TAKLUK

TAKLUK
Draft


__ADS_3

Suasana rumah Erina dan Ardian pagi itu tampak tenang. Tak terdengar suara-suara teriakan seperti biasanya.


"Mbooook!"


"Iya non. Sebentar."


"Mbok, si kembar sudah berangkat?" tanya Erina.


"Sudah non. Tadi diantar pak Ali. Oh iya non, kemarin ada tamu mencari non Erina."


"Tamu mencari saya? Siapa?"


"Mbok lupa namanya. Itu lho non, teman cowok yang dulu sering kesini."


"Siapa ya mbok?" Mbok Siti menggeleng. "Ya sudah mbok. Oh iya, tolong mbok siapkan sarapan untuk Ardian. Buatin bubur aja mbok."


"Den Ardi masih mual-mual non?"


"Iya mbok. Tadi minta dikerokin."


"Masuk angin gara-gara keseringan mandi malam tuh," ledek mbok Siti. Erina tertawa mendengar ucapan mbok Siti.


"Mbok, dulu waktu mbok hamil pernah nggak suaminya yang ngidam?"


"Nggak pernah non. Mbok kalau hamil tuh nggak ada tuh yang namanya ngidam. Mungkin karena kami orang desa ya, non. Jadi badannya lebih kuat dan nggak manja. Apalagi dulu suami mbok kan petani. Mana ada waktu untuk ngidam." Mbok Siti tertawa.


"Memangnya den Ardian ngidam non?"


"Kayaknya giti deh, mbok. Tadi bangun tidur muntah-muntah. Kemarin saja di kantor maunya makan rujak. Padahal mbok kan tahu kalau dia nggak doyan rujak. Sikapnya juga jadi manja banget."


"Kasihan den Ardi. Pasti nggak enak banget tuh rasanya. Makanya Allah menciptakan wanita untuk hamil. Karena hanya wanita yang sanggup menjalani kehamilan dengan berbagai ngidamnya."


"Harusnya Erin, ngidam pengen ketemu artis ya mbok." Keduanya tertawa mendengar ucapan Erina.


"Oh iya mbok, tolong kasih tahu bi Imas kalau untuk acara makan malam nanti menunya barbeque. Non Lexi dan non Raina mau datang."


"Sama keluarganya non?"


"Iya. Oh iya, nanti kalau mommy dan daddy sudah sampai, siapkan makan siangnya."


"Non Erin mau kemana?"


"Jalan-jalan sebentar di taman depan sana. Bosan mbok di rumah terus."


"Kalau den Ardi nyariin gimana?"


"Dia lagi tidur. Saya cuma sebentar kok."


Tak lama, Erina sudah berjalan menyusuri taman yang ada di perumahan mereka. Sinar mentari ditambah dinginnya udara pagi ini terasa menyegarkan. Erina berjalan sambil menggerak-gerakkan tangannya.


"Erina!" terdengar suara memanggil. Erina menoleh ke arah suara. Tampaklah Arkam berjalan menghampirinya.


"Hai Rin, apa kabar?"


"Baik. Kakak apa kabar?" Arkam hanya mengangkat bahu.


"Kamu sendirian?" tanya Arkam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Iya. Kak Arkam sendirian? Oh iya, bagaimana kabar ummi dan abi?"


"Banyak banget pertanyaannya, Rin." Arkam tertawa mendengar pertanyaan Erina.

__ADS_1


"Maklum lama nggak ketemu, kak."


"Kamu sedang hamil?" Arkam memperhatikan perut Erina.


"Iya kak. Hamil kedua."


"Wah selamat ya."


"Oh iya kak, apa kabar kak Zafran? Sejak pernikahannya dengan Zulfa, Erin nggak pernah ketemu lagi."


"Kamu belum dengar?"


"Dengar apa kak?"


"Zafran dan Zulfa bercerai."


"Oh ya?! Kenapa bercerai? Bukankan dalam keluarga kalian, perceraian itu suatu hal yang sangat tabu?"


"Zafran nggak pernah bisa mencintai Zulfa. Apalagi setelah sekian tahun menikah, Zulfa tak kunjung hamil. Kalau ummi lihat kamu hamil, ummi pasti menyesal menolakmu menjadi menantu."


Arkam adalah saudara sepupu Zafran, mantan kekasih Erina. Sejak kecil dia tinggal bersama keluarga Zafran.


"Kasihan mereka harus bercerai. Ummi pasti sedih ya."


"Suami kamu siapa Rin?"


"Ardian."


"Ardian sahabat kamu? Bukan Daffa?" Erina mengangguk.


"Ya ampun, dunia kecil sekali ya. Pada akhirnya kamu menikahnya dengan dia. Zafran pasti sedih sekali."


"Kenapa begitu?"


"Kok aku yang menyebabkan mereka bertengkar?"


"Ya karena Zafran belum bisa melupakanmu dan Zulfa mengetahui hal itu."


"Bukan aku yang meninggalkan dia."


"Dia sangat kecewa saat kamu memilih Daffa sebagai calon suami. Entah apa komentarnya bila tahu kamu menikah dengan Ardian. Dia begitu terobsesi padamu."


"Kak, apakah kak Zafran sudah menikah lagi?"


"Belum. Dia masih mengharapkanmu."


