TAKLUK

TAKLUK
OPERASI OPOR BERHASIL


__ADS_3

Rumah keluarga Andrew Smith sejak pagi sudah terlihat sibuk. Ada pemandangan yang tidak biasa terlihat di rumah tersebut. Erina sejak pagi sibuk berkutat di dapur.


"Moooom.... !" panggil Erina. "Tolong cobain sekali lagi. Sudah pas belum rasanya."


"Rin, kamu kan bisa minta mbok Siti untuk cobain. Mommy lagi sibuk merangkai bunga."


"Sudah enak kok non Erin," ucap mbok Siti yang dari tadi sibuk membantu nona mudanya. "Non Erin nggak percaya dengan pendapat saya, nyonya."


"Aah.. mbok Siti kan taunya makanan itu enak dan enak banget. Mana bisa Erin percaya sama mbok Siti." Mbok Siti terkikik mendengar ucapan Erina. Memang benar apa yang dikatakan Erina. Makanya badan mbok Siti terlihat montok.


"Gimana mom?" tanya Erina cemas sambil memperhatikan Yuna yang sedang mencicipi masakannya.


"Perfecto!" jawab Yuna sambil mengangkat kedua jempolnya. "Kalau kamu serius terus dalam belajar masak, mommy yakin kamu akan menjadi saingan mommy."


"Non Erin bisa buka restauran ya Nyah," celetuk mbok Siti.


"Nggak mau ah. Erin cuma mau masak buat suami dan anak-anak."


"Hmm... ada yang sudah kepengen punya anak nih." Terlihat Alexia dan Raina memasuki dapur. Keduanya datang atas undangan Erina.


"Ardian mana?" tanya Yuna. "Nanti malam dia datang kan?"


"Nggak tau tante. Tadi pas ditelpon, ponselnya mati," jawab Raina sambil mencoba sambal goreng kentang. "Wah, enak nih. Tante memang hebat kalau urusan masak."


"Sembarangan. Itu gue yang masak," sambar Erina sambil mengaduk-aduk panci.


"Ah, bohong!" sahut Alexia dan Raina berbarengan. "Mana mungkin elo yang masak. Elo masak air aja gosong."


"Kalian nggak percaya? Tuh tanya sama mbok Siti dan mommy."


"Beneran tan?" Yuna mengangguk sambil tersenyum lebar seraya mengangkat jempol.


"What? Unbelievable! Elo nggak sekarat kan Rin?" tanya Alexia yang nampaknya masih tak percaya sahabatnya yang tomboy bisa memasak.


"Sialan lo! Gue sehat. Sudah jangan ribut lagi. Gue undang kalian buat bantuin bikin kue. Rai, elo kan jago banget tuh bikin pastel tutup. Lex, lo bantuin Raina ya. Bahan-bahannya sudah gue siapin," perintah Erina pada kedua sahabatnya.


"Jadi elo ngundang kita berdua bukan karena mau ngajak makan, tapi mau nyuruh kita masak?" Erina mengangguk sambil mempertontonkan senyum semanis madu.


"Tan, ada apa sih? Kok tumben banget si tomboy mau masak? Kalau kita masukin ke medsos bisa viral nih beritanya," ucap Alexia. Alhasil selembar serbet mendarat mulus di kepalanya.


"Awas aja kalau elo berani-beranian bikin story tentang ini. Gue kutuk lo jadi ulet bulu," ancam Erina.


"Sekarang mendingan elo jelasin dulu ke kita kenapa elo mendadak belajar masak," tuntut Rania. "Jangan bilang elo masak buat Daffa?!"

__ADS_1


"Kalau iya kenapa?"


"Serius?!"


"Erin serius, tan?" tanya Rania pada Yuna yang menjawabnya dengan anggukan.


"What?!" Kedua sahabatnya tampak terkejut.


"Aneh ya kalau gue masak?" tanya Erina.


"Bukan cuma aneh, tapi it's unbelievable. Elo yang selama ini cuma taunya manasin makanan pakai microwave, tiba-tiba masak makanan tradisional yang ribet kayak gini. Apakah kiamat semakin dekat?" celoteh Alexia tanpa rem.


"Rin, sana ajak teman-temanmu ke taman belakang. Sekalian kamu istirahat dulu. dari pagi kamu sibuk terus di dapur." Yuna mendorong Erina untuk keluar dari dapur.


Tak lama ketiga wanita cantik itu terlihat duduk santai sambil ditemani minuman dingin di taman belakang. Erina terlihat memejamkan mata sambil menyenderkan kepalanya di sandaran kursi. Wajahnya terlihat lelah.


"Rin, elo beneran capek ya? Elo nggak lagi cosplay jadi koki kan?" tanya Raina sambil mengelus-elus perutnya yang mulai terlihat membulat akibat kehamilannya yang mulai memasuki trisemester kedua.


"Gue masih nggak percaya elo bisa masak," ucap Alexia. "Sejak kapan elo belajar masak?"


"Sejak dua hari yang lalu," jawab Erina santai.


"Yang bener?!" ucap kedua sahabatnya tak percaya.


"Rin, kita berdua kenal elo bukan baru setahun dua tahun. Kita tahu banget gimana nggak sukanya elo untuk urusan masak," sahut Alexia.


"Benar kata Alex. Elo manasin makanan pakai microwave aja kadang gagal," imbuh Raina. "Elo kesambet apaan sih?"


