Di, kamu diantar bang Ali," perintah Andrew
"Nggak usah dad."
"Kamu jangan menyetir sendiri. Daddy khawatir kamu malah kenapa-napa karena menyetir dalam keadan kalut." Akhirnya mau tak mau Ardian menuruti perintah mertuanya.
⭐⭐⭐⭐⭐
"Bang, mana Erin?" tanya Ardian saat dilihatnya Raymon duduk sendirian di dalam ruang perawatan. "Bagaimana keadaan Erin dan Lexi?"
"Lexi baik-baik saja walau agak kaget. Erin kepalanya terbentur jendela karena saat kejadian ia sedang tertidur."
"Lalu sekarang mereka dimana? Kok nggak ada disini?" tanya Ardian tak sabar.
"Tadi Erina juga sedikit shock dan dia mengeluh perutnya sakit. Sekarang dia ...."
"Perutnya? Perutnya kenapa? Dia nggak keguguran kan? Anak-anak kami baik-baik saja kan?" tanya Ardian panik.
"Sabar Di, sabar. Sekarang Lexi sedang menemani Erin bertemu dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Dimana ruangannya? Gue harus mendampingi Erin. Gue khawatir dia histeris." Ardian terus meracau. Raymond terkekeh melihat sikap Ardian. Ini sih Ardian yang histeris, bukan Erina, batin Raymond sambil menahan senyumnya.
"Sabar Di, sabar. Gue yakin mereka baik-baik saja. Tadi suster membawa mereka ke ruang pemeriksaan dokter kandungan di lantai 3." Baru saja Raymond selesai bicara, Ardian langsung berlari.
Tak lama kemudian Ardian sudah berada di depan ruang dokter kandungan. Ia mengetuk pintu.
"Iya pak, ada perlu apa? Maaf dokternya sedang ada pasien. Kalau bapak mau membicarakan penawaran obat, nanti saja kalau pasiennya sudah habis," ucap perawat setengah baya dengan sikap ketus. Sialan, gue disangkain sales obat.
"Ih bapak kepedean banget. Jaman sekarang sales nggak kalah perlente dengan direktur. Bapak nggak update masalah trend masa kini ya? Memangnya bapak hidup di jaman apa sih?" balas si perawat tetap dengan sikap judesnya. Waduh Ardian dan perawat itu malah ribut urusan penampilan.
"Sus, saya ini suami dari pasien yang sedang diperiksa," ucap Ardian pelan-pelan setelah ia menghembuskan nafas kasar karna kesal.
"Nggak mungkin bapak suami pasien yang di dalam." sahut si perawat dengan raut wajah heran.
"Kenapa nggak mungkin? Wajar kan suami mendampingi istrinya periksa. Lagipula saya itu penasaran bagaimana kondisi kehamilan istri saya."
"Hamil? Ih, bapak ngaco nih." Si perawat malah tertawa.
"Sus, ngaco gimana sih? Sudah deh, suster nggak usah menghalangi saya ketemu istri saya."
"Pak, dengar baik-baik ya. Pasien yang di dalam itu lebih pantas disebut nenek daripada istri bapak. Wah, jangan-jangan bapak ini golddigger ya? Atau gi***o?" Kalimat terakhir diucapkan sambil berbisik disertai senyuman sinis.
"Suster jangan macam-macam ya. Mana ada g****o penampilannya kayak saya."
"Dih si bapak benar-benar kudet nih. Jaman sekarang mah susah membedakan mana pria yang baik dengan pria pemuas nafsu nenek-nenek," ucap si perawat sambil tergelak. "Banyak pria muda yang menjadi partner *** sugar mommy."
"Astaghfirullah, suster ngaco nih!"
"Justru bapak yang ngaco. Tadi kan saya sudah bilang, pasien yang di dalam itu lebih pantas jadi nenek anda karena usianya sudah 70 tahun. Anda fetish-nya nenek-nenek ya?" Si perawat tertawa sinis.
"Nenek-nenek? Tadi katanya istri saya, Erina dibawa kesini."
__ADS_1
"Oh nyonya Erina yang kecelakaan." Si perawat manggut-manggut. "Kalau nyonya Erina saat ini sudah dibawa kembali ke ruangannya."
"Bagaimana kondisi bayi-bayinya?"
"Ya ampun, harusnya bapak dari tadi bilang kalau bapak itu suaminya nyonya Erina. Jadi saya kan nggak salah sangka, Sebentar ya pak, setelah pasien yang di dalam keluar, bapak saya kasih kesempatan bertemu dokter, tapi hanya sebentar."
Setelah bertemu dokter, Ardian kembali ke kamar dimana Raymond tadi menunggu.
"Elo darimana?" tanya Alexia heran saat Ardian memasuki kamar.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Ardian tak menggubris pertanyaan Alexia.
"Dia baik-baik saja, cuma masih agak shock," jawab Alexia. "Dokter menyuruh dirawat inap malam ini untuk observasi. Memastikan tak ada gejala lanjutan."
"Tadi kalian kemana? Kenapa pulangnya malam banget?" tanya Ardian pada Erina yang malah membuang muka menghindari tatapan Ardian.
"Tadi kita cuma jalan-jalan sebentar." jawab Alexia sambil menundukkan kepala. Raymond langsung menyadari ada sesuatu yang disembunyikan istrinya.
"Jalan-jalan kemana? Kenapa nggak satupun di antara kalian yang mengabari?" desak Ardian dengan nada tinggi.
"Lho, Erina nggak bilang sama elo kalau mau jalan sama Lexi?" tanya Raymond kaget. Ardian menggeleng.
"Rin, tadi kamu kemana?" tanya Ardian dengan nada lebih lembut sambil mengelus kepala Erina yang kini memunggungi dirinya. "Boleh aku lihat kepalamu yang memar?"
"Apaan sih? Berisik tau!" Bukannya menjawab atau menunjukkan kepalanya yang memar Erina malah membentak Ardian lalu bersembunyi di balik selimut.
Alexia dan Raymond hanya bisa menatap dan menepuk bahu Ardian. Mereka tahu Erina sampai saat ini masih belum bisa menerima Ardian sebagai suami.
"Sabar ya Di. Mungkin dia masih shock dan ingin istirahat," ucap Alexia sambil menepuk bahu sahabatnya.
"Kalian sudah makan malam?" tanya Ardian. Alexia mengangguk.
"Tadi sebelum pulang kami makan malam dulu. Kebetulan kami ditraktir ......" Alexia berhenti bicara sambil memukuli bibirnya sendiri.
"Apa lo bilang, Lex? Kalian ditraktir siapa?" desak Ardian.
"Oh.. eh.. itu tadi ketemu sama Reynold, sepupunya Raymond. Dia yang traktir kita makan." jawab Alexia gugup.
Raymond mengerutkan dahinya. Ia tahu Alexia berbohong, karena tadi Reynold ikut rapat dengannya. Kebetulan Reynold dalam waktu dekat akan ikut mengajar di kampus mereka.
"Reynold?" tanya Ardian curiga. "Dia itu yang dulu mau lo jodohin sama Erin kan?"
"Iya. Tapi Erin menolak dijodohin sama dia."
"Di, gue dan Lexi pulang dulu ya. Kasihan kalau kita kelamaan disini, Erin malah nggak bisa istirahat." Raymond langsung berpamitan sebelum Alexia tambah gugup.
"Oke, bang. Thanks sudah urusin semuanya. Oh iya Lex, saat makan tadi Erin nggak mual kan?"
"Nggak. Gue pulang dulu ya Di. Jangan lupa kabarin orang rumah."
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1