TAKLUK

TAKLUK
BERITA MENGEJUTKAN


__ADS_3

"Rin, kamu mau kemana?" tanya Amelia sambil menggendong Azka. Sementara bi Imas mengikuti di belakangnya sambil menggendong Aidan.


Azka dan Aidan berlomba-lomba memperdengarkan suaranya melalui tangis mereka. Mbok Siti yang disuruh membantu masukan baju-baju si kembar ke dalam koper, hanya bisa menatap nona mudanya dengan bingung.


"Ma, titip Ardian ya."


"Apa maksudmu titip Ardian? Kalian mau kemana?"


"Tugas Ardian sudah selesai, ma."


"Selesai bagaimana?"


"Tugas dia mendampingi Erina selama masa kehamilan sudah selesai. Kini Ardian bisa menjalani hidupnya tanpa dibebani rasa bersalah. Dia bisa memilih wanita lain untuk mendampinginya."


"Apa maksudmu, sayang? Kenapa dia harus memilih wanita lain?"


"Karena Erin bukan istri yang baik untuk dia. Erin bukan wanita yang tepat untuk Ardian."


"Jangan bilang begitu sayang. Untuk Ardian kamulah orang yang tepat. Mama tahu bagaimana selama ini Ardian sangat mencintaimu. Walau dia berganti-ganti kekasih, namun hanya kamu yang dia cintai."


"Ardian hanya merasa bertanggung jawab atas anak-anak ini. Karena keberadaan merekalah alasan Ardian bertahan di sisi Erin. Mama tahu kan, bagaimana sikap Erin kepada dia selama ini? Erin tak mau Ardian terus berada dalam situasi yang tak nyaman ini."


Baru saja Erina selesai berbicara, tiba-tiba foto pernikahan yang tergantung di dinding kamar si kembar jatuh ke lantai dan kacanya pecah. Semua yang ada di ruangan tersebut terdiam, kecuali si kembar yang masih terus menangis. Di saat itulah ponsel Erina berbunyi dan muncul nama Ardian.


"Ardian," ucap Erina lirih tanpa mengangkat panggilan yang masuk.


"Siapa Rin?" tanya Amel. "Apakah itu Ardian? Angkatlah sayang dan kalian atur waktu untuk membahas masalah ini"


Erina terlihat ragu namun akhirnya ia menjawab panggilan yang masuk.


"Assalaamu'alaykum. Halo." Erina terdiam saat mendengar suara wanita yang menjawab. Perempuan?


"............"


"Iya benar. Saya Erina, istri pak Ardian. Dengan siapa saya bicara?"

__ADS_1


"............" Erina langsung jatuh terduduk saat mendengar jawaban penelpon.


Tentu saja Amelia kaget melihatnya. Ia langsung menyerahkan Azka kepada Mbok Siti. Lalu ia mengambil ponsel Erina dan berbicara dengan penelpon.


"Halo. Dengan siapa saya bicara? Saya mamanya Ardian."


"............."


"Astaghfirullah. Bagaimana kejadiannya?"


"..........."


"Ba-baik. Kami akan segera kesana."


Setelah memutus pembicaraan, Amelia langsung menghubungi Arga dan Gustav untuk menyampaikan berita yang baru saja diterima.


"Ma, Ardian ma. Ardian kecelakaan," ucap Erina lirih. Ia masih terduduk di lantai. "Nggak mungkin Ardian kecelakaan. Ardian bukan pengemudi yang sembrono. Dia pengemudi yang selalu hati-hati. Nggak mungkin dia kecelakaan."


"Iya sayang, mama tahu. Kamu harus sabar ya. Kejadian ini adalah takdir Allah. Tadi mama sudah menghubungi papa dan Gustav. Mereka akan mengurusnya."


"Rin, kamu mau kemana?" tanya Amelia bingung.


"Erin mau ke rumah sakit, ma. Erin mau lihat Ardian."


"Mama ikut kamu. Anak-anak biar dijaga oleh mbok Siti dan bi Imas. Kamu jangan nyetir sendiri. Biar pak Ali yang antar kita."


⭐⭐⭐⭐


Sudah berjam-jam Erina duduk di samping ranjang rumah sakit. Ia memandangi Ardian yang terbaring tak sadarkan diri. Tadi Arga menjelaskan bahwa Ardian mengalami kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya menabrak pembatas jalan dan ditabrak oleh mobil lain dari belakang. Mengenai detail terjadinya kecelakaan masih dalam penyelidikan polisi. Erina hanya mendengarkan penjelasan tersebut tanpa berkomentar apapun.


"Rin," panggil Alexia sambil menyentuh bahu Erina. Saat ini Erina ditemani oleh Alexia. Kedua orang tua Arga sudah pulang. Amelia memilih pulang karena memikirkan kedua cucunya. Ia tahu, Erina takkan mau meninggalkan Ardian.


