
Erina menatap album foto yang ada di hadapannya. Terlihat wajah-wajah ceria di dalamnya. Begitu banyak foto kebersamaannya dengan Ardian. Bila orang yang tidak mengenal mereka pasti akan berpikir mereka adalah sepasang kekasih karena melihat betapa akrabnya mereka berdua. Pelukan hangat di antara keduanya sudah bukan hal aneh.
Bukan sekali dua kali orang yang0 mengusulkan mereka menjadi sepasang kekasih, namun keduanya hanya tertawa tanpa menolak maupun mengiyakan usulan tersebut. Sejauh ini mereka tak pernah merasakan ketertarikan seperti layaknya pria dan wanita.
Erina menghela nafas kesal. Kenapa sih hal seperti ini harus muncul di saat ia mulai merasa yakin dengan Daffa. Masa lalu apakah yang disembunyikan oleh Daffa? Apakah dia memiliki istri? Atau anak? Atau dia penyuka sesama jenis? Atau dia pernah masuk penjara? Begitu banyak pertanyaan dalam kepala Erina.
Kepada siapa aku harus mencari tahu? Apakah aku harus mencari tahu melalui Brittany? Ah, tapi aku tak pernah dekat dengannya saat SMA dulu. Lagipula apakah wajar menanyakan hal tersebut pada mantan terindah Daffa. Bagaimana kalau ternyata mereka berdua masih saling mencintai? Kalau aku banyak bertanya itu saja aku membuka kenangan lama mereka.
"Aaarghh... Adrian br****ek! Ngapain sih dia pake ngomong kayak gitu?!" seru Erina kesal sambil menutup album foto yang ada di hadapannya. Tiba-tiba ......
Tok.. tok... tok... Terdengar ketukan di pintu kamarnya.
"Non Erin, ada tamu."
"Siapa? Kalau Ardian suruh langsung naik aja."
"Bukan den Ardian. Tapi den Daffa."
Daffa?! Erina menatap jam dinding. Sudah jam 11 malam. Ada apa dia kesini malam-malam begini? Bukannya dia malam ini di Bali. Dua hari yang lalu Daffa memberitahu akan dinas ke Bali selama seminggu.
"Suruh tunggu. Aku ganti baju dulu."
Bergegas Erina mengganti kamisolnya dengan celana pendek dan kaos longgar yang panjangnya melebihi celana pendeknya.
"Hai Daf."
"Hai. Kamu sudah tidur?" Daffa berdiri dari duduknya dan mengembangkan tangannya. Erina lari ke dalam pelukannya. Selama beberapa saat mereka berpelukan tanpa ada seorangpun yang bicara.
"Kamu kok ada disini?"
"Nggak suka aku pulang lebih cepat?" Daffa balik bertanya. Kini keduanya duduk sambil berpelukan. Erina bergelung nyaman dalam pelukan Daffa. Ia bersandar pada dada bidang Daffa. Entah sejak kapan Erina kecanduan wangi tubuh Daffa.
"Bukan begitu. Kamu bilang dinas selama seminggu. Baru tiga hari kamu sudah pulang."
"I miss you so much." Daffa mencium kening Erina. "Aku kangen memelukmu seperti ini.'
"Ah, kamu memang paling bisa ngegombal. Perlu kamu tahu, aku kebal terhadap gombalan-gombalan receh macam ini."
"Aku tahu. Tapi aku nggak nge-gombal. Aku benar-benar kangen memelukmu. Aku nggak sabar bisa begini setiap hari denganmu."
Erina tertawa kecil mendengarnya. Sesungguhnya ia menikmati setiap gombalan Daffa. Entah mengapa, bersama Daffa ia berubah menjadi gadis manis yang selalu ingin dimanja. Namun karena gengsi, ia tak pernah menunjukkan hal tersebut kepada Daffa.
"Kamu dari bandara langsung kesini?"
"Iya. Kenapa?
__ADS_1
"Sudah makan malam?"
"Hanya makanan di pesawat. Kamu mau memasak untukku?" Erina tergelak mendengar pertanyaan tersebut.
"Kalau kamu siap ke UGD akibat keracunan makanan, aku akan masak untukmu. Jawab dulu pertanyaanku, kenapa sudah pulang?"
"Urusanku sudah beres dalam dua hari ini. Lagipula sudah tidak agenda lain. Terlalu lama disana juga tidak baik untuk kesehatan jantungku."
"Memangnya jantung kamu bermasalah?" tanya Erina khawatir.
"Iya. Jantungku terasa sakit.... "
"Kalau memang sakit seharusnya kamu ke UGD bukan ke rumahku." Erina melepaskan diri dari pelukan Daffa dan serentak berdiri. "Ayo, aku antar kamu ke rumah sakit. Aku nggak mau kamu kenapa-napa."
Bukannya menuruti perkataan Erina, Daffa malah menarik tangan Erina sehingga terjatuh ke dalam pelukannya lagi.
"Daf..."
"Jantungku baik-baik saja setelah bertemu dirimu."
"Tapi tadi katamu..." Erina berusaha melepaskan diri dari pelukan Daffa, namun Daffa malah tambah erat memeluknya.
"Pelukan ini cukup bagiku."
"Mana ada sakit jantung disembuhkan oleh pelukan. Kamu... ." Erina tak sempat menyelesaikan ucapannya karena bibir Daffa telah membungkamnya dengan ciuman yang terasa menuntut.
