TAKLUK

TAKLUK
SUPER DUPER SABAR


__ADS_3

"Nih sushinya." Ardian menyodorkan bungkusan makanan pada Erina selagi mereka menunggu di bagian farmasi.


"Sushi?"


"Iya, tadi elo kan minta."


"Sudah nggak kepengen," sahut Erina ketus.


"Tapi ini kan sudah dibeli, sayang. Tadi gue sampai ditilang polisi gara-gara nyerobot lampu merah."


"Ngapain pake nyerobot lampu merah?"


"Ya, karena gue buru-buru. Demi elo dan anak kita," jawab Ardian. "Gue nggak mau kalian terlalu lama menunggu."


"Thanks." Akhirnya Erina menerimanya dan mulai memakannya. Baru memakan dua potong, Erina berhenti.


"Kenapa nggak dilanjutin makannya?"


"Kenyang."


"Yang benar aja dong Rin. Gue bolak balik, ngebut, ditilang polisi demi sushi ini dan sekarang elo baru makan dua potong masa sudah bilang kenyang?" tanya Ardian bingung sekaligus kesal.


"Ya emang sudah kenyang. Yang tahu kapasitas perut gue, ya gue sendiri!" ucap Erina ketus. "Anak-anak lo sudah nggak mau sushi lagi. Protes saja sama mereka."


Ardian hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar ucapan Erina. Gimana caranya gue nanya sama tuh bayi-bayi? Ada-ada aja.


"Ya, tapi kamu kan harus makan yang banyak. Tadi dokter Ziva kan bilang kalau bayi kamu kembar. Makanya kamu harus dobel juga makannya," bujuk Ardian


"Cerewet. Bisa diam nggak sih? Berisik!" Ardian terdiam diomeli oleh Erina. Sabar Di, namanya juga bumil.


"Sayang, tadi Raina ajak ketemuan." Akhirnya Ardian membelokan pembicaraan.


"Alexia juga?"


"Nggak kayaknya. Cuma Raina dan bang Henry. Mungkin dia mau sharing pengalaman pas hamil. Kebetulan kan, kalian sama-sama hamil kembar."


"Ooh."


"Nggak apa-apa kan gue setuju bertemu mereka tanpa minta persetujuan elo? Gue janji next time gue akan tanya pendapat lo dulu sebelum menyetujui sesuatu."


"Its's okay. Mereka juga sahabat gue."


Satu jam kemudian mereka sudah berada dalam perjalanan menuju resto tempat pertemuan dengan Raina dan Henry. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Untuk menghilangkan keheningan di antara mereka, Ardian menyalakan audio mobil. Terdengar musik klasik mengalun.


"Sejak kapan lo suka musik klasik?"


"Sejak gue tahu ada anak-anak gue di dalam rahim lo," jawab Ardian kalem. "Kata orang -orang musik klasik bagus untuk perkembangan otak si janin. Bisa membuat anak-anak kita pintar."


"Biar nggak tolol kayak bapaknya," gumam Erina sambil menatap jendela.


"Apa Rin?"


"Nggak apa-apa."


Tak lama keduanya sampai di resto yang dituju. Ardian bergegas membukakan pintu untuk Erina lalu ia mengulurkan tangan hendak membantu namun Erina menolak.

__ADS_1


"Nggak usah sok gentle."


"Bukan sok gentle, tapi gue nggak mau elo kenapa-napa. Di dalam perut lo ada anak-anak kita."


"Anak-anak lo."


"Anak kita, Rin."


"Terserah."


Memasuki ruangan VIP yang telah dipesan Henry, Erina disambut pelukan dari Raina dan Alexia yang ternyata ikut hadir. Raina sengaja tak menyampaikan pada Ardian kalau Alexia ikut. Ia khawatir Erina menolak bertemu kalau diberitahu Alexia akan datang.


"Rin, gue kangen! Elo masih marah sama gue?" tanya Alexia.


"Iya. Gue marah sama elo," sahut Erina ketus namun membalas pelukan Alexia. "Elo sendiri?"


"Raymond nyusul. Masih ada meeting."


"Hai Rin," sapa Raina. Ia memeluk erat sahabatnya. Lalu ia mengelus perut Erina. "Sudah mulai keliatan ya. Persis kehamilan gue dulu. Jangan-jangan kembar?"


Erina tak menjawab. Ia menghampiri dan menyalami Henry. Ardian sudah menarik kursi untuknya, namun Erina malah memilih duduk di samping Alexia. Sontak, Alexia dan Raina tertawa ngakak. Henry hanya mampu menahan tawa sambil menepuk-nepuk bahu Ardian.


"Sabar ya, Di. Apalagi dia lagi hamil."


"Iya bang. Harus super duper sabar." Dengan pasrah Ardian membiarkan Erina duduk di antara Raina dan Alexia.


Setelah menikmati makan malam, mereka ngobrol. Raymond, suami Alexia batal datang karena meetingnya belum selesai.


"Kalian baru balik dari klinik?" tanya Alexia. "Elo nggak jadi periksa ke Hilman?"


"Nggak boleh tuh sama si kam**et."


"Dih, siapa juga yang mau jadi istri dia!"


