
"Yang, aku nggak ikut ya," ucap Erina yang subuh itu masih rebahan di atas ranjang. Setelah melaksanakan shalat subuh, Erina kembali merebahkan dirinya.
"Lho, kenapa?"
"Nggak enak badan." Ardian meraba kening Erina. Adem.
"Kamu demam?"
"Nggak. Cuma lemas dan pusing aja. Mungkin kecapekan. Kebetulan kemarin seharian meeting dengan timku. Sorenya lanjut antar si kembar latihan futsal. Lalu tadi malam kita kumpul di rumah Lexi."
"Ya sudah, kamu istirahat aja. Urusan pekerjaan biar pak Edwin dan tim yang selesaikan. Luna juga tahu kan dimana kamu simpan file-filenya."
"Thanks sayang."
"Rin, kemarin mama Amel telpon."
"Oh ya? Ada apa? Mereka baik-baik saja kan di Mekkah?"
"Alhamdulillah baik. Mama Amel ngabarin kalau Starla hamil."
"Oh ya? Alhamdulillah. Akhirnya mereka akan punya momongan. Kasihan mereka sudah menikah cukup lama tapi belum dikasih momongan."
"Yang, kalau seandainya aku hamil lagi gimana? Keberatan nggak nambah anak?"
"Kebaratan? Kenapa aku harus keberatan? Apalagi prosesnya. Dengan senang hati kulakukan. Kamu mau tambah anak? Ayo kita proses." Ardian loncat ke atas ranjang.
"Iih.. mesum banget sih!" Erina berusaha menjauh dari Ardian, namun terlambat. Ardian memerangkap Erina dalam pelukannya. "Sana ah jauh-jauh dari aku!"
"Lho, katanya mau tambah anak. Ayo kita mulai."
"Apaan sih. Aku kan cuma tanya. Tambah anak berarti tambah tanggung jawab. Apakah kita siap?"
"Kenapa tidak. Kurasa kalau kamu hamil lagi, kita sudah lebih siap. Bukan hanya fisik, tapi juga mental kita. Tapi yang akan menjalani kehamilan adalah dirimu. Aku hanya sebagai support systems. Apakah kamu siap hamil lagi?"
"Kalau dulu saja saat kehamilan yang pertama kamu begitu memperhatikanku, kalau aku hamil lagi kamu pasti akan lebih sayang sama aku. Iya kan?"
"Setiap hari aku semakin sayang dan semakin cinta kepadamu, Erina Aurelia Smith. Ada anak 2, 3 atau 5 sekalipun aku akan selalu mencintaimu."
"Meskipun nanti tubuhku sebesar gajah?" Ardian mengangguk mantap.
"Aku mencintaimu apa adanya, sayang. Mau tubuhmu seperti bas betot ataupun seperti gajah, aku akan selalu mencintaimu."
"Thanks hubby. Oh iya, besok lusa hari anniversary kita. Kamu mau hadiah apa?"
"Kamu adalah hadiah terindah yang akan selalu kuminta setiap tahunnya. Apalagi bila, kamu memakai pita di leher dan menantiku di atas ranjang dalam keadaan .... " Ardian tak meneruskan ucapannya karena kamar mereka diketok, bukan, digedor lebih tepatnya.
"Pipi, Aidan ngumpetin sarung Azka nih!"
"Sayang, kamu siap dengan bangun malam, ikut membantu saat dibutuhkan dan menghadapi keributan seperti ini?" tanya Erina sambil tersenyum.
"Justru aku sangat mengharapkan anak banyak. Karena aku tak memiliki saudara lain, selain Gustav."
__ADS_1
"Bagaimana kalau kadonya aku kasih sekarang?" bisik Erina sambil tersenyum menggoda. Ardian kegirangan mendengar ucapan Erina. Di otaknya langsung terbayang pertempuran hebat.
Bayangan tersebut langsung buyar begitu terdengar gedoran dan teriakan si kembar di luar kamar.
"Mimiiiii.. Azka gigit tangan aku nih!"
"Kamu yang duluan mukul aku!"
"Kalau dipukul balasnya pukul dong, bukan gigit. Tangan aku kan bukan kue!!"
Erina memandang Ardian sambil tersenyum dan tanpa banyak protes, Ardian langsung membuka pintu kamar. Aaah apes banget, baru mau bertempur malah disuruh menangani pertengkaran, omel Ardian dalam hati.
Setelah menangani anak kembar mereka, Ardian kembali ke kamar dan tak menemukan Erina. Kemana dia? Apakah dia di kamar mandi?
"Rin, kamu di dalam?" tanya Ardian sambil mengetuk pintu kamar mandi. Tak terdengar sahutan. "Rin! Kamu di dalam kamar mandi kan?"
"Ada apa den Ardi?" bi Imas dan mbok Siti tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar.
"Mbok, lihat non Erin?" Keduanya menggeleng.
"Memangnya nggak ada di kamar mandi?"
