TAKLUK

TAKLUK
BINGUNG


__ADS_3

Happy Reading❤


"Di, gue lagi bingung nih."


"Kenapa lo? Disuruh uncle Andrew kawin?" tebak Ardian sambil bercanda. Erina menatap tajam ke arah Ardian. "Kenapa musti bingung sih? Tinggal ngomong sama Zafran buat cepat melamar elo. Beres kan? Umur lo juga sudah cukup banget."


"Gue nggak bisa ngomongin itu ke kak Zafran"


"Kenapa?"


"Orang tua kak Zafran sampai saat ini masih belum bisa menerima hubungan kami."


"Kenapa?"


"Menurut mereka, gue bukan calon menantu idaman. Terlalu kasar, kurang keibuan."


"That's right."


"Elo setuju sama mereka?" tanya Erina sengit.


"Emangnya elo nggak begitu?" Ardian balik bertanya.


"Menurut lo sendiri gimana, Di?"


"Jawaban jujur atau bohong?"


"Ya jujurlah."


"Rin, gue salah satu teman lo yang paling awet hingga saat ini. Berapa banyak teman dekat lo?" Erina terdiam.


"Memangnya itu berpengaruh?" Erina balik bertanya.


"Nggak banyak orang yang bisa tahan menghadapi sikap lo yang blak-blakan, bahkan cenderung galak dan kasar. Apalagi gaya lo yang tomboy plus elo merokok. Mana ada orang tua yang mau punya menantu kayak elo."


"Tapi Zafran bisa tuh menerima gue," balas Erina tak terima. "Buktinya kami bisa langgeng pacaran sampai saat ini. Sudah mau 2 tahun lho."


"Selama pacaran sama dia, setelah berapa lama pacaran elo diperkenalkan kepada orang tuanya. Berapa kali elo diajak bertemu orang tuanya. Gue yakin hanya beberapa kali." Erina mengerutkan dahinya mengingat perjalanan cintanya dengan Zafran sampai saat ini.


"Kalau dari awal dia bisa terima elo dan memang mau menjadikan elo sebagai calon istri, paling tidak dia akan membujuk orang tuanya untuk bisa menerima elo. Atau setidaknya mau mengajak elo kembali ke jalan yang benar."


"Kam***t lo Di. Lo pikir gue manusia sesat?" Erina menonjok lengan Ardian.


"Mungkin buat teman-teman seumuran kita, gaya lo tuh dianggap biasa. Tapi beda dengan orang tua yang mau memilih menantu. Mereka pasti nggak akan milih yang kayak elo."


"Tapi... " Erina berusaha membantah ucapan Ardian.


"Nah, ini satu lagi sifat buruk lo. Nggak mau terima kritik membangun dari orang lain. Lagian kalau gue liat-liat, elo lebih macho daripada Zafran." Akibatnya pukulan yang cukup pedas mendarat di bahu Ardian.

__ADS_1


"Tarik ya kata-kata lo tadi!" Ancam Erina.


"Kenapa? Nggak terima?" Ardian meringis menahan pedih di bahunya akibat pukulan Erina. "Elo mau ngancurin mobil gue lagi kayak dulu?"


Erina terdiam. Kali ini dia tidak lagi membalas ucapan Ardian maupun memukulnya.


"Rin, elo itu harus berubah menjadi lebih baik kalau memang elo mau serius sama Zafran."


"Susah, Di." Erina tertunduk lesu. "Minggu lalu Zafran sempat bilang kalau dia mau dijodohin sama sepupu jauhnya. Dia nggak bilang kalau dia akan menolak ataupun menerima perjodohan itu."


"Gue yakin sifat calon istrinya Zafran berbeda 180 derajat sama elo. Iya kan?" Erina mengangguk lesu.


"Di, apa gue coba aja ya ngomongin masalah ini sama Zafran?"


"Yakin?" Kali ini mata Ardian melihat keluar cafe. Sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatiannya.


"Di, lo ngeliatin apaan sih?" tanya Erina bingung.


"Rin, ikut gue yuk." Ardian berdiri dari kursinya dan menarik tangan Erina.


"Jangan aneh-aneh deh. Lo mau ajak gue kemana sih?" protes Erina namun ia tetap mengikuti Ardian yang masih terus menarik tangannya.


"Rin, kayaknya elo mesti ngelupain niat lo ngomong ke Zafran soal pernikahan deh." Mendadak Ardian berhenti di depan toko perhiasan. Akibatnya Erina menabrak punggung Ardian.


"Di, pake sen dong kalau mau brenti. Jangan ngerem mendadak kayak gini. Sakit nih hidung gue. Elo mau bayarin biaya operasi hidung gue di Korea?"


"Apaan sih?" tanya Erina bingung.


"Itu Zafran bukan?" tanya Ardian sambil menunjuk ke dalam toko perhiasan. Tampak seorang pria muda ditemani dua wanita sibuk melihat-lihat cincin.


