TAKLUK

TAKLUK
CERITA MASA LALU


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Ardian membukakan pintu untuk Erina dan menemaninya berjalan masuk ke dalam rumah. Tetap tak ada kata diantara mereka. Bahkan Ardian yang biasanya sigap melindungi Erina, kali ini hanya berjalan di belakang Erina dengan membawa barang-barang istrinya. Tak ada pelukan hangat atau tangan yang membimbing Erina. Dibiarkannya sang istri memimpin jalan.


Di ruang tamu, tampak Yuna, Andrew, Arga dan Amelia. Yuna dan Amelia serentak berdiri menyambut Erina lalu membimbingnya duduk di sofa. Sementara itu setelah mencium tangan para orang tua, Ardian ngeloyor masuk ke kamar.


"Ya ampun Erin, kamu tuh bikin kita semua panik. Sekarang gimana keadaan kamu? Cucu-cucu mommy baik-baik aja kan?" tanya Yuna.


"Erin sayang, kamu nggak kenapa-napa kan? Mama Amel sampai nggak bisa tidur waktu dengar berita dari Ardian kalau kamu kecelakaan. Untunglah kamu baik-baik saja."


"Erin baik-baik aja kok. Kepala aja yang kepentok jendela mobil. Jadi benjol deh, hehehe... Cucu-cucu kalian baik-baik aja. Memang sih perut Erin sempat sakit, tapi ternyata karena shock aja. Tadi pagi dikasih tau sama dokter kalau bayi-bayinya kuat seperti Erin," jawab Erina sambil terkekeh.


"Kemarin kamu dan Lexi pergi kemana?" tanya Andrew. Erina diam tak menjawab.


"Sayang, nggak usah ditanya-tanya dulu. Biar Erina istirahat. Badannya pasti pegal-pegal. Yang penting saat ini adalah dia dan cucu kita baik-baik saja," bela Yuna.


"Dear, kamu jangan terlalu membela dia. Sekarang Erin sudah menjadi seorang istri. Dia nggak bisa seenaknya pergi kesana kemari tanpa ijin suaminya. Apalagi dia kan sedang hamil." ucap Andrew dengan nada kesal. "Kasihan Ardian, pulang dari kantor dalam keadaan lelah. Bukannya disambut oleh istri, eh malah mendapat kabar istrinya kecelakaan. Itulah akibatnya kalau pergi tidak ijin suami."


Tak ada yang berkomentar karena apa yang Andrew katakan benar adanya. Kali ini Erina memang salah.


"Ayo mama antar kamu ke kamar. Kamu pasti capek kan?" ajak Amelia. Ia tak tega melihat Erina yang baru keluar rumah sakit namun sudah diomeli oleh Andrew.


Erina menuruti ucapan Amelia. Memang tubuhnya masih terasa pegal-pegal. Ia masih butuh istirahat dari berbagai drama yang terjadi hari ini.


Di dalam kamar mereka melihat Ardian yang tertidur di atas ranjang dengan baju yang dipakainya sejak tadi malam. Baju kantor yang belum sempat digantinya karena ia keburu panik tak menemukan istrinya di rumah.


"Ya ampun, anak ini kok jorok banget sih," gumam Amelia. "Kenapa dia nggak ganti baju dulu."

__ADS_1


"Ardian pasti kelelahan, ma. Semalaman dia tidur di kursi. Biarkan dia tidur dulu. Nanti sebelum ashar Erin bangunin," ucap Erina.


"Rin, mama bukan mau ngomelin kamu atau membela Ardian. Tapi apa yang daddymu katakan tadi benar. Mama mengerti kamu pasti bosan di rumah karena sejak hamil dilarang kesana kemari. Orang tuamu dan Ardian melakukan itu bukan karena ingin mengekangmu, tapi justru mereka khawatir kamu kenapa-napa. Apalagi kamu hamil kembar. Pasti itu lebih melelahkan untuk dirimu."


"Tapi Erin bosan di rumah. Ardian selalu melarang Erin kemana-mana. Mommy juga begitu, nggak membolehkan Erin bekerja. Padahal mama Amel kan tahu sendiri kalau Erin paling nggak suka berdiam diri."


"Mama mengerti kegundahanmu. Mereka banyak melarang ini itu karena sayang sama kamu. Apalagi beberapa bulan ini kamu mengalami morning sickness yang parah."


Erina tak menjawab. Ia malah bergelung dalam pelukan Amelia.


"Maafin anak mama yang sudah membuat kamu menderita. Sebenarnya sejak dulu dia sangat mencintaimu. Namun karena kebodohannya dia malah gonta ganti pacar. Permintaan mama nggak banyak, tolong terima dia sebagai suami dan ayah dari anak-anakmu."