Lama keduanya saling mencecap dan melepaskan kerinduan yang selama ini mereka rasakan. Kenapa baru beberapa hari berpisah tapi rasanya seperti berminggu-minggu, batin Erina. Sejenak ia melupakan segala beban pikirannya setelah pertemuannya dengan Ardian.
"Rin..." Nafas Daffa masih tersengal akibat c****n mereka yang cukup intens.
"Hmm... "
"Will you marry me?" tanya Daffa sambil mencium punggung tangan Erina yang masih berada dalam pelukannya. Keduanya bersandar nyaman di sofa.
"I will... soon," jawab Erina ragu.
"Kenapa kamu ragu?"
"Kita belum berhasil menaklukkan bunda. Seperti kamu tahu, aku nggak mau memiliki ibu mertua yang tidak bisa menerima diriku apa adanya."
Kembali Daffa meraih tangan Erina dan mengecupnya.
"Maaf. Kukira bunda bisa lebih terbuka menerima dirimu. Aku tak menyangka bunda masih sekolot itu pemikirannya."
"Wajar Daf. Kita hidup di negara dimana hal-hal kecil seperti itu belum bisa diterima khalayak umum."
__ADS_1
"Apa kita kawin lari saja? Yang penting om Andrew merestui dan mau menjadi wali nikahmu," usul Daffa.
"Apakah kamu selalu impulsif seperti ini? Kupikir aku yang impulsif, tapi ternyata terbalik." Erina tertawa kecil.
"Rin, usia kita sudah nggak muda lagi. Dan sepertinya aku sudah terlanjur nyaman denganmu dan aku tak ingin berpisah darimu. Kuharap kamu merasakan hal yang sama denganku."
"Akupun merasakan hal yang sama denganmu," Tapi sepertinya aku mulai jatuh cinta padamu walaupun kamu tidak mencintaiku. Hal itu yang membuatku tak ingin buru-buru, batin Erina. Kupikir aku tak butuh cintamu, tapi ternyata aku salah.
"Kalau begitu tak ada masalah kalau kita segera menikah?" tanya Daffa tak sabar. "Aku tak sabar ingin memelukmu saat tertidur dan melihat wajahmu saat terbangun serta mendapatkan morning k*** darimu. Aku tak sabar menyiapkan sarapan untuk istriku yang tak bisa masak ini."
Erina tertawa mendengar ucapan Daffa yang dinilainya absurd. "Sabar. kita coba dulu menaklukan hati bunda." Seperti aku mungkin akan mencoba menaklukan hatimu dan membuatmu mencintaiku.
"Rin, apakah sebaiknya kita tinggal bersama supaya bunda mau merestui kita?" usul Daffa tiba-tiba.
"Are sure about that? Living together before married? " Erina balik bertanya. Ia tak menyangka Daffa akan mengusulkan hal seperti itu.
"Atau aku buat kamu hamil supaya bunda benar-benar nggak bisa menolak kamu karena ada calon cucu di dalam perutmu?"
"Are you crazy?!"
"Yes, I'm crazy.... I'm crazy about you, dear." bisik Daffa lembut lalu mengecup bibir Erina. Tak lama keduanya terhanyut dalam c****n memabukkan. Bahkan tangan Daffa mulai mengusap punggung Erina dengan sentuhan yang membuat Erina terasa melayang.
Sadar rin, sadar. Bisikan di kepala Erina menyadarkan. Erina buru-buru melepaskan pagutan b**** mereka dan sedikit menjauh dari Daffa.
"Hey, kenapa? Maaf kalau aku bertindak berlebihan. Aku terbawa suasana."
"Mommy dan Daddy tak ada di rumah. Semua asisten juga sudah istirahat di belakang."
"Apakah itu artinya aku boleh menginap disini? Apakah itu artinya kita akan memproses cucu untuk bunda?" tanya Daffa penuh harap.
"Jangan ngaco! Justru aku mau mengingatkan supaya hal seperti itu tak terjadi. Aku nggak mau bunda makin nggak suka sama aku. Aku nggak mau bunda merasa aku menjebak dirimu."
"Tapi rin...."
"Sudah malam. Ayo kita makan malam dulu. Tadi mbok Siti masak lumayan banyak. Kuharap kamu nggak terlalu picky urusan makanan."
"Aku akan melahap apapun yang kamu suguhkan. Ternyata berc****n denganmu membuatku lapar."
Tak lama Daffa sudah duduk manis di ruang makan. Sementara itu Erina sibuk kesana kemari menyiapkan makanan. Lebih tepatnya menghangatkan makanan menggunakan microwave.
"Makan Daf." Di hadapan Daffa telah tersedia nasi putih, capcay dan ayam goreng mentega. Secangkir teh hangat pun sudah tersedia.
"Kamu tahu, aku merasa dilayani oleh istriku. Aku nggak sangka kamu bisa secekatan ini menyiapkan makan malam. Bahkan kamu bisa melayani layaknya seorang istri. Suatu hal yang tak kusangka bisa dilakukan oleh cewek tomboy seperti dirimu."
"Hanya sekedar menghangatkan hal yang mudah. Karena aku terbiasa menghangatkan makanan yang kubeli di luar. Kalau masalah menyiapkan seperti ini, karena aku terbiasa melihat mommy melakukannya untuk daddy."
__ADS_1
"Aku semakin kagum padamu, Rin." Kagum, bukan cinta. Sadar rin, jangan berharap terlalu tinggi bila tak ingin jatuh dan sakit, bisik hati Erina.
⭐⭐⭐⭐