TAKLUK

TAKLUK
ISTRI KEDUA?


__ADS_3

Erina memandang gelas yang berada di tangannya. Gelas itu sudah dari tadi kosong. Kenapa saat ini perasaannya kosong? Apakah aku harus merelakan dia memilih yang lain? Atau menerima penawaran dari Zafran?


Masih teringat jelas ucapan Zafran yang tak ingin putus darinya. Bahkan dengan nekat Zafran berniat menjadikan Erina istri simpanannya.


"Di, elo dimana? Kesini dong!" Erina menelpon Ardian.


"Gue lagi meeting, Rin," jawab Ardian sambil berbisik. Memang benar ia sedang meeting dengan para petinggi di perusahaannya. Sejak 3 tahun yang lalu Ardian mendirikan perusahaan bersama Gustav. Walau baru berjalan 3 tahun namun perusahaan mereka sudah mampu bersaing dengan perusahaan besar lainnya. Kini Gustav dan Starla sedang berlibur ke Eropa, sehingga Ardianlah yang harus memimpin meeting tersebut.


"Selesai meeting langsung ke kantor gue!" Erina langsung menutup pembicaraan tanpa menunggu jawaban Ardian.


"Rin, elo kenapa sih? Dari tadi galau banget," tanya Alexia yang duduk di hadapannya. "Jangan bilang elo patah hati.... lagi."


"Gue bingung, Lex," jawab Erina sambil memainkan gelas yang berada di tangannya. Sementara di jarinya terselip rokok yang sudah hampir habis.


"Soal Zafran? Dia jadi mau nikah dengan pilihan orang tuanya?" tanya Alexia. "Bukannya dia bilang akan membujuk cewek itu untuk membatalkan perjodohan mereka."


"Ternyata cewek itu menolak. Rupanya sejak kecil dia sudah menyukai Zafran. Bahkan dia menolak lamaran beberapa pria demi menunggu Zafran."


"Terus hubungan lo dengan Zafran selesai dong?"


"Entahlah Lex. Saat ini gue bingung dengan perasaan gue sendiri. Di satu sisi gue marah, kecewa dan sedih. Tapi di satu sisi gue juga bahagia saat Zafran bilang dia masih cinta sama gue."


"Elo percaya sama dia?" tanya Alexia. "Rin, elo jangan bego deh."


"Maksud lo apa?"


"Dia nggak 100% cinta sama elo,"


"Dia masih cinta sama gue, Lex. Bahkan dia bilang bakal menikahi gue."


"Maksudnya menjadikan elo istri kedua?" Erina mengangguk. "Elo yakin mau jadi istri kedua? Seorang Erina yang nggak pernah mau diduakan, sekarang menerima untuk dijadikan istri kedua?! UNBELIEVABLE."


"Makanya sekarang gue bingung Lex."


"Tolak ajalah."


"Daddy sudah nanya mulu."


"Carilah pengganti Zafran."


"Nggak semudah itu, Lex."


"Elo mau gue kenalin sama saudara sepupunya Raymond? Namanya Reynold. Dia CEO clothing line Mr. XOXO."


"Reynold yang lulusan Cambridge?" Alexia mengangguk.

__ADS_1


"Lo kenal dia?"


"Gue pernah ketemu dia di klub saat peluncuran produk terbaru mereka. Kebetulan salah satu rekanan daddy, om Erfan, pemodal di perusahaan tersebut."


"Nah, cocok dong kalau begitu. Gue yakin om Andrew pasti setuju."


"Gue nggak yakin Lex. Dari gayanya gue tau kalau dia itu player. Mommy juga nggak bakal setuju," tolak Erina.


"Lo tau dari mana Rey player? Memangnya elo sempat dideketin sama dia?"


"Tuh cowok bungkusnya aja yang keliatan bagus. Dalamnya bobrok. Lo tau apa yang dia lakukan saat om Erfan mengenalkan gue dengan dia?" Alexia menggeleng.


"Dengan beraninya dia mengelus lengan gue. Dia juga sempat ngajak gue ONS"


"Serius? Kok kalau lagi kumpul keluarga dia keliatan kalem dan alim banget. Lo tau kan gimana religiusnya keluarga Raymond. Gue aja sering diomelin sama omanya kalau nggak ikut ke gereja."


Erina terkekeh mendengar ucapan Alexia. Sejak dua tahun lalu sahabatnya ini telah menikah dengan Raymond. Dosen sekaligus pengusaha muda sukses keturunan Belanda. Bahkan keluarga Raymond sangat menentang keinginan keduanya untuk tinggal bersama tanpa menikah, saat mereka baru menjalin hubungan selama tiga bulan. Buat keluarga Raymond, ku***l kebo adalah dosa tak termaafkan dan bisa membawa sial bagi keluarga.


"Terus gimana dong? Memangnya om Andrew bakal ngijinin elo jadi istri kedua si Zafran?" Erina hanya mengangkat bahu tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya.


"Keluarga lo kan nggak setuju dengan poli-polian gitu. Rin. Gue masih ingat waktu sepupu lo si Abimanyu mau menikahi pacar gelapnya. Eyang lo paling keras menentang hal tersebut."


"Itulah Lex yang bikin gue tambah bingung. Gue masih cinta sama Zafran, tapi gue juga nggak mau nyakitin perasaan Zulfa."