"Kalau Erin bosan di rumah, apakah Erin boleh main ke rumah mama Amel?"


"Maafin Erin, ma."


"Jangan minta maaf ke mama. Minta maaflah pada suamimu dan orang tuamu. Perlu kamu tahu, sekarang ini bakti Erin yang utama adalah pada suami, bukan lagi pada orang tua."


"Erin harus minta maaf sama dia?" tanya Erina sambil menunjuk Ardian dengan dagunya. "Ih, bisa besar kepala dia. Nanti dia malah nge-bully Erin."


"Hahahaha... ya nggak mungkinlah dia nge-bully kamu." Amelia terkekeh.


"Ma, dulu waktu mama ketemu papa Arga apakah mama langsung jatuh cinta?"


"Dulu mama bersahabat dengan Winda, ibunya Ardian. Waktu SMA keluarga mama pindah dari Perancis ke Indonesia. Mama hanya bisa bahasa Perancis dan Inggris. Saat itu hanya Winda yang jago bahasa Inggris. Gara-gara itulah kami berteman akrab. Sampai kami masing-masing menikah. Saat Winda meninggal, kebetulan mama juga baru bercerai dengan papanya Gustav. Waktu itu Ardian dan Gustav baru berusia 10 tahun. Ardian dibawa oleh eyang Murti. Sementara mama dan Gustav pulang ke Perancis."

__ADS_1


"Bagaimana kalian bisa bertemu kembali? Apakah papa Arga yang mengejar mama Amel?" Amelia tertawa mendengar ucapan Erina.


"Tentu tidak sayang. Saat di Perancis, mama sempat menikah lagi, namun tak lama. Saat pernikahan mama berusia dua tahun, papa tiri Gustav meninggal. Saat itulah om Felix menyuruh mama Amel kembali ke Indonesia karena neneknya Gustav mulai sakit-sakitan. Ketika pemakaman neneknya Gustav, mama bertemu dengan om Arya. Ternyata om Arya partner bisnis papanya Starla. Dari situlah muncul niat om Felix dan om Arya untuk menjodohkan kami."


"Mama nggak menolak dijodohkan dengan papa Arga?"


"Awalnya mama nggak tertarik. Apalagi papa Arga adalah mantan suami tante Winda, sahabat mama. Yang ada dalam pikiran mama saat itu adalah kalau mama menerima papa Arga berarti mama mengkhianati tante Winda. Ternyata papamu memiliki pemikiran yang sama. Tapi om Felix dan om Arya tak menyerah. Mereka terus menjodohkan kami. Sampai akhirnya eyang Murti meninggal dan Ardian harus ikut papanya. Dari situlah papamu baru mulai berpikir tak ada salahnya menerima perjodohan itu. Sejak itu dia terus mengejar mama."


"Apakah karena kegigihan papa akhirnya mama menerima papa Arga?"


"Hati wanita itu lemah, Rin. Di tengah kesendirian dan harus mengurus anak, kehadiran serta perhatian tulus seorang pria mampu membuat seorang wanita bertekuk lutut dan jatuh cinta. Itulah yang papa Arga lakukan sehingga mama menerimanya dan bisa mencintainya sampai saat ini."


"Apakah papa Arga romantis?"


"Papamu itu romantis dengan cara yang berbeda. Bukan bunga atau perhiasan yang dia berikan. Namun perhatiannya terhadap hal-hal kecil yang menurut mama menunjukkan sisi romantis. Jangan harap papamu itu akan merayu mama dengan kata-kata manis. Papamu menunjukkan keromantisan dengan membuatkan sarapan untuk mama dan menyelipkan catatan kecil dengan kata-kata penyemangat."


"Ma, apakah menurut mama sifat tersebut turun ke Ardian dan Gustav?"


"Gustav dibesarkan di lingkungan keluarga yang berasal dari Eropa, dimana mereka tak malu menunjukkan keromantisannya. Sementara Ardian dibesarkan dalam keluarga dengan nilai ketimuran yang sangat jarang menunjukkan keromantisannya. Sepertinya Ardian yang lebih mirip papamu. Kenapa menanyakan hal itu? Apakah Ardian menunjukkan sisi romantisnya kepadamu?" tanya Amelia sambil tersenyum menggoda Erina.


"Nggak tau ah. Ma, besok mau nggak mama menemani Erin ke dokter kandungan? Mommy juga ikut." Erina mengalihkan pembicaraan.


"Mama sangat bahagia kalau Erin mau mengajak mama melihat cucu-cucu mama." Amelia memeluk hangat Erina. Ia sangat menyayangi menantunya yang satu ini. Ajakan Erina membuatnya sangat bahagia. Ah, semoga saja Erina bisa membuka hatinya dan menerima Ardian sebagai suaminya.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2