
Jam menunjukkan pukul 11 siang saat Erina memasuki Garage Cafe. Ia sengaja datang satu jam lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Ia ingin melihat lebih dulu seperti apa wanita yang menelponnya semalam.
Tadi pagi ia sempat mendiskusikan hal ini dengan Ardian melalui telpon.
FLASHBACK ON
"Di, gue bingung tapi juga penasaran."
"Lo yakin siap mendengar apa yang bakal disampein sama tuh cewek?"
"Siap nggak siap, tapi gue harus tahu."
"Termasuk siap dengan kemungkinan kalian berdua nggak lanjut?" Erina terdiam. "Lo tau harus cari siapa saat itu terjadi."
"Lo ngedoain gue dan Daffa bubaran? Tega amat sih jadi teman," omel Erina sambil tertawa getir.
Ardian tahu pasti tawa itu dipaksakan. Ia tahu sahabat yang dicintainya ini sebenarnya gelisah. Seandainya saja saat ini ia ada di samping Erina, pasti ia akan memeluk gadis itu untuk menenangkannya.
"Mau gue temenin?" Erina tak menjawab. "Woy, elo nggak pingsan karena gugup kan?"
"Apaan sih lo? Gue nggak selemah itu!" tukas Erina kesal. "Gak bisa apa prihatin dikit sama gue. Katanya elo cinta sama gue tapi sikap lo nggak menunjukkan hal itu."
Ya ampun Rin, kalau saja elo belum tunangan sama Daffa, gue pasti bakal tunjukin gimana cinta gue ke elo. Sekarang ini gue cuma bisa ngebatin dan menahan perasaan cinta ini. Bisa aja gue nekat ceritain masa lalu Daffa biar bikin elo putus sama dia. Tapi gue yakin elo pasti nggak akan suka. Gue nggak mau dibenci sama elo. Gue nggak sanggup kalau elo menjauh. Biarlah saat ini gue mengorbankan perasaan cinta gue. Mungkin elo memang bukan untuk gue miliki.
"Gimana Rin? Butuh ditemani nggak?" tanya Ardian lagi.
"Memangnya elo punya waktu kosong buat menemani gue? Jadwal pekerjaan lo kan seabreg-abreg. Padat banget, ngalah-ngalahin kepadatan lalu lintas saat mudik."
"Kebetulan pagi ini nggak ada meeting penting. Gue bisa bawa laptop. Pekerjaan bisa gue delegasiin ke si Prio," jawab Ardian cepat. Ia tak ingin Erina sendirian. Ia khawatir Erina kehilangan kendali.
"Oke. Lo temenin gue. Tapi nanti duduknya beda meja ya. Gue nggak mau keliatan lemah di depan siapapun itu. Elo jemput gue."
Setelah menutup telpon, Ardian langsung memanggil Prio, asistennya.
"Yo, batalin semua meeting gue hari ini. Reschedule jadi besok. Serahin report bulanan ke pak Arya."
"Tapi pak, siang ini kan ada acara makan siang dengan dewan komisaris. Kehadiran bapak pasti ditunggu oleh mereka."
"Bilang ke mereka aku nggak bisa hadir. Ada urusan yang jauh lebih penting. Kalau memang kehadiranku ditunggu banget, bilang ke mereka untuk reschedule acara lunch nya." Keputusan Ardian kali ini benar-benar tak bisa ditawar. Prio sebagai asisten sangat mengerti hal ini. Ia juga bisa menebak urusan penting apa yang membuat bosnya berani meninggalkan pertemuan dengan para tetua perusahaan, yang notabene adalah keluarga pak Arga.
FLASHBACK OFF
Erina berusaha tenang duduk di kursinya. Di meja lain tampak Ardian mengawasi. Mereka sengaja duduk terpisah.
__ADS_1
Ardian : Rin, belum datang?
Erina: Belum. Janjiannya jam 12. Jam makan siang. Kenapa? Lapar?
Ardian : Iya. Gue pesan makan ya. Elo mau gue pesanin?
Erina : Nggak usah. Biar nanti gue pesan sendiri. Lagian situasi kayak gini mana bisa gue makan. Cuma bikin tambah mules.
Ardian : Bisa gugup juga lo. Padahal ngadepin bandit aja elo nggak pernah gugup.
Erina : K*****t lo! Kalau bandit mah gampang ngadepinnya. Tinggal dihajar beres. Kalau ini kan nggak mungkin gue hajar.
Ardian : Mau dipesanin kopi atau sandwich? Gue yakin tadi pagi elo pasti belum sarapan.
Erina : Espresso, double shot ya Di. Plus salad dan tuna sandwich.
Ardian : Oke sayang. Gue pesanin buat elo.
Erina : Dih, najong banget pake panggil sayang segala. Norak tau.
Ardian : Latihan. Siapa tau habis ini elo berubah pikiran, mau jadi istri gue. 🥰 😘
Erina : Dih, geli banget gue liat emoticon lo.
Erina : Pengen gue toyor nih anak
Ardian : Daripada ditoyor mendingan disayang. Berpahala lho menyenangkan orang lain.
Erina : Sudah ah! Meladeni lo nggak ada habisnya.
Ardian : Tenang, kalau nanti elo jadi istri gue pasti akan gue ladeni dengan cinta.
Erina : Ardian‼️🙈😤
Dari tempat duduknya Erina bisa melihat Ardian tertawa sambil memandang ke arahnya. Dasar sahabat sableng, omel Erina. Ia meletakkan telunjuknya di kening. Ardian yang melihat malah tambah tergelak. Membuat orang-orang di sekitar memperhatikannya.
