
Sementara itu di coffee shop tampak Gustav dan Starla terbengong-bengong mendengar cerita Ardian. Mereka tak tahu harus berkomentar apa. Mereka tak percaya Ardian berani melakukan hal nekat seperti itu.
"Semalam elo mabuk?" tanya Gustav penasaran.
"Nggak. Kalau gue mabuk nggak mungkin gue bisa bawa mobil sampai apartemen ini," jawab Ardian.
"Elo sadar melakukan hal itu?" Kali ini Starla yang bertanya. Ardian mengangguk.
"Elo pakai pengaman kan?" tanya Gustav. Kali ini Ardian menggeleng.
"Ya tuhaaaan... Elo itu baj****n tapi go***k! Pintar sedikitlah kalau elo mau melakukan hal itu!" ejek Starla. "Gimana kalau dia hamil? Elo tau kan kalau dia sebentar lagi mau nikah sama Daffa. Kalau dia sampai hamil nggak mungkin dia bisa nikah sama Daffa. Mana mungkin Daffa mau menikahi cewek yang sudah pernah dipakai sama cowok lain."
"Wait... elo melakukan itu bukan karena mau menggagalkan pernikahan Erin kan?" tanya Gustav tak percaya.
"Apa maksudmu sayang?" tanya Starla bingung. "Kenapa Ardian mau menggagalkan pernikahan Erin?"
"Dia baru sadar kalau dia cinta sama Erin." Ardian menoleh gusar karena mulut ember Gustav. Starla tergelak mendengarnya.
"Ya ampun Di... elo tuh memang beneran g****k ya. Semua orang juga bisa menebak hal itu," ucap Starla sambil tertawa.
"Kok kamu tau sayang?" tanya Gustav heran.
"Dasar, kalian ini para lelaki memang nggak peka ya! Apakah kalian akan melakukan sesuatu tanpa pikir panjang kalau bukan untuk orang yang kalian cintai?"
"Maksudnya?" Gustav kembali bertanya.
"Kamu masih ingat nggak gimana dulu papa menentang hubungan kita karena kita masih ada hubungan saudara tapi kamu rela dimaki-maki oleh papa? Apakah kamu lupa dulu pernah pasang badan karena opa mau memukulku? Apa alasanmu melakukan hal itu?" Starla bertanya balik.
"Karena aku mencintaimu."
"Nah, itu dia! Karena cinta. Apakah kamu akan melakukan itu semua kalau kamu nggak mencintaiku? Aku yakin kamu nggak akan sampai pasang badan buat aku kalau bukan karena cinta. Apakah kamu lupa bagaimana kamu rela dihajar oleh Erina saat dia mengetahui hubungan kita?" Gustav mengangguk mengerti maksud Starla.
"Gue memang g****k. Tapi tadi malam gue melakukan itu bukan karena berniat menggagalkan pernikahan mereka. Hubungan mereka malam itu sudah kandas sebelum gue melakukan itu."
__ADS_1
"Maksud lo?"
"Erina sepertinya sudah mengetahui rahasia masa lalu Daffa. Dan gue yakin dia nggak bisa menerima hal itu atau dia nggak terima karena sudah dibohongi oleh Daffa," jelas Ardian tanpa menjelaskan lebih detail penyebab putusnya pertunangan Erina dan Daffa.
"Lalu sekarang apa yang akan lo lakukan?" tanya Starla.
"Gue bakal melamar dia. Gue akan menemui uncle Andrew dan mengatakan semuanya dengan jujur."
"Elo yakin?" Gustav terlihat khawatir. "Erin anak uncle Andrew satu-satunya. Lo tau sendiri gimana sayang mereka pada Erin."
"Lalu bagaimana kalau Daffa mengetahui hal ini? Gue yakin dia bakal menghajar atau bahkan membunuh lo." tanya Starla.
"Entahlah. Gue nggak memikirkan hal itu. Yang ada dalam pikiran gue saat ini adalah bagaimana caranya gue meyakinkan Erina untuk menerima pertanggungjawaban gue."
"Maksudnya... elo mau menikahi dia?" Ardian mengangguk mantap. Tak terlihat keraguan sedikitpun. Bahkan pandangannya tampak bertekad.
"Tapi... apa elo nggak takut dihajar dia?" tanya Starla. "Bahkan mungkin saja dia bakal memenjarakan elo."
Gustav dan Starla saling pandang. Mereka dapat mengerti ketakutan Ardian. Dulu saat Erina hampir meninggal, Ardian benar-benar kalut. Semalaman Ardian tak beranjak dari sisi Erina. Ia setia menemani Erina hingga gadis itu sadar. Ardian juga yang rajin mendampingi dan menyemangati Erina saat harus menjalani terapi dengan psikiater.
