TAKLUK

TAKLUK
PERINGATAN


__ADS_3

"Rin, kamu beneran nggak mau ikut?"


"Nggak. Nanti kita ketemu langsung di klinik." jawab Erina tanpa mengangkat kepalanya dari buku yang ia baca.


"Nggak apa-apa aku pergi dengan Nathalie?"


"Nggak apa-apa. Kasihan dia sudah nyusulin elo kesini. Dia pasti berharap banget elo bisa lihat penampilan dia."


"Maaf ya sayang, aku terpaksa ninggalin kamu. Tapi kalau kamu keberatan, aku nggak jadi pergi. Lagipula waktu itu aku nggak janji mau nonton dia. Aku sudah bilang mau antar kamu ke dokter."


"Santai aja kali. Sudah, sana pergi. Kasihan Nathalie sudah nungguin." Erina mengangkat kepalanya. "Apa perlu gue antar ke pintu?"


"Anterin aku ke depan yuk," Ardian mengulurkan tangan lalu menarik Erina berdiri. Ardian menarik Erina ke dalam pelukannya.


"Ngapain sih pake peluk-peluk segala?"


"Masa suami nggak boleh peluk istrinya? Perasaan dulu pas cuma jadi sahabat, kita lebih sering pelukan."


"Pelukannya kan bukan kayak begini, Di."


Erina berusaha melepaskan diri dari pelukan Ardian. Bukannya melepaskan pelukan, Ardian malah mencium bibir Erina. Ciuman yang rencananya hanya ciuman singkat malah menjadi ciuman yang dalam dan lama. Kembali muncul perasaan aneh di dada Erina. Debaran jantungnya mulai tak beraturan.


"Thanks mi." Ardian kini mencium kening Erina. "Ayo antar aku ke depan."


"Kak Erin, Nat pinjam kak Ardian ya," ucap Nathalie sambil tersenyum manis. Namun entah mengapa, Erina merasa ada yang aneh pada sorot mata gadis itu.


"Iya Nat. Titip kak Ardian ya. Maaf kak Erin nggak bisa ikut. Maklum, berat banget bawa si kembar," sahut Erina sambil menunjuk perutnya yang semakin membesar.


"Mi, pipi pergi dulu ya. Kalian baik-baik ya di dalam sana," ucap Ardian sambil mengelus perut Erina lalu mengecup perutnya.


"Di, malu dong sama Nathalie."


"Nggak apa-apa dong. Wajarlah aku melakukan itu. Kamu istriku, mereka anak-anakku." Lalu Ardian mengecup bibir dan kening Erina.


"Santai aja kak," ucap Nathalie sambil tertawa kecil.


Sepeninggal Ardian dan Nathalie, Erina masih menatap mobil yang semakin menjauh. Entah mengapa ada perasaan tak enak apalagi bila mengingat sorot mata Nathalie tadi.


"Non, kok den Ardian dibiarin pergi berdua?" tanya mbok Siti saat Erina masuk ke ruang makan.


"Ya nggak apa-apa mbok. Kan Ardian cuma mau liat Nathalie tampil."


"Tapi perasaan mbok kok nggak enak ya. Tadi pas den Ardian cium non Erin, mbok sempat lihat non Nathalie ngeliatin dengan sorot mata aneh."


"Ah, mbok Siti aneh-aneh aja. Pasti mbok Siti salah lihat. Kebanyakan nonton drama nih."


"Ih, mbok nggak salah lihat non. Dari awal lihat dia, perasaan mbok nggak enak. Gimana kalau nanti dia merebut den Ardian?"


"Ya biarin aja mbok. Kalau memang den Ardian mau, masa Erin larang."


"Aduuuh.. amit-amit... amit-amit neng. Jangan ngomong kayak gitu ah. Pamali."

__ADS_1


"Lagian mbok Siti ngomongnya aneh-aneh sih. Kalau memang bukan jodoh, mau dipaksain seperti apapun ya tetap nggak bisa bersatu."


"Tapi non, kalau kita rajin minta sama Allah supaya berjodoh dengan seseorang maka Allah akan mempersatukan."


"Sudah ah, mbok. Erin mau istirahat dulu. Nanti kalau makan siang sudah siap, mbok bangunin Erin ya."


"Siap non. Oh iya, nanti non Erin mau naik taksi atau bawa mobil sendiri? Mbok panggilin pak Ali ya, buat antar non Erin."


"Nggak usah mbok. Erin nyetir sendiri."


"Hati-hati non. Itu perutnya semakin besar. Kasihan ketekan setir. Mbok temani ya?"


"Ya ampun mbok, Erin kan bukan anak kecil yang musti ditemani kemana-mana. Tenang aja mbok, Erin akan baik-baik aja."


Sore harinya saat Erina bersiap berangkat ke klinik, tiba-tiba ia merasa tendangan kuat di perutnya. Erina duduk kembali di ranjang hingga rasa sakitnya hilang.


