
Ardian hanya bisa terdiam menghadapi pintu yang tertutup di depannya. Berbagai perasaan berkecamuk di dadanya. Ia marah pada dirinya sendiri karena telah melakukan kesalahan besar yang bisa berujung kehilangan sahabat yang dicintainya. Ia meniduri sahabatnya yang dalam keadaan mabuk. Ia memperkosa sahabatnya sendiri. Aaarghh... Ardian hanya bisa menjambak rambutnya dengan kesal. Ia hanya bisa menonjok dinding yang membatasi dirinya dengan Erina. Dasar elo tolol! G****k! Ba*****n! Ardian berkali-kali memaki dirinya sendiri. Ia jatuh terduduk di lantai. Bisa saja ia membuka pintu apartemen itu karena ia tahu passwordnya namun bisa dipastikan Erina akan ngamuk sengamuk-ngamuknya.
Ardian akhirnya mampu duduk bersandar pada pintu. Ia tahu bukan hal mustahil Erina akan memutus persahabatan dan membenci dirinya seumur hidup.
"Woy bro, elo kenapa?" tanya Gustav yang baru saja tiba bersama Starla. Tangannya memegang paperbag yang berisi pakaian yang diminta Ardian.
"Di, elo kenapa? Ngapain duduk disini? Kenapa nggak duduk di dalam? Elo dan Erina berantem? Kenapa penampilan lo kayak begini? Baju lo mana?" Starla membombardir dengan serentetan pertanyaan.
"Sabar sayang, biar Ardian pakai baju dulu." Gustav berusaha menenangkan istrinya yang terlihat penasaran.
"Yang, memangnya kamu nggak penasaran?" Starla tetap kepo.
"Penasaran sih. Tapi kalau kita desak terus nanti dia malah nggak mau cerita."
"Aku masuk ke dalam ya?" Starla hendak memencet bel namun ditahan oleh Ardian.
"Jangan. Biarin Erina sendiri," cegah Ardian. Ia tahu Erina saat ini tidak dalam kondisi mau bertemu orang lain.
"Lho, ada apa sih? Kalian beneran berantem?" tanya Starla lagi.
"Ayo kita ke coffee shop di bawah. Gue yakin Ardian butuh kopi dan sarapan." Gustav mengajak Starla dan Ardian turun.
"Gue nggak bisa ninggalin dia sendirian. Gue khawatir dia nekat."
"Nekat gimana? Elo mau sampai kapan duduk disini? Kalau elo mau ngabisin waktu lo disini, mendingan elo makan dulu. Elo butuh tenaga buat menghadapi Erin."
"Iya Di. Makan dulu. Nanti habis makan elo boleh balik lagi kesini," bujuk Starla.
Tiba-tiba ponsel Gustav berbunyi.
"Erin," ucap Gustav setelah membaca nama yang muncul di layar ponselnya. "Ya, halo Rin."
__ADS_1
"Bawa saudara lo pulang. Gue nggak mau liat dia."
"Tapi Rin, dia bilang nggak mau ninggalin elo sendirian."
"Suruh dia pulang atau gue panggil polisi." Telpon diputus begitu saja.
Gustav memandang ponselnya lalu memandang Ardian heran.
"Di, Erin nyuruh gue ajak elo pulang. Kalau elo nolak, dia bakal panggil polisi."
"Polisi? Ada masalah apa sih sampe bawa-bawa polisi segala. Elo apain si Erin?" tanya Starla curiga.
"Nanti aja bahasnya. Ayo kita turun dulu. Gue nggak mau tiba-tiba ada polisi yang datang dan menangkap kita. Ayo buruan turun!" ajak Gustav.
⭐⭐⭐⭐
Erina terduduk lemas di atas sofa. Ia masih belum bisa mempercayai apa yang telah menimpa dirinya. Ya tuhan, kenapa aku begitu sial? Apakah dosaku begitu besarnya hingga tuhan terus menerus menghukumku? Apakah aku tak berhak untuk bahagia? Tuhan, aku tak meminta banyak. Aku hanya ingin bahagia seperti yang lain.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Muncul nama Daffa di layar. Erina hanya menatap ponselnya selama beberapa saat lalu ia menekan icon merah. Ia sedang tak ingin berbicara dengan Daffa. Bahkan bila perlu ia akan memblokir nomor pria itu. Tak lama ponsel kembali berbunyi. Kembali nama yang sama muncul. Erina men-silent ponselnya. Ia benar-benar tak ingin berhubungan lagi dengan pria itu. Karena Daffa ia kembali mengalami kekecewaan yang berakibat hilangnya harta yang paling berharga yang telah ia jaga selama ini.
