TAKLUK

TAKLUK
TAK BISA LUPA


__ADS_3

Ardian membuka mata dan dilihatnya Erina bergelung nyaman dalam pelukannya. Tak ada lagi dinding pemisah di antara mereka. Semua itu bisa terjadi karena Erina mulai menurunkan penjagaannya. Erina membiarkan Ardian memeluk dan mencumbunya. Ya, hanya sekedar mencumbu tak lebih. Ardian tak ingin buru-buru ataupun memaksa Erina memuaskan hasratnya. Kesediaan Erina tadi malam sudah merupakan sebuah anugerah dalam setahun lebih pernikahan mereka.


Memang tak mudah menahan hasrat yang telah tertahan selama setahun ini. Apalagi saat mendengar ******* yang lolos dari mulut Erina tadi malam. Senjatanya yang memang sudah siaga sejak melihat Erina menyusui anak-anak mereka, tadi malam masih belum dapat dioperasikan sebagaimana mestinya. Hal itu karena musuh belum siap berperang.


Ardian memandang wajah Erina yang dari orok memang sudah cantik. Bila dibandingkan dengan Nathalie yang masih ada keturunan Chi****, kecantikan Erina tak membuatnya bosan. Sifat-sifat Erina yang bertolak belakang dengan sifat Nathalie ternyata lebih menarik untuk ditaklukan. Apakah sebentar lagi wanita dalam pelukannya ini akan benar-benar takluk? Ardian tersenyum melihat betapa damainya wajah Erina yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Bulu matanya yang lentik membingkai mata yang ia tahu sangat indah. Bahkan sorot mata Erina yang menatap tajam, merupakan keindahan tersendiri untuk Ardian.


Dulu Ardian pernah bertanya pada Gustav apa yang membuat pria itu jatuh cinta pada Erina. Jawabannya sangat simpel namun tak terduga, sorot mata Erina saat menatap tajam. Saat itu Ardian hanya bisa menertawakan Gustav yang disebutnya bucin akut. Ternyata saat ini dirinyalah yang terkena virus bucin akut.


Saat asyik menatap setiap bagian wajah istrinya, tiba-tiba Erina membuka mata. Lagi-lagi Ardian terpesona melihat betapa istrinya terlihat cantik meski dengan muka bantal.


"Pagi sayang," sapa Ardian sambil mencium kening Erina.


"Pagi," jawab Erina dengan suaranya yang khas. Husky. Suara yang menurut Ardian sangat seksi. Bukan sekali dua kali senjata Ardian siaga hanya karena mendengar ******* Erina bila ia kesal atau lelah.


"Jam berapa sekarang?" tanya Erina. "Kok kamu sudah bangun? Apakah si kembar menangis?"


"Baru jam setengah 5. Si kembar nggak nangis kok."


"Kamu kenapa bangun? Sudah dari tadi?" tanya Erina sambil kembali bergelung di pelukan nyaman sang suami. Sebelah tangannya diletakkan di dada Ardian dan tanpa sadar mengelusnya. Bahkan tangan Erina mulai mengelus perut sixpack Ardian dari balik kaosnya.


"Rin, hati-hati."


"Oh, kenapa? Apakah bahumu sakit?" tanya Erina khawatir. Kini matanya terbuka lebar dan menatap Ardian cemas.


"Bahuku baik-baik saja."


"Lalu bagian mana yang sakit?"


Ardian menarik tangan Erina dan diletakkan di atas senjata yang terkokang siap ditembakan. Erina terkejut dan hendak menarik tangannya namun ditahan oleh Ardian.


"Di ..... "


"Makanya kamu hati-hati. Senjataku sejak semalam sudah siap tempur. Aku khawatir nggak bisa menahan diri jika tanganmu masih iseng," ucap Ardian dengan suara menahan gairah.


"Dulu kamu nggak pernah on walau aku memegang abs-mu setiap kita habis nge-gym bareng," ucap Erina polos, atau pura-pura polos. Matanya menantang mata Ardian. "Tau nggak, muka kamu kalau mupeng jelek banget."


"Astaga Erin, aku setengah mati menahan gairah. Kamu malahan ngeledek. Dulu itu aku nggak pernah menganggapmu wanita. Buatku kamu itu hanya teman sparing di matras. Sebentar lagi kamu menjadi teman sparing di kasur."


Erina tergelak melihat wajah Ardian yang menderita menahan gairahnya.


"Sayang ... "


"Yes my queen."


"Hmm.. boleh aku memanggilmu sayang?" tanya Erina ragu. "Aku takut kamu merasa aneh mendengar panggilan itu."

__ADS_1


"Off course my queen. Kamu boleh panggil aku apa saja yang kamu mau. Sayang, honey, beb, dear, hubby. Apa saja," balas Ardian dengan kebahagiaan yang tak ia sembunyikan.


"Apakah kamu sebahagia itu?"


"Tentu saja. Itu artinya kamu sudah mulai membuka hatimu untuk menerimaku sebagai suamimu seutuhnya."


"Kenapa kamu bertahan?" tanya Erina tiba-tiba. "Padahal ada Nathalie yang siap mencintaimu dan mengabdikan dirinya demi kebahagiaanmu."


"Boleh aku menceritakan suatu rahasia padamu?" tanya Ardian hati-hati. Erina mengangguk.


"Janji nggak marah?"


"Iya aku nggak marah."


