TAKLUK

TAKLUK
IZINKAN AKU MENIKAHI DIA


__ADS_3

Pria muda itu menatap ponselnya tak percaya. Pesan yang baru saja diterimanya membuat perasaannya campur aduk. Kaget sekaligus bahagia. Ingin rasanya ia berteriak namun ditahannya karena saat ini ia sedang berada dalam sebuah meeting.


FLASHBACK ON


"APA KAMU BILANG?" tanya pria bule itu tak percaya.


"Saya ingin melamar Erina, om." Kali ini Ardian memanggil Andrew dengan sebutan om, bukan uncle. Hal ini menunjukkan keseriusannya.


"Kamu sudah gila?" tanya Andrew tak percaya lalu ia menoleh ke arah Arga dan Amel. Ia baru tiga hari kembali ke Indonesia ketika Arga menghubunginya dan mengajak bertemu.


"Saya tidak gila. Saya serius ingin menikahi Erina."


"Di, kamu tahu kan kalau Erina sudah bertunangan? Bahkan kamu mengenal tunangannya," ucap Yuna tak percaya. "Kenapa baru sekarang kamu ingin melamar dia?"


"Karena Ardi hanyalah orang bodoh yang telah melakukan kesalahan besar terhadap Erin. Kedatangan Ardi kesini untuk melamar sekaligus meminta maaf pada kalian."


"Apa maksudmu?" tanya Yuna dan Andrew bersamaan. "Sebenarnya apa yang telah terjadi pada kalian?"


"What do you mean?" tanya Andrew pada Yuna.


"Erina menolak pulang bahkan secara khusus ia menolak bertemu dengan Daffa dan Ardian. Entah apa penyebabnya," jawab Yuna. "Erina saat ini pergi untuk menghindari mereka berdua."


"Oh my god, what happened?"


"Ardi yang salah om."


"What did you do to her?" tanya Andrew tak sabar. "Did you hurt her?"


Tiba-tiba Ardian menjatuhkan diri ke lantai dan bersimpuh di hadapan Yuna dan Andrew. Sementara itu Arga hanya memperhatikan itu semua tanpa ada niatan ikut campur.


"Mister Arga, what really happened to them? Do you know about this?"


"I knew. But I won't interfere in this. He's already grown up and he has to take responsible for everything he did."


"What does it mean?" Andrew terlihat bingung sekaligus waspada.


"Ardian, kamu kenapa sampai bersimpuh begitu?" tanya Yuna heran.


"Karena Ardi telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup." Ardian menunduk dalam-dalam, mengambil nafas lalu mulai menceritakan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Erina.

__ADS_1


Suasana mendadak hening saat Ardian selesai menceritakan semuanya. Tapi itu tak lama. Andrew menarik Ardian untuk berdiri lalu menghajarnya tanpa ampun. Sementara itu Yuna hanya mampu menangis. Arga hanya mampu tertunduk melihat anaknya dipukuli oleh Andrew tanpa berniat membantu.


Setelah puas memukuli Ardian, Andrew terduduk di kursi. Sementara itu Ardian yang tak melawan ataupun bertahan tersungkur di lantai. Darah mengalir dari bibir dan hidungnya. Pukulan Andrew tidak main-main. Sebagai orang yang rajin melakukan latihan boxing, pukulan Andrew tak kalah dengan petinju profesional.


Andrew menarik Yuna ke dalam pelukannya. Ia berusaha menahan air mata yang mendesak ingin keluar, namun gagal. Air mata kesedihan dan kemarahan menjadi satu.


"Kenapa kamu tega melakukan itu kepada Erin?" tanya Yuna diantara isakannya.


"Maafkan Ardi."


"Mister Andrew, saya minta maaf atas perbuatan Ardian. Saya telah gagal mendidik dia dengan baik. Saya disini mengantar Ardian untuk melamar anak anda, Erina."


"Mister Arga dan kamu Ardian, silakan tinggalkan rumah kami." perintah Andrew. Lalu ia meninggalkan mereka.


"Kalian telah mendengar ucapan suami saya. Silakan pak Arga bawa Ardian pulang. Kami butuh waktu mencerna semua ini dan mengambil keputusan terbaik."


FLASHBACK OFF


⭐⭐⭐⭐


"Elo serius?"


"Bang, infonya valid kan?"


"Valid banget. Gregory sendiri yang menyampaikan info ini."


"Bang, tolong kasih tahu gue dimana keberadaan Erin," mohon Ardian.


