TAKLUK

TAKLUK
PANGGILAN MESRA


__ADS_3

Setelah mandi dan berganti pakaian rumah, Ardian melihat Erina masih di posisi yang sama. Perlahan Ardian duduk di tepi sofa. Ditatapnya wajah Erina yang tampak damai saat tidur. Bibirnya yang berwarna pink lembut setengah terbuka. Kebiasaan Erina, yang dulu pernah menjadi bahan candaan mereka. Mata Ardian terpaku menatap bibir Erina yang seolah mengundang untuk dicicipi. Ia masih bisa mengingat rasa bibir itu. Kenyal, lembab dan terasa manis. Ardian buru-buru mengenyahkan pikiran aneh yang mulai berseliweran di kepalanya.


Dengan mukena masih terpasang, tak terlihat perutnya yang mulai membulat. Namun bila dilihat pipi Erina mulai terlihat chubby. Berkali-kali Ardian merasa gemas dan ingin menggigit pipi itu, tapi ia tak berani melakukannya. Walaupun hamil, tendangan dan pukulan Erina masih bisa membuatnya terjengkang. Perlahan tangan Ardian terukur untuk mengelus lembut pipi Erina. Saat itulah tiba-tiba didengarnya Erina mendusin. Ardian mendekatkan kepalanya mencoba mendengarkan apa yang Erina ucapkan.


"Maafin mimi." Suara Erina terdengar lirih. Beberapa kali Erina mengulangi ucapannya. Kening Ardian berkerut. Apa maksudnya? Ardian memperhatikan dengan teliti wajah Erina. Sepertinya wajah Erina agak merah? batin Ardian. Perlahan Ardian menyentuh pipi Erina. Panas.


Ya tuhan, Erina demam. Ardian langsung meyentuh dahi Erina. Panas. Ardian lalu memegang tangan Erina. Panas.


Ardian langsung mengangkat tubuh Erina dan memindahkannya ke atas ranjang. Saat itulah Erina membuka matanya perlahan.


"Lo mau ngapain?" tanya Erina lemah. Kepalanya terasa pusing. Tubuhnya terasa tak enak.


"Buka ya mukenanya." Tanpa menunggu persetujuan Erina, Ardian membuka mukena yang Erina pakai.


"Lo mau ngapain?" Erina mengulangi pertanyaannya dengan suara lemah. "Jangan modus."


"Gue nggak mau ngapa-ngapain elo. Badan lo panas. Elo demam, Rin." Ardian terlihat khawatir.


"Gue nggak kenapa-napa. Gue cuma pusing sedikit. Gue mau tidur lagi," ucap Erina. "Elo jangan macam-macam ya."


"Ya ampun, dalam kondisi sakit begini elo masih aja galak. Kita ke rumah sakit ya?" ucap Ardian lembut sambil mengelus kepala Erina.


"Gue baik-baik aja. Minum obat dan dibawa tidur sudah cukup."


"Elo lagi hamil, nggak bisa minum sembarang obat. Gue telpon dokter Firza untuk datang kesini." Tanpa menunggu jawaban Erina, Ardian langsung menghubungi dokter Firza, yang merupakan dokter keluarga Prabuyudhono.


Setelah menelpon dokter, Ardian hendak mengambil handuk kecil dan air hangat, namun tangannya ditahan oleh Erina.


"Jangan kemana-mana. Temani gue disini." Erina tertidur kembali tanpa melepaskan tangan Ardian yang ditaruhnya di atas dadanya.


Ardian hanya bisa pasrah. Ia ingin menarik tangannya, namun ia takut membangunkan Erina. Akhirnya ia menelpon Raina yang rumahnya kebetulan dekat dengan rumah mereka.


"Rai, elo bisa nggak mampir ke rumah gue?"


"Kenapa Di?"


"Erin sakit."


"Nggak lo bawa ke rumah sakit?"


"Gue sudah panggil dokter Firza."


"Ya sudah, tunggu aja dokternya datang."


"Masalahnya gimana gue mau bukain pintu buat tuh dokter kalau tangan gue dipegangin terus sama Erina."


"Ya dilepas aja sebentar. Lo bilang sama dia mau bukain pintu."


"Erin tidur. Gue nggak tega ngelepasin tangan gue. Nanti dia kebangun."


"Terus gue mau lo suruh apa kalau datang?"

__ADS_1


"Temenin gue disini."


"Memangnya elo anak kecil?"


"Justru karena gue bukan anak kecil, gue malah lebih khawatir."


"Kenapa?"


Bukan menjawab, Ardian malah mengirimkan foto tangannya yang di letakkan di tengah-tengah gunung kembar milik Erina. Sontak di ujung sana Raina tergelak.


"Gue takut khilaf kayak dulu. Elo tau kan, berbulan-bulan nikah sama sahabat lo gue nggak pernah dikasih jatah. Nah, ini malah tangan gue ditaruh disitu."


"Oke, oke... gue bilang dulu sama mas Henry. Passcode pintu lo belum diganti kan?"


Tak lama, Raina datang bersama Henry. Mereka langsung masuk ke kamar. Disana dilihatnya Ardian masih duduk di tepi ranjang dengan posisi tangan tak berubah. Raina terkikik melihat wajah Ardian yang memelas. Sementara Henry menahan tawa.


"Gimana Di? Anget nggak?" ledek Henry.


"Empuk ya Di?" bisik Raina sambil cekikikan.


"Sialan lo Rai. Elo nggak tau gue setengah mati nahan nih."


"Nahan apaan?" ledek Henry lagi.


"Bang Henry, apa perlu gue perjelas?" Ardian balik bertanya dengan wajah memelas. "Paling nggak dengan adanya kalian disini, kalau Erin terbangun dia nggak nuduh gue macam-macam."


