
"Rin, elo dimana? Aunty Yuna bilang elo belum pulang. Ini sudah jam 2 malam, Rin." Ardian bicara di telpon dengan Erina.
"Kenapa hidup gue begitu menyedihkan? Kenapa tuhan menghukum gue? Kenapa Di? Kenapaaaa?!" Terdengar suara Erina meracau. Dari nada suaranya Ardian tahu kalau Erina mabuk.
Samar Ardian mendengar suara musik berdentum. Mendengar itu Ardian tahu kalau Erina pergi clubbing. S**t! Kemana dia pergi? Begitu banyak club yang biasa mereka datangi di seantero kota ini.
"Rin, elo dimana? Jangan kemana-mana. Tunggu gue! Gue bakal jemput elo." Bukannya mendapat jawaban, Erina malah menutup telponnya.
Aaargh.. gue bisa gila kalau kayak gini. Bayangan saat ia menemukan Erina sekarat akibat overdosis kembali berkelebat di matanya. Ardian memukul keras meja kerjanya. Please, jangan aneh-aneh Rin. Gue nggak bakal sanggup kalau elo mengulangi hal itu lagi. Jangan tinggalin gue.
Ardian bergegas mengambil jaket dan kunci mobilnya. Untunglah ia belum tidur saat Yuna menelponnya
FLASHBACK ON
"Di.. Ardian!" Terdengar suara panik seorang wanita di telepon. Ardian melirik jam tangannya. Pukul 01.50 pagi. Ada apa aunty Yuna menghubungi gue? Apakah sesuatu terjadi pada Erina?
"Ya aunty, ada apa?" Ardian berusaha tenang walaupun tiba-tiba dadanya merasakan sesuatu yang tak enak.
"Di, apakah Erina bersama kamu?"
"Erina? Tidak aunty. Tadi dia bilang mau makan malam bersama Daffa. Apakah Erina belum pulang?"
"Belum Di. Tadi dia memang dijemput oleh Daffa dan sampai sekarang dia belum sampai rumah."
"Mungkin mereka lanjut ke tempat lain, ke pantai atau ke villanya Daffa."
"Nggak mungkin mereka melakukan hal seperti itu."
"Tenang dulu aunty. Mereka sudah sama-sama dewasa dan mereka sudah tunangan, bahkan sebentar lagi akan menikah. Jadi bukan hal yang aneh kalau mereka ... "
"Nggak mungkin Di. Tadi aunty sudah tanya ke mamanya Daffa dan katanya Daffa sudah pulang sejak jam 11 tadi." Suara Yuna terdengar panik.
"Tenang aunty. Apakah uncle ada?"
__ADS_1
"Uncle-mu sedang ke Texas, karena grandpa masuk rumah sakit." Yuna mulai terisak. "Please bantu aunty cari Erina. Sejak tadi perasaan aunty nggak enak."
"Mungkin Erina pulang ke apartemennya. Biar nanti Ardian cari kesana. Semoga password pintunya belum diganti."
"Iya tolong kamu cek kesana. Makasih ya Di. Maaf aunty merepotkan kamu."
"It's okay aunty. Nanti Ardian akan menghubungi aunty kalau sudah bertemu dengan Erina."
FLASHBACK OFF
Dan kini Ardian berada di dalam apartemen Erina yang terasa lengang. Saat ia sampai, apartemen dalam keadaan gelap, menandakan apartemen ini tak berpenghuni. Ardian menyalakan lampu-lampu. Apartemen itu terlihat rapi. Walapun lama tak dihuni tapi apartemen itu tampaknya terawat dengan baik. Ini pasti karena aunty Yuna selalu mampir kesini setiap minggunya.
Ardian memeriksa kamar tidur. Tak ada tanda-tanda Erina ada disitu atau mampir kesitu. Melihat ranjang ukuran sedang yang berada di tengah kamar tidur memunculkan kisah lama dalam pikiran Ardian. Ia masih ingat bagaimana ia menemukan Erina dalam kondisi menyedihkan di atas ranjang itu. Botol pil tidur yang isinya kurang dari setengah dan sebagian berserakan di atas ranjang. Di atas nakas sebotol wishkey yang isinya hampir habis. Sementara itu Erina terbaring di atas ranjang dengan kondisi yang bisa dibilang hampir mati. Saat itu Ardian langsung menghubungi rumah sakit. Sementara menunggu pihak rumah sakit tiba, Ardian terus berusaha menyadarkan Erina dengan cara menepuk-nepuk pipinya.
Kilatan memory seperti itulah yang membuat Ardian khawatir. Ia takut Erina mengalami hal serupa setelah pertemuannya dengan Daffa. Ardian tak tahu bagaimana hasil akhir pembicaraan keduanya. Namun ia mendapat firasat hasilnya tak begitu baik.
