
"Katakan pada papa, apa maksud foto-foto ini?" tanya Arga sambil menunjukkan sejumlah foto.
Ardian mengambil foto-foto tersebut dan ia sungguh tak menyangka ada yang diam-diam mengambil fotonya saat memeluk bahu Nathalie. Bahkan ada foto saat pipinya dikecup oleh gadis itu. Ada foto saat Nathalie menggelendot manja di lengan Ardian. Dan masih ada beberapa lembar foto yang menunjukkan kebersamaan mereka.
Erina terdiam melihat foto-foto yang ada di hadapan bapak mertuanya. Ada rasa sakit di sudut hatinya melihat kebersamaan sang suami dengan Nathalie. Ia dapat melihat pandangan memuja terpancar dari mata Nathalie saat menatap Ardian. Sementara itu sejak menikah, Erina dan Ardian malah tak pernah berfoto seperti itu kecuali foto saat menikah. Mereka malah lebih sering berfoto bersama saat mereka masih menjadi sahabat.
"Erin, apakah kamu tahu siapa gadis yang bersama suamimu di foto-foto ini?" tanya Arga hati-hati. Erina mengangguk. "Apa?! Kamu mengenal gadis itu? Jadi kamu tahu kalau suamimu sering menghabiskan waktu dengan gadis ini?"
"Iya pa," jawab Erina singkat. Ia lalu menundukkan pandangannya.
"Pa, ini tidak seperti yang papa kira. Aku nggak.. "
"Diam kamu! Papa nggak mengerti dengan pernikahan kalian. Pernikahan macam apa yang kalian jalani? Kamu Ardian, dengan seenaknya pergi dan bermesraan dengan wanita yang bukan istrimu. Dan kamu Erina, kok bisa-bisanya membiarkan suamimu menghabiskan waktu dengan gadis lain."
"Pa, gadis itu bukan ......"
"Kamu mau bilang gadis itu bukan kekasihmu. Begitu?"
"Dia memang bukan kekasih Ardian, pa. Dia adik sepupu Lexi." ucap Erina membela Ardian. Walaupun perasaannya tak karuan saat melihat foto-foto itu namun ia merasa perlu meluruskan masalah ini.
"Ya tuhan, papa nggak habis pikir dengan sikap kalian." Arga menggeleng-geleng tak percaya. "Bagaimana kamu bisa sedemikian santainya mengetahui suamimu jalan dengan gadis lain?"
"Pa, Ardi nggak ada hubungan apapun dengan Nathalie."
"Oh, jadi nama gadis itu Nathalie." gumam Arga. "Kamu yakin tak ada hubungan apapun dengan dia?"
"Iya pa. Ardi menganggap dia seperti adik. Nggak lebih."
"Tapi apa yang papa lihat tidak begitu. Papa bisa melihat bagaimana perasaan gadis itu kepadamu. Apakah kamu yakin tidak membuat gadis itu salah sangka terhadap hubungan kalian? Papa khawatir gadis itu baper dengan sikap kamu terhadap dia." Arga mengungkapkan kekhawatirannya.
"Kalau papa nggak percaya, papa boleh tanya Lexi."
"Lexi nggak ada hubungannya dengan hal ini. Apa papa perlu memanggil gadis itu kesini?"
"Jangan pa!"
"Kenapa jangan? Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dari Erina? Jangan-jangan kamu menjalin hubungan yang lebih dalam dengan gadis itu. Kamu mencintai dia?"
__ADS_1
"Nggak pa. Ardian hanya mencintai Erina dan anak-anak kami."
"Rin, kamu mencintai Ardian?" tanya Arga tiba-tiba. Erina bingung harus menjawab apa. Karena ia pun masih bingung dengan perasaannya.
"Erina pasti akan mencintai Ardi, pa." ucap Ardian.
"Akan mencintai? Apakah itu artinya selama ini kamu masih belum mencintai anak papa? Kamu masih membenci dia, bahkan setelah anak-anak kalian lahir?! Unbelievable." Arga hanya mampu geleng kepala menghadapi situasi saat ini.
"Erina saat ini masih bingung dengan perasaannya, pa. Tapi Ardi yakin dalam waktu dekat ia akan menyadari kalau ia juga mencintaiku," ucap Ardian sambil memeluk bahu Erina.
"Lalu bagaimana dengan gadis itu? Kamu yakin dia nggak akan menuntut apapun kepadamu?"
"Maksud papa?"
"Papa khawatir kamu melakukan kesalahan yang sama terhadap gadis itu. Papa khawatir kamu tak bisa menahan hasratmu saat digoda gadis itu."
"Pa ....."
"Papa tahu, selama menikah hakmu sebagai suami belum sepenuhnya kamu dapatkan. Papa nggak bisa menyalahkan Erin kalau dia masih trauma melakukan hal itu. Tapi kamu itu pria normal. Pria itu diibaratkan seperti kucing. Tak ada kucing yang menolak saat disodorkan ikan di hadapannya."
"Pa .... " Arga melemparkan selembar foto ke hadapan mereka berdua.
