
Ardian dan Erina akhirnya sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta. Pernikahan dengan sahabat. Apakah itu mudah untuk mereka? Tentu saja tidak. Pertengkaran masih terjadi, namun Erina sudah lebih santai bila berdekatan dengan Ardian.
"Gimana pernikahan kalian?" tanya Alexia saat mereka berkumpul di rumahnya untuk merayakan ulang tahun Raymond.
Selain mereka, banyak keluarga Raymond dan Alexia yang hadir di acara tersebut. Setelah berbasa-basi seperlunya, Ardian dan Erina serta Alexia dan Raina serta Henry lebih memilih duduk di gazebo yang lokasinya agak jauh dari keramaian.
"Biasa aja," jawab Erina acuh. Ia masih gengsi menunjukkan kepada orang lain bahwa pernikahan mereka sudah mulai adem. Namun kini ia tak lagi menolak bila Ardian duduk di sampingnya dan memeluk bahunya. Bahkan saat Ardian mencium punggung tangannya atau mengelus perutnya, Erina membiarkannya.
"Biasa gimana?" desak Alexia.
"Ya, biasa kayak pernikahan yang lain," sahut Erina judes.
"Sayang, jangan judes-judes gitu ah sama Lexi. Kamu mau nanti anak kita kayak dia?"
"Sayang? Kamu? Hmm.. nggak ada yang biasa dalam hidup seorang Erina. Pasti kalian sudah gencatan senjata. Atau jangan-jangan kalian sudah ....."
"Apaan sih Lex? Kalau gue bilang biasa ya artinya biasa." sahut Erina emosi. "Nggak percayaan banget sih kalau dibilangin!"
Ardian mengelus tangan Erina yang sejak tadi digenggamnya. Hal itu terbukti berhasil. Kini emosi Erina mereda.
"Ini nggak biasa, Rin!" ucap Alexia sambil menunjuk tangan Erina yang berada di dalam genggaman Ardian.
"Apa bedanya? Tuh Rai dan bang Henry juga begitu," balas Erina tak mau kalah sambil menunjuk pasangan yang dimaksud dengan dagunya.
"Kalau mereka, gue nggak heran. Mereka memang bucin. Tapi elo dan Ardian kayak singa betina dan serigala yang siap berkelahi."
"Kita sepakat gencatan senjata dan menjalani style menikah dengan sahabat. Untuk saat ini Erin memang belum mencintai gue, tapi suatu hari nanti gue yakin dia akan bisa mencintai gue."
"Bagaimana dengan anak-anak kalian? Elo sudah bisa menerima mereka, Rin?"
"Gue yakin Erin sudah bisa menerima mereka. Iya kan, Rin?" Raina membantu menjawab.
"Gue nggak melihat dimana salahnya menerima mereka. Toh mereka bagian dari diri gue. Mereka tumbuh di dalam rahim gue. Gue sadar masalah gue dengan pipi mereka nggak seharusnya membuat gue menyalahkan atau membenci mereka."
"Wait.. wait... apa lo bilang tadi... pipi? Elo manggil Ardian pipi? Oh my lord... maaf kalau gue ketawa." Dan pecahlah tawa Alexia sampai-sampai keluar air matanya.
__ADS_1
Sementara itu Raina dan Henry ikut tertawa walau tidak seheboh Alexia.
"Tuh, kan apa gue bilang. Nggak usah pakai pipi mimi segala. Diketawain kan sama Lexi," omel Erina sambil menarik tangannya. Namun Ardian tidak mau melepaskan genggamannya. Ia malah mencium punggung tangan Erina dengan mesra.
"Biar aja Lexi ngetawain kita. Dia kan memang begitu orangnya. Aku kan pernah tanya kita mau memanggil seperti apa, tapi kamu nggak jawab sampai sekarang. Jelas panggilan abi ummi nggak cocok buat kita. Mami papi, ayah bunda, mama papa, bapak ibu, itu terlalu biasa. Kamu kan sukanya yang anti mainstream, sayang."
"Sumpah, kalau bukan karena gue melihatnya sendiri dengan mata gue, pasti gue pikir kalian lagi memerankan drama atau mungkin nge-prank gue," ucap Alexia setelah tawanya mereda. "Raymond pasti nggak akan percaya kalau gue ceritain."
"Ada apa ini nyebut-nyebut nama aku?" tanya Raymond yang baru saja datang dengan seorang gadis cantik yang berjalan di sampingnya.
"Nanti aku ceritain ke kamu beb. Eh, Nat kapan datang?" Alexia berdiri dan memeluk gadis cantik yang datang bersama Raymond. "Kok nggak bilang kalau kamu jadi pulang ke Indo? Kalau tahu kamu mau pulang, kami pasti akan menjemput di bandara."
"Baru tadi pagi aku sampai. Dari bandara aku langsung ke rumah oma. Sengaja nggak kasih tau cici dan koko, biar surprise."
"Lex, ini Nathalie sepupu lo yang dulu culun kacamataan?" tanya Raina tak percaya. Alexia mengangguk.
"Nathalie yang dulu sering lo bawa-bawa kalau kalian nge-date?" tanya Erina.
"Iya. Dia Nathalie."