"Tolong beritahu dia untuk melupakanku. Aku sudah menjadi milik orang lain. Dan aku mencintai suami dan anak-anakku."


"Semoga dia bisa mengerti dan mau mencoba melupakanmu. Kamu tahu Rin, setelah perceraiannya dengan Zulfa, ummi berkali-kali mencoba menjodohkan dia dengan wanita lain. Semuanya dia tolak. Bahkan dia memohon pada ummi untuk melamar dirimu."


"Itu sudah nggak mungkin kak. Lagipula saat dia memutuskan menikah dengan Zulfa, aku sudah membuang namanya dari hatiku."


"Selamat ya Rin untuk kebahagiaanmu. Jaga dirimu baik-baik." Arkam meninggalkan Erina.


Sepanjang perjalanan pulang, Erina tampak sibuk berpikir. Ia tak menyangka Zafran dan Zulfa akan berpisah. Iapun tak menyangka dirinya menjadi salah satu penyebab perpisahan mereka.


Memasuki rumah, Erina melihat Ardian duduk di ruang depan. Di hadapannya tampak segelas teh hangat daan segelas susu.


"Assalaamu'alaykum. "


"Wa'alaykumussalaam. Kamu dari mana?" tanya Ardian galak.

__ADS_1


"Biasa, jalan-jalan di taman."


"Kenapa nggak ajak aku?"


"Bagaimana aku mau ajak kamu kalau kamu aja lagi lemas begitu." tanya Erina sambil duduk di sebelah Ardian yang langsung memeluk dan bersandar manja. "Ada apa sih? Kok pagi-pagi sudah manja begini?"


"Jangan tinggalin aku."


"Siapa yang meninggalkan kamu. Yang ada juga kamu yang mungkin meninggalkanku untuk pengagum-pengagum kamu yang masih muda. Contohnya si Nat yang masih rajin nge-DM kamu."


"Aku hanya mencintaimu sayang. Ini bukti cintaku." Ardian mengelus-elus perut Erina.


"Kamu sudah sarapan? Tadi aku minta mbok Siti membuatkan bubur untukmu."


"Mau bubur Aceh."


"Bubur Aceh?"


"Tadi aku telpon mama dan minta dibuatkan bubur Aceh."


"Ya ampun, kamu mau makan jam berapa? Membuat bubur kan nggak sebentar sayang. Makan bubur buatan mbok Siti aja ya," bujuk Erina. Ardian menggeleng. Ia malah makin erat memeluk Erina.


"Aku cuma mau bubur Aceh. Titik."


"Ya ampun, yang hamil aku kenapa kamu yang ngidam begini sih."


"Yang, bobo yuk."


"By, kita belum lama bangun masa sudah mau bobo lagi? Pasti otak kamu mesum nih. Tau nggak apa yang mbok Siti bilang?" Ardian menggeleng.


"Kata mbok Siti, kamu masuk angin karena keseringan mandi subuh." Erina tertawa.


"Rin, kamu tahu nggak kalau kamu sangat cantik saat tertawa seperti tadi. Please, don't laugh like that in front of other man."


"Are you jeaulous?" Ardian mengangguk. "Kamu tahu nggak, sebenarnya aku nggak pernah menyesal karena merenggut kesucianmu dulu. Bahkan aku sangat bahagia karena kegadisanmu hanya untukku. Apalagi saat kudengar kamu hamil karena kelakuanku."


"Kamu jahat."


"Kamu menyesal menikah denganku? Kamu menyesal putus dengan Daffa?"


"Awalnya aku sangat membencimu, namun apa yang sudah kamu lakukan membuatku luluh. Aku mulai menyadari bahwa pria yang tepat untukku adalah kamu. Bukan Daffa, bukan Zafran atau Gustav. Aku saja yang bodoh tak menyadari hanya kamu yang selalu untukku. Pantas saja cewek-cewek itu marah sama aku."


"Ya, mereka selalu marah saat aku lebih memprioritaskan dirimu. Aku juga bodoh karena mencoba mencari wanita yang memiliki sifat yang berbeda denganmu. Ternyata wanita yang kucari dan kubutuhkan adalah kamu. Sungguh kita berdua bodoh ya."


Erina menatap wajah Ardian. Ia mengelus wajah suaminya lalu mengecupnya cepat.


"By, aku mau siap-siap dulu. Kamu sudah mandi kan? Hari ini sanggup ke kantor?"


"Mau aku temani mandi?" goda Ardian.


"Nggak usah aneh-aneh. Kamu istirahat aja di rumah. Oh iya sayang, aku dapat kabar kalau kak Zafran berpisah dengan istrinya."


"Lalu?" Ardian mengejar Erina yang masuk ke kamar. "Kamu mau kembali sama dia?"


"Mana ada pria yang mau dengan wanita hamil. Kamu ada-ada saja."


"Kamu lupa, dulu Daffa saja mau menikahimu walau dia tahu kamu hamil anak pria lain. Kamu nggak sadar ya kalau kamu memiliki pesona yang sangat kuat dan sulit dilupakan?" seru Ardian dari balik pintu kamar mandi.


"Tapi aku cuma cinta kamu sayang!" jawab Erina.


"Apa?!"

__ADS_1


"Aku hanya cinta pipi dari anak-anakku," ucap Erina dari balik pintu yang dibuka sedikit. "Jadi kamu nggak usah khawatir."


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2