
Ardian setengah mati memapah Nathalie yang sedang mabok. Ia tak menyangka gadis yang terlihat manis itu berubah liar saat di club. Ketika Ardian tiba di club, tampak Nathalie di kelilingi sekelompok lelaki yang sepertinya sedang dalam kondisi mabok. Berkelebat bayangan saat ia harus menjemput Erina dan kali ini kejadian yang hampir sama terjadi di hadapannya. Bedanya kali ini ia tak merasakan kecemasan seperti saat dulu ia menjemput Erina. Kali ini yang ia rasakan lebih seperti seorang kakak yang ditugaskan menjemput adiknya yang nakal.
Ardian mendekati bartender yang tadi menelponnya.
"Sudah berapa lama gadis itu disini? Apakah dia datang sendiri?" tanya Ardian pada bartender.
"Sudah dari jam 11 malam. Tadi dia datang bersama dengan seorang pria muda. Mungkin kekasihnya karena keduanya tampak sangat akrab layaknya kekasih."
"Lalu mana pria itu?" tanya Ardian. Si bartender menunjuk ke sofa dimana tampak pria dalam keadaan mabok berat. "Kenapa elo telpon gue?"
"Gue takut ada kejadian aneh karena sepertinya pria itu benar-benar mabok sementara gadis itu mulai dikerubuti pria-pria itu. Gadis itu terlihat masih sangat muda. Gue nggak mau orang tuanya menuntut club ini kalau terjadi sesuatu pada gadis itu."
Ardian membuang nafas kasar. Ia sebenarnya tak ingin meninggalkan Erina sendirian, namun ia juga tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Nathalie. Akhirnya dengan langkah berat ia menghampiri Nathalie yang masih asyik berjoget di antara para pria.
"Jangan sentuh gadis itu." Ardian menyeruak di antara para pria yang asyik mengerubungi Nathalie. Ia masih sempat melihat beberapa tangan nakal menggerayangi dada Nathalie.
"Heh.. siapa lo?!" bentak salah seorang di antaranya.
"Gue kakaknya." Tanpa banyak omong Ardian memanggul tubuh mungil Nathalie. Para pria yang mengerubunginya protes namun mereka tak berani melakukan apapun.
Ardian melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen Nathalie. Ia kembali teringat kejadian malam itu. Ya tuhan, kenapa aku harus berurusan dengan hal seperti ini lagi? batin Ardian. Untunglah lalu lintas dini hari itu sangat lengang. Dalam waktu kurang dari 45 menit ia sudah sampai di apartemen Nathalie. Dengan susah payah Ardian mengeluarkan dan memapah Nathalie yang dalam kondisi tak sadar akibat mabok.
"Hai Di!" sapa Raymond. Di sampingnya tampak Alexia menatapnya dengan pandangan marah.
"Lho, kalian ngapain disini?" tanya Ardian heran. Raymond menghampiri Ardian dan menarik tubuh Nathalie untuk bersandar kepadanya. "Darimana kalian tahu?"
"Menurut lo?" jawab Alexia judes.
"Elo kenapa sih, Lex?" tanya Ardian tak mengerti.
"Elo yang kenapa! Dasar cowok b**o!"
"Bini lo kenapa sih?" Ardian mencoba membantu Raymond memapah Nathalie namun Alexia segera menepis tangan Ardian.
"Elo benar-benar be** ya. Elo nggak ingat kejadian dulu?"
"Elo jangan marah dulu, Lex. Harusnya elo makasih sama gue karena gue mau nolongin sepupu lo, si Nathalie."
"Dasar Ardian b**o, bini lo baru aja melahirkan beberapa jam yang lalu. Elo tuh sayang nggak sih sama Erin?"
"Ya sayanglah! Apa hubungannya?" tanya Ardian lagi.
__ADS_1
"Kenapa elo ninggalin dia sendirian? Model kayak gini ngaku suami siaga. Cih, pencitraan doang!"
"Bang, istri lo kesambet ya?" Raymond hanya mengangkat bahu sambil nyengir. Ia tak berniat mencampuri urusan Alexia dan Ardian.
"Elo ngapain ngikutin kita?" tanya Alexia dengan wajah ditekuk.
"Mau antar Nathalie ke apartemennya. Masa gue mau belanja." jawab Ardian tak kalah judes.
"Kenapa elo nggak ngasih tau gue kalau Nathalie mabok? Elo mau berlagak pahlawan? Jangan-jangan kalau nggak ada kita disini elo bakal melakukan hal yang sama seperti yang elo lakukan ke Erin," ucap Alexia pedas. Ardian berdiri mematung mendengar ucapan Alexia.
"Elo jangan sembarangan nuduh, Lex. Nggak pernah terlintas dalam otak gue mengulangi kesalahan yang sama. Gue cinta sama Erin. Gue nggak akan pernah melakukan hal itu kalau bukan sama dia."
"Cih, pembelaan lo basi! Nggak mungkin elo masih tetap mencintai dia setelah berbulan-bulan Erin memperlakukan elo seperti itu. Lelaki dimana aja sama, kalau ada yang muda dan cantik pasti akan langsung berpaling."
"Aku nggak begitu sayang," ucap Raymond.