Saat Ardian masih termanggu memandang ranjang tersebut, tiba-tiba masuk sebuah panggilan. Erina. Ardian langsung mengangkat telpon dan saat itulah ia mendengar Erina meracau. Ya tuhan, apa yang gadis ini lakukan. Apakah ia kembali ke habit lamanya? Lamat Ardian dapat mendengar dentuman musik sebagai latar belakang.
Sial, kemana aku harus mencari gadis ini? Ardian bergegas meninggalkan apartemen Erina. Sepanjang perjalanan ia memikirkan club mana yang didatangi oleh Erina. Aaargh... c'mon berpikirlah Di, kemana biasanya Erina pergi bila galau, perintah otaknya. Saat otaknya sibuk berpikir, tiba-tiba masuk panggilan dari Denny, bartender yang bekerja di club yang sering mereka datangi.
"..............."
"Oh, okay Den. Gue segera ke sana. Tolong lo awasin Erina. Jangan sampai ia melakukan hal yang aneh atau ada yang mengganggu dia."
Setelah menutup pembicaraan, Ardian melarikan mobilnya menuju club yang didatangi Erina. Untunglah dini hari itu jalanan lengang. Tak sampai setengah jam Ardian sampai.
Benarlah di dalam club yang tampaknya masih ramai itu terlihat Erina asyik meliukan tubuhnya di tengah para pria. Ardian mengepalkan tangannya lalu bergegas mendatangi Erina.
"Hey, antri bro!" terdengar salah satu pria menegur dengan nada tak senang. Ardian memperhatikan 4 pria yang mengelilingi Erina. Semuanya mabuk, termasuk Erina.
"Halo sayaaaang," sapa Erina yang terlihat teler. Serta merta Erina melingkarkan tangannya di leher Ardian dan bergelayut manja. Lalu ia mengajak Ardian bergerak mengikuti musik yang menghentak.
"Siapa lo?" Seorang pria berusaha menarik Erina ke arahnya. Pria itu terlihat marah.
__ADS_1
"Gue tunangannya. Mau apa lo?" tanpa banyak pikir Ardian mengatakan hal itu lalu ia langsung melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu, menahan agar pria tersebut tak bisa menarik Erina.
Sementara itu Erina tak banyak membantu. Dalam kondisi teler, gadis itu malah menc*** bibir Ardian dengan penuh gairah. Sontak kelakuan Erina mendapat sorakan dari para pemuda yang mengelilinginya. Ardian berusaha melepaskan pagutan bibir Erina, namun Erina malah menahan kepalanya. Akhirnya Ardian berhasil melepaskan c***an tersebut. Ia pun mengangkat tubuh Erina menuju meja bartender.
"Den, biasa." Ardian memesan minum. Biar bagaimana ia perlu meredakan ketegangan emosi yang dirasakannya sejak menerima telepon dari Yuna hingga berakhir dengan ci**an dari Erina.
"Bos, gue bikin nggak sekuat biasa. Elo nanti harus nyetir kan?"
"Thanks Den."
"Sama-sama bos."
"Dia datang sama siapa? Jam berapa" tanya Ardian setelah menenggak minuman yang terasa membakar tenggorokannya.
"Sendirian. Jam setengah 12an. Dia tampak kacau saat memasuki club ini," jawab Denny. "Gue liat dia habis nangis. Maskaranya berantakan. Dia langsung pesan double. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Padahal gue sudah lama nggak liat dia kesini."
S***! Dia sudah lama nggak minum. Pantas saja mabuknya parah. Ardian memperhatikan baju Erina yang tampak berantakan. Apakah para bajingan itu menjamah tubuhnya? pikir Ardian dengan marah.
"Den, bikinin lagi buat gue. Dobel."
"Tapi bos..."
"Jangan khawatir, gue nggak bakal mabuk." Ardian langsung menenggak minumannya. Sementara itu kepala Erina terkulai di atas meja bar. Ardian memandang Erina dengan berbagai perasaan berkecamuk di benaknya. Rin, elo kenapa? Pasti ini gara-gara Daffa. Kenapa elo begitu sial dalam hubungan percintaan?
"Bos, elo bawa pulang aja si Erin. Mumpung dia lagi nggak sadar. Gue khawatir dia minta minum lagi kalau dia sadar. Lo tau kan gimana si Erin kalau mabuk."
"Tapi tadi cowok-cowok itu nggak ngapa-ngapain dia kan?"
"Gue nggak begitu perhatiin, bos. Lo tau sendiri gue sibuk melayani customer," elak Denny. Apa yang ia katakan memang benar. "Tapi dia belum lama turun. Dari tadi dia duduk disini."
Ardian sedikit lega mendengar ucapan Denny. Semoga para pemabuk itu tak menjamah tubuh Erina.
"Den, gue balik. Thanks ya tadi elo langsung hubungi gue."
__ADS_1
Ardian memanggul tubuh Erina di pundaknya. Tentu saja hal itu menarik perhatian para pengunjung lain. Mereka riuh bersorak. Ardian tak mempedulikan itu semua. Ia membawa pulang ke apartemennya.
⭐⭐⭐⭐