TAKLUK

TAKLUK
SALAH SANGKA


__ADS_3

"Rin, makan dulu," ajak Ardian setelah Erina selesai shalat Isya. Ardian membawa nampan berisi makanan, segelas air putih dan sepiring buah.


"Itu apa?"


"Tadi sebelum pergi, bi Imas bilang kalau elo minta buatin chicken steak. Nih, gue bawain buat elo."


"Bi Imas pergi kemana?"


"Menyusul aunty ke rumah sakit. Mungkin malam ini dia ikut menginap di rumah sakit. Tadi waktu elo shalat, aunty Yuna telpon dan kasih tahu kalau uncle sudah sadar."


"Kenapa bi Imas boleh ke rumah sakit, tapi gue nggak boleh?" Erina merajuk. Ia membelakangi Ardian.


"Karena bi Imas nggak hamil."


"Apa hubungannya?"


"Nggak ada hubungannya. Gue aja yang nggak ngijinin elo pergi ke rumah sakit malam-malam begini. Lagipula bi Imas bisa bantu aunty Yuna disana."


"Ini buatan bi Imas?" tanya Erina sambil mencomot sepotong daging. "Sejak kapan bi Imas bisa bikin mashed potato? Biasanya bi Imas cuma bisa bikin kentang goreng. Ini sayurnya juga beda."


"Itu gue yang masak."


"Elo? Emangnya elo bisa masak? Pantas saja rasanya aneh" ujar Erina sangsi namun tangan dan mulutnya berpendapat lain. Ia terlihat menikmati makanan buatan Ardian.


"Gimana, enak?"


"Aneh."


"Aneh gimana?"


"Keasinan." Ardian mencicipi makanan yang ia buat. Ah, perasaan enak-enak aja. Gue kan sudah mengikuti resep dari mama Amel.


"Pas kok."


"Kalau gue bilang asin ya asin. Nggak usah protes."


"Kok habis? Katanya nggak enak."


"Gue kan bilang asin, bukan nggak enak." ucap Erina ketus sambil menikmati potongan buah. Chicken steak beserta teman-temannya sudah habis. Sepertinya ia kelaparn.


Ardian tak lagi menyahuti ucapan Erina. Ia hanya tersenyum melihat Erina makan dan minum dengan lahap. Syukurlah dia sudah bisa makan tanpa mual dan muntah. Atau jangan-jangan benar apa kata aunty Yuna mengenai kehadirannya yang memberi efek positif pada kehamilan Erina. Apakah bayi kami mengerti kehadiranku di sisi miminya .


"Ngapain senyum-senyum sendiri kayak orang gila?"


"Nggak apa-apa. Kamu mau tidur sekarang atau mau baca buku?"

__ADS_1


"Aku mau lanjutin pekerjaaanku. Tadi aku sudah minta Luna mengirimkan laporan progress proyek lewat email."


"Nggak boleh. Aunty Yuna berpesan kalau elo nggak boleh buka laptop."


"Ngomong-ngomong kenapa elo masih disini? Kenapa nggak pulang?" tanya Erina judes. Ia kesal dilarang bekerja.


"Malam ini gue akan menginap di sini. Elo lupa, tadi aunty Yuna menyuruh gue menemani elo selama beberapa hari ini." ujar Ardian kalem sambil melepas kemejanya.


"Elo mau ngapain?" tanya Erina was-was.


"Mau tidur."


"Ngapain pake buka baju segala?"


"Gue mau mandi. Elo kan tau kebiasaan gue sebelum tidur pasti mandi dulu."


"Nggak usah pake mandi segala."


"Rin, elo tau kan tadi gue dari kantor langsung kesini. Baju ini sudah gue pake dari pagi. Sekarang gue gerah, pengen mandi dan segera tidur. Besok pagi gue ada meeting dengan klien."


"Ya, tapi...." Erina terlihat kikuk. Padahal dulu biasa saja ia melihat Ardian ganti baju di hadapannya.


"Kenapa? Malu liat gue telanjang dada?" tanya Ardian. Kini ia hanya mengenakan celana panjang dan kaos singlet, mempertontonkan lengannya yang berotot.


Erina melotot melihat Ardian yang sedang bersiap-siap melepas kaosnya. Ia tahu tubuh seperti apa yang ada di balik kaos tersebut. Mereka sering berbagi ranjang saat Erina menginap di rumah Ardian. Erina pun hafal bagaimana kebiasaan Ardian menjelang tidur. Biasanya sebelum tidur Ardian akan melakukan push-up dan sit-up masing-masing 50 kali.


"Nggak usah ge-er. Tubuh lo biasa aja. Gendut!" elak Erina sambil memalingkan wajahnya. "Sana elo buka baju di kamar mandi."