"Kecuali kamu, sayang," balas Alexia.
"Lex, elo nggak bisa menyamakan semua pria kayak gitu. Elo tau gue nggak akan merubah perasaan gue. Dia itu ibu dari anak-anak gue. Dia satu-satunya wanita yang gue cintai."
"Kalau elo memang cinta sama dia, kenapa kemarin elo malah pergi menonton penampilan Nat? Apa maksud lo memberi dia perhatian berlebih kayak gitu? Apa elo nggak tau kalau itu yang dia harapkan? Apa elo nggak tau kalau dia suka sama elo?"
"Peka dikitlah jadi suami!" Pintu apartemen Nathalie dibanting di depan wajah Ardian. Untung saja hidung mancungnya tidak terkena pintu.
"Lex, Lexi!"
"Apa lagi?" sahut Alexia ketus dari balik pintu.
"Gue balik ke rumah sakit ya."
"Harusnya dari tadi elo balik. Ngapain juga masih disitu. Dasar cowok nggak peka!" sahut Alexia lagi.
⭐⭐⭐⭐
Jam dinding menunjukkan pukul 05.30 saat Erina membuka mata. Sesaat ia bingung akan keberadaannya. Ini dimana? Ia bergerak tak nyaman karena sebelah tangannya terhubung dengan infus. Infus? Kenapa aku diinfus? Secara refleks ia meraba perutnya yang kini mengempes.
"Aaah... Ardiaaaaan!!" jerit Erina histeris. "Ardiaaaaan!!"
Pintu kamar mandi terbuka dan dengan tergopoh-gopoh Ardian menghampiri Erina.
"Kenapa sayang?" tanya Ardian khawatir karena melihat wajah Erina yang kebingungan.
__ADS_1
"Bayi kita! Bayi kita hilang!"
"Apa maksudmu hilang?" tanya Ardian tak mengerti.
"Hilang. Nggak ada di perut gue lagi!" Erina mulai menangis panik.
Ardian buru-buru memeluk erat Erina.
"Maafin gue Di. Gue nggak bisa jaga mereka. Maafin gue," ucap Erina di sela sedu sedannya. "Gue ibu yang jahat."
"Ssstt... cup cup cup.. kata siapa kamu ibu yang jahat. Kamu itu ibu yang baik."
"Elo nggak usah menghibur gue. Elo boleh ceraiin gue dan nikah dengan Nathalie karena gue bukan istri dan ibu seperti yang elo inginkan. Gue ikhlas, Di." Erina masih terus meracau sambil menangis.
Akhirnya, walaupun ragu Ardian memberanikan diri membungkam istrinya dengan ciuman. Awalnya ia hanya sekedar mengecup cepat bibir Erina dan bersiap-siap menerima tamparan di pipinya. Namun perkiraannya salah, bukan tamparan yang ia terima melainkan ciuman balasan yang lembut dari sang istri. Malahan Erina menggunakan tangannya yang tidak diinfus untuk menahan bagian depan kemeja yang Ardian gunakan.
Tentu saja reaksi tersebut membuat Ardian terkejut. Selama berbulan-bulan ia menahan keinginannya untuk merasakan manisnya bibir Erina. Selama berbulan-bulan ia hanya mampu menyelesaikan sendiri hasratnya yang bangkit karena melihat tubuh Erina yang semakin hari semakin seksi di matanya. Semua itu ia jalani karena ia tahu Erina tak mencintai dan tak ingin disentuh olehnya. Lalu kenapa pagi ini.....?
Mereka berdua melepaskan tautan bibir mereka kala pasokan oksigen mereka mulai menipis dan tak lama kemudian dua orang perawat masuk ke dalam kamar mereka untuk mengantarkan sarapan Erina. Ardian menatap tajam Erina sambil meraba bibirnya. Sementara yang ditatap buru-buru menyembunyikan kepalanya di balik selimut.
"Selamat pagi bu Erina. Bagaimana keadaannya pagi ini?" Salah satu perawat mendekati ranjang dan memeriksa infusan Erina. "Bu Erina masih tidur, pak?"
"Nggak sus. Saya sudah bangun," jawab Erina dari balik selimut.
"Bu, bisa diturunkan sebentar selimutnya? Saya mau periksa keadaan ibu."
"Nggak bisa diperiksa dari balik selimut aja sus?" tanya Erina tanpa menurunkan selimut yang menutupi kepalanya.
"Maaf tidak bisa bu Erina. Saya ingin mengecek suhu tubuh dan tensi anda."
Pelan-pelan Erina menurunkan selimut yang menutupi kepalanya. Ardian tersenyum kecil saat melihat wajah Erina yang memerah.
"Wajah anda merah dan hangat, namun suhu tubuh anda normal." Ucap perawat saat selesai memeriksa. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi Erina. "Apakah anda merasa pusing atau kedinginan?"
"Ng-nggak sus," jawab Erina tergagap.
"Oh mungkin karena anda tidur dengan selimut menutupi wajah makanya anda kepanasan." Ardian mendengus kasar karena menahan tawanya.
"Sus, saat saya bangun pagi ini bayi-bayi saya hilang." ucap Erina dengan suara bergetar menahan tangis.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1