"Rin, percaya padaku. Aku dan Nathalie nggak pernah melakukan hal-hal seperti yang kamu bayangkan. Aku masih setia kepadamu walau Nathalie berkali-kali mencoba memancingku," aku Ardian. Erina menatap tak percaya ke arah Ardian. Demikian juga Arga. Mendadak tengkuknya terasa berat.
"Astaga Ardian! Papa malu dengan tingkah lakumu."
"Pantas saja tadi Nathalie sangat marah dan terluka saat melihat kita di kantormu."
"Rin, aku benar-benar nggak melakukan apapun dengan Nathalie! Dia memang berkali-kali mengundangku ke apartemennya, tapi aku selalu menolak. Aku hanya mengantarnya sampai depan pintu. Aku nggak pernah masuk ke dalam apartemennya." Ardian membela diri. Apa yang ia katakan adalah sebuah kebenaran.
"Pa, Erin permisi pulang. Kasihan mama Amel jagain si kembar." Erina berdiri dan meninggalkan kantor Arga.
Ardian langsung berdiri hendak menyusul Erina namun Arga menahannya.
"Pa, Erin ...."
"Biarkan dia sendiri dulu. Dia butuh mencerna ini semua. Sekarang kamu jelaskan semuanya pada papa."
__ADS_1
"Nggak ada yang perlu dijelaskan pa, karena aku dan Nathalie memang nggak ada hubungan apapun."
"Mungkin menurutmu seperti itu, tapi kamu lupa kalau wanita tuh mudah baper. Apalagi kalau dia memang sudah memiliki rasa buat kamu sejak dulu. Papa bingung sama kamu. Kamu itu bukan anak remaja yang nggak pernah pacaran. Mantan kamu banyak, tapi kamu masih aja nggak bodoh mengenai perilaku wanita kalau jatuh cinta." Arga hanya bisa menghembuskan nafas kesal karena kebodohan Ardian.
"Pa, Ardi cuma cinta sama Erin. Nggak ada wanita lain yang bisa membuat Ardi mau bertahan dalam pernikahan tanpa hubungan s***."
"Ya tuhan. Sama sekali tidak pernah? Kamu bercanda kan?" tanya Arga. "Tadi papa pikir, kamu masih dapat jatah walau tak sering."
"Nggak pa. Ardi serius."
"Apa gara-gara itu kamu mencari gadis lain?"
"Papa! Aku tuh nggak akan melakukan hal itu. Aku nggak akan mengkhianati Erin."
"Tapi Di, kalaupun kamu selingkuh menurut papa wajar-wajar saja. Karena Erin belum melaksanakan kewajibannya sebagai istri. Memangnya kamu nggak bergairah melihat Erin?" tanya Arga penasaran. Ardian terlihat kikuk dengan pertanyaan tersebut.
"Oke, nggak usah kamu jawab. Papa turut prihatin. Saran papa, kalau memang kamu nggak yakin bisa menaklukan Erin sebaiknya kamu mencari calon istri kedua. Biar kebutuhan biologismu terpenuhi dan kamu terhindar dari dosa. Kalau kamu mau, papa bisa carikan calon istri untukmu."
"Pa, aku hanya mencintai Erin. Aku menikahi dia bukan semata karena alasan kebutuhan biologis."
"Papa tahu itu. Kamu bisa tetap mencintai Erin, tapi kamu juga bisa memiliki istri yang dapat memenuhi semua kebutuhan biologismu."
"Maaf pa, sampai saat ini Ardi belum terpikirkan mencari istri kedua. Ardi mencintai dan menyayangi Erin. Pa, Ardi pamit pulang ya."
"Bilang sama papa kalau kamu berubah pikiran."
Ardian keluar ruangan Arga. Sesampainya di luar, ponselnya berbunyi. Muncul nama Amelia. Ada apa mama menelponku?
"Assalaamu'alaykum. Iya ma, ada apa?"
"Di, sebaiknya kamu cepat pulang. Erin membereskan bajunya dan baju anak-anak." Ardian mendengar suara tangisan si kembar.
"Ma, si kembar kenapa menangis?"
"Mama juga kurang tau. Tadi saat Erin sampai di rumah, dia langsung memasukkan bajunya dan memerintahkan mbok Siti memasukkan pakaian mereka ke koper. Tiba-tiba si kembar menangis. Kamu dan Erin bertengkar?"
"Nggak. Mama coba tahan Erin supaya nggak pergi ya. Ardian segera pulang."
__ADS_1
Ya tuhan ada masalah apalagi sehingga Erina ingin pergi dari rumahnya? Apakah ini karena foto-foto yang papa perlihatkan? Ardian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Andrew. Karena banyak hal yang ia pikirkan ia tak melihat ada motor yang melaju kencang dari arah berlawanan. Ardian baru menyadari hal tersebut saat motor tersebut berada 5 meter di depan mobilnya. Ia segera membanting mobilnya ke arah dan akibatnya mobil yang dikendarai menabrak pembatas jalan.
⭐⭐⭐⭐