
"Bagaimana film tadi?" tanya Daffa setelah mereka duduk berhadapan di sebuah restauran mungil namun nyaman
"Lumayan seru. Bahkan beberapa kali gue hampir berteriak karena kaget." Daffa tertawa mendengar jawaban Erina.
"Kupikir kamu pemberani. Kusangka cewek tomboy kayak kamu nggak mudah kaget."
"Gini-gini gue masih cewek biasa dan nggak setiap saat bersikap tough."
"Oh ya? Sejak SMA dulu di mataku kamu adalah wanita yang tough. Itu sebabnya aku nggak berani dekat-dekat sama kamu."
"Ya mana mungkin elo mau dekat-dekat gue. Elo kan punya pacar. Apalagi satu sekolah juga tau gimana sejarah gue dan Ardian pertama kali bertemu." Daffa tergelak mengingat hal tersebut.
"Aku masih ingat kejadian itu. Sampai kita lulus, hal tersebut menjadi salah satu cerita epic di sekolah kita. Bahkan saat reunian kemarin mereka masih membahas hal tersebut."
"Brutal ya?"
"Brutal namun menarik." Daffa menatap dalam mata Erina selama beberapa saat sehingga membuat Erina salah tingkah.
"Ah, mana ada brutal dan menarik. Orang-orang pasti takut melihat kebrutalanku saat itu." Daffa hanya tersenyum.
"Rin, kenapa kamu mau kencan denganku?"
"Elo sudah tau alasannya."
"Cuma itu?" Erina terlihat ragu.
"Elo berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Sudah ah, ngapain sih membahas itu terus. Yang pasti gue mau menikah sama elo," jawab Erina lugas. "Bagaimana dengan elo? Kenapa mau kencan sama gue?"
"Penasaran." Erina menaikkan sebelah alisnya mendengar jawaban Daffa.
"Penasaran bagaimana?"
"Entahlah. Saat kemarin kamu 'melamarku', aku jadi penasaran. Aku jadi ingin tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Apakah kamu benar-benar tough ataukah ada sosok lembut dibalik penampilanmu yang tomboy."
"I am who I am." Erina memanggil pelayan untuk memesan.
"Mas, apa wine yang paling enak?"
"Rin, bisakah malam ini kamu nggak minum?" tanya Daffa pelan. Pelayan yang berdiri di samping meja mereka terlihat bingung.
"Kenapa? Kamu termasuk dalam jajaran cowok yang nggak mau jalan dengan cewek peminum?" tanya Erina tajam.
__ADS_1
"Mas, saya pesan makanannya ini, ini dan ini. Minumnya cola dan orange juice. Terima kasih."
"Kalau elo seperti itu berarti penilaian awal gue salah," Mood Erina mulai berubah.
"Rin, aku nggak peduli seandainya seorang wanita minum alkohol, walau aku sendiri tidak mengkonsumsinya. Tapi aku ingin kita ngobrol dalam keadaan sadar tidak di bawah pengaruh alkohol," jawab Daffa hati-hati. Sedikit banyak Daffa mendapat info dari Ardian dan kedua orang tua Erina, mengenai sifat gadis cantik yang duduk di hadapannya.
"Minum segelas wine nggak akan membuat gue mabuk."
"I know. Tapi aku nggak mau calon istriku sakit karena terlalu banyak mengkonsumsi alkohol. Lagipula bukannya kamu mau berhenti minum?"
"Apa elo bilang? Calon istri? Elo lucu. Jelas-jelas elo belum menerima lamaran gue. Bagaimana semudah itu elo menyebut gue sebagai calon istri."
Daffa terkekeh mendengar ucapan Erina. Mereka memang baru dua kali bertemu lagi, namun entah mengapa ada sesuatu pada diri gadis ini yang menarik perhatiannya.
"Kencan ini merupakan sebuah awal yang baik untuk kita. Dari kencan ini aku juga ingin mengenalmu lebih jauh. Bukan hanya berdasarkan apa yang terlihat dari luar. Aku yakin dibalik penampilanmu yang tomboy dan terkesan brutal ini, pasti ada gadis dengan hati baik dan lembut."
"Apakah elo mau merubah diri gue?" tanya Erina curiga. Suatu hal yang sangat ia tak suka.
"No, aku nggak akan merubah dirimu kalau kamu memang nggak mau berubah. Tapi kalau kamu sedikit saja memiliki kemauan untuk berubah menjadi lebih baik, aku akan siap membantumu."
Oh my god, he's so different from others, batin Erina. Selama ini pria-pria yang dekat dengannya hanya menuntut dirinya harus berubah lebih baik tanpa bersedia mendampingi menjalani prosesnya.
"Gue heran kenapa Britt memilih putus sama elo. Padahal gue yakin elo akan bisa menjadi suami dan pemimpin keluarga yang baik."
"Keyakinan kami berbeda. Dan aku nggak mau dia merubah keyakinannya karena diriku bukan karena keinginannya sendiri."
"Hei, ngapain senyum-senyum sendiri? Lagi mengagumi pemikiranku ya? Atau lagi bertanya sama tuhan kenapa tidak sejak awal kita dipertemukan."
"How do you know? I didn't say anything."
"Ekspresi wajahmu mengatakan semuanya, Rin."
