
"Kenapa?"
"Malam itu kamu liar, sayang. Walaupun itu pengalaman pertama kita, namun kita berdua sama-sama liar. Tak kupungkiri kalau kita berdua sangat menikmati permainan cinta malam itu. Bahkan hingga saat ini aku masih mengingat bagaimana rasanya dirimu bergerak di bawahku."
"Mana mungkin aku menikmatinya." sanggah Erina.
"Hahaha.. kamu pasti nggak percaya kalau kukatakan malam itu kita bercinta tak hanya sekali. Permainan pertama aku terkejut saat mendapatimu masih perawan. Kupikir saat dirimu menjalin hubungan dengan Daffa, kamu telah menyerahkan kesucianmu padanya."
"Kok bisa kamu berpikir seperti itu? Kamu bersahabat denganku bukan setahun dua tahun. Kamu tahu kan walau berasal dari keluarga yang cukup liberal, virginity merupakan hal yang sangat kujaga."
"Kuakui aku salah, sayang. Tapi malam itu aku bahagia karena akulah pria yang berhasil mendapatkan kesucianmu. Hal itu membuatku semakin mencintaimu."
"Sayang, aku sempat menghubungi Deni untuk mengkonfirmasi apa yang terjadi saat di club. Aku sangat malu waktu mengetahui aku duluan yang menciummu."
"Bukan hanya di club. Bahkan saat di apartemen kamu kembali menciumku dengan penuh gairah. Seandainya saja di apartemenmu ada CCTV, kamu bisa melihat bagaimana kamu menciumku dengan penuh gairah. Bagaimana mungkin aku yang pria normal tak tergoda oleh bibirmu yang manis. Belum lagi aku harus melihat tubuhmu yang terbuka saat membersihkan bekas muntah."
"Tadi kamu bilang kita melakukan itu tak hanya sekali."
"Iya. Malam itu kita dua kali bercinta. Saat yang kedua kalinya, kita bahkan lebih liar dan lebih menikmati permainan cinta kita."
"Jadi kamu bertahan denganku karena kenangan malam itu?" tanya Erina sambil memicingkan mata.
"Banyak alasan yang membuatku bertahan. Itu salah satunya. Yang utama karena aku sangat mencintaimu."
"Gombal."
"Nggak papa dibilang gombal asal kamu selalu ada di sampingku."
"Sayang...."
"Heemmm..."
"Apakah... apakah malam itu aku mendesah?" tanya Erina lirih.
"Bukan hanya mendesah sayang, bahkan berkali-kali kamu menjerit saat mencapai puncak."
"Berkali-kali?"
"Iya. Kamu tahukan kalau wanita bisa berkali-kali mencapai kepuasan,'
"Beneran berkali-kali?" tanya Erina tak percaya. "Aku berkali-kali ..."
"Iya sayang. Aku nggak bohong. Makanya aku nggak bisa melupakan malam itu karena itulah pengalamanku yang pertama dan kuharap bukan yang terakhir. Aku ingin mengulang lagi permainan cinta kita. Dan aku rasa sangat berharga menunggu itu terjadi kembali."
Erina menundukkan wajahnya. Ia tak percaya mendengar cerita Ardian. Tapi ia juga malu mendengarnya. Sungguh tak bisa dipercaya.
"Kalau kamu sangat menikmati hal tersebut kenapa tak mencari wanita lain sebagai tempat pelampiasan?"
__ADS_1
"Karena aku masih penasaran apakah rasanya masih sama bila kita melakukannya lagi. Lagipula aku tak ingin merusak memori permainan cinta kita dengan melakukan hubungan dengan wanita lain. Dan bisa kupastikan bila melakukannya dengan wanita lain rasanya akan berbeda. Bila dengan wanita lain aku hanya melakukan hubungan ****, sementara denganmu aku bercinta sepenuh hati."
"Di, sudah jam 5. Shalat dulu yuk. Kamu jadi imamku ya?"
"Tentu saja sayang. Inilah kebahagiaanku yang lain. Mendengar ucapanmu memintaku jadi imammu."
Setelah selesai melaksanakan shalat subuh bersama, mereka kembali ke ranjang dan duduk berpelukan. Erina bersandar nyaman di dada sang suami. Tangannya melingkari perut Ardian.
"Kamu bahagia?" tanya Erina.
"Kehadiran kalian dalam hidupku adalah kebahagiaan yang tak ada tandingannya. Kenapa menanyakan hal itu?"
"Aku baru belajar mencintaimu.."
"Rin .... ulangi lagi." pinta Ardian.
"Aku belajar mencintaimu?"
"I love you too."
"Iih.. absudrd banget deh. Aku bilang apa kamu jawabnya apa."
Tangan Ardian perlahan membelai tato kupu-kupu yang ada di dada kiri Erina. Lalu ia mengecup tato mawar yang ada di bahu kanan sang istri.
"Rin ..."
"Apa?" tanya Erina dengan suara gemetar. Ia yang bisa menghadapi berbagai lawan saat sparing, ternyata memiliki ketakutan saat ini. Ia tahu bahwa tak mungkin terus menerus menolak melayani sang suami. Mungkin sekarang inilah saatnya, bisik Erina.
"Apakah aku boleh menolak?" Erina balik bertanya.
