TAKLUK

TAKLUK
JATUH


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 10 malam saat Ardian dan Erina tiba di rumah Arga. Ya, hari itu Ardian membawa Erina pulang ke rumah orang tuanya setelah sebelumnya memberitahu Yuna mengenai hal itu.


"Gue mau pulang ke rumah daddy."


"Terserah," jawab Ardian pendek.


"Antar gue ke rumah daddy!"


"Gue capek," jawab Ardian lagi. "Silakan elo bawa mobil ini pulang atau elo boleh minta antar salah satu supir yang ada disini. Gue mau istirahat."


Lho, kok gue malah disuruh pulang sendiri. Bukankah tugas dia mengantar gue? Kenapa malah dia suruh gue pulang sama supir? tanya Erina dalam hati.


"Kenapa elo ajak gue pulang kesini?" tanya Erina sambil mengekori Ardian.


"Apa bedanya? Karena elo istri gue, maka rumah ini adalah rumah lo juga," jawab Ardian sambil terus berjalan memasuki rumah.


Di ruang keluarga tampak Amelia sedang menonton televisi sementara Arga membaca buku.


"Malam ma, pa," sapa Ardian lalu menghampiri keduanya untuk mencium tangan mereka. Setelah itu ia ngeloyor naik ke lantai atas menuju kamarnya.


"Ardian, antar gue pulang!" seru Erina setelah bersalaman dengan mertuanya. Ia setengah berlari mengejar Ardian yang tampak tak peduli.


Amelia dan Arga saling berpandangan melihat interaksi antara Ardian dan Erina. Sepertinya mereka sedang bertengkar.


"Gue sudah bilang, pulang aja sendiri. Gue mau istirahat. Besok pagi gue ada meeting di perusahaan om Arya."


"Nggak bisa gitu dong. Tanggung jawab lo sebagai suami untuk mengantar istrinya. Apalagi ini sudah malam," seru Erina kesal. "Mana janji lo yang bilang akan mengurus gue?!"


"Apa salahnya sih menginap disini? Ini kan rumah lo juga!" balas Ardian kesal. Keduanya berdiri berhadapan di puncak tangga. "Gue sudah memenuhi janji mengurus elo, istri sekaligus ibu dari anak-anak gue. Tapi apa yang terjadi akhir-akhir ini membuat gue sadar apa yang sudah gue lakukan buat kalian nggak ada artinya sama sekali!"


Arga dan Amelia mengernyitkan dahi mendengar pertengkaran anak-anak mereka. Amelia hendak berdiri namun ditahan oleh Arga.


"Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri."


"Tapi bagaimana kalau pertengkaran ini berujung perceraian? Aku nggak mau mereka bercerai. Mereka sudah beberapa lama seperti ini."


"Tenang saja, nggak akan semudah itu Ardian menceraikan Erina. Dia sangat mencintai Erina dan anak-anaknya." Keduanya terdiam saat mendengar pintu kamar dibanting. Mereka tak tahu siapa yang melakukan hal tersebut.


Sementara itu Erina masih mematung di depan kamar Ardian setelah Ardian membanting pintu di hadapannya. Kenapa Ardian berubah? tanya Erina dalam hati. Apakah aku salah kalau hingga saat ini masih belum bisa memaafkan dan mencintai dirinya?

__ADS_1


"Ardian, antar gue pulang!"


"Nggak mau!" balas Ardian dari dalam kamar.


"Gue mau pulang!"


"Pulang aja sendiri!"


"Oke, kalau elo ngga mau antar gue ke rumah daddy, gue akan telpon Daffa untuk menjemput gue," gertak Erina.


"Silakan! Gue yakin dia nggak akan muncul untuk menyelamatkan elo." balas Ardian.


"Elo jahat!"


"Biarin!"


"Ceraiin gue!"


"Nggak mau!"


"Gue benci elo!"


"Biarin!"


Sementara itu di dalam kamar Ardian merebahkan dirinya di atas ranjang namun ia tetap memasang telinga untuk mendengarkan istrinya. Hmm.. kenapa tiba-tiba sunyi? Apakah ia benar-benar akan menelpon Daffa untuk menjemputnya?


Arga dan Amelia tetap memasang telinga untuk mendengarkan pertengkaran keduanya. Mereka heran mengapa tiba-tiba di atas sunyi.


"Pa, apa nggak sebaiknya kita bujuk mereka untuk berbaikan?" tanya Amelia khawatir.


"Kita tunggu saja sebentar lagi."


"Tapi pa, Erina sedang hamil. Nggak baik seorang ibu hamil emosi seperti itu. Nggak baik untuk janinnya. Mama yakin mereka berdua sama-sama lelah. Namun keduanya memiliki gengsi yang tinggi."


"Mereka berdua harus belajar menahan emosi. Sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua. Mereka harus belajar menyelesaikan permasalahan tanpa emosi," ucap Arga. Sebenarnya ia juga khawatir, tapi ia tak menunjukkan hal itu di depan sang istri.


"Di, please antar gue pulang. Gue capek."