"Elo lupa ya gue sudah sangat berpengalaman dalam hal diselingkuhi? Rasanya nggak enak banget Lex."


"Gue ingat banget waktu elo diselingkuhi sama Pras. Elo mabok berat dan hampir mati gara-gara elo minum pil tidur," ucap Alexia sambil menerawang.


Masih terekam jelas dalam memorinya saat menemukan sahabatnya dalam kondisi kacau saat mengetahui kekasihnya tidur dengan Felicia, sekretaris Andrew. Kalau bukan karena Ardian mengajaknya mengunjungi Erina yang sudah beberapa hari tak bisa dihubungi, mungkin saat ini Erina hanya tinggal nama.


"Mungkin sebaiknya gue terus terang ke daddy ya kalau Zafran mau menikah dengan perempuan lain."


"Berarti elo siap dijodohin dengan pilihan keluarga?"


"Dijodohin? Nggak mungkinlah orang tua gue masih sekolot itu. Apalagi daddy. Dia sangat open-minded." Erina tergelak mendengar ucapan Alexia.


"Elo lupa Eyang Fatma dari dulu berniat menjodohkan elo dengan Dipo, cucu sahabatnya?"


"Oh my god!" Erina menepuk keras dahinya. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan Dipo, cowok kutu buku yang hendak dijodohkan oleh eyangnya.


"Elo siap jadi istrinya Dipo?"


"Waduuuh.. nggak kebayang sama gue menikah dengan cowok model gitu. Freak, anak mami." Erina bergidik.


Masih teringat olehnya saat Eyang Fatma mengajak berkunjung ke rumah sahabatnya. Di sana ia dikenalkan kepada Dipo, cowok cupu berkacamata tebal yang selalu menempel pada sang ibu. Manjanya nggak ketulungan. Bahkan Dipo memiliki kebiasaan buruk mengemut ibu jarinya saat dia panik.

__ADS_1


Erina menggeleng-gelengkan kepalanya bila mengingat hal tersebut. Bisa hilang kesabaran dia menghadapi cowok model Dipo.


"Menurut gue sebaiknya elo tunda dulu menceritakan yang sebenarnya kepada om Andrew. Putusin hubungan lo sama Zafran dan cari cowok lain yang nggak kalah tajir dan ganteng. Pastinya yang keluarganya nggak sekolot keluarga Zafran," usul Alexia.


"Wah boleh juga tuh usul lo. Tumben pinter."


"Si***n lo! Gini-gini gue lulusan terbaik di kampus."


"Iyalah lulusan terbaik. Kan dosennya lo kawinin." Erina terbahak sambil menghindari tissue yang dilempar Alexia.


"Hai Rin, hai Lex," sapa seorang gadis cantik berhijab dengan perut membulat.


"Gila, lama amat sih nyampenya Nyah," ledek Alexia sambil menyambut kedatangan Raina dengan pelukan hangat. "Apa kabar keponakan-keponakan aunty di dalam sana?"


"Maklumlah. Namanya juga bumil, kembar lagi. Mau ijin ketemu kalian aja protokolernya panjang banget. Mas Henry nggak ngebolehin gue naik taksi. Bawa mobil juga nggak boleh. Harus nunggu dia selesai zoom dengan klien." Erina memeluk hangat sahabatnya.


"Rin, elo minum lagi?" tanya Raina sambil menatap prihatin sebotol wine yang isinya tinggal setengah.


"Gue nggak minum sendiri. Tuh istri dosen terhormat ikut minum."


"Lex, elo harusnya mengingatkan Erin untuk berhenti minum. Bukannya malah menemani dia," omel Raina. "Rin, please jangan menyentuh minuman haram ini lagi."


"Dia lagi galau berat. Zafran mau nikah."


"Alhamdulillah. Bagus dong. Berarti keluarga Zafran sudah bisa menerima elo. Akhirnya elo ketemu dengan cowok yang serius sama elo."


"Dasar oon. Nggak mungkin Erin galau kalau Zafran mau nikah sama dia. Iya sih, Zafran ngajak dia nikah. Tapi buat dijadiin istri kedua," jelas Alexia sambil menyentil kening Raina. "Gue bingung, si Henry kok mau sih sama cewek oon kayak elo."


"Iih.. apa hubungan mas Henry dengan kak Zafran yang mau nikah sama Erin. Nggak jelas lo, Lex!" balas Raina sambil mengusap dahinya yang sakit. Sejak dulu Alexia dan Raina memang seperti Tom dan Jerry yang tak pernah akur tapi saling menyayangi.


"Oh my God, nyonya pengacara! Sahabat elo ini galau karena mau dtinggal kawin. Bukan mau diajak kawin sama tuh cowok k****et."


"Wait... maksud lo, kak Zafran mau menikah dengan cewek lain?" tanya Raina bingung.


"Ya ampuuun Rai... semoga keponakan-keponakan gue nggak oon kayak emaknya. Makanya update dong sama obrolan di grup."


"Sejak gue ketauan positif, mas Henry membatasi pemakaian gadget. Katanya nggak baik buat janin."


"Oh Lord... gue lupa kalau elo istri yang patuh." Kali ini Alexia menepuk dahinya sendiri.


"Beneran Rin, kak Zafran mau menikah dengan gadis lain?" Erina mengangguk. "Terus tadi urusan istri kedua gimana? Kok gue masih belum mudeng ya."


Alexia dan Erina hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengelus dada menahan sabar.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2