"Kalau kamu masih menolak, sepertinya aku akan menuruti keinginan papa," jawab Ardian santai namun setengah mengancam.
"Maksudmu menikah lagi?" tanya Erina dengan nada tajam. Tanpa ayal, tangannya memukul perut Ardian.
"Uughh... uhuk uhuk," Ardian terbatuk-batuk. Ternyata tenaga Erina masih sama.
"Coba saja kalau kamu berani."
"Berarti ..... "
Lama Erina terdiam. Sementara itu Ardian dengan setia menanti jawaban. Sebenarnya ia tak bermaksud mengancam Erina, namun kali ini tubuhnya benar-benar menuntut pelepasan.
"Tapi ..... aku takut," jawab Erina lirih dengan suara bergetar.
Ardian terkejut mendengarnya. Lalu ia memeluk erat tubuh Erina.
"Maafin aku yang sudah meninggalkan trauma sedemikian dalam di hatimu."
__ADS_1
"Di .... " Erina terlihat ragu.
"Kenapa sayang?"
"Engh.... sakit nggak?" Ardian terkejut mendengar pertanyaan Erina, lalu ia tertawa geli. Untunglah si kembar tidak terbangun.
"Mungkin sedikit sakit, mengingat kamu nggak pernah melakukan hal itu lagi. Tapi aku janji akan melakukannya selembut mungkin supaya kamu nggak sakit." Erina masih terlihat ragu. "Kamu itu sudah biasa sparing kenapa masih takut sakit?"
"Iih.. pasti bedalah sakitnya. Kata Lexi dan Rai, sakit banget saat pertama kali musuh membobol pertahanan."
"Itu kalau benteng pertahanan belum jebol. Kalau kamu kan bukan pe****n lagi jadi kemungkinan besar nggak sesakit saat pertama."
"Dulu aku nangis nggak?"
"Nggak. Hanya meringis sedikit. Mungkin juga nggak terlalu terasa karena kamu dalam kondisi mabuk. Kalau sekarang kamu dalam kondisi sadar. Terus terang saja aku sangat ingin melakukan serangan saat kamu dalam kondisi sadar. Aku ingin melihat wajahmu saat melakukan serangan."
"Tapi janji nggak sakit ya. Dan kalau tiba-tiba aku merasa nggak nyaman, kamu harus berhenti."
Ardian menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Ia lakukan itu beberapa kali. Ribet banget sih mau menyerang kubu lawan. Banyak syaratnya. Tapi nggak apalah daripada sama sekali nggak.. Tapi apa mungkin berhenti bila sudah berada di dalam sana? Batin Ardian sibuk berdebat.
"Kenapa diam? Ragu? Keberatan?" tanya Erina. "Kalau ragu lebih baik nggak usah. Kapan-kapan saja gimana?"
"Eh jangan gitu dong. Aku nggak bisa berjanji akan berhenti bila sudah berada di dalam sana. Tapi aku berjanji akan melakukannya dengan lembut dan hati-hati. Kamu bilang saja...."
Belum selesai Ardian berbicara, tiba-tiba Erina memagut bibirnya. Ardian yang awalnya kaget akhirnya mulai mengimbangi permainan Erina. Tangannya menahan tengkuk Erina. Yang awalnya c****n yang manis kini mulai memanas saat lidah Ardian menerobos masuk ke dalam mulut Erina. Bahkan tangan Ardian mulai menjelajahi tubuh istrinya
Kini posisi Erina duduk di pangkuan sang suami. Ardian hanya mampu mengeluh dalam hati saat Erina bergerak di atas pangkuannya. Ya tuhan, bagaimana aku menahan gairahku kalau dia terus bergerak.
Akhirnya mereka berdua melepaskan pagutan bibir mereka saat merasa pasokan oksigen mulai menipis. Mereka saling pandang. Wajah dan mata keduanya menunjukkan gairah primitif mulai menguasai mereka. Ardian semakin jatuh dan terhanyut dalam pesona Erina.
"Sayang..." ucap Ardian dengan nafas memburu akibat gelombang gairah. "Yakin?"
Erina yang bertekad memenuhi kewajibannya sebagai istri hanya mampu mengangguk. Meskipun masih ada keraguan, ketakutan dan rasa malu namun gairah primitif lebih menguasai. Apalagi saat tangan Ardian mulai membelai. Sentuhan lembut namun mampu membuat gairahnya tersulut.
Ardian menatap mesra wajah Erina. Rambut panjang yang membingkai wajah sang istri membuatnya tambah mempesona.
"Kamu cantik." bisik Ardian
"Memang dari orok sudah cantik."
"Kamu seksi."
"Baru sadar?"
Dengan berani Erina mengikis jarak di antara mereka. Ia mendekatkan wajahnya. Tanpa ragu Ardian meraup bibir Erina dan **********. Erina menikmati ciuman Ardian Tangan Erina mulai membelai tubuh Ardian. Rupanya tanpa disadari hal itu menyulut gairah Ardian. Tangan Ardian mulai berani masuk ke dalam baju tidur yang dipakai Erina.
Erina hanya mampu mendesah karena gairah yang semakin memuncak berbarengan dengan rasa gelisah.
__ADS_1
Baru saja bibir Ardian menyentuh leher jenjang sang istri, tiba-tiba....
⭐⭐⭐⭐