
"WHAT THE F***?! YOU'RE SON OF A B****! ARE YOU CRAZY?! HOW COULD YOU DO THAT TO HER? SHE'S YOUR BESTFRIEND!"
⭐⭐⭐⭐
Ardian hanya mampu menahan pedih di pipinya akibat tamparan Alexia. Ia sadar, ia pantas menerima tamparan tersebut. Bahkan bila nanti Erina menghajarnya hingga babak belur pun ia siap menerimanya.
"Ceritain semuanya ke gue, kapan hal itu terjadi. Kenapa elo melakukan itu ke dia?"
Ardian pun mulai menceritakan semuanya kepada Alexia. Mulai dari saat Yuna menelponnya, hingga akhirnya Erina mengusirnya dari apartemen. Alexia terhenyak mendengar cerita Ardian. Ia tak tahu harus berkomentar apa.
"Gue khilaf, Lex. Tapi itu juga gara-gara dia duluan nyium gue pas di club."
"Ya ampun, Di. Masa elo horny sama cewek mabok sih? Lagipula bukan baru kali itu kan elo lihat dia mabok. Jadi elo tau dong yang namanya orang mabok itu kelakuannya suka aneh," omel Alexia sambil geleng-geleng kepala.
"Tapi menurut gue orang mabok justru orang yang paling jujur. Dalam keadaan seperti itu, dia berani mengeluarkan perasaan yang sebenarnya," argumen Ardian. "Kalau bukan karena dia yang memulai, mungkin gairah gue nggak akan tersulut. Dua kali dia nyium gue penuh gairah. Elo pasti tau ciuman macam apa yang terjadi di antara kami."
"Ya.... tapi dia mabok Di. MABOK!"
"Iya, gue tahu dia mabok. Tapi apa yang dia lakukan sudah memancing gairah gue. Memangnya salah kalau gairah gue tersulut karena melihat tubuh mulus dia? Lex, gue ini pria normal. Gue sudah berusaha menahan, tapi bayangan saat bibirnya bersentuhan dengan bibir gue nggak semudah itu dilupakan. Gue ingin lagi dan lagi. Erin membuat gue lupa diri." Ardian membela diri.
"Oke.. oke.. Elo nggak perlu menceritakan secara detail apa kelanjutannya. Tapi elo tetap salah."
"Gue tahu gue salah. Gue terpengaruh bujuk rayu setan. Gue sudah gelap mata dan gue akan bertanggung jawab karena sudah merenggut kesucian dia."
"Cih, semua pelaku kejahatan pasti akan bilang begitu. Khilaf, gelap mata, lupa diri, terbujuk setan. Selalu itu yang menjadi alasan. Nggak usah pakai menyalahkan setan, karena tugas dia memang mengganggu manusia yang memiliki hawa nafsu di dalam dirinya. Tapi tetap saja gue nggak habis pikir kenapa elo bisa setega itu.
"Karena gue mencintai Erin. Gue nggak ikhlas melihat dia dimiliki oleh pria lain." jawab Ardian berbisik.
"Bukan cinta namanya kalau elo sampai merusak dia. Itu namanya nafsu setan!" sergah Alexia emosi. "Pantas saja suara Erina seperti habis menangis saat dia menelpon gue. Ya ampun, gue bukan sahabat yang baik buat dia. Gue nggak tahu kalau dia mengalami malam yang berat."
"Kita berteman bukan baru setahun dua tahun, tapi sudah sepuluh tahun lebih. Elo pasti tahu banget gimana sifat Erin. Dia nggak akan cerita apa masalahnya kalau memang dia nggak mau. Semakin didesak, maka dia malah akan menjauh," ucap Ardian.
"Nah, tuh elo tau kalau pertemanan kita bukan pertemanan singkat. Banyak suka duka yang sudah kita lalui bareng-bareng. Kita sudah seperti saudara yang saling menjaga. Kok bisa sih elo melakukan itu kepada dia, sahabat yang sudah lo anggap saudara. Bukannya menjaga dia, elo malah merusak dia," omel Alexia dengan geram.
"Sorry. Makanya gue akan menemui uncle Andrew dan meminta ijin beliau untuk menikah dengan Erin."
"Sumpah, gue speechless. Jalan hidup kalian seperti novel. Kalau gue bisa nulis, gue bakal bikin novel berjudul terpaksa menikahi sahabat."
__ADS_1
"Makanya kasih tahu gue, Erin ada dimana. Gue mau minta maaf dan membujuk dia untuk mau menikah dengan gue."
"Lo tunggu aja dia balik ke rumahnya. Kalau dia sudah bilang nggak mau bertemu, ya dia nggak akan mau bertemu kalian. Ya ampun, kasihan banget sahabat gue yang satu itu."
"Lex, gue benar-benar tulus mencintai dia. Bukan hanya karena gue sudah merenggut kesucian dia, tapi gue menyadari kalau gue nggak akan bisa melihat dia menghabiskan hidupnya bersama pria lain."
