
Suasana rumah Mira sore itu terasa sepi. Sang empunya rumah sepertinya sedang sibuk sendiri-sendiri. Tampak Mira sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Mbok Sumi tampak mondar mandir antara dapur dan ruang makan.
"Assalaamu'alaykum." Terdengar suara wanita memberi salam. Tak lama muncullah Aira sambil menggendong bayinya yang berusia dua bulanan.
"Wa'alaykumussalaam. Eh kamu, Ra? Sama Pandu dan anak-anak?" tanya Mira tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajan penggorengan.
"Cuma bertiga sama mas Pandu dan baby Keanu." jawab Aira sambil mendekat ke arah kakaknya.
"Eh, kamu tuh gimana sih? Kamu itu kan bawa bayi, ngapain ikutan ke dapur? Bahaya buat baby Keanu. Sana duduk di ruang TV aja. Mas Irwan dan Daffa lagi di dalam kamar."
"Oke mbak, Aku ke kamarnya Daffa aja deh. Eh, tapi mbak aku mau tanya sesuatu."
"Nanti aja nanyanya. Sebentar lagi mbak selesai masak."
"Beib, aku ke kamarnya Daffa ya," ucap Aira kepada suaminya yang sedang asyik menonton TV. "Mau numpang nidurin baby Keanu."
Kemudian Aira berjalan menuju kamar Daffa. Dicobanya membuka pintu kamar. Sudah menjadi kebiasaannya masuk kamar Daffa tanpa mengetuk pintu. Namun kali ini pintu kamar terkunci. Aira mengerutkan kening heran. Tumben. Lalu ia mengetuk pintu kamar Daffa.
"Daaf.. bukain dong. Gue mau nidurin baby Keanu nih," panggil Aira. Tak lama pintu dibukakan oleh Daffa. "Tumben kunci pintu. Hmm.. gue tau nih, kebiasaan bawa Erin kesini ya, makanya pintunya dikunci. Biar nggak ke gap."
"Apaan sih, tan?" Daffa merebahkan dirinya di sofa. "Elo taruh deh si baby K disitu. Gue mau lanjut tidur."
"Woy, mau maghrib nih. Jangan tidur!"
"Berisik lo, tan!" dengus Daffa kesal. Tentu saja sikap Daffa yang tak seperti biasanya membuat Aira heran.
"Dih, kenapa judes banget sih? Gue kan ngasih tau yang benar," omel Aira sambil melempar bantal ke arah Daffa.
"Rese' lo, tan!" Daffa balik mengomel. Namun bukannya bangun, Daffa malah memeluk bantal yang dilempar Aira dan memunggunginya.
"Daf, elo kenapa sih? Tumben banget jutek, sensian."
"Tan, bisa diam nggak sih? Gue mau tidur. Gue capek.
"Sebentar lagi maghrib. Pamali tidur jam segini."
"Tan, mendingan elo bawa baby K keluar deh kalau nggak bisa diam."
"Elo sama Erin lagi berantem ya?" tanya Aira hati-hati. Usianya dengan Daffa tak terpaut jauh. Sejak kecil mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Ia sangat mengenal sifat Daffa. Kali ini ia bisa merasakan keponakannya yang satu ini sedang tidak baik-baik saja.
"Gue titip baby K ya. Kalau dia nangis lo panggil gue." Aira meletakkan guling di sisi kanan kiri bayinya. Lalu ia keluar dari kamar menuju dapur.
__ADS_1
"Sudah selesai mbak?" tanya Aira pada Mira yang sedang mencuci tangan.
"Iya. Habis maghrib kita makan malam bareng ya," sahut Mira.
"Mbak, si Daffa kenapa? Kok jutek banget."
Bukannya menjawab, Mira hanya menghela nafas kasar. Ia menarik kursi dan mendudukan diri disitu. Ia memijat dahinya. Tampak ada beban berat dalam pikirannya.
"Mbak, kenapa sih? Kok suasana rumah terasa muram banget? Harusnya kan suasananya bahagia karena sebentar lagi akan ada yang menikah. Anak bujang keluarga Irwan Hermawanto akan melepas masa lajangnnya."
Kali ini Mira tetap diam, malah air matanya yang jatuh meluruh di pipinya. Tentu saja Aira kaget melihat kakaknya menangis. Ada apa sih?
"Mbak, cerita dong ada apa," desak Aira dengan kekepoan maksimal. "Apa mbak Mira capek menyiapkan pernikahan Daffa dan Erin? Mbak Mira mau aku bantuin?"
"Nggak ada yang perlu dipersiapkan, Ra," jawab Mira pelan.
"Lho, kenapa? Apakah mereka maunya menyiapkan sendiri pernikahan itu? Mereka mau pakai jasa WO? Biarkan saja mbak, anak jaman sekarang memang begitu. Nggak mau diatur-atur. Punya planning sendiri."
"Nggak akan ada pernikahan!" seru Mira kesal. "Batal, semuanya batal!"
"Maksudnya?.... Apakah Daffa dan Erin batal.....?" Aira sangat terkejut. Ia terduduk di kursi di samping Mira. Tapi itu tak lama, ia berlari ke kamar Daffa.
