
Jam menunjukkan pukul 3 sore. Erina yang sejak tadi menonton TV bolak balik melihat ke pintu.
"Biik, tolong lihat kue yang di oven!"
"Sebentar non, bibi cuci tangan dulu."
Tak lama bi Imas menemui Erina.
"Non, kuenya sudah matang."
"Keluarin kuenya bi. Biar dingin dulu baru nanti dimasukkan ke tempatnya."
"Buat dibawa jam 4 kan non?"
"Oh iya bi, tadi pagi Ardi sarapan nggak? Bibi bawain bekal nggak?"
"Den Ardi nggak sarapan, non. Bibi juga nggak sempat siapin bekalnya karena den Ardi kayaknya buru-buru gitu. Oh iya, maaf ya non. Tadi pagi non Erin dan den Ardi bertengkar?"
"Nggak bi, memangnya kenapa?" Erina balik bertanya.
"Hmm... muka den Ardi keliatan bete banget. Nggak mungkin gara-gara nggak dapat jatah dong," ucap bi Imas sambil tertawa kecil.
"Ih bibi bisa aja nih. Bukan gara-gara itu kok bi. Mungkin tadi Ardian lagi mikirin proyek. Kan ada yang sudah dekat date line."
"Detlain tuh apaan non? Det kan mati, lain teh naon? Lain nu mati non?" tanya bi Imas bingung sambil garuk-garuk kepala.
"Iish si bibi sok tau ah. Sudah ah, Erin mau ke kamar dulu ya."
Di dalam kamar Erina memeriksa ponselnya. Hmm.. kok tumben nggak kirim pesan. Biasanya kalau pergi sendirian kirim pesan atau telpon sudah kayak minum obat. Erina melihat jam lagi. Hari ini mereka berencana akan mengunjungi orang tua Ardian untuk makan malam karena hari ini Mama Amel ulang tahun.
Ya tuhan, gue baru ingat. Hadiah untuk mama Amel belum diambil. Kemarin lusa Erina dan Starla pergi bareng mencari hadiah untuk Amel. Mereka sepakat membelikan kalung emas. Apa gue minta Starla aja yang ambil ya? Eh, tapi notanya gue yang pegang. Aduh gimana ya, mana mungkin toko perhiasan mau memberikan barang yang dipesan tanpa nota. Aaah pusing gue.
"Assalaamu'alaykum La," Erina akhirnya memutuskan menelpon Starla.
"Eeennghh... aaah... i-iya Ri. Yang, stop dulu.. ini Erin telpon."
Astaga anak ini, pasti lagi main kuda-kudaan deh sama Gustav, omel Erina dalam hati. Bikin kuping gue ternoda.
"La, jangan lupa ambil kue yang kemarin kita pesan ya."
Bukan jawaban yang Erina dengar melainkan *******-******* Starla. Erina buru-buru menutup telpon sebelum mendengar semakin banyak. Dasar ipar gelo!
Erina lagi-lagi menatap jam dinding. Jam setengah 4. Aduh, kekejar nggak ya waktunya.
"Kinaaaaan!"
Datanglah seorang wanita muda tergopoh-gopoh. Dia adalah Kinan, babysitter si kembar yang merupakan keponakan dari mbok Siti.
"Ada apa non?"
__ADS_1
"Azka dan Aidan sudah bangun?"
"Sudah non."
"Kamu dan Lila mandiin mereka. Saya mau pergi duluan. Kalau sampai jam setengah den Ardi belum balik, kalian minta antar pak Ali ke rumah oma Amel ya."
"Baik non."
"Mboook!"
"Iya non!" Mbok Siti datang dengan tergopoh-gopoh. "Ada apa non?"
"Tolong makanan yang akan dibawa ke rumah mama disiapkan dan masukkan ke dalam mobil Erin."
"Non Erin mau berangkat duluan? Nggak nunggu den Ardi?" tanya mbok Siti heran karena biasanya kedua majikannya ini sudah seperti perangko dan amplop. Nempel terus.
"Iya mbok. Erin mau mampir ambil hadiah untuk mama Amel. Tolong ya mbok siapin yang lainnya."
Tak lama kemudian mobil Erina sudah melaju meninggalkan halaman rumah. Sepuluh menit kemudian mobil Ardian memasuki halaman. Saat memasuki kamarnya Ardian tak menemukan Erina.
"Nan, non Erin kemana?" tanya Ardian pada Kinan yang sedang menemani si kembar bermain.
"Ibu tadi pergi duluan den. Kata mbok Siti, non Erin mau ambil hadiah apa gitu. Tadi non Erin bilang kalau sampai setengah 6 den Ardi belum balik, kita disuruh berangkat diantar pak Ali."
S***, gue lupa kalau kemarin sudah janji mau ambil hadiah buat mama. Kok gue bisa lupa ya. Aah ini semua gara-gara Erin.
"Ya sudah. Anak-anak sudah siap semua?"
"Saya mandi dan shalat ashar dulu. Kamu dan Lila siapkan perlengkapan si kembar. Setelah itu kita berangkat ke rumah mama."
"Baik den."
⭐⭐⭐⭐
"Assalaamu'alaykum," sapa Erina sambil memasuki rumah Arga yang sore itu terlihat meriah. Tampak beberapa kerabat mereka sudah hadir.