"Sayang, jangan kencang-kencang dong menendangnya. Mimi tau di dalam sana pasti sempit. Sabar ya, nggak lama lagi kita akan bertemu. Nanti mimi akan liat kalian." Erina berbincang dengan si kembar sambil mengusap-usap perutnya. Kembali terasa pergerakan di perutnya namun lebih lembut. "Terima kasih sayang. Kalian jangan nakal ya, mimi mau nyetir mobil."


"Non, beneran nggak perlu ditemani?" tanya mbok Siti khawatir. "Muka non Erin kok pucat. Ada yang sakit non?"


"Tadi si kembar lagi bercanda di dalam sini. Nggak sengaja mereka menendang agak keras. Lumayan sakit mbok, tapi sekarang sudah nggak apa-apa."


"Beneran nggak papa non? Mbok khawatir."


"It's okay mbok. Tolong bawain tas Erin ke mobil ya."


"Oh iya non, kopernya mbok masukin ke mobil ya. Persiapan aja."


"Baik non."


Sepanjang perjalanan, Erina masih sesekali merasakan sakit di perutnya. Untunglah perjalanan sore itu lancar, sehingga dalam waktu setengah jam ia sudah sampai di klinik. Setelah memarkirkan mobilnya, Erina melangkah menuju meja registrasi. Baru saja ia hendak melakukan registrasi, tiba-tiba perutnya terasa mulas.


"Ibu kenapa?" tanya perawat bagian registrasi.


"Ah, nggak papa sus. Mules aja. Mungkin kebanyakan makan sambal tadi siang," jawab Erina sambil nyengir.


"Ibu sebaiknya duduk dulu. Sini biar saya lanjutkan registrasinya." Perawat yang baik hati itu menawarkan bantuan.


"Terima kasih sus."


Saat menanti registrasi selesai, rasa sakit itu menghilang.


"Ibu tunggu dulu ya. Ibu dapat nomor 10. Dokternya sedang ada pasien. Sekarang baru pasien no 4."


"Baik sus. Terima kasih, ya."


Sambil menunggu giliran, Erina iseng-iseng membuka aplikasi IG. Saat melihat-lihat postingan, tiba-tiba matanya melihat postingan di akun milik Ardian. Tampak disitu Ardian foto selfi berdua Nathalie. Tangan Nathalie memeluk mesra lengan Ardian. Raut wajah Ardian tersenyum biasa, namun wajah Nathalie terlihat sangat sumringah.


Hmm.. cocok, batin Erina. Iseng, dia memberi komentar di postingan tersebut. Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Alexia.


"Iya Lex, ada apa?"

__ADS_1


"Itu Ardian ngapain berdua Nathalie?"


"Kalau nggak salah Nathalie ada penampilan di kedubes. Elo nggak nonton?"


"Penampilan? Kok dia nggak bilang sama gue?"


"Mana gue tau, dia kan sepupu lo."


"Terus kenapa suami lo malah nonton? Gue aja yang sepupunya nggak nonton."


"Tadi dia jemput Ardian ke rumah."


"Apa? Nathalie jemput Ardian? Wah, nekat amat tuh anak."


"Ya nggak papa kan Lex. Mungkin dia butuh supir sekaligus teman ngobrol. Kalau sama supirnya oma kan nggak mungkin ngobrolin musik klasik."


"Si Nathalie sekarang nggak tinggal sama oma. Dia tinggal di apartemen."


"Bagus dong. Jadi mandiri."


"Justru bahaya, Rin."


"Bahaya gimana?"


"Gue takut kebiasaan hidup bebas selama di Austria kebawa-bawa." Deg... tiba-tiba perasaan tak enak muncul lagi.


"Rin.. Erin!" panggil Alexia karena Erina diam saja.


"Eh, apa Lex?"


"Elo lagi dimana?"


"Di klinik. Biasa, periksa rutin."


"Si Ardian emang gila ya. Bininya hamil dia malah nonton konser cewek lain. Nggak punya perasaan banget."


"Nggak usah ngomel kayak emak-emak kehilangan sendok. Tadi dia ngajak gue, tapi gue nggak mau. Gue yang nyuruh dia pergi sama Nathalie."


"Wah, elo berani banget minjemin suami lo. Kalau diembat sama Nathalie gimana?"


"Ya, kalau sudah nggak jodoh mau gimana lagi. Lagipula dari awal pernikahan gue kan dipaksa."


"Elo belum cinta sama Ardian?"


"Hmm... nggak tau. Sejak kejadian dengan Zafran dan Daffa, gue nggak mau jatuh cinta lagi."


"Ya ampun Rin. Mau sampai kapan elo bersikeras nggak mau jatuh cinta? Gue sih cuma bisa bilang, hati-hati jagain suami lo. Jangan sampai direbut Nathalie."


"Oke Lex. Thanks buat peringatan lo."


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2