"Daf, elo beneran batal menikah sama Erin?" tanya Aira sambil mengguncang bahu Daffa.
"Bangun Daf! Ceritain semuanya ke gue. Apa maksudnya nggak akan ada pernikahan di antara kalian?" Kali ini Aira menarik Daffa agar bangun dan duduk.
"Nggak ada yang perlu diceritain. Batal ya batal," jawab Daffa tanpa membuka mata. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Bertengkar dalam mempersiapkan acara pernikahan atau ketidaksesuaian konsep itu hal biasa, Daf. Elo jadi cowok harus bisa mengalah. Lagipula mas Irwan nggak bakal bangkrut kok hanya gara-gara nyiapin pernikahan kalian yang super megah. Lo turutin aja keinginan Erin daripada elo menyesal," celoteh Aira panjang lebar.
"Gue yakin kalian hanya salah paham. Buktinya Erin tetap mempersiapkan diri buat pernikahan kalian." Kali ini mata Daffa terbelalak. Ia menegakkan tubuhnya.
"Maksud lo apa, tan?"
"Harusnya kalian bersama-sama memeriksakan diri. Lah ini kok malah Erin sendirian memeriksakan diri. Jadi cowok jangan egois. Keharmonisan rumah tangga terjadi karena kedua belah pihak kompak. Masalah keturunan bukan hanya tanggung jawab istri."
"Elo ngomongin apaan sih tan? Kok gue bingung ya? Siapa yang periksa apa? Elo ketemu Erin dimana?"
"Makanya jadi cowok tuh lebih peka dong sama keinginan ceweknya."
"Please tan, ngomelnya nanti aja. Sekarang elo jelasin sama gue dimana elo ketemu Erin?" Daffa membuka mata dan menegakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Tapi janji habis ini elo minta maaf sama Erin ya biar persiapan pernikahan kalian berjalan lancar. Gue kasihan sama mbak Mira. Dia stress berat kayaknya mikirin elo dan Erin."
"Tolong jelasin sama gue kapan dan dimana elo ketemu Erin?" desak Daffa tak sabar.
"Kemarin sore gue ketemu Erin di klinik Kasih Bunda, tempat gue periksa kehamilan. Kebetulan kemarin gue konsultasi sekalian pasang IUD. Biar nggak kebobolan lagi. Kasian baby K kalau masih muda punya adik lagi."
"Apa maksud tante ketemu Erin di klinik Kasih Bunda? Itu klinik tempat elo melahirkan baby K kan?" Aira mengangguk. "Erin sama siapa?"
"Sendirian. Makanya elo temenin dia . Wait.. wait.. jangan-jangan kalian bertengkar karena kalian kebablasan? Elo segitu nggak sabarnya, Daf. Ngapain sih elo bikin dia hamil," omel Aira.
"Siapa yang menghamili Erin? Gue dan Erin sudah putus sejak tiga bulan lalu. Pertunangan kami putus. Nggak ada pernikahan di antara kami." ucap Daffa pelan. Kepalanya tertunduk.
"Kenapa elo nggak berjuang untuk membuat dia balik sama elo? Elo cinta kan sama dia?"
"Gue nggak bisa memilih antara Honey dan Erin. Keduanya memiliki tempat di hati gue."
"Tapi elo kan nggak cinta Honey."
.
"Gue punya anak dengan Honey. Itu hal yang nggak bisa gue rubah. Dan gue sudah berjanji akan selalu menjaga mereka seumur hidup gue."
"Daf, elo tuh bego! Kalau memang itu hal yang elo nggak bisa rubah, mendingan elo nikahin tuh si cewek bule. Ngapain juga elo tunangan sama Erin."
"Salah gue karena nggak bisa jujur sama Erin sejak awal kami berhubungan."
"What?! Jadi selama berbulan-bulan kalian pacaran elo nggak kasih tau dia? Pantesan aja Erin minta putus sama elo."
"Gue takut Erin akan meninggalkan gue seperti Brittany."
"Dasar tolol! Hasilnya tetap sama kan? Kalau saja dari awal elo jujur sama Erin, mungkin hasilnya akan berbeda. Cewek itu paling nggak suka dibohongin. Wajar aja kalau Erin marah sama elo." Aira geleng-geleng kepala melihat sikap Daffa.
"Tan, tadi lo bilang ketemu Erin di klinik. Elo sempat nanya nggak kenapa dia kesitu?" Aira menggeleng.
"Kalau dia bukan memeriksakan reproduksi dia, maka kemungkinan lain adalah dia... hamil?! Kalau gue ingat-ingat lagi perut dia memang agak gendut kayak orang hamil."
"Apa? Hamil? Mana mungkin! Kita nggak pernah melakukan hubungan badan. Selama pacaran kami cuma berciuman, nggak lebih."
"Entahlah. Coba aja elo selidiki. Memangnya elo mau balikan sama dia kalau ternyata dia hamil anak orang lain?"
HAMIL? SIAPA YANG MENGHAMILI DIA? Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala Daffa.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