TAKLUK

TAKLUK
SHE'S MY WIFE!


__ADS_3

"Rin, bisa kita bertemu sore ini?" tanya Daffa melalui telpon.


"Daf, ada masalah apalagi? Kemarin kan kita sudah bahas. Masih ada yang kurang?"


"Tadi saat meeting ayah minta laporan progress proyeknya. Kemarin aku lupa minta ke kamu."


"Nanti aku suruh Luna kirim via email."


"Aku lebih suka bertanya langsung kalau ada yang aku nggak ngerti."


"Hahahaha.. modus kamu Daf. Bilang aja kamu mau ketemu aku, pakai alasan bahas proyek segala." Erina tertawa renyah mendengar ucapan Daffa.


"Ya, cuma itu caraku bisa berdekatan dan memandangmu langsung."


"Jangan modus terus ah. Nggak baik buat kesehatan jantung dan jiwa kamu." Daffa tertawa mendengar ucapan Erina.


"Kutunggu di lobby hotel Peninsula sore ini. Aku mau ajak kamu ke coffee shop disitu. Kuenya enak-enak."


"Kamu memang paling bisa ya. Kamu nggak kasian sama aku yang sedang hamil? Hotel Peninsula terlalu jauh dari kantor. Lagipula sore ini aku ada janji dengan dokter kandungan. Bagaimana kalau nanti kita bertemu di coffee shop rumah sakit? Biar nanti aku bisa langsung bertemu dokter setelah selesai meeting."


"Hmm.. oke deh. Aku turutin apa maumu. See you soon."


Menjelang jam 3 sore, Erina bersiap meninggalkan kantor.


"Lun, nanti kalau pak Ardi nyariin, tolong kasih tahu dia kalau saya ada meeting di luar. Setelah itu saya langsung ke dokter kandungan."


"Baik. Eemm... miss Erin nggak berangkat bareng pakArdi?"


"Nggak. Saya naik taksi aja. Oh ya, saya berangkat dulu ya."


Belum 10 menit Erina meninggalkan ruangannya, Ardian datang mencarinya.


"Miss Erin kemana?" tanya Ardian saat melihat ruangan Erina kosong.


"Miss Erin meeting di luar, pak."


"Meeting di luar? Dengan siapa?"


"Miss Erin nggak bilang dengan siapanya pak. Dia cuma bilang setelah meeting langsung ke dokter kandungan."


"Memangnya kamu nggak tau siapa klien yang menelpon istri saya?" tanya Ardian tak sabar.

__ADS_1


"Ma-maaf pak. Sepertinya orang tersebut langsung menghubungi ponsel miss Erin," jawab Luna takut-takut.


"Kamu tuh gimana sih? Miss Erin kan sedang hamil. Seharusnya kamu yang mengatur jadwal dia apabila ada meeting. Bagaimana kalau terjadi sesuatu saat dia meeting?" Ardian mengomeli Luna.


"Ma.. maaf pak." Hanya itu yang bisa dikatakan Luna.


"Coba kamu hubungi ponsel miss Erin. Tanya dia ada dimana," ucap Ardian setelah rasa kesalnya hilang. "Saya mau balik ke ruangan."


Luna menuruti perintah Ardian. Tak lama kemudian Luna mendatangi Ardian.


"Pak, barusan saya berhasil hubungi miss Erin. Kata miss Erin, nanti bapak langsung susul dia ke rumah sakit aja."


"Oke, terima kasih. Kamu boleh kembali ke ruanganmu."


⭐⭐⭐⭐


"Kamu setiap hari tambah cantik, Rin," puji Daffa saat bertemu dengan Erina. "Sini duduk dulu. Aku pesankan teh untukmu."


"Jangan keseringan memujiku, Daf. Nanti repot kalau aku jatuh cinta sama kamu," balas Erina dengan maksud bercanda. Aku nggak mungkin dan nggak boleh jatuh cinta padamu. Aku sudah menjadi milik Ardian, batin Erina.


"Memang itu yang kuharapkan," jawab Daffa sambil tersenyum.


"Kamu kalau aneh-aneh, kutinggal," ancam Erina


"Hal itu sudah berlalu, Daf. Tolong jangan membahas hal lain selain pekerjaan."


"Please, Rin."


"Daf, kalau kamu masih ingin membahas hal-hal di luar pekerjaan, aku pergi." Erina hendak berdiri, namun Daffa menahan tangannya.


"Oke, oke ... maafkan aku."


"Jangan-jangan kamu mengajak bertemu bukan untuk membahas proyek, tapi karena hanya ingin bertemu denganku." Daffa tak menjawab, dia hanya tersenyum.


"Oke, aku mengaku salah. Kupikir aku bisa menahan perasaan rinduku, namun aku gagal, Rin. Makanya aku mengajakmu bertemu."


"Apa itu juga alasanmu memegang proyek ini? Padahal dulu bukan kamu yang mengawasi proyek ini. Hmm.. apa benar om Irwan meminta laporan progres proyek?" tanya Erina curiga.


