TAKLUK

TAKLUK
MENIKAH


__ADS_3

"Daddy nggak mau tahu, dua hari lagi kamu harus menikah dengan Ardian," Andrew memberi ultimatum dari pembaringannya.


"Erin nggak mau dad!" tolak Erina.


"Kenapa nggak mau?" tanya Yuna.


"Erin benci dia," jawab Erina singkat.


"Rin, tolonglah mengerti kondisi daddy-mu. Perusahaan daddy hampir kolaps karena Group Hermawanto membatalkan beberapa proyeknya. Banyak subcont yang menuntut ganti rugi," ucap Yuna dengan wajah sedih.


Erina terdiam mendengar permintaan mommy-nya. Ia bukan tak mengerti situasi yang dihadapi oleh perusahaan Andrew, tapi menikah dengan Ardian adalah pilihan terakhir yang akan dipilihnya. Rasa benci masih melingkupi hatinya.


"Rin, sorry I have to tell you this. We have to save the company. Banyak yang bergantung pada perusahaan kita."


"Mengapa kita tak mengajukan pinjaman ke bank untuk menutupi kerugian tersebut?" tanya Erina.


"Perusahaan kita sudah memiliki hutang yang tak sedikit pada bank Androstar. Bila kita mengajukan pinjaman lagi maka perusahaan kita akan bangkrut. Daddy nggak mau itu terjadi."


Erina diam termanggu mendengar ucapan Andrew.


"Rin, I'm afraid I will die soon."


"Please dad, don'tsay that! Daddy akan sembuh total. You are the healthiest person I've ever known," jerit Erina sambil memeluk Andrew. "Please, jangan tinggalin Erin dan mommy."


"Rin, tolong turuti permintaan daddy-mu," bujuk Yuna. "Satu hal lagi yang kamu harus tahu. Daddy mu berhutang budi pada keluarga eyang Prabu. Keluarga besar mereka bersedia membantu perusahaan daddymu dengan syarat kamu harus menikah dengan Ardian," jelas Yuna.


"APA?! MENIKAH DENGAN COWOK BRE****K ITU? ERIN NGGAK MAU!!" tolak Erina.


"Sayang, hal itu terpaksa daddy lakukan. Bank Androstar merubah perjanjian kredit. Mereka memperpendek masa pelunasan hutang. Dengan banyaknya proyek yang dibatalkan dan tuntutan dari para subcont, perusahaan kita tak mampu memenuhi pembayaran hutang yang dipercepat itu."


"Kenapa Androstar seenaknya saja merubah perjanjian tersebut?" tanya Erina dengan emosi.


"Pemilik bank Androstar adalah Anto Pranoto, om dari Daffa. Keputusanmu membatalkan recana pernikahan kalian membuat keluarga mereka memboikot perusahaan kita."


Erina terdiam mendengar penjelasan Andrew. Ia tak menyangka keputusannya memutuskan pertunangan akan memberi impact sebesar itu pada perusahaan mereka.


"Kamu sayang daddy?" tanya Yuna dengan suara tercekat menahan tangis. Lagi-lagi Erina tak mampu menjawab.


"Permintaan daddy hanya satu. Menikahlah dengan Ardian demi menyelamatkan perusahaan dan hidup mereka yang bergantung pada perusahaan kita," pinta Andrew dengan suara lemah.


"Sebelum pulang, dokter berpesan agar daddy-mu tidak boleh banyak berpikir dulu. Dia tak boleh stress karena dikhawatirkan dapat terjadi serangan kedua yang lebih fatal." Penjelasan Yuna membuat Erina terkejut. Ia tak ingin kehilangan sang daddy.


"Kalian menjual Erin pada keluarga Ardian?" tanya Erin perlahan.

__ADS_1


"Kami tidak menjualmu, sayang. Seperti kamu ketahui, Ardian mencintai dan ingin menikahimu."


"Tapi dia sudah merusak hidup Erin."


"Rin, dia bersedia bertanggung jawab atas perbuatannya. Ini juga demi kebaikan bersama, bukan semata demi perusahaan daddy," bujuk Yuna. "Kami tak pernah meminta apapun darimu. Tolong penuhi permintaan kami kali ini."


"But mom ... " Erina menatap kedua orang tuanya yang memandangnya dengan pandangan memohon. Hatinya galau. Ia sangat menyayangi kedua orang tuanya namun permintaan mereka sangat berat untuk dipenuhi.


⭐⭐⭐⭐


"Saya terima nikah dan kawinnya Erina Aurelia binti Andrew Smith dengan mas kawin 100 gram logam mulia dibayar tunai."


"Sah!"


"Alhamdulillah," terdengr gumaman dari mereka yang hadir dalam pernikahan sederhana itu.


Semuanya terjadi begitu cepat dan kini Erina berdiri berhadapan dengan Ardian.


"Silakan mempelai wanita mencium tangan suaminya," ucap penghulu.


Ardian mengulurkan tangannya. Erina hanya menatap tangan itu.


"Rin, cium tangan Ardian!" bisik Alexia yang berdiri di samping kanan Erina.


"Harus?" balas Erina dengan berbisik juga.


"Nggak mau!" tolak Erina ketus.


Sementara itu penghulu dan para orang tua hanya bisa menggeleng melihat sikap keras kepala Erina yang menolak mencium tangan Ardian.


"Bagaimana mbak Erin? Kasihan itu tangan suaminya sudah pegal," tegur pak penghulu.