"Wa'alaykumussalaam. Lho, kamu sendirian Rin?" tanya Frederick. "Mana Ardian?"
"Nyusul om. Kebetulan tadi Erin ada urusan sedikit. Sebentar lagi Ardian dan anak-anak pasti sampai. Erin masuk dulu ya om."
Di ruang makan Erina bertemu dengan Starla yang sedang dipeluk dari belakang oleh Gustav.
"Please deh, memangnya yang tadi belum cukup?" omel Erina pada pasangan itu.
"Punya istri model Starla nggak pernah ada cukupnya, Rin. Selalu ada inovasi baru. Iya kan sayang?" jawab Gustav absurd sambil menciumi leher Starla.
"Stav, badan bini lo dah kayak macan tutul masih mau lo tambahin lagi?"
"Kalau bisa seluruh badannya gue cap, pasti bakal gue tinggalin tanda di seluruh badannya. Iya kan, honey?"
__ADS_1
"Hehehe, lo kayak nggak tau gimana cowok bule aja Rin. Libidonya ampun-ampunan," jawab Starla sambil nyengir.
"Pas ya sama elo, sama-sama blasteran. By the way, kue ulang tahun dah diambil kan?"
"Beres bos. Tuh gue simpan dulu di kulkas. Qiqiqiq.. hampir aja tadi batal ambil kue. Nih, gara-gara Gustav ajak...."
"Please stop! Gue nggak mau dengar kelanjutan cerita elo yang nggak jauh-jauh dari *******." protes Erina.
Gustav dan Starla malah tertawa mendengar protes ipar mereka.
"Rin, besti lo mana?" tanya Gustav. "Kalian nggak bertengkar kan?"
"Kenapa sih pertanyaan itu yang dari tadi muncul?" omel Erina. "Tadi di rumah, bi Imas nanya kayak gitu. Sekarang elo. Memangnya dimuka gue ada tulisannya?"
"Rin, gue mengenal elo jauh sebelum Ardian kenal elo. Gue tau kapan elo bete, gue tau kapan elo bahagia. Yang gue nggak tau cuma kapan elo bergai..... aaaah, kenapa dicubit sih sayang?" tanya Gustav sambil mengusap-usap lengannya yang dicubit Starla.
"Hahahaha.. rasain lo!" Erina langsung meninggalkan pasangan absurd yang sebentar lagi sepertinya akan bertengkar. "Gue cari mama Amel dulu ya."
Menjelang isya Ardian datang. Ia langsung menemui Arga dan Amelia.
"Nah, ini nih yang dari tadi ditunggu akhirnya muncul juga. Kok tumben nggak bareng Erin, nak?" tanya Amelia. Sebenarnya dari sejak bertemu dengan Erina, mulutnya sudah gatal ingin bertanya namun ia tahan saat melihat sorot mata kesal Erina.
"Oh, tadi ada sedikit pekerjaan yang harus Ardi awasi di proyek."
"Elo kan menantu owner, ngapain turun ke lapangan? Kan ada pimpinan proyek yang laporan ke elo," celetuk Gustav. "Ouch, apaan sih sayang?"
Bukan menjawab, Starla dengan dagunya menunjuk ke Erina yang sejak kedatangan Ardian mendadak diam.
"Ssstt... nggak usah jadi kompor, deh." bisik Starla. "Jangan sampai terjadi perang dunia malam ini."
"Ma, yuk kita mulai makan malamnya sudah komplit nih."
Sepanjang acara makan malam, Ardian tak menegur Erina. Ia malah sibuk ngobrol dengan kerabatnya. Erina yang merasakan sikap Ardian yang dingin merasa sakit hati. Ia pun membalas sikap dingin Ardian.
Menjelang tengah malam, acara selesai. Para tamu sudah mulai pulang satu persatu hingga tinggal keluarga inti Arga dan Amelia.
"Ma, Erin pamit pulang ya."
"Lho, nggak menginap saja sayang? Si kembar dan para babyaitter juga sudah pulas di kamar."
"Eeeengh... " Erina bingung harus menjawab apa.
"Rin, elo dan Ardian pulang saja berdua. Anak-anak lo biar kita yang urusin. Biar jadi pancingan supaya Starla bisa cepat hamil," pinta Gustav.
"Iya, Rin. Gue juga pengen lihat gimana Gustav urus bayi. Gimana mau punya anak kalau dengar bayi nangis aja dia panik dan stress," balas Starla. "Ada baby sitternya kan? Anak-anak lo juga sudah minum susu formula kan?"
Erina dan Ardian saling pandang namun tak mengucapkan apa-apa. Mereka tak mampu menolak permintaan Gustav dan Starla.
"Ide bagus Starla. Mama juga pengen lihat bagaimana Gustav mengurus anak kecil." Amelia mendukung ucapan Starla. "Lagipula mama dan papa masih kangen sama si kembar. Kamu sih Di datangnya kemalaman. Sampai sini si kembar keburu tidur. Jadi mama belum puas main dengan mereka."
__ADS_1
Pada akhirnya Erina dan Ardian pulang ke rumah berdua saja. Sepanjang perjalanan, mereka saling berdiam diri. Tak satupun membuka percakapan. Bahkan sampai di rumahpun mereka tetap tak bicara.
⭐⭐⭐⭐⭐