"Rin, tolong telponin mama Amel dong. Tolong kasih tahu orang rumah kalau gue malam ini nginap disini. Minta tolong bang Kardi untuk kirim baju buat malam ini dan buat ngantor besok pagi." Dengan santai Ardian yang kini bertelanjang dada melangkah ke kamar mandi. "Oh iya, gue pinjam handuk lo ya."


"Di kamar mandi ada handuk bersih. Jangan pakai handuk gue!"


"Iya-iya. Pelit amat sih! Oh iya, jangan lupa telpon mama Amel."


"Bikin ribet aja," gerutu Erina, namun ia kerjakan juga apa yang Ardian minta.


"Assalamu'alaikum," terdengar suara lembut Amel. " Erin? Apa kabar sayang? Mama kangen sama kamu. Bagaimana kabar cucu mama?"


"Wa'alaykumussalaam. Eh, Erin baik-baik saja ma. Oh iya ma, malam ini Ardian menginap di rumah Erin. Ardian juga minta dikirimin baju tidur dan baju untuk kerja."


Sementara itu di seberang sana Amel dan Arga saling pandang mendengar ucapan Erina. Menginap? Apakah mereka sudah berbaikan? Apakah itu artinya mereka akan segera menikah. Wajah Amel terlihat bahagia membayangkan Erina akan segera menjadi menantunya.


"Mommy dan daddy nggak ada di rumah. Makanya Ardian menemani Erin," jelas Erina saat Amel tak berkomentar apapun.


Mata Amel membelalak kaget mendengar ucapan Erina. Mereka hanya berduaan?

__ADS_1


"Tadi siang daddy kena serangan jantung dan sekarang dirawat di rumah sakit. Mommy dan bi Imas menginap disana. Makanya mommy menyuruh Ardian menemani Erin. Padahal nggak ditemenin juga nggak apa-apa. Erin kan sudah besar," Terdengar suara Erina yang merajuk.


"Daddy-mu masuk rumah sakit? Kondisinya sekarang bagaimana, Rin?" tanya Arga yang kebetulan duduk di samping istrinya.


"Erin nggak tau, om. Ardian nggak membolehkan Erin ke rumah sakit. Erin kayak tahanan rumah, nggak diijinin kemana-mana." adu Erina kepada Arga.


Terdengar tawa Arga dan Amel. Mereka bisa membayangkan bagaimana wajah Erina saat merajuk.


"Kok kalian malah ketawain Erin sih?"


"Maaf rin, kami nggak bermasuk meledek kamu. Tapi kami membayangkan wajahmu kalau merajuk, pasti lucu."


"Riiiin.. disini nggak ada handuk. Ambilin dong!" Terdengar suara Ardian dari kamar mandi.


"Ambil sendiri, ah!"


"Lo nyuruh gue telanjang keluar kamar mandi?" seru Ardian.


"TELANJANG?!" Terdengar Amel dan Arga berseru bersamaan. "ARDIAN, KAMU NGAPAIN PAKE TELANJANG SEGALA?!"


Erina terkikik mendengar teriakan kedua orang tua Ardian. Sementara itu Ardian panik mendengarnya.


"Ardian nggak ngapa-ngapain kok yah, ma. Beneran," seru Ardian dari dalam pintu kamar mandi yang ia buka sedikit.


"Kalau nggak ngapa-ngapain lalu kenapa pake acara bugil segala?" tanya Arga. "Ingat Di, Erina lagi hamil muda dan kamu juga belum resmi jadi suaminya."


"I-iya ayah. Ini Ardian cuma.... "


"Di, kamu ngapain dekat-dekat sih?" seru Erina. Ia berniat mengerjai Ardian. "Mama Amel, Ardian nih tetap nekat."


"ARDIAN!!" seru Amel dan Arga emosi.


"Kalau kalian nggak bisa menahan diri, setelah mister Andrew keluar dari rumah sakit kalian harus segera menikah. Nggak ada lagi alasan ini itu," ultimatum Arga.


Mendengar ucapan Arga, gantian Erina yang panik. Mampus, kenapa malah gue disuruh kawin sama dia. Sementara itu Ardian tersenyum penuh kemenangan.


"Eh, Ardian nggak ngapa-ngapain kok om. Dia cuma minta diambilin handuk."


"Om nggak mau dengar alasan apapun. Pokoknya kalian harus segera menikah." Setelah mengucapkan ultimatum tersebut Arga langsung memutus pembicaraan.


"Kok jadi gini? Kan maksudnya nggak begini," Erina terlihat bingung dan panik. "Nggak, gue nggak mau kawin sama elo!"


Ardian tergelak melihat Erina panik.


"Bersiaplah menjadi pengantinku, sayang," seru Ardian dari dalam kamar mandi dengan suara riang.

__ADS_1


"ARDIAN, GUE BENCI ELO!!"


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2