
"I miss you so much."
⭐⭐⭐⭐
Mata Erina membulat mendengar ucapan Daffa. Suatu hal yang tak disangka. Selama ini mereka tak saling menelpon atau bertukar pesan. Itu sebabnya Erina berpikir Daffa tak ingin melanjutkan hubungan mereka.
"Nggak usah bercanda."
"Apakah aku terlihat sedang bercanda?" Daffa bertanya balik dengan wajah serius. "Kalau aku bercanda apa mungkin dari bandara aku langsung kemari?"
"Nggak mungkinlah kamu kangen sama aku."
"Kenapa nggak mungkin?"
"Kita tak ada hubungan apapun. Aku bukan kekasihmu."
"Memang bukan. Kamu adalah calon istriku. Kata siapa kita nggak ada hubungan apapun? Apa perlu aku dan orang tuaku malam ini ke rumahmu untuk melamar secara resmi?"
"Melamar? Aku tidak minta kamu melamarku. Malah kupikir kamu sudah tidak berminat melanjutkan rencana kita."
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Setelah acara di vila kamu nggak pernah menelponku selain memberi tahu kamu ada perjalanan dinas."
"Jadi kamu menunggu telpon dariku?" tanya Daffa sambil memamerkan smirknya.
"Nggak."
"Kenapa bukan kamu yang menghubungiku lebih dulu?" Erina terdiam. "Gengsi?"
"Nggak juga, lebih tepatnya sadar diri. Bukan nggak mungkin kan keluargamu nggak menyetujui hubungan kita setelah pertemuan itu." Erina melepaskan diri dari pelukan Daffa. Kali ini Daffa melepaskannya. Terlihat ia seperti memikirkan sesuatu.
"Benar kan?" tanya Erina lagi.
Daffa memandang Erina dengan tatapan yang sulit dimengerti. Hati Erina sakit menyadari hal tersebut. Tebakanku benar, batinnya.
"Kalau seandainya benar, apakah itu artinya kamu tidak ingin melanjutkan hubungan kita?" tanya Daffa sambil menjatuhkan dirinya di sofa yang ada di ruangan tersebut . Wajahnya terlihat lelah. Berbeda dengan saat pertama datang tadi.
"Kalau memang tidak memungkinkan untuk apa dilanjutkan?" Erina kembali ke kursinya.
"Bagaimana kalau aku nggak mau mundur?"
"Daf, kamu tau kan apa penyebab hubunganku dengan Zafran berantakan? Apa bedanya dengan keluargamu? Mungkin pada akhirnya aku memang harus menghabiskan hidupku seorang diri, tanpa pasangan. Dengan demikian kecil kemungkinan hatiku disakiti."
Daffa terdiam mendengar ucapan Erina.
FLASHBACK ON
"Bun, bagaimana pendapat bunda?" tanya Daffa kepada Mira yang sedang asyik merangkai bunga.
__ADS_1
"Tentang apa?"
"Erina."
"Cantik," jawab Mira pendek tanpa menghentikan pekerjaannya. Daffa langsung waspada. Ia hafal sekali kalau bundanya sudah menjawab pendek-pendek seperti itu artinya ada sesuatu yang tidak beres.
"Cuma itu?" Mira mengangguk.
"Berarti bunda merestui hubungan kami?" tanya Daffa lagi. Kali ini Mira menghentikan pekerjaannya. Ditatapnya putra satu-satunya.
"Mas, kamu serius ingin menikahi dia?" Daffa mengangguk. "Apa yang membuatmu ingin menikah dengannya? Kamu pernah bilang kalian tidak saling mencintai. Apakah pernikahan seperti itu yang kamu inginkan?'
"Bun, kita sudah pernah membahas hal ini. Kalau ditanya mengapa akupun nggak tahu jawabannya. Hanya saja hati kecilku merasa yakin dan pastinya aku merasa nyaman saat bersamanya. Masalah cinta, mas yakin rasa itu akan datang."
Mira menghela nafas mendengar jawaban Daffa.
"Bun, sebenarnya apa yang terjadi? Saat di vila bunda menyambut hangat kehadiran Erina. Bahkan bunda pernah bilang nggak akan keberatan siapapun yang nantinya akan menjadi istriku selama aku nyaman bersamanya."
"Bunda akui, Erina cantik, sopan dan terlihat baik."
"Bukan hanya terlihat baik bun, tapi memang benar-benar baik. Bahkan Daffa yakin dia akan bisa menjadi ibu yang baik dari anak-anak kami nanti."
"Kamu benar tentang hal itu. Bahkan bunda pada awalnya memiliki keyakinan tentang hal itu."
"Lalu kenapa bunda sekarang berubah pikiran?" Daffa teringat percakapannya dengan Erina saat di vila. Perkiraan Erina benar.
"Bunda mendengar berita kalau Erina suka minum dan merokok. Bahkan bunda sempat melihat tatoo yang berada di pergelangan kakinya. Apakah wanita seperti itu yang kamu harapkan akan menjadi ibu yang baik?"
"Mas, bunda harap kamu pikirkan lagi baik-baik semua ini sebelum mengambil keputusan menikahi dia."
