
Setelah melihat Erina mulai nyaman barulah Ardian melanjutkan serangannya. Sementara melakukan penyerangan, bibir dan tangan Ardian tak mau diam. Cengkeraman kuku Erina di punggungnya seolah tak dirasakan. Ia terus melakukan serangan hingga akhirnya mencapai puncak kepuasan. Tanpa mencabutnya, Ardian kembali mencium bibir Erina.
"Thanks dear. Impianku tercapai dan aku berhasil membuktikan apa yang selama ini terbayang di pikiranku."
"Apakah masih sama?" tanya Erina sambil mengerling. Nafasnya juga masih tersengal.
"Lebih dahsyat dari yang selama ini kuingat."
"Lebih dahsyat dibandingkan yang tadi pagi kamu lakukan di kamar mandi?"
"Permainan tadi pagi tidak ada artinya dengan apa yang baru saja kita lakukan, sayang," bisik Ardian.
"Mulai hari ini kamu bisa memintaku memuaskanmu," bisik Erina dengan suara seksinya. Rupanya suara seksi Erina ditambah rambut berantakan yang membingkai wajah cantik Erina, kembali membuat gairah Ardian bangkit. Mata Erina membulat saat merasakan hal itu.
"Kok....?"
"Maaf sayang, aku pagi ini sangat sensitif. Dan sepertinya aku mulai kecanduan dengan tubuhmu."
"Memangnya kamu nggak capek?"
"Kamu sendiri tidak kesakitan kan?"
"Saat pertama sedikit nyeri, tapi lama-lama menghilang dan berganti dengan kenikmatan," jawab Erina sambil memalingkan wajahnya karena malu.
Tentu saja hal itu membuat Ardian semakin gemas. Ia kembali memagut bibir Erina. Kini Erina sudah mulai bisa mengimbangi serangan Ardian. Hingga akhirnya mereka berdua mencapai puncak kenikmatan bersama-sama. Ardian ambruk di atas tubuh polos Erina. Tubuh keduanya basah oleh peluh akibat peperangan pagi hari. Padahal AC di kamar terpasang pada suhu paling dingin.
Akhirnya Ardian berguling ke samping Erina. Ia menarik Erina ke dalam pelukannya. Nafas keduanya masih tersengal.
"Thanks my queen. Sepertinya pagi ini cukup. Ayo kita tidur."
"Thanks hubby sudah begitu sabar menungguku."
"You're worth it to wait, my queen."
⭐⭐❤⭐⭐
Drrrrtt... drrrrrtt.. drrrrtt.. ponsel Erina yang sejak tadi di silent bergetar. Erina yang kebetulan baru saja membuka mata melihat ponselnya bergetar. Ia hendak mengambil ponselnya namun lengan kekar dan kaki sang suami memeluknya seperti guling.
Erina melihat tubuh mereka berdua polos tanpa selimut karena tadi sebelum berperang Ardian membuang selimut ke lantai. Ah, pantas saja terasa ada angin dingin menyentuh tubuh. Untungnya pelukan Ardian memberi kehangatan.
Wajah Erina memerah mengingat bagaimana pertempuran tadi. Oh god, kenapa gue bisa bereaksi seperti tadi? Tapi gue nggak bisa munafik karena apa yang tadi kami lakukan memang membawa kenikmatan.
Drrrrtt... drrrrrtt.. drrrrtt.... ponsel Erina lagi-lagi bergetar. Erina mencoba melepaskan diri dari pelukan Ardian namun sang suami malah mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Ardian dengan suara parau khas bangun tidur.
"Ada yang telpon aku, sayang. Lepasin dulu tanganmu biar aku ambil ponselku. Siapa tau penting."
Dengan enggan Ardian melepaskan pelukannya namun kakinya tetap membelit kaki Erina.
"Di, lepasin dong. Susah ini bergeraknya," ucap Erina kesal. Namun Ardian sepertinya sengaja menggoda Erina.
Karena kesal, Erina mencubit paha Ardian. Akibatnya Ardian menjerit kesakitan dan melepaskan belitan kakinya.
"Aaah.. ya ampun sayang.. sakiit. Kenapa dicubit sih?" sungut Ardian kesal. "Daripada dicubit mendingan dielus."
"Itu memang mau mu. Buruan ah minggir. Mungkin itu mommy yang telpon aku." Erina bergegas mengambil ponselnya. Benarlah Yuna yang menelponnya. Ya ampun, banyak banget misscall nya. Ia buru-buru menelpon balik Yuna.
"Hai mom!" sapa Erina. Sambil menelpon Erina menunduk untuk mengambil selimut di lantai. Tiba-tiba Ardian memeluk dari belakang dan tangan nakalnya mengelus tubuh Erina.
"Sayaaaaanggghhh..." desah Erina.
"Rin, kamu lagi ngapain sih pake mendesah-desah segala. Kamu lagi nonton film jorok ya?" tanya Yuna.
"Eh, nggak mom. Ini lho Ardian jahil," jawab Erina sambil menepis tangan Ardian yang mulai jahil. Erina melotot pada Ardian namun sang suami hanya tersenyum jahil.
"Ardian? Kamu sama Ardian ..... ? Kalian ......"
"Iih mama kenapa sih?" tanya Erina sebelum Yuna melanjutkan perkataannya.
"Yang, mommy dan daddy datang," bisik Erina panik seolah kepergok selingkuh.
"Siapa? Mommy dan daddy? Yang benar? Terus gimana dong kalau ketahuan?" Ardian memunguti pakaiannya dan buru-buru memakainya. Lalu ia berjalan mondar mandir seperti orang bingung.