"Saya ketok pintunya nggak ada yang jawab. Pintunya terkunci." Ardian terlihat cemas. "Bi, ada kunci serep kamar mandi ini?"
Bi Imas buru-buru keluar dan mengambil kunci serep. Sementara itu Ardian dan mbok Siti masih memanggil-manggil nama Erina.
"Pi, mimi kemana?" tanya Azka dan Aidan yang rupanya mendengar keributan di dalam kamar Ardian.
"Baik den."
Sementara itu di kepala Ardian terbayang saat Erina tergeletak membiru di dalam bathtub setelah peritiwa itu. Ya Allah, semoga Erin baik-baik saja. Tak lama bi Imas datang membawa serenceng kunci serep, namun tak satupun bisa karena sepertinya kunci masih tergantung di sisi sebelah dalam. Akhirnya.... BRAAKK!!! Dengan sekuat tenaga Ardian menendang pintu kamar mandi.
Apa yang Ardian khwatirkan terbukti. Erina tak sadarkan diri di lantai kamar mandi. Wajahnya tampak pucat dan berkeringat. Ardian buru-buru mengangkat istrinya dan meletakkannya di atas ranjang. Mbok Siti dengan sigap mengambil minyak angin dan membalurkannya ke kaki dan tangan Erina. Sementara itu Ardian melonggarkan semua pakaian Erina. Bi Imas segera keluar kamar dan tak lama kembali membawa teh manis hangat.
Dengan saputangan yang diberi parfum, Ardian berusaha menyadarkan Erina. Untunglah tak lama Erina membuka matanya.
"Sayang, kamu nggak kenapa-napa?"
"Non, minum dulu teh manis hangatnya biar badan non Erin hangat." Bi Imas mengulurkan segelas teh manis hangat. Erina langsung meminumnya. Setelah seluruh tubuhnya dibalir dengan minyak angin dan meminum habis teh manis hangat, wajah Erina tak pucat lagi.
"Kamu kenapa sayang?"
"Mual."
"Kepalanya pusing?" Erina mengangguk.
"Sepertinya maagku kumat dan mungkin aku masuk angin, karena tadi mandi sebelum subuh," jawab Erina lemah.
"Aku panggilin dokter ya?"
"Nggak usah sayang. Istirahat sebentar juga sembuh."
__ADS_1
"Rin, aku kenal kamu sudah lama. Bukan baru kemarin. Aku tahu bagaimana kondisi fisik kamu. Maag kumat dan masuk angin nggak membuat kamu tumbang seperti ini. Aku khawatir ada yang lain."
Erina memejamkan matanya. Dahinya berkerut. Sepertinya pusing kembali menyerang. Ardian semakin khawatir.
"Aku telpon dokter Firsa ya." Erina menggeleng.
"Di, ada yang mau aku kasih tahu ke kamu. Sebenarnya aku agak ragu mau kasih tahu kamu karena aku belum pasti."
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit apa?" tanya Ardian panik. Ia benar-benar tak sanggup bila harus kehilangan Erina.
"Kamu ingat mengenai hadiah anniversary yang tadi kita bicarakan?" Ardian mengangguk.
"Kamu sakit bukan hadiah. Kamu sehat adalah hadiah paling terindah untukku."
"Ssstt.. dengarkan dulu. Jangan suka asal potong." Erina menutup mulut Ardian dengan tangannya. "Hadiah anniversary-nya ada disini."
Ardian menatap Erina bingung saat tangannya ditaruh di atas perut sang istri. Tak lama kemudian ia tersenyum bahagia.
"Beneran sayang?" tanya Ardian masih tak percaya.
"Sepertinya begitu. Aku baru rencana mau tes hari ini. Eh, keburu tumbang."
"Pantesan aja dua bulan ini nggak ada liburnya." Ardian tersenyum sambil menaikturunkan alisnya.
"Ih, mesum!"
"Tapi beneran karena hamil sayang? Kamu benar-benar sehat?"
"Hmm.. gejala kehamilan bukan penyakit kan? Kalau begitu, aku sehat."
"Aku nggak tau bagaimana gejala awal kamu hamil si kembar. Ingat, dulu kamu bersembunyi dari aku."
"Kurang lebih sama. Tapi nggak serentan kali ini. Mungkin karena dulu aku jauh dari kamu, makanya anak-anak kita cukup tahu diri. Beda dengan yang sekarang. Kamu ada di sampingku, kemungkinan kehamilan kali ini aku lebih manja. Kamu siap?" tanya Erina.
Ardian memeluk erat tubuh Erina lalu mengecup keningnya.
"Aku akan selalu siap untukmu my queen." Ardian menyesap bibir Erina dengan mesra.
"Yang," panggil Erina saat suaminya masih asik mencumbu.
"Hmm... " Hanya itu jawaban Ardian.
"Pintu kamar mandi kenapa?"
"Gara-gara kamu pingsan."
"Kamu panik?" Ardian mengangguk.
"Apakah kamu takut kehilangan diriku?"
"Sangat."
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