"Kenapa saya harus cium tangan dia? Harus banget ya saya cium tangan dia?" Erina balik bertanya.


Pak penghulu gelagapan mendengar pertanyaan yang diajukan mempelai wanita. Seumur-umur menjadi penghulu, baru kali ini dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu.


"Coba pak penghulu jelaskan kenapa saya harus mencium tangan dia?"


"Karena.. karena..." Lagi-lagi pak penghulu gelagapan menjawab pertanyaan Erina. Perasaan dulu saat mengikuti tes menjadi penghulu pertanyaannya nggak sesulit ini.


"Karena sekarang elo adalah istri gue. Mencium tangan suami adalah simbol istri tunduk dan patuh kepada suaminya," jelas Ardian dengan suara tenang. Pak penghulu menghela nafas lega mendengar ucapan Ardian.


"Harus banget gitu gue tunduk dan patuh sama elo?" tanya Erina sambil menantang pandangan Ardian.

__ADS_1


Yang lain, termasuk pak penghulu terdiam melihat perdebatan keduanya. Mereka seolah melihat singa betina yang siap melawan serigala jantan.


"Ya, tugas suami adalah membimbing dan menjaga istri. Oleh karenanya istri berkewajiban tunduk dan patuh pada suami. Karena surga istri sekarang berada pada suaminya." Lagi-lagi Ardian menjawab dengan tenang.


"Rin, berantemnya nanti aja kalau kalian sudah berdua. Kasihan uncle Andrew. Beliau butuh istirahat," bisik Alexia.


Erina menoleh ke arah kedua orang tuanya. Tampak wajah Andrew yang pucat. Demikian pula Yuna yang memandangnya dengan pandangan memohon.


Akhirnya dengan ogah-ogahan Erina mencium cepat punggung tangan Ardian. Lalu Ardian mencium kening Erina. Terdengar yang lain menghela nafas lega karena sang singa dan sang serigala berdamai untuk saat ini.


Lalu keduanya melakukan sungkeman pada orang tua dan sesepuh mereka. Erina memeluk lama Yuna dan Andrew. Bermacam emosi berkecamuk di hatinya. Ia menangis dalam pelukan kedua orang tuanya. Demikian juga saat ia memeluk Amelia.


"Akhirnya Erin menjadi anak mama. Hari ini anak mama sangat cantik." bisik Amelia sambil memeluk Erina dengan perasaan sayang. Lalu ia menghapus pelan air mata Erina.


Erina hanya mampu membalas pelukan Amelia. Ia memang membenci Ardian namun ia menyayangi Amelia.


"Maafin anak mama ya, Rin. Tolong jangan terlalu membenci dia. Kalau ada apa-apa, Erin jangan sungkan bilang sama mama." Erina mengangguk pelan sambil tersenyum tipis mendengar ucapan Amelia. Seandainya gue nggak membenci Ardian, pasti gue akan sangat bahagia.


"Selamat ya bestie. Sekarang kalian sudah sah sebagai suami istri. Jangan keseringan berantem." ucap Raina sambil memeluk Erina. "Dan elo Di, awas aja kalau elo bikin bestie gue sedih."


"Yang sabar ya, Di. Selalu siap menjadi suami dan ayah siaga." Henry menyalami Ardian. "Oh ya Rin, jangan terlalu membenci suamimu. Batasan benci dan cinta sangat tipis lho."


Ardian tertawa mendengar ucapan Henry. "Terima kasih bang. Insyaa Allah gue akan jadi suami dan ayah yang baik. Ajarin gue ya bang."


"Erin, selamat ya sayang." Alexia memeluk Erina dengan erat. "Cintai keponakan- keponakan gue. Mereka nggak salah apa-apa."


Erina hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Alexia. Sementara itu Raymond menyalami sambil memeluk Ardian.


"Di, jaga baik-baik Erin dan anak-anak kalian. Cintai mereka dengan sepenuh hati."


"Thanks pak dosen. Gue doain kalian segera punya momongan seperti kita."


Menjelang dzuhur acara selesai. Erina dan Ardian sudah masuk ke dalam kamar. Erina duduk di atas sofa. Kedua kakinya terasa pegal karena dari tadi banyak berdiri. Baru saja Erina hendak memejamkan mata, tiba-tiba kamarnya diketuk. Ardian bergegas membukakan pintu.


"Eh eyang. Silakan masuk, yang."


"Mana Erin?"


"Itu baru mau istirahat di sofa, eyang."


Eyang Fatma mendekati Erina lalu memeluk erat sang cucu yang sangat disayanginya. Erina bersandar nyaman dalam pelukan eyang Fatma. Ia merasa seperti anak kecil lagi.


"Wah, eyang nggak menyangka cucu eyang yang tomboy hari ini sangat cantik. Eyang bahagia masih diberi kesempatan melihat Erin menikah," ucap eyang Fatma sambil mengelus kepala Erina. "Tadinya eyang berharap kamu bisa menikah dengan Dipo atau Daffa. Tapi eyang tetap bahagia bila kamu bisa bahagia dengan suami pilihanmu. Eyang berharap kalian bisa bahagia dan menjadi keluarga yang selalu rukun. Khusus kamu rin, jadilah istri yang berbakti dan menurut pada suamimu."

__ADS_1


Ardian yang duduk di atas ranjang tersenyum mendengar ucapan eyang Fatma. Hatinya sedikit sangsi Erina bisa menjadi istri yang penurut. Tadi disuruh cium tangan aja susah.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2