"Rin, makan dulu ya."


"Gue nggak lapar, Lex." jawab Erina. Tangannya sedari tadi menggenggam tangan Ardian.

__ADS_1


"Elo harus makan. Gue yakin kalau Ardian bangun, dia pasti akan menyuruh elo makan. Ingat, elo masih menyusui si kembar. Kalau elo nggak mau makan, produksi ASI lo akan berkurang."


"Mana gue bisa makan kalau Ardian dalam kondisi kayak begini," bisik Erina. "Bagaimana kalau Ardian nggak bangun lagi?"


"Hush! Jangan mikir yang aneh-aneh. Tadi elo kan dengar sendiri apa kata dokter. Hasil pemeriksaan MRI bagus. Nggak ada cedera berarti di kepalanya. Hanya sedikit cedera di tulang bahu yang patah dan tadi juga sudah dilakukan operasi pemasangan pen."


"Tapi kenapa dia belum bangun juga?"


"Tadi dokter bilang Ardian mengalami shock dan saat ini masih dalam pengaruh obat bius. Mungkin sebentar lagi dia pasti bangun."


"Ini sudah 4 jam lebih sejak dia keluar kamar operasi. Kenapa belum sadar juga?"


"Sabar, Rin. Setiap orang berbeda-beda. Ada yang cepat sadar. Ada juga yang lebih lama. Biarkan Ardian tertidur lebih lama supaya dia bisa beristirahat." Alexia menatap prihatin ke arah Ardian.


"Lex, Ardian ganteng ya," ucap Erina sambil mengelus wajah Ardian. Alexia ingin meledek Erina namun ia urungkan karena mendengar suara Erina bergetar dan dilihatnya air mata mengalir di pipi Erina.


"Iya Rin. Suami lo ganteng," jawab Alexia sambil menekan rasa sedih yang muncul akibat kesedihan yang dirasakan Erina.


"Elo tau nggak, tadi siang kami berdua sepakat menjalani rekonsiliasi dalam pernikahan ini. Gue baru mencoba membuka hati untuk menerima cinta dia. Kenapa di saat gue mau mencoba, dia malah seperti ini. Apakah tuhan tidak mengijinkanku menerima cinta dia?" ucap Erina lirih di antara isakannya.


"Jangan pernah menyalahkan tuhan. Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Gue rasa tuhan hanya ingin menguji seberapa dalam perasaan lo ke Ardian."


"Lex, gimana kalau ternyata Ardian mencintai Nathalie? Tadi gue lihat foro-foto kebersamaan dia dengan Nat. Mereka sangat cocok berdampingan. Apalagi gue lihat cinta yang terpancar dari mata Nat. Ardian berhak mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintai dia."


"Ardian hanya cinta sama elo, Rin. Nggak ada perempuan lain yang lebih dia cintai selain elo dan tante Amel."


"Tapi gue jahat, Lex. Berbulan-bulan gue nggak bisa membalas cinta dia. Berbulan-bulan gue memperlakukan dia dengan buruk. Gue bukan istri yang baik buat dia. Bahkan tadi siang gue sudah bersiap-siap membawa anak-anak untuk meninggalkan dia. Melihat dia seperti ini gue nggak tega. Gue baru menyadari kalau selama ini dialah yang selalu siap mendampingi gue. Dan kini tuhan menghukum gue." Kini Erina mulai menangis tersedu-sedu. Alexia menarik Erina ke dalam pelukannya.


"Rin, terkadang kita nggak menyadari perasaan cinta yang kita miliki terhadap seseorang karena hati kita dipenuhi oleh kemarahan, dendam dan kebencian. Kita baru menyadari hal tersebut saat ada orang lain yang ingin merebut dia dari sisi kita. Kita baru sadar saat orang tersebut pergi meninggalkan kita."


"Rin, gimana kalau Ardian nggak pernah sadar lagi? Gimana kalau Ardian pergi meninggalkan gue dan anak-anak? Gue nggak mau kehilangan dia. Gue nggak siap kehilangan dia." ucap Erina dalam tangisnya.


"Sabar Rin, sabar. Mungkin lucu kalau elo dengar saran ini dari gue. Keyakinan kita berbeda, tapi gue tahu ini saatnya elo berdoa dan minta sama tuhan agar Ardian cepat sadar dan kembali sehat. Kalau kata Rania, ini saatnya elo shalat dan mengadu pada tuhan."


Erina kembali tersedu dalam pelukan Alexia. Hatinya begitu kalut, takut kehilangan orang yang selalu siap mendampinginya. Orang yang begitu sabar menghadapi tingkah dan ke-absurd-annya. Setelah tenang, ia mengikuti saran Alexia.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2