"Elo belajar masak karena disuruh Daffa?"


"Bukan disuruh Daffa, lebih tepatnya gue ditantang bundanya." Kedua sahabatnya melongo mendengar jawaban tersebut. "Gue serius. Ini sebagai salah satu syarat yang diajukan bundanya supaya dia mau ngajarin gue masak."


Lalu Erina pun menceritakan semuanya kepada kedua sahabatnya yang hanya bisa membelalakan mata tak percaya.


"Oh my god! You're so serious wanna marry him."


"Yups. You're right, girl."


"Lalu siapa yang ngajarin elo masak makanan kesukaan Daffa?" tanya Raina penasaran.


"His grandma," jawab Erina kalem sambil tersenyum.


Ia masih ingat bagaimana selama dua hari kemarin sengaja cuti untuk belajar memasak kepada eyang Marni. Lalu ia mengulanginya lagi di rumah. Melakukan hal itu bukan pekerjaan mudah untuk seorang Erina yang tak bisa membedakan mana lada, mana ketumbar. Mana jahe, mana lengkuas. Untunglah eyang Marni dengan telaten dan sabar mengajarinya. Masakan pertama yang berhasil ia buat, keasinan. Eyang Marni sampai terpingkal-pingkal saat melihat wajah Erina ketika mencoba masakannya sendiri.

__ADS_1


"Wow, gue speechless," bisik Alexia setengah tak percaya. "He gives you great impact."


"Malam ini merupakan salah satu jawaban dari tantangan tante Mira. Dan melihat reaksi kalian tadi, gue yakin beliau nggak akan menolak permintaan gue."


Raina memeluk erat bahu Erina. Ia sangat bahagia melihat Erina kali ini tak menyerah memperjuangkan kebahagiaannya.


"Gue bangga jadi sahabat elo. Coba seandainya dari dulu elo mau berjuang seperti ini, gue yakin elo sudah bahagia dengan pasangan lo."


"Thanks Ran. Ini belum setengah jalan dari perjuangan gue menemukan kebahagiaan tersebut. Mungkin ke depannya masih akan ada rintangan lain yang harus gue hadapi untuk mewujudkan kebahagiaan ini."


"Rin, kita akan sangat bahagia bila bisa membantu lo menemukan kebahagiaan itu." Alexia menghampiri keduanya dan memeluknya.


"Thank Lex. Gue bersyukur memiliki sahabat seperti kalian."


"Sudah ah, gue jadi mau nangis. Sekarang bukan waktunya bersedih. Gue akan siap-siap memasak. Sementara gue dan Alexia masak, mendingan elo mandi dan dandan. Percayakan sisanya pada kami."


⭐⭐⭐⭐


Acara makan malam yang tadinya direncanakan hanya dihadiri dua keluarga berubah menjadi pesta kecil dengan tambahan kehadiran kedua sahabat Erina beserta pasangan mereka. Hanya Ardian yang tak terlihat kehadirannya.


"Ini kamu yang masak?" tanya Mira setelah mencicipi makanan yang terhidang.


"Erin hanya memasak opor ayam dan sambal goreng kentang. Kalau pastel tutup buatan Raina. Selada padang buatan mommy. Sambal buatan mbok Siti," jelas Erina jujur. "Maaf, karena waktunya mepet Erin hanya berhasil belajar dua macam masakan."


"Masakan kamu enak, sayang," puji Daffa sambil menggenggam tangan Erina.


"Wah, nggak sangka kamu bisa masak," puji Henry suami Raina. "Tadinya saya pikir Raina bercanda waktu bilang Erina mengundang kami mencicipi masakannya."


"Benar, saya juga nggak menyangka masakan Erin bisa ditelan. Saya pikir akan keasinan atau malah gosong, tapi semuanya perfect," puji Raymond, suami Alexia. "Saya sudah lama mengenal Erin dan baru kali ini mencicipi masakannya."


"Kalian terlalu tinggi memujiku. But, thanks anyway." Wajah Erina terlihat senang mendengar pujian yang keluar dari sahabat maupun keluarganya. Kini yang paling crucial adalah pendapat Mira.


"Om setuju dengan pendapat mereka. Masakan kamu lumayan enak untuk orang yang tidak bisa masak. Bahkan om sempat berpikir kamu akan menyerah," ucap Irwan memuji.


"Terima kasih pujiannya, om."


"Bagaimana jeng Mira?" tanya Yuna penasaran karena Mira tak banyak komentar.


"Hmm.. apakah kamu yakin bisa meluangkan waktu diantara kesibukan pekerjaanmu?" tanya Mira dengan wajah datar.


"Maksud tante.... ? Apakah itu artinya .....?" Wajah Erina terlihat senang mendengar ucapan Mira. "Saya pasti akan meluangkan waktu dan selalu siap menyesuaikan jadwal dengan jadwal tante."


Yang lain terlihat bahagia mengetahui Mira yang secara tidak langsung menyetujui keinginan Erina belajar masak kepadanya. Terlebih lagi Erina dan Daffa. Mereka meyakini jalan mereka menuju jenjang berikutnya akan mulus. Sementara itu di teras rumah tampak Ardian berdiri mematung mendengar celoteh bahagia orang-orang di dalam rumah. Ia pun balik badan dan meninggalkan rumah tersebut.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2