"Kak Ardian ya? Kakak masih ingat sama Nathalie?" tanya Nathalie sambil tersipu malu. Ia tak mempedulikan Raina dan Erina.
"Walaupun sekarang penampilan kamu berbeda, kakak masih ingat sama kamu. Mata sipit dan lesung pipimu masih sama walau sekarang kamu sudah pintar dandan." Ardian bergegas berdiri dan menghampiri Nathalie untuk menyalaminya.
Yang membuat kaget adalah Nathalie bukan hanya menyambut tangan Ardian namun juga memeluknya. Tentu saja hal itu tak luput dari perhatian yang lain. Alexia dan Raina menoleh cemas ke arah Erina. Namun sepertinya Erina tak peduli.
"Kamu sekarang kuliah atau bekerja?" tanya Ardian sambil tetap berdiri di samping Nathalie.
"Aku baru menyelesaikan degree di Austria. Aku mengambil jurusan musik."
"Wah, ternyata jadi juga kamu mengambil jurusan itu. Ingat nggak dulu kita sering nongkrong bareng di cafe Jazzy dekat apartemen kakak?"
"Ingat dong kak. Disitu kak Ardian juga sering ngedate dengan pacar-pacar kakak."
Tak lama Ardian dan Nathalie terlihat asyik dalam percakapan mengenai musik klasik. Saking asyiknya mereka sampai tak menyadari yang lain sudah meninggalkan mereka berdua di gazebo tersebut.
__ADS_1
"Lex, gue dan mas Henry pulang duluan ya. Kasian Alea dan Alena."
"Kok kalian balik duluan sih? Gue ikut ya," pinta Erina.
"Elo kan kesini sama suami lo. Nanti dia bingung nyariin kalau elo nggak keliatan," ucap Alexia.
"Kayaknya dia nggak bakal nyariin gue. Tuh lihat, dia masih asyik ngobrol sama sepupu lo. Kaki dan pinggang gue mulai berasa pegal nih," ucap Erina.
"Gue panggilin Ardian ya."
"Nggak usah. Sudah lama gue nggak liat dia segitu asyiknya ngobrol."
"Sorry Rin, gue dan mas Henry mau mampir ke rumah orang tua mas Henry. Kebetulan si kembar kita titip di sana. Atau elo mau ikut kita ke sana? Kita cuma sebentar, kok."
"Nggak usah Rai, mertua lo pasti kangen sama anaknya. Dah, nggak usah mikirin gue. I'll be alright."
"Beneran nggak apa-apa? Elo tunggu aja, sebentar lagi Ardian pasti nyariin elo."
"It's okay. Kalian pulang aja duluan."
Sepeninggal Raina dan Henry, Erina berjalan mendekati Alexia. Namun sepertinya Alexia dan Raymond sedang sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu. Beberapa di antaranya juga sibuk berpamitan. Erina memandang ke gazebo. Terlihat Ardian masih asyik berbincang dengan Nathalie. Gesture tubuh mereka terlihat betapa mereka menikmati keberadaan satu dengan yang lain.
Erina menghela nafas. Ia benar-benar lelah. Kehamilannya yang sudah memasuki usia 7 bulan, mulai terasa berat baginya. Benar kata orang-orang, kehamilan kembar memang bukan hal mudah. Penampilannya saat ini benar-benar mirip paus. Sekali lagi Erina menoleh ke gazebo, namun ia tak melihat keberadaan Ardian dan Nathalie. Dimana mereka? Erina tadinya hendak mencari Ardian, namun ia urungkan karena kakinya semakin sakit. Akhirnya Erina memutuskan untuk pulang ke rumah dengan menggunakan taksi online. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah rebahan di ranjangnya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Jam menunjukkan pukul 11 malam saat Ardian memasuki kamar. Dilihatnya Erina sudah tertidur pulas. Tadi ia sempat mencari-cari Erina saat hendak pulang, namun tak menemukannya. Ia mencoba menghubungi ponsel Erina, namun ponselnya mati. Ia bertanya pada Alexia, dia juga tak melihat Erina. Akhirnya ia menghubungi Raina. Menurut perkiraan Raina, Erina sudah pulang karena tadi sempat ingin pulang bersama. Setelah mendapat info dari Raina barulah Ardian merasa lega.
Tadi ia asyik berbincang dengan Nathalie. Saking asyiknya ia tak menyadari Erina dan yang lain sudah berpindah tempat. Setelah itu Nathalie sempat mengajaknya ke dalam rumah, untuk memperlihatkan piala-piala yang diraihnya selama menempuh pendidikan di Austria.
Bagi Ardian, Nathalie sudah seperti adik sendiri. Gadis itu sering ikut bergabung dengan mereka, karena gadis itu sejak kecil ikut tinggal dengan keluarga Alexia. Keluarganya sendiri berada di Taiwan.
Ardian mendekati ranjang. Ditatapnya Erina dengan penuh sayang. Perlahan ia mencium kening Erina. Lalu ia mencium perut Erina yang semakin membulat. Lalu ia menuju kamar tamu. Ya, sejak awal tinggal di rumah tersebut hingga kini, Ardian tidur di kamar tamu. Mereka hampir tak pernah berbagi ranjang kecuali Erina mendadak minta ditemani.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1