Erina membuka daftar panggilan keluar dari ponselnya. Terlihat dua panggilan terakhir yang ia lakukan ada panggilan kepada Ardian. Ah, rupanya ia sendiri yang menghubungi pria itu. Tapi bagaimana dia bisa menemukanku? Apakah aku memintanya menjemputku? Aaargh... you're so stupid Erina! makinya pada diri sendiri. Tapi kenapa Ardian tega melakukan hal itu padaku? Sampai saat ini ia masih merasakan sakit di inti tubuhnya. Apakah dia sengaja melakukan hal itu? Apakah aku yang memancingnya sehingga Ardian tega menyetubuhiku? Erina berusaha keras mengingat kejadian semalam namun ia gagal. Akhirnya Erina menyerah.
Erina tak tahu harus bagaimana menyikapi kejadian yang menimpa dirinya. Yang ia tahu ia sangat kecewa dan marah pada Ardian. Kalau saja boleh ingin rasanya ia memaki Tuhan. Namun ia sadar semua itu percuma dan tak boleh ia lakukan. Haruskah aku bertanya pada Ardian apa yang telah terjadi? Tapi bagaimana aku tahu dia berkata jujur atau tidak? Bagaimana kalau seandainya ternyata aku yang memancingnya. Aaaargh... aku harus bagaimana?
Tiba-tiba matanya menatap notifikasi yang muncul di ponselnya. Muncul tulisan Mommy. Erina tersadar ia belum mengabari keberadaannya pada Yuna. Buru-buru ia menggeser icon hijau pada layar ponselnya.
"Yes mom."
"Are you okay honey?"
"I'm okay mom. Sorry I forget to tell you that I slept in my apartment." I slept with Ardian, batinnya.
__ADS_1
"Semalam mommy minta tolong Ardian untuk mencarimu setelah mommy nggak berhasil menghubungi ponselmu. Semalam kamu kemana?"
"Mom, I'm not a little girl anymore. I'm an adult woman."
"I know that. But still I'm worried."
"Don't worry mom. I can take care of myself. Are you forget that I can do karate?" Erina memaksa tertawa untuk menenangkan perasaannya. Tapi aku gagal menjaga kehormatanku, mom. Ingin rasanya Erina mengadukan hal itu, namun ia tak sanggup.
"Kamu bertengkar dengan Daffa?" tanya Yuna hati-hati. Sebagai seorang ibu Yuna dapat merasakan ada sesuatu yang tak beres telah terjadi pada Erina.
"I will tell you later. Yang penting sekarang mommy sudah tahu kalau Erin baik-baik saja."
"Just come home dear."
"I will mom, but not now. I need to take a rest."
"Kamu beneran nggak kenapa-napa kan? Apa perlu mommy ke sana?"
"Nggak usah mom. I'm just fine. Erin mau minta tolong sama mommy. Tolong mommy suruh pak Rahmat kirim mobil Erin ke apartment. Erin butuh waktu untuk berpikir sendirian."
"Kamu mau kemana? Biar pak Rahmat yang mengantar kamu. Apa perlu mommy minta Daffa yang antar kamu? Atau Ardian?" Dua makhluk yang saat ini tak ingin kutemui, omel Erina dalam hati.
"Jangan mom! Mommy jangan beritahu mereka kalau Erin mau pergi ke suatu tempat. Erin butuh waktu sendiri untuk berpikir." tolak Erina.
"Please kasih tahu mommy kamu mau kemana atau kamu mau mommy temani?"
"Nggak usah mom. I'll be okay. I jut need some time to think."
"Rin, you have me and daddy. We'll be here anytime you need us. Remember that honey."
"Okay mom. Thanks for your love. Sorry, if I let you down."
__ADS_1
Mendengar ucapan Erina, Yuna semakin yakin telah terjadi sesuatu pada putri tunggalnya. Namun ia tahu Erina akan semakin menutup diri bila didesak untuk bercerita. Cara paling tepat adalah terus memantau putrinya ini dari jauh.
⭐⭐⭐⭐