"Kalau begitu, sebelum aku cerita boleh aku dapat morning kiss. Bukan morning kick."


Erina menatap wajah Ardian. Lalu ia mengecup cepat bibir sang suami. Ardian terkejut. Ia tak percaya Erina dengan sukarela mengecupnya.


"Kurang," rengek Ardian.


"Cukup ah. Aku malu, Di."


"Malu kenapa?"


"Sama. Aku juga belum."


"Jorok tau!"


Ardian mengikis jarak di antara mereka. Ia memagut bibir Erina dan menciumnya lembut. Tak hanya itu, lidahnya mulai bergerak nakal dan mendesak ingin masuk. Kini Erina tak ragu lagi membalas ciuman Ardian. Ciuman mulai memanas saat tangan Ardian menjajah tubuh Erina.


"Rin, aku nggak yakin bisa menahan diriku," bisik Ardian saat mereka melepaskan tautan bibir mereka. Erina kembali menertawakan Ardian.


"Belum shalat subuh kan? Shalat yuk," ajak Erina setelah tawanya reda.


"Erinaaaa... kamu tega banget sih," rengek Ardian. Lagi-lagi Erina tertawa. "Masih ada waktu sayang."


Erina terdiam mendengar ucapan Ardian. Ia menyadari tak selamanya bisa menghindari kewajibannya. Namun hatinya masih ragu bahkan ada rasa takut.


"Eh, tadi kamu mau cerita apa?" tanya Erina membelokkan percakapan. Ardian menghela nafas kasar. Dasar si**, susah banget sih menaklukkan wanita ini.


"Kamu ingat foto yang papa perlihatkan sebelum aku kecelakaan? Foto di depan apartemen Nathalie." Ardian tak melanjutkan ucapannya. Sepertinya ia ragu.


Tiba-tiba perasaan Erina tak menentu karena Ardian mendadak berhenti bercerita. Apakah ada hubungan rahasia antara Ardian dengan Nathalie? Haruskah gue marah atau diam saja bila dia menceritakan semuanya dengan jujur. Tapi itu juga gara-gara gue nggak mau melayani dia di tempat tidur. Apakah aku bisa menerima perselingkuhan ini? Pikiran Erina sibuk berdebat.


"Di, aku pernah bilang ke papa kalau aku akan menyerahkan keputusan di tanganmu bila memang kamu mau menikahi Nathalie atau wanita lain. Permintaanku cuma satu, ceraikan aku," ucap Erina lirih. "Pantas saja Nathalie begitu ngotot ingin memilikimu."

__ADS_1


"Hey, hey apa maksudmu? Siapa yang membahas menikah lagi atau perceraian? Pikiranmu terlalu liar, my queen," ucap Ardian lembut.


"Di, kamu pernah bilang kalau kamu akan bertanggung jawab penuh seandainya kamu melakukan kesalahan seperti dulu meskipun kamu nggak mencintai Nathalie. Aku nggak mau kamu mengingkari ucapanmu sendiri. Nikahi dan cintai Nathalie. Aku rela mundur sebelum rasa cintaku padamu semakin subur."


"Apa kamu bilang?!" seru Ardian tak percaya.


"Nikahi dan cintai Nat. Dialah yang paling pantas memilikimu, bukan ...... hhmmmpp..." Erina tak bisa menyelesaikan ucapannya karena Ardian kembali memagut bibirnya.


"You're so stupid my queen."


"Apa maksudmu?"


"Coba ulangi lagi perkataanmu."


"Yang mana? Nat lebih ...."


"Bukan itu. Setelahnya."


"Aku rela mundur sebelum rasa cintaku padamu ...."


"STOP! Ulangi lagi, Rin. Katakan bahwa kamu mencintaiku," ucap Ardian sambil memandang mesra Erina.


"Iih.. apaan sih!" Erina terjebak dalam kata-katanya sendiri. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Ardian yang langsung memeluknya erat.


"Alhamdulillah akhirnya kamu bisa mencintaiku," bisik Ardian dengan suara bergetar. "Thanks my queen. You know that I love you so much."


"Are you so happy to know that?" Ardian mengangguk pasti. "Lalu bagaimana dengan Nat? Kamu harus bertanggung jawab, Di."


"Kenapa aku harus bertanggung jawab?" Ardian balik bertanya.


"Karena kamu ..... "


"Dengarkan aku baik-baik. Jangan suka membuat kesimpulan sendiri. Saat itu Nat memang mengundangku ke dalam apartemennya. Ia bersedia memberikan tubuhnya padaku. Kamu pasti tahu betapa tersiksanya aku saat senjata pusakaku tidak pernah digunakan." Erina memukul pelan dada Ardian.


"Kamu pasti bahagia banget senjata pusakamu akhirnya bisa berfungsi dengan semestinya." Suara Erina terdengar sedih. Ardian tergelak mendengar ucapan Erina. Ia cium kening Erina.


"Kalau pria lain mungkin akan langsung loncat kegirangan menerima tawaran itu. Tapi suamimu ini orang yang setia sayang."


"Kamu tolak?" Ardian mengangguk. "Nggak percaya. Kenapa ditolak?"


"Aku nggak penasaran dengan tubuh Nathalie. Aku sendiri nggak yakin dia masih perawan. Aku lebih penasaran dengan dirimu. Hingga saat ini aku masih belum bisa melupakan kejadian malam itu."


"Kenapa?"


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2