"Jangan terlalu benci, nanti jadi bucin lho," ledek Alexia. Raina terkikik mendengarnya.


"Kalian kok malah ngebelain dia sih? Kalian kan sahabat gue."


"Justru karena kita sahabat elo, makanya kita mendukung kalian berdua untuk menikah. Apalagi sekarang di dalam perut lo ada anak dia," ucap Raina. "Kita sayang kalian berdua. Kita nggak mau kalian terus-terusan bermusuhan. Untuk membesarkan anak dibutuhkan kekompakan, bukan berantem melulu."


"Tau ah! Kalian semua memang menyebalkan. Mendingan gue ngobrol sama bang Henry," ucap Erina sambil manyun. Ardian tak banyak bicara, ia malah membuang pandangannya.


"Elo kenapa Di? Kok malah buang muka?" tanya Alexia penasaran melihat sikap Ardian. "Elo tersinggung sama sikap Erin? Wah, kalau mau jadi suami dia elo harus punya kesabaran tak terbatas."


"Bukan itu."


"Terus kenapa elo buang muka? Elo sebel liat muka gue?" tanya Erina mengkonfrontasi. "Masih marah gara-gara urusan sushi?"


"Nggak," jawab Ardian masih tak mau memandang Erina.


"Terus kenapa?" desak Raina.


"Kayaknya saya tahu apa alasannya," timpal Henry sambil senyum-senyum sendiri.


"Apaan sih alasannya? Bikin penasaran aja." tanya Raina. Henry membisikkan sesuatu kepada istrinya. Raina langsung terkikik.

__ADS_1


"Apaan sih?" Kali ini Erina yang penasaran.


"Gue pengen nyium elo," jawab Ardian lugas. "Makanya tuh bibir nggak usah dimanyun-manyunin gitu. Menggoda iman orang, tau!"


Yang lain tergelak mendengar jawaban Ardian. Bahkan Raina dan Alexia sampai menitikkan air mata karena tertawa. Sementara itu Erina cuma bisa melotot kesal ke arah Ardian.


"Oh iya Rin, kamu sudah ke rumah sakit?" tanya Henry.


"Belum bang. Nggak dibolehin sama satpam," jawab Erina judes sambil melirik ke arah Ardian.


"Galak ya Rin satpamnya?" tanya Raina sambil terkikik.


"Apaan sih lo cekikikan mulu kayak kuntilanak?! Iya satpamnya sok galak, nyebelin. Padahal gue kan pengen ketemu daddy."


"Mas, bukannya kamu cerita ke aku kalau saat uncle Andrew pingsan kamu ada disitu?" tanya Raina pada suaminya. Henry tak langsung mengiyakan. Ia hanya menghela nafas.


"Memang iya bang? Bang Henry tau apa penyebab daddy pingsan?" tanya Erina penasaran. Kembali Henry tak menjawab. "Please bang, kasih tau gue apa yang terjadi pada daddy."


Baru saja Henry hendak membuka mulut, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Henry melihat ponselnya.


"Sorry, aku keluar dulu untuk terima telpon ini " Selama beberapa menit Henry menerima telpon di luar ruangan. Tak lama Henry kembali ke dalam ruangan.


"Sorry, ada urusan pekerjaan sedikit."


"Bang, gimana?"


"Saya harap kamu nggak kaget mendengar berita ini."


"Kenapa sih? Bikin penasaran aja."


Raina langsung memegang tangan Erina, seolah ingin menenangkan sahabatnya itu. Lalu Henry menceritakan apa yang terjadi pada perusahaan milik Andrew. Erina terlihat shock mendengar cerita Henry. Ternyata daddy pingsan gara-gara gue, batinnya


"Kenapa daddy nggak pernah cerita sama gue?"


"Nggak mungkin uncle Andrew menceritakan masalah ini ke kamu. Beliau nggak mau kamu dan aunty stress," ujar Raina sambil menenangkan Erina.


"Ya, tapi kan kalau daddy cerita sama gue mungkin gue bisa bantu."


"Elo bisa bantu apa? Datang ke Daffa dan balikkan sama dia?" tanya Alexia.


"Jangan! Erin nggak boleh balikkan sama tuh cowok!" ujar Ardian kesal.


"Ini salah elo, Di!" tukas Alexia kesal


"Kok jadi gue yang salah?"


"Kalau bukan karena elo, Erina bisa balikkan sama Daffa. Perusahaan uncle Andrew akan baik-baik saja."


"Sudah, sudah! Ini bukan salah siapa-siapa. Gue yang salah. Gue yang mengambil keputusan untuk memutuskan pertunangan dengan Daffa."


"Tapi Rin, kalau Ardian nggak melakukan hal itu elo masih ada kemungkinan balikkan sama Daffa."


"Nggak Lex, ada alasan lain gue nggak bisa balikkan sama Daffa."


"Sudahlah, urusan perusahaan tidak usah dibahas lagi. Gue nggak mau Erin tambah stress."

__ADS_1


"Benar apa kata Ardian. Sekarang kita nggak perlu mencari siapa yang salah dalam masalah ini. Nanti pasti akan ada jalan keluarnya."


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2