"Nggak mau. Gue juga capek! Kalau elo mau istirahat ya masuk aja kesini," jawab Ardian. Ia tak berniat membuka pintu kamarnya. Biar saja Erina yang memutuskan hendak masuk ke kamar atau tidak.

__ADS_1


"Oke, gue akan pulang sendiri! Tapi ingat jangan anggap gue sebagai istri lo lagi! Dengan elo membiarkan gue pulang sendiri itu artinya elo melepas gue untuk selamanya! Jangan pernah elo menemui gue lagi baik di rumah ataupun di kantor. Anggap pernikahan kita sudah selesai!"


Lho, kenapa jadi serius banget? Ardian terkejut mendengar ucapan Erina. Bukan ini yang gue mau. Gue benar-benar capek, tapi gue nggak ada niatan melepas Erina sama sekali. Bukan hanya Ardian yang terkejut, kedua orang tuanya juga terkejut mendengar ucapan Erina. Apakah Erina benar-benar akan mengakhiri pernikahan ini?


"Besok gue akan kirim lawyer kesini buat urus perceraian kita!"


Erina bergegas turun dengan langkah gusar. Saking kesalnya, ia tak memperhatikan langkahnya dan hilang keseimbangan saat menuruni anak tangga. Untunglah ia masih sempat berpegangan di tangga sehingga tubuhnya tak meluncur ke bawah. Sebagai akibat menopang tubuhnya yang sedang hamil, pergelangan kaki Erina terkilir. Erina menjerit kesakitan. Ia berpegangan pada railing tangga. Namun ia tak kuat menahan tubuhnya yang kini semakin berisi ditambah rasa sakit di kakinya. Akhirnya ia menyerah dan duduk di anak tangga.


Ardian yang mendengar suara jeritan Erina langsung keluar kamar dengan panik. Demikian juga dengan Arga dan Amelia yang langsung berlari mendekati Erina yang kini duduk di anak tangga akibat kakinya yang sakit.


"Rin, kamu kenapa?"tanya Amelia cemas.


"Ma, kaki Erin sakit banget," ucap Erina sambil berusaha berdiri namun ia tak sanggup karena kakinya benar-benar sakit. Erina meringis menahan sakit di kakinya.


"Rin, elo kenapa?" Ardian langsung berlari mendekati Erina. Wajahnya terlihat panik


"Di, sepertinya kaki Erina terkilir." ucap Arga. "Rin, kamu jangan berdiri dulu. Papa khawatir kamu jatuh kalau memaksakan berdiri."


"Rin, bagian mana yang sakit?" tanya Ardian sambil memeriksa Erina. Saat tangannya memeriksa pergelangan kaki kiri Erina, gadis itu menjerit. Dengan hati-hati Ardian mengangkat pipa celana Erina dan tampaklah pergelangan kaki Erina membengkak. "Pa, kaki Erin bengkak. Sepertinya pergelangan kakinya terkilir."


"Sssh... sakit," rintih Erina saat Ardian memeriksa kakinya. "Sakit banget, Di."


"Bagaimana pa?" tanya Ardian pada Arga. Ia tak tega melihat Erina meringis menahan sakit.


"Kita bawa ke rumah sakit supaya dapat penanganan yang tepat."


"Nggak usah pa," tolak Erina. "Paling cuma terkilir biasa."


"Kamu jangan keras kepala. Kalau cuma terkilir biasa kamu nggak akan kesakitan begini. Kita periksa ke dokter ya untuk memastikannya," bujuk Ardian sambil mengusap lembut kepala Erina. Hilang semua kemarahannya selama ini, berganti dengan rasa sesal dan kasihan melihat sang istri meringis menahan sakit.


"I'm okay Di. Gue sudah biasa terkilir saat sparing. Elo bantuin gue berdiri," pinta Erina. Ia mencoba berdiri, tapi gagal karena rasa sakit yang dahsyat di kakinya. Kali ini Erina tak sanggup menahan sakitnya. Tanpa ia sadari air mata meleleh di pipinya akibat sakit yang tak tertahankan pada kakinya.


"Jangan keras kepala sayang. Kita ke rumah sakit ya?" bujuk Ardian sambil menarik Erina ke dalam pelukannya. "Maafin gue. Kalau aja tadi gue menuruti keinginan lo untuk pulang ke rumah daddy, ini nggak akan terjadi."


Kali ini Erina tak dapat menahan diri. Ia menangis sesenggukan di dalam pelukan Ardian. Ia memukul dada Ardian dengan perasaan kesal sekaligus kesakitan.


"Elo jahat!" omel Erina sambil terus memukuli dada Ardian.


"Iya, gue jahat tapi gue cinta pake banget sama elo dan anak-anak kita."

__ADS_1


Arga dan Amel tersenyum melihat keduanya. Ardian membiarkan dadanya dipukuli oleh Erina yang masih terus sesenggukan di dalam pelukan suaminya. Tak terlihat sedikitpun rasa sakit akibat pukulan tersebut.


Ah, dasar anak muda.


__ADS_2