"Really? Para mantan gue selalu bilang kalau gue ini susah dimengerti, egois, brutal."
"Itu karena mereka tidak berusaha mengenal dirimu dengan baik. Mereka hanya menginginkan kekasih yang cantik dan penurut yang siap mendampingi. Bukan sebagai partner hidup."
"Wow, baru beberapa jam kita bersama elo selalu berhasil membuat gue speechless dengan pemikiran-pemikiran lo," puji Erina.
"Jangan memujiku berlebihan karena kalau kenyataan tidak sesuai dengan pujian hanya akan menyebabkan kekecewaan. Aku hanya mengucapkan apa yang terlintas dalam pikiranku dan kurasa tidak bertentangan dengan norma hidup yang kuyakini."
He is so amazing. Mungkin memang ini rencana tuhan untukku, pikir Erina.
"Berarti pilihan gue nggak salah. Gue rasa elo memang orang yang tepat," ucap Erina sambil menyesap air mineral yang ada di hadapannya.
"Kamu serius mau menikah denganku?" tanya Daffa. "Walaupun kita belum saling mencinta?"
__ADS_1
"Cinta? Saat ini gue sudah nggak berani berharap pada cinta. Karena orang-orang yang gue cintai selalu meninggalkan diri gue. Bahkan gue ragu mereka apakah benar-benar mencintai gue."
"Lalu apa yang membuatmu berani memintaku menikah denganmu?"
"Entahlah. Mungkin saat itu gue bersikap impulsif hanya karena ada satu hal yang membuat elo berbeda. Tapi setelah berbincang banyak, gue seperti tersadarkan bahwa mungkin elo cowok yang tepat buat mendampingi hidup gue."
"Bagaimana kalau seandainya setelah beberapa kali berkencan, tapi aku belum bisa membuka hatiku?"
"Ya sudah, kita jalani saja pernikahan tanpa cinta. Kita nggak perlu memaksakan diri untuk saling mencintai. Yang penting kita menemukan kenyamanan. Menurut gue lebih mudah membuat orang lain merasa nyaman daripada membuat orang tersebut mencintai kita."
"Apakah sedemikian dalam luka yang telah mereka torehkan di hatimu sehingga kamu tidak lagi bisa mencintai?"
"Gue nggak bilang nggak akan bisa mencintai lagi, tapi gue lelah mengusahakan orang lain mencintai diri gue." Kali ini perasaan Daffa yang campur aduk antara kagum dan kasihan.
"Nggak usah mengasihani gue. Nggak ada yang menjamin kita tidak akan saling mencintai pada akhirnya. Bisa saja pulang dari sini gue atau elo baru menyadari adanya rasa cinta. Atau bisa juga setelah bertahun-tahun bersama rasa cinta itu tak pernah muncul namun justru rasa nyaman dan saling membutuhkan itu yang akan lebih kuat bersemayam di hati kita."
"Aku nggak nyangka seorang Erina Aurelia Smith bisa memiliki pemikiran sehebat itu. Sementara gadis-gadis lain mungkin memohon untuk dicintai oleh pasangannya," puji Daffa.
"Gue nggak sehebat yang elo kira Daf. Gue cuma wanita biasa dengan banyak kekurangan," ucap Erina sambil tersenyum tipis.
"Aku jadi semakin penasaran, hal hebat apalagi yang akan kuketahui saat kencan kita berikutnya."
"Jangan menaruh harapan terlalu tinggi, kalau nggak mau kesakitan saat jatuh."
"Aku pun nggak terlalu berharap atau lebih tepatnya tidak mau menaruh harapan dengan kencan kita yang berikutnya."
"Thanks Daf, sudah mau menjadi pendengar yang baik. Selama ini teman cowok yang sering menjadi tempat curhat hanya Ardian."
"Rin, apakah ada sesuatu di antara kalian?" tanya Daffa hati-hati.
"Gue dan Ardian? Di antara kami tak ada percikan chemistry atau body attraction," jawab Erina. "Elo khawatir?"
"Aku perlu menanyakan hal ini karena aku nggak mau disangka perebut kekasih orang lain."
"How thoughtful of you. Gue dan Ardian hanya berteman. Bahkan mungkin dia cuma menganggapku seorang adik."
"Thanks for your compliment. Jujur malam ini aku merasa sangat bahagia bisa mengenal dirimu lebih jauh. Padahal dulu aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Kini ....." Tiba-tiba terdengar sebuah pengumuman melalui speaker yang berada di restaurant sehingga Daffa tak jadi melanjutkan ucapannya.
"Apakah ini artinya gue boleh memperkenalkan elo sebagai calon suami kepada eyang Fatma?"
"Kalau itu bisa membuat beban pikiranmu menjadi lebih ringan, aku akan sangat senang membantumu. Tentunya dengan syarat."
"Syarat apa?" tanya Erina bingung. "Elo nggak akan meminta ciuman dari gue kan? Gue memang duluan ngajak elo menikah, tapi gue juga bukan cewek gampangan yang mau dicium oleh cowok pada kencan pertama."
"Bukan itu syaratnya, Rin. Walau aku nggak akan menolak kalau kamu memang mau dicium." Daffa terkekeh melihat raut wajah Erina yang kebingungan. "Syaratnya adalah, weekend depan kamu ikut aku berlibur ke villa. Bagaimana?"
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