"Apa itu masih perlu dipertanyakan? Proyek ini sebentar lagi akan selesai. Itu artinya kesempatanku bertemu denganmu hanya tinggal sebentar lagi. Mengenai laporan progres, memang atas permintaan dari ayah."


Erina menghela nafas kesal mendengar ucapan Daffa. Ia membuang pandangnya.

__ADS_1


"Rin, tolong katakan padaku kenapa kamu nggak mau kembali kepadaku?"


"Daf, kamu lihat bagaimana keadaanku saat ini. Aku yakin keluargamu juga mengetahui hal ini. Berdasarkan pengalamanku dulu, keluargamu terutama tante Mira pasti akan menentangnya."


"Aku nggak peduli bahkan bila seluruh dunia menentang hubungan kita. Aku nggak bisa menyerah begitu saja. Aku sudah pernah bilang sama kamu kalau aku bersedia menjadi ayah anak dalam kandunganmu." Daffa meraih tangan Erina. Ia mengecup punggung tangan Erina.


"Aku nggak bisa Daf."


"Kenapa? Aku nggak peduli dengan kondisimu atau komentar orang-orang. Setiap hari perutmu semakin membesar dan anakmu akan segera lahir. Anakmu membutuhkan sosok ayah dalam hidupnya nanti. Justru aku melakukan ini karena ingin menyelamatkanmu dari mulut usil orang-orang di luar sana. Aku nggak mau kamu jadi bahan gunjingan."


"Terima kasih kamu sudah mengkhawatirkanku. I appreciate it, really. Tapi biarkan aku dengan masalahku sendiri. Aku bukan tanggung jawabmu."


"But I love you so much. Please be my wife," bujuk Daffa. "Apakah keadaan akan berbeda seandainya kamu tidak hamil?"


"Jangan menanyakan hal yang tak bisa kujawab. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Tapi untuk saat ini namamu tak ada di dalam rencana masa depanku," jawab Erina lugas. "Kalau kamu hanya ingin membahas hal tersebut, lebih baik kita akhiri meeting ini."


"Wait Rin. One more thing. Who's the father? Ardian? Zafran? Or another man?"


"You don't have to know, Daf. It won't change the situation." Erina hendak bangkit meninggalkan Daffa, namun lagi-lagi Daffa menahan tangannya.


"Oke, oke... I'm sorry for being curious. Ayo sekarang kita bahas masalah proyek."


Sementara itu tanpa mereka sadari Ardian yang baru sampai di coffee shop tersebut, melihat apa yang terjadi. Ia melihat bagaimana Daffa memegang mesra tangan Erina dan Erina sendiri tidak berusaha menolak perlakuan tersebut. Amarah yang sudah beberapa lama dipendam muncul ke permukaan. Dengan wajah geram Ardian menghampiri mereka.


"Oh, jadi ini alasannya kalian mengadakan meeting di luar? Apakah seperti ini sikap seorang istri yang baik?" tanya Ardian sinis saat sudah berada di dekat meja Erina.


"Ardian!" Keduanya tampak kaget dengan kehadiran Ardian yang terlihat sekali menahan marah. Kedua tangan Ardian tampak mengepal keras, seolah siap menghajar siapapun yang ada di hadapannya.


"Wait, apa lo bilang? Istri? Jangan mabuk bro, ini masih sore. Siapa istri lo? Jangan bilang, Erina istri lo," ucap Daffa sambil berdiri dari kursinya. "Jangan halu. Gue tau elo cinta sama dia, tapi jangan lantas mengarang cerita seperti itu."


"Gue nggak halu. Di dalam perut Erin adalah anak-anak kami. Gue adalah suami sah dari Erin. Lo boleh tanyain kebenarannya pada Erin," balas Ardian dengan geram.


"Rin, is it true?" tanya Daffa setengah sangsi. "Bilang sama aku kalau itu sebuah kebohongan."


Bukannya menjawab, Erina hanya melengos dan membuang pandangnnya. Daffa memandang bingung Erina dan Ardian bergantian. Setelah beberapa saat ia baru bisa menerima kenyataan itu.


"SON OF A BI**H!" BUGH! Tanpa aba-aba Daffa memukul wajah Ardian hingga tubuh Ardian terhuyung ke belakang. Untunglah Ardian yang memang petarung, bisa menahan dirinya agar tak terjatuh. Saat Ardian ingin membalas pukulan Daffa, tiba-tiba Erina memeluknya.


"Please, both of you. STOP!" jerit Erina sambil memeluk erat Ardian. "Pukul gue kalau kalian mau berantem!"


Baik Ardian dan Daffa langsung mundur. Tanpa Erina sadari, sikapnya malah membuat Ardian tersinggung. Tapi Ardian memutuskan menahan emosinya. Biarlah nanti dibicarakan saat mereka berada di rumah.

__ADS_1


"Meeting bisa kalian lanjutkan besok di ruangan gue. Atau biar nanti Erina kirim email ke pak Irwan kalau memang beliau ingin tahu progressnya," putus Ardian. Lalu ia menarik tangan Erina untuk berdiri. "Rapikan semua barangmu dan ayo kita ke dokter kandungan."


⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2