"Secara nggak langsung elo mensabotase pertunangan mereka?" tuduh Alexia. "Dengan merenggut kesuciannya itu sama artinya elo merenggut kebahagiaan yang mungkin akan diraihnya bersama Daffa."
"Terserah kalau elo mau beranggapan seperti itu. Justru karena gue sudah sangat mengenal Erin, gue yakin bukan Daffa jawaban kebahagiaan dia. Kalau memang dia meyakini kebahagiaannya adalah Daffa, lalu kenapa malam itu dia minum lagi?"
Alexia tak bisa menjawab pertanyaan Ardian. Apa yang Ardian katakan memang benar. Erina pasti kecewa makanya dia kembali meneguk cairan haram tersebut.
"Oh lord.. kenapa sulit sekali bagi Erin untuk menemukan kebahagiaan dalam urusan percintaan?" bisik Alexia prihatin.
"Gue yang akan membuat dia bahagia," ucap Ardian penuh tekad.
"Lo pikir dia akan bahagia setelah apa yang lo lakukan terhadap dia?" tanya Alexia emosi sekaligus sangsi.
"Entahlah. Gue hanya bisa memastikan bahwa gue akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan dia wanita paling bahagia di muka bumi ini. Yang gue tahu pasti kebahagiaan gue terletak pada Erin. Gue akan sangat bahagia bila dia bahagia" jawab Ardian.
"Apakah elo yakin bisa melakukan itu dan nggak akan menyerah walau seumur hidup Erin akan membenci lo?" Ardian mengangguk yakin.
"Saat ini tujuan hidup gue cuma satu. Kebahagiaan Erin."
"Elo sudah kasih tau pak Arga mengenai hal ini?" Ardian menggeleng. "Saran gue, lebih baik elo rundingkan dulu sama orang tua lo gimana baiknya. Tapi... memangnya lo berani jujur ke pak Arga dan uncle Andrew?"
"Gue nggak ada pilihan lain."
"Sumpah, gue nggak tahu harus bersikap bagaimana. Kalian berdua sahabat gue. Jangan paksa gue untuk memaklumi perbuatan lo kepada Erina. Kesalahan lo sangat fatal. Tapi gue juga nggak bisa melarang elo memperjuangkan cinta Erin. Gue cuma bisa berharap kalian akan menemukam solusi terbaik untuk masalah ini"
"Sekali lagi, please kasih tahu gue dimana Erin bersembunyi," bujuk Ardian.
"Sorry gue nggak tahu dia saat ini ada dimana."
⭐⭐⭐⭐
"Rin, pulanglah. Kalau memang kamu nggak ada masalah, kenapa kamu harus pergi dari rumah," bujuk Yuna melalui telpon.
__ADS_1
"Mom, Erin masih butuh waktu untuk berpikir."
"Daddy bilang, kamu sudah harus pulang saat Daddy kembali dari Texas."
"Tell him I'm sorry. I can't do that."
"Apa mommy suruh Ardian atau Daffa menemani kamu?"
"No mom! I don't want to meet them."
"Mereka selalu menanyakan kamu, sayang."
"Tolong jangan beritahu mereka dimana keberadaan Erin."
"Kamu bertengkar dengan Daffa? Kemarin jeng Yuna mengajak mommy bertemu, tapi mommy nggak bisa karena harus ke rumah eyang."
"Mom, tolong batalkan semua persiapan pernikahan Erin."
"What?! Kenapa sayang? Apa yang telah terjadi?" tanya Yuna panik. "Kalian bertengkar? Apa nggak bisa dibicarakan baik-baik?"
"I will tell you later. Yang terpenting sekarang ada stop semua persiapan pernikahan Erin."
"Rin, mommy harus membicarakan ini dengan jeng Yuna. Mommy nggak bisa begitu saja membatalkan semuanya. Kamu pulang dulu. Kita duduk sama-sama dan membahas masalah ini."
"Erin nggak bisa menikah dengan Daffa."
"Sayang, jangan mengambil keputusan apapun di saat kamu dalam keadaan emosi," nasihat Yuna.
"Mom, I'm just fine. I have my own reason to cancel my engagement."
"Apakah Daffa melakukan kesalahan fatal? Apakah dia selingkuh?"
"Please mom, jangan paksa aku untuk bercerita. I have my own reason to cancel our wedding. And it's the best decision for us." Selesai mengatakan hal itu, Erina menutup telponnya.
Yuna hanya bisa menatap ponselnya dengan perasaan tak karuan. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Ya tuhan, mengapa lagi-lagi anakku mengalami kegagalan dalam perjalanan cintanya? Apakah engkau menghukum dia? Kesalahan apa yang telah ia perbuat. Yuna hanya mampu menangis saat memikirkan Erina.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1