"Emang dari tadi si Erin nggak lo apa-apain?" tanya Raina. Ardian menggeleng.


"Dasar b***, ini kan kesempatan elo. Kalian kan sah sebagai suami istri. Jadi elo boleh aja ngapa-ngapain dia." ledek Raina sambil terkikik.


Tiba-tiba mata Erina terbuka. Ia memandang sekelilingnya. Ia tampak bingung melihat Raina dan Henry.


"Di, haus."


"Sebentar gue ambilin minum buat elo."


"Jangan lama-lama."


"Iya sayang. Sebentar aja kok. Ada Raina dan bang Henry juga tuh." Ardian melepaskan tangan Erina yang masih memegang tangannya.


"Tumben manja banget sama Ardian. Sudah insyaf lo?" tanya Raina sambil menjatuhkan diri di samping Erina. Raina meraba dahi Erina, masih panas. "Kok nggak dikompres?"


"Gimana gue mau kompres dia, kalau tangan gue dari tadi dipegangin . Gue nggak bisa kemana-mana jadinya," ucap Ardian yang baru masuk kamar dengan membawa handuk kecil dan air hangat di dalam baskom


"Emang iya, Rin?" pancing Raina sambil senyum-senyum meledek.


"Dih, siapa juga yang megangin tangan dia. Ngaco aja."


"Trus ini tangan siapa," Raina memperlihatkan foto yang tadi dikirim Ardian. Sontak Erina langsung sembunyi di balik selimut. Yang lain langsung tertawa geli melihat reaksi Erina.


"Nggak papa Di, sekarang butuh tangan lo doang. Lama-lama juga dia butuh pelukan lo," ucap Raina meledek sahabatnya.

__ADS_1


"RAINAAAAAA!!!!"


Raina tambah tergelak mendengar teriakan Erina dari balik selimut.


Tak lama dokter Firza datang dan memeriksa Erina dengan teliti.


"Nggak ada yang mengkhawatirkan. Mungkin istrimu sedang banyak pikiran saja. Sementara ini kasih obat penurun panas saja. Ini om kasih resepnya. Ini aman untuk ibu hamil kalau besok masih belum turun juga panasnya, bawa ke rumah sakit untuk periksa darah ya."


"Tuh kan, gue bilang juga apa. Cuma sakit biasa. Elo sih gampang panik," ucap Erina setelah selesai diperiksa.


"Wajar kan kalau gue khawatir. Tadi pagi pas gue berangkat elo kan baik-baik aja," balas Ardian tak mau kalah.


"Kalian ini sudah menikah dan sudah mau punya anak. Masih memanggil seperti tadi?" tanya dokter Firza heran. "Bagaimana kalau nanti anak-anak kalian mencontoh?"


Erina dan Ardian langsung terdiam. Sementara itu Raina dan Henry menahan tawa mereka melihat pasangan suami istri itu diomelin dokter Firza yang usianya sepantaran pak Arga.


"Eh.. kebiasaan om. Sebelum menikah kita kan dulunya besti," sahut Ardian asal. "Biasanya juga pakai panggilan mesra. Iya kan mimi?"


"Eh... i-iya pipi," jawab Wrina canggung.


Raina dan Henry tak sanggup lagi menahan tawa mereka mendengar Erina dan Ardian membahasakan diri mereka mimi pipi. Ya tuhan, nggak cocok banget Erina sok imut begitu, batin Raina.


"Nah, begitu kan lebih baik. Ya, sudah ini resepnya. Jangan lupa mimi Erin minum air putih yang banyak. Makannya juga harus bergizi ya. Kamu juga pipi Ardian, jagain mimi baik-baik dan jangan gampang panik," nasihat dokter Firza.


"Ba-baik om. Terima kasih ya om. Rin, eh mi... pipi antar om Firza keluar ya."


"I-iya pi." Mau nggak mau Erina menjawab seperti itu karena dokter Firza memperhatikan mereka.


Sepeninggal dokter Firza, Raina benar-benar tak sanggup menahan tawanya lagi. Dia sampai guling-guling di ranjang Erina saking gelinya. Sementara itu Henry sampai terduduk lemas di sofa akibat tertawa. Erina memasang muka cemberut melihat keduanya masih terus mentertawakan dirinya.


"Raina, bang Henry... sudahan kenapa ketawanya. Puas banget ya kalian bisa ngetawain gue," sungut Erina kesal.


"Sumpah, nggak pantas banget kalian saling memanggil kayak gitu. Geli banget gue dengarnya." ucap Raina dengan nafas terengah-engah akibat tertawa.


"Tuh si Ardian yang aneh. Dari awal dia tuh yang pake sebutan mimi pipi. Norak banget kan."


"Nggak norak kok, Rin. Malah unik jadinya," sahut Henry sambil menahan tawa. "Anti mainstream."


"Iih bang Henry sama nyebelinnya nih."


"Mimi sudah makan malam belum?" tanya Ardian yang masuk kamar sambil membawa nampan berisi makan malam untuk Erina.


"Dih, apaan sih manggilnya kayak gitu. Norak tau!" sahut Erina ketus.


"Ya sudah kalau nggak mau mimi pipi, maunya panggil apa?"


"Panggil nama aja kayak biasa."


Lagi-lagi Raina dan Henry tergelak melihat percakapan Erina dan Ardian.


"Kita pamitan dulu. Kasihan anak-anak kalau kelamaan ditinggal. Di, jagain bini lo ya. Kalau tangan lo dipegangin lagi, jangan telpon gue. Langsung eksekusi aja."

__ADS_1


"RAINAAAAAA!!"


⭐⭐🤣⭐⭐


__ADS_2