"Dia belum mau ketemu siapa-siapa, Di. Bahkan dia melarang uncle Andrew dan aunty Yuna mengunjunginya," jelas Alexia. "Selama inipun gue hanya bisa video call an sama dia."


"Please Lex, gue mau ketemu dia. Gue harus meyakinkan dia untuk menikah dengan gue. Apalagi sekarang ada anak gue di dalam perutnya."


"Memangnya orang tua Erin sudah setuju, kamu menikah dengan anaknya?" tanya Raymond.


"Gue akan terus membujuk mereka untuk menerima. Apalagi saat ini Erin mengandung anak gue."


"Kenapa elo nggak menyerah saja? Erin jelas-jelas membenci elo. Orang tuanya juga belum bisa menerima."


"Gue nggak akan menyerah dan akan terus memohon mereka menerima gue sebagai calon menantu."

__ADS_1


"Elo mau melakukan apa lagi? Elo sudah berhari-hari mendatangi rumah mereka. Bahkan elo sampai berjam-jam bersimpuh di hadapan mereka."


"Kalau mereka tahu Erin mengandung anak gue, pasti mereka akan mengijinkan gue menikahi Erin."


"Kalau kamu memang yakin, sebaiknya kamu bicarakan dengan orang tuamu. Minta mereka untuk mendukung keputusanmu," usul Raymond.


"Gue yakin bang, kalau orang tua gue pasti akan mendukung keputusan ini. Walau mereka kecewa dengan perbuatan gue, tapi mereka nggak akan menolak darah daging mereka."


"Saya akan tolong kamu. Saya akan menemanimu menemui mister Andrew. Kebetulan saya juga mengenal beliau. Minimal kamu nggak akan dihajar seperti waktu itu," ucap Raymond sambil nyengir.


"Gue juga akan ikut menemani elo. Biar bagaimana, kalian berdua adalah sahabat gue." Alexia ikut mendukung.


"Thank bang. Thanks Lex. Kalau gue berhasil menikahi Erin, gue nggak akan melupakan pertolongan kalian."


"Awas aja ya kalau elo sampai menyakiti Erin. Gue orang pertama yang bakal ngebunuh elo!" Ancam Alexia.


"Sabar sayang. Aku yakin Ardian nggak akan menyakiti Erin." Raymond berusaha menenangkan Alexia.


⭐⭐⭐⭐


Suasana di ruang tamu hening. Tak satupun yang membuka suara. Andrew dan Yuna duduk berdampingan. Andrew memeluk tubuh istrinya. Raymond dan Alexia duduk di hadapan mereka. Demikian pula Arga dan Amel juga berada di ruangan itu. Sementara itu Ardian duduk bersimpuh di lantai.


"Tolong, ijinkan Ardi menikahi Erin. Ijinkan Ardi bertanggung jawab atas hidup Erin dan anak kami. Ardi berjanji takkan pernah menyakiti mereka. Ardi mencintai mereka, terutama Erina. Ada atau tidak adanya bayi dalam perut Erin, Ardi akan selalu mencintai Erin."


"Mister Andrew, saya rasa tak ada gunanya lagi kita menentang pernikahan mereka. Apalagi saat ini di dalam perut Erin ada cucu kita. Alangkah baiknya bila Ardian sebagai calon ayah , ikut menjaga dan mendampingi Erin."


Andrew tak banyak bicara. Sebenarnya sejak beberapa hari sebelumnya ia dan Yuna memang akan mengijinkan Ardian menikahi Erina. Namun, mereka sendiri belum berani mengiyakan karena mereka tak tahu bagaimana pendapat Erina. Apalagi bila melihat kesungguhan Ardian membujuk mereka selama berhari-hari. Dia tak menyerah walaupun berkali-kali diusir.


"Kami harus membicarakan hal ini dengan Erin. Karena Erin sendiri belum memberitahu kami mengenai kehamilannya," jawab Andrew setelah terdiam beberapa saat.


"Ya tuhan, bagaimana Erin menghadapi ini sendirian disana?" Yuna sesenggukan mengingat Erina yang hanya sendirian disana. "Raymond, bisakah kamu mengantar kami ke tempat Erin?"


"Baik tante, untuk kali ini saya akan melanggar janji saya pada Erin. Kami akan mengantar kalian menemui Erin."


"Bang, gue ikut."


"Jangan Di. Kamu tunggu saja disini. Kalau perlu kamu persiapkan diri kamu sebaik-baiknya untuk menghadapi Erin dan untuk pernikahan kalian bila memang Erin luluh," tegas Andrew. " Biarkan kami yang bertemu dan bicara dengan Erin."


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2