"Erin sudah aware mengenai hal ini. Dia pernah mengutarakan kecemasannya, saat di vila."
"Berarti Erina bisa menerima kalau kalian tidak jadi menikah?"
"Daffa yakin Erina tidak keberatan bila hubungan ini tidak jadi dilanjutkan."
"Kalau begitu tidak ada masalah."
"Entahlah bun. Daffa perlu berpikir ulang. Daffa belum bisa mengambil keputusan apapun."
"Berhenti menemui dia sebelum perasaanmu semakin berkembang," saran Mira. Daffa diam tak menjawab perkataan Mira.
FLASHBACK OFF
"Sebaiknya kamu pulang."
"Rin, jangan suruh aku mundur."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Perkiraanmu saat di vila benar. Bunda berubah pikiran."
"Berarti tidak ada masalah bila kita akhiri hubungan ini sebelum kita semakin nyaman," usul Erina enteng, walau sebenarnya ada nyeri di sudut hatinya.
"Seandainya semudah itu."
"Apa susahnya? Kita baru menjalani hubungan ini, bahkan belum sampai dua bulan. Di antara kita belum ada komitmen apapun. Tak pernah ada kata cinta selain rencana absurd yang kita bikin. Rencana menikah tanpa dasar cinta, tanpa alasan jelas"
"Itu nggak absurd, Rin. Itu nyata."
"Sebuah kenyataan yang mustahil bisa kita wujudkan."
"Kenapa tak bisa? Kamu tahu kenapa aku nggak pernah menghubungimu selama aku di Aussie?"
"Karena kamu mau mengakhiri hubungan ini," tebak Erina. Ia mempersiapkan diri mendengar jawaban terburuk dari mulut Daffa.
"Itu yang ada dalam pikiranmu?" Erina mengangguk.
"Kamu salah. Aku tak ingin mengakhiri hubungan ini. Selama seminggu ini aku menganalisa diriku sendiri. Apakah yang kurasakan semata karena kita cukup intens bertemu dan berkirim pesan. Bagaimana perasaanku bila kita tak bertemu ataupun berkomunikasi."
"Apa hasilnya?" Erina tak berani menebak jawaban Daffa. Ia sudah menyiapkan dirinya bila memang Daffa memutuskan tidak melanjutkan rencana mereka.
"Seperti yang tadi kukatakan padamu. Hatiku sakit karena terlalu merindukanmu. Hatiku pedih bila membayangkan harus kehilangan dirimu. Bahkan saat aku berpisah dengan Brit sakitnya tak seperti saat ini." Kening Erina berkerut mendengar ucapan Daffa.
"Aku mengetes diriku sendiri saat perjalanan dinas kemarin. Hasilnya aku kalah telak. Semakin aku berusaha menghilangkan bayanganmu dari kepalaku, semakin aku tersiksa. Aku nggak sanggup kalau harus mengakhiri hubungan ini. Please jangan suruh aku mundur."
"Daf..."
"Dengarkan aku dulu, Rin. Aku nggak bisa menjanjikan perjalanan hubungan kita akan mulus seperti jalan tol. Bukan tak mungkin hubungan kita akan seperti roller coaster yang penuh dengan kejutan. Perjalanan kita akan seperti jalanan untuk offroad, penuh dengan benturan."
Mau tak mau Erina tergelak mendengar perkataan Daffa yang penuh dengan perumpamaan seperti itu. Daffa berdiri mendekati kursi Erina. Ditariknya Erina untuk berdiri berhadapan dengannya.
"Rin, tatap mataku dan katakan kalau kamu tidak menginginkan kehadiranku dalam hidupmu."
Erina menuruti permintaan Daffa. Alih-alih mengucapkan kalimat perpisahan, Erina malah mengecup singkat b**** Daffa.
"Rin.... "Daffa terlihat kaget sekaligus senang. "Apakah itu artinya...."
"Daf, terima kasih kamu mau mempertahankan hubungan absurd ini. Kuanggap ini sebagai tantangan. Dan seperti kamu tahu, aku senang menantang diriku sendiri. Dengan dukungan darimu aku ingin membuat keluargamu, terutama ibumu, takluk dalam pesona seorang Erina Aurelia Smith."
"Benarkah? Artinya mulai sekarang kita resmi menjalin hubungan? Kamu bersedia menyusuri jalanan yang kemungkinan besar tak mulus?"
"Perlu kamu tahu, aku penggemar offroad. Jalan bergelombang takkan kuhindari."
Daffa memeluk Erina dengan erat. Lalu ia mengecup ringan b**** gadis itu.
"Anggaplah ini sebagai peresmian hubungan kita."
"Kamu yakin sanggup menjalani ini bersamaku?" Erina masih tak yakin dengan keputusan Daffa. "Jangan mengeluh kalau nanti kamu tak bisa melepaskan diri dariku."
__ADS_1
"Sebelum kamu mengatakan hal itu, aku sudah tak bisa lepas darimu. Entah jampi-jampi apa yang kau rapalkan sehingga membuatku tak ingin lepas darimu." Daffa mencium Erina. Bukan sekedar kecupan ringan namun ciuman dalam yang terasa manis bagi keduanya.
⭐⭐⭐⭐