Mata Erina membulat melihat ke arah yang ditunjuk Ardian. Benarlah, tampak Zafran dan umminya beserta seorang wanita muda berhijab sedang sibuk melihat-lihat cincin. Erina langsung hendak melangkah masuk ke dalam toko tersebut, namun tangannya ditahan oleh Ardian.


"Jangan bikin ribut disini kalau nggak mau diusir security," desis Ardian sambil menahan Erina. "Kita perhatikan saja dari sini. Siapa tahu itu adiknya Zafran."


"Zafran nggak punya adik cewek. Perempuan tua itu umminya Zafran. Dan gue yakin wanita berhijab itu adalah calon istrinya," ucap Erina perlahan dengan perasaan campur aduk. Marah, sedih, kecewa.


"Rin, are you okay?" tanya Ardian khawatir.


Selama bersahabat dengan Erina, bukan sekali dua kali gadis ini dikecewakan oleh pria. Mulai dari Gustav hingga kini Zafran. Ia tahu Erina sangat membenci perselingkuhan. Dulu bila mengetahui kekasihnya melakukan perselingkuhan, maka Erina tak segan-segan melabraknya. Untungnya kejadian vandalisme seperti saat SMA dulu tak pernah terjadi lagi.


Kini dengan bertambahnya usia, Erina semakin bisa menahan amarahnya walaupun belum 100%. Semua itu bisa terjadi karena Ardian selalu siap menenangkannya. Ya, sejak kejadian saat SMA dulu mereka akhirnya bersahabat.


"Di, apa gue coba telpon Zafran ya? Kalau dia bohong, berarti dia memang nggak serius sama gue."


"Coba saja. Tapi elo nggak boleh ngamuk ya kalau dia bohong. Janji?"


"Yaelah... lo pikir gue bocah yang gampang ngamuk?"

__ADS_1


"Iya."


Tak lama kemudian, Erina mencoba menelpon kekasihnya itu.


"Assalaamu'alaykum. Yang, kamu lagi sibuk?" tanya Erina.


"Wa'alaykumussalaam. Nggak juga. Kenapa beb?" jawab Zafran.


"Hmm.. makan siang di mall yuk!" ajak Erina.


"Wah, sorry beb. Aku nggak bisa."


"Kenapa?"


"Aku lagi nemenin ummi ke butik dekat kantorku," elak Zafran.


"Lagi cari apa sih? Aku susul ya? Siapa tahu aku bisa kasih rekomendasi butik langgananku."


"Nggak usah. Ummi cuma mau cari gamis. Kamu kan nggak pakai gamis. Pasti kamu nggak punya butik langganan yang menjual gamis kan?"


"Hmm.. iya sih. Tapi aku sudah lama lho nggak ketemu ummi kamu. Sebagai calon menantu kan seharusnya aku sering-sering jalan sama ummi. Bonding dengan calon mertua."


"Ah.... eh.... nggak usah beb. Ummi orangnya santai kok. Eh, sudah dulu ya beb. Ummi sudah selesai belanja. Habis ini aku langsung balik ke kantor." Zafran terdengar gugup.


"Kalau begitu nanti sore aku ke kantor kamu ya?"


"JANGAN!" Spontan Zafran menjawab keras, hingga terdengar oleh Ardian dari tempat mereka menunggu.


"Aku kangen, Yang. Sudah seminggu lebih lho kita nggak ketemuan."


"Maaf ya beb. Aku lagi sibuk banget ngerjain proyek. Deadlinenya tiga hari lagi." Zafran terus mengelak.


Sementara itu dari tempat mengawasi, Erina bisa melihat wanita berhijab menunjukkan sesuatu di jarinya, yang Erina yakin itu adalah cincin. Terlihat Zafran manggut-manggut dan tersenyum menyetujui.


"Proyek cari cincin nikah ya? Selamat deh." Erina langsung menutup telpon dan langsung beranjak pergi dari tempat itu.


Sementara itu Zafran terlihat kebingungan. Sialan, kok dia tahu aku lagi cari cincin? batin Zafran sambil menengok kesana kemari. Jangan-jangan....


"Bang, kayaknya Zulfa sudah menemukan cincin yang sesuai." Ummi Habibah menyentuh lengan putranya. "Kamu kenapa sih bang? Kok kayak orang bingung?"


"Nggak papa Ummi. Zafran baru ingat kalau siang ini ada janji dengan klien," elak Zafran sambil meraih tangan ummi Habibah.


"Batalkan. Kamu sudah janji sama ummi, kalau hari ini kamu akan mengosongkan jadwal untuk persiapan pernikahan kalian bulan depan." Ultimatum dari ummi Habibah tak bisa ditolak. Zafran hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Gawat, gimana caranya aku ngomongin masalah ini ke Erina? Aku masih cinta sama dia, tapi aku juga nggak berani melanggar keputusan ummi dan abi. Erina memang cantik dan aku cinta dia, tapi aku nggak yakin dia cocok menjadi menantu yang akan disetujui ummi. Batin Zafran sibuk berperang.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2