Tiba-tiba Erina tergelak. Ardian heran melihat tingkah istrinya. Demikian pula Yuna yang masih belum menutup telponnya. Kenapa anak itu?
"Mom, tunggu sebentar ya. Ardian lagi pakai baju. Nanti dia yang akan bukain pintu." Erina memutus telponnya.
"Rin, kenapa aku? Kalau nanti aku diarak keliling komplek gimana?" Erina hanya tergelak melihat kecemasan Ardian.
"Dasar oon. Ngapain takut, kita kan sudah menikah dengan sah. Kita bukan pezina." ucap Erina lalu ia mengecup cepat bibir Ardian. "Sana bukain pintu untuk mertuamu. Aku mandi dulu ya."
Ardian buru-buru memakai kaos dan celana pendek lalu bergegas membukakan pintu depan untuk kedua mertuanya. Pasti mereka kesal sekali karena harus menunggu. Benarlah tebakan Ardian, wajah Yuna terlihat jutek saat pintu dibuka. Berbeda dengan Andrew. Ia langsung memutari sang menantu dan menatapnya dengan teliti.
"Mom, dad... kok nggak ngabarin kalau kalian mau datang? Kalau dikabari kami kan bisa menjemput di bandara," jawab Ardian sambil berusaha menutupi kegugupannya.
"Are you okay?" tanya Andrew. "Kami dengar kamu mengalami kecelakaan. Sorry, coz at the time we couldn't come."
__ADS_1
"Ah, it's okay dad. Sekarang Ardi sudah membaik kok."
"Di, mana si kembar? Mbok siti dan bi Imas kok nggak ada? Apakah mereka libur?"
"Ooh mereka diajak papa mama. Mbok Siti dan bi Imas kita suruh ikut buat bantuin jaga si kembar, mom."
"Kamu nggak ke kantor?" tanya Andrew. "Mana Erin? Dia nggak berulah kan?"
"Erin lagi mandi, dad. Dia nggak berulah kok."
"Di, leher kamu kenapa? Apakah sekarang di rumah kita banyak nyamuk?" tanya Yuna heran saat melihat leher Ardian merah-merah. "Atau kamu kena biduran? Gatal nggak?"
"Oh... eh.. nggak apa-apa kok mom. Cuma digigit serangga."
"Mana ada digigit serangga seperti itu. Coba mommy lihat." Yuna mendekati Ardian dan memeriksa lehernya. Ardian hanya bisa duduk pasrah. Sementara itu Andrew menahan tawanya.
"Eh nggak usah dilihat mom. Nanti biar diobatin sama Erin," ucap Ardian menahan malu. Ya ampuun, mertua gue kenapa kepo tingkat tinggi sih.
Rupanya kekepoan Yuna tak hanya sampai situ. Tiba-tiba Yuna menoleh ke kanan dan kiri lalu berkata pelan pada Ardian.
"Di.. apakah kamu sudah berhasil menaklukan anak mommy?" tanya Yuna penasaran. "Kalian sudah menikah lebih dari setahun lho. Kalau daddy pasti nggak akan kuat menahannya. Gimana kalau kamu bikin dia mabuk kayak dulu," usul Yuna absurd. Ya tuhan, pantesan Erina suka aneh, ternyata nurun dari mommy.
"Honey, kok kamu kasih usul aneh gitu sih?" protes Andrew. "Lagipula Erina nggak perlu dibikin mabuk, pasti akan takluk juga sama suaminya. Iya kan, Di?"
"Ih, sayang kamu memangnya lupa kalau putrimu itu keras kepala banget? Kalau bukan karena sifatnya itu, pasti mantu mommy sudah dapat haknya sejak dulu."
"Iiih.. mommy jangan aneh-aneh deh," omel Erina yang baru datang dengan menggunakan celana pendek dan kaos longgar yang panjangnya melebihi celana yang dipakainya.
Ardian meneguk ludah kasar melihat keseksian Erina. Damn, kenapa dia kelihatan lebih seksi daripada biasanya. Padahal dulu sebelum menikah gue bisa melihat dia seperti saat ini.
"Kenapa Di? Putri daddy seksi banget ya?" bisik Andrew meledek. "Ngeliatinnya biasa aja, nggak usah sampe mangap gitu."
Ardian buru-buru menutup mulutnya.
"Mom, dad.. Ardi pamit dulu ya mau mandi." Ardian buru-buru ngacir sebelum gairahnya bangkit. Pagi ini tampaknya ia harus segera mandi air dingin lagi.
"Kok tumben pagi-pagi keramas, Rin?" tanya Yuna. Kini ia mengerti kenapa semua orang disuruh pergi. Ia dapat melihat beberapa tanda merah di leher Erina. Bahkan aura yang dipancarkan eh putrinya terlihat berbeda.
"Gerah mom," jawab Erina asal.
"Gerah? AC di kamar kamu rusak? apa perlu daddy panggil bang Jupri untuk men-service AC di kamar kalian. Atau kalian perlu tambahan AC?" tanya Andrew sambil tersenyum meledek putri semata wayangnya.
"Daddy apaan sih. AC nya nggak rusak kok."
__ADS_1
"Dear, sepertinya anak kita sudah di-unboxing sama Ardian," bisik Andrew kepada Yuna dengan suara yang bisa terdengar oleh Erina. Tentu saja hal itu membuat Erina malu. Dasar orang tua absurd.
⭐⭐⭐⭐