Semua orang yang mengetahui hal itu bisa melihat ketulusan perasaan Ardian, walau mereka belum berani bertanya atau memastikan bagaimana perasaan Ardian yang sesungguhnya kepada Erina. Bahkan Gustav pernah mendengar mamanya dan Arga membahas kemungkinan menjodohkan Ardian dengan Erina. Namun saat itu Ardian selalu menggadang-gadang persahabatannya dengan Erina. Tak lebih. Mungkin hal itulah yang membuat hubungan mereka lebih langgeng daripada hubungan romantis antara pria dan wanita.
⭐⭐⭐⭐
Erina memandang lautan yang terbentang luas di hadapannya. Matahari yang belum lama terbit memunculkan semburat kemerahan di langit . Pekikan burung-burung camar yang beterbangan serta deburan ombak seakan menjadi musik yang menenangkan jiwanya. Sudah seminggu ini Erina beristirahat di cottage miliki kolega Raymond. Tempat yang cukup privat di salah satu pulau kecil di wilayah timur.
FLASHBACK ON
"Lex, lo bisa tolong gue?" tanya Erina tanpa basa basi melalui ponsel kepada Alexia.
"Rin, ada apa malam-malam elo telpon gue?" tanya Alexia dengan suara mengantuk. Ia melihat jam di ponselnya, jam 1 dini hari.
"Siapa sayang?" Terdengar suara pria. Erina mengenali itu suara Raymond.
__ADS_1
"Erin." Alexia menjawab pertanyaan pria itu. "Aku keluar kamar sebentar ya. Kamu tidur saja, beb."
"Elo baik-baik saja kan, Rin?" tanya Alexia. Dari nada suara Erina, ia bisa tahu kalau sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. Entah apa yang telah terjadi.
"Lex, gue butuh bantuan lo."
"Gue pasti bantu elo kalau memang bisa. Tapi ada apa? Elo bertengkar dengan Daffa? Itu hal biasa kalau semakin dekat dengan hari pernikahan. Hmm.. tapi pernikahan kalian kan masih enam bulan lagi."
"Lex, tolong jangan tanya ini itu dulu. Gue mau minta tolong elo untuk cariin tempat dimana gue bisa beristirahat dan berpikir dengan tenang tanpa diganggu siapapun."
"Elo mau kabur?" Kali ini Alexia benar-benar terjaga setelah mendengar permintaan Erina.
"Please Lex, cariin gue tempat. Nanti gue akan cerita kalau saatnya sudah tepat. Saat ini gue belum bisa cerita. Gue hanya ingin segera meninggalkan kota ini dan pergi ke tempat yang nggak banyak orang tahu." Erina tetap tak menjawab keingintahuan Alexia. "Bahkan kalau perlu hanya elo yang tahu tempat itu."
Setelah mendengar ucapan Erina dan dari nada bicaranya, Alexia tahu bahwa tak ada gunanya mendesak Erina untuk bercerita. Mereka telah bersahabat selama bertahun-tahun. Alexia tahu telah terjadi sesuatu walaupun ia sendiri tak yakin apa itu. Ia pun tahu bila Erina terus didesak maka gadis itu akan menghindar darinya. Ah, lebih baik kuturuti dulu apa keinginannya, pikir Alexia.
"Rin, gue akan cariin tempat itu. Nanti gue akan tanya Raymond apakah dia tahu tempat seperti yang lo inginkan. Apakah ini mendesak banget?"
"Maaf Lex, gue harus segera meninggalkan kota ini. Semakin lama gue disini, gue bisa gila. Please kabarin gue secepat mungkin."
"Oke, oke... gue akan tanya sama Raymond, tapi mungkin besok pagi gue baru bisa kasih kabar ke elo. Raymond baru saja tidur. Gue nggak enak membangunkan dia. Kebetulan dia sedang kurang enak badan."
"Oke. Gue harap besok pagi elo sudah bisa kasih info ke gue. Thanks ya Lex"
Setelah Erina menutup telpon, Alexia hanya mampu menatap ponselnya tak mengerti. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apakah Erin bertengkar hebat dengan calon suaminya? Apakah Daffa selingkuh sebelum pernikahan mereka?
FLASHBACK OFF
Dan disinilah Erina berada. Duduk di teras cottage ditemani secangkir kopi hangat. Setelah beberapa hari berada di tempat ini, perlahan pikiran Erina lebih tenang. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk Yuna. Memberi kabar mengenai keadaannya pagi ini. Yuna maupun Andrew tak banyak bertanya dimana ia berada saat ini. Mereka mengerti keinginannya untuk tidak diganggu. Yang terpenting untuk mereka adalah Erina mengirim pesan setiap hari agar mereka tahu Erina tidak berbuat nekat. Dengan kata lain mereka tahu Erina masih hidup.
Erina telah mengganti nomor ponselnya. Hanya keluarganya dan Alexia yang mengetahui nomornya yang baru. Bahkan Rainapun tidak ia beritahu mengenai nomornya yang baru. Ia saat mengenal sifat Raina yang mudah terbujuk untuk memberitahukan nomor barunya pada Ardian maupun Daffa. Sedangkan ia saat ini benar-benar tak ingin berhubungan dua makhluk itu. Ia benar-benar tak ingin keduanya muncul kembali dalam kehidupannya.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1