Ah, untunglah aku mengajak Ardian. Setidaknya bisa mengurangi kegugupanku, pikir Erina. Sejak semalam tidurnya gelisah memikirkan pertemuan hari ini. Ia tak berani menerka apa yang akan disampaikan oleh wanita asing yang semalam menelponnya. Rasa gugupnya hari ini melebihi kegugupan saat pertama bertemu keluarga Daffa.
Menjelang jam 12 siang, tampak seorang wanita cantik bertubuh semampai dengan dandanan yang tampak elegan menghampiri meja tempat Erina duduk. Dari wajahnya terlihat jelas bahwa gadis ini blateran, bukan lokal. Siapa gadis ini, tanya Erina dalam hati.
"Selamat siang, miss Erina," sapa gadis itu dengan logat bulenya yang cukup kental. Dari aksennya jelas dia berasal dari daratan Inggris sana. Apakah gadis ini ada hubungannya dengan perjalanan dinas yang sering Daffa lakukan, kembali Erina bertanya-tanya dalam hati.
"Selamat siang. Miss.....?" Erina menunggu gadis itu menyebutkan namanya. Namun bukannya menjawab, gadis itu malah menarik kursi di hadapan Erina dan dengan gaya elegan mendudukan bo****nya. Apakah semua cewek Inggris gaya duduknya seperti princess? batin Erina. Anggun. Cocok dengan pembawaan gadis itu.
__ADS_1
"Anda tak perlu tahu siapa nama saya. Yang anda perlu tahu adalah, calon suami anda tidak seperti yang anda kira." Gadis itu mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam tasnya.
Erina tak langsung mengambil foto-foto tersebut. Ia berusaha tenang dan tersenyum, walaupun di dalam hatinya berbagai perasaan berkecamuk.
"Apa maksud anda ingin menemui saya? Kalau hanya foto-foto seperti ini yang ingin diperlihatkan, kenapa tidak kirim saja lewat ponsel? Atau anda sengaja ingin bertemu dan melihat sendiri gadis seperti apakah yang akan anda temui." ucap Erina kalem namun nadanya cukup tajam. Terlihat kilat gusar di mata gadis bule itu.
"Aah.. pasti anda berpikir saya adalah gadis biasa yang lemah. Hmm... terkadang saya memang lemah. Tapi saya lebih sering menjadi wanita kuat. Apalagi menghadapi orang-orang macam Anda."
Sekali lagi gadis itu terlihat gusar, namun ia buru-buru merubah sikapnya saat dilihatnya Erina tak terpengaruh dengan apa yang dibawanya.
"Hmm.. sebaiknya anda perhatikan baik-baik foto-foto yang saya bawa. Mungkin itu bisa membuat anda berpikir ulang untuk menikahi calon anda itu."
"Okelah saya akan lihat foto-foto ini. Tapi jelaskan kepada saya apa yang anda inginkan." Erina mengambil foto-foto yang dibawa gadis itu.
Bagaikan kilat menyambar di siang hari yang cerah, unpredictable dan mengagetkan. Itulah perasaan saat melihat foto pertama. Tampak Daffa berjalan dengan seorang gadis bule yang menggelendot manja di lengannya. Sementara itu terlihat Daffa mendorong stroller bayi.
Perlahan Erina melihat foto kedua, yang sepertinya lebih baru dibanding foto pertama. Tampak Daffa dan lagi-lagi gadis bule di foto pertama sedang berjalan menikmati senja di sebuah taman. Kali ini tampak seorang gadis kecil duduk di pundak Daffa. Ketiganya terlihat bahagia.
Foto-foto berikutnya membuat Erina lebih shock. Namun ia berusaha mempertahankan ekspresi datar di wajahnya. Foto itu diambil sebulan lalu. Sama dengan tanggal Daffa ke London terakhir kali. Dalam foto itu tampak Daffa keluar dari sebuah rumah mungil, lagi-lagi berdama gadis bule dan gadis kecilnya. Betapa satu tangan Daffa tampak nyaman memeluk gadis tersebut dan tangan sebelahnya lagi menggendong gadis kecil itu. Siapakah mereka? Apakah mereka istri dan anak Daffa?
"Menarik." Erina meletakkan kembali foto-foto tersebut ke atas meja. Princess blasteran yang duduk di hadapannya terlihat kecewa melihat reaksi Erina.
"Anda tidak usah pura-pura kuat. Saya tahu anda pasti kecewa pada tunangan anda. Bukan begitu?"
"Apakah itu penting bagi anda? Saya tidak mengenal anda atau orang-orang dalam foto tersebut. Lalu untuk apa saya kecewa."
"Itu foto tunangan anda bersama keluarga kecilnya. Dan anda adalah orang yang akan merusak kebahagiaan tersebut."
Erina tertawa mendengar ucapan gadis itu. Ia tahu, ia tak boleh memperlihatkan emosi yang sesungguhnya di hadapan princess blasteran tersebut.
"Kenapa anda tertawa?"
"Hey nona, ini jaman moderen. Segala hal bisa dibuat. Foto atau video sekalipun bisa diedit. Saya tidak tahu apa tujuan anda. Tapi saya tidak bisa percaya begitu saja pada seseorang yang tidak berani memperkenalkan namanya. Bisa saja saya menganggap anda sebagai seorang penipu."
Princess blasteran itu terdiam. Terlihat ia memutar otak untuk meyakinkan Erina.
"Saya yakin surat-surat yang saya terima juga dari anda. Perlu anda tahu, itu perbuatan seorang pengecut."
Kali ini si princess blasteran tersenyum misterius. Senyum yang mampu membuat hati Erina mengerut dan khawatir.
"Mungkin foto-foto ini tidak membuat anda percaya. Baiklah. Kita lihat bagaimana reaksi anda setelah mendengar cerita saya."
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1