TAKLUK

TAKLUK
REKONSILIASI


__ADS_3

"Di, papa mau bicara. Tolong kamu datang ke sekolah siang ini. Ajak Erina." perintah Arga melalui telpon.


"Erina pasti sibuk dengan si kembar, pa. Bagaimana kalau nanti malam saja? Lagipula Ardi sudah terlanjur janji pada Nathalie untuk menemani dia mengurus visa."


"Nathalie? Siapa Nathalie? Ada hubungan apa kamu dengan Nathalie?"


"Nggak ada hubungan apapun, pa. Kami cuma berteman."


"Batalkan janjimu dengan dia dan bawa Erina ke sekolah. Biar nanti papa minta mama Amel ke rumah kalian untuk menjaga si kembar. Papa nggak mau kamu membantah ucapan papa kali ini." Arga langsung memutus pembicaraan


Baru saja selesai menutup telpon, tiba-tiba ponsel Ardian kembali berbunyi. Muncul nama Nathalie.


"Kak, nanti jadi kan menemani aku urus visa?"


"Eh kamu, Nat. Kayaknya siang ini kak Ardi nggak bisa deh menemanimu mengurus visa," jawab Ardian. Lama tak terdengar hingga akhirnya lamat Ardian mendengar isak tangis dari seberang sana.


"Nat, are you okay? Kamu kenapa menangis? Maafin aku. Mendadak papa memanggilku ke kantornya siang ini. Aku nggak bisa menolak permintaan beliau. Dia ingin bertemu dengan diriku dan Erin."


"Kakak jahat! Kak Ardi cuma mementingkan kak Erin. Padahal kak Ardi sudah janji akan menemani dan membantu sampai tiba waktunya aku melanjutkan kuliahku." ucap Nathalie diselingi isak tangis.


"Aku nggak bermaksud mengingkari janji, tapi kakak benar-benar nggak bisa membantah perintah papa. Apalagi kayaknya ini ada hubungannya dengan kak Erin."


"Kak Erin, kak Erin... selalu nama ini kakak sebut! Kenapa sih kakak selalu mendahulukan dia dibandingkan aku? Harusnya kak Ardi menceraikan dia supaya kakak bisa fokus pada Nathalie."


"Nathalie! Apa maksudmu bicara seperti itu? Kenapa kamu bawa-bawa urusan cerai? Kenapa kamu menyuruhku menceraikan Erin? Sampai kapanpun aku nggak ada niatan menceraikan dia. Aku mencintai dia."


Tuut... tuut... tuut.. Nathalie memutus pembicaraan sepihak.


"Kenapa bos?" tanya asistennya.


"Nggak kenapa-napa. Oh iya, batalkan semua janjiku setelah makan siang. Aku harus menemui papa."


"Oke bos."


Ardian men-dial sebuah nomor namun tak diangkat. Ia mencoba lagi beberapa kali, hasilnya tetap sama. Tak dijawab. Ardian lalu mencoba menghubungi Amelia. Baru saja ia hendak memencet sebuah nomor tiba-tiba pintu kantornya terbuka. Brak.....

__ADS_1


"Di, kenapa papa panggil kita?" tanya Erina dengan suara terengah. Ia membanting dirinya di sofa yang ada di ruangan Ardian. Seolah ia baru saja menaiki ratusan anak tangga. Konyolnya Ardian bukan kasihan melihat istrinya ngos-ngosan, tapi malah tersenyum miring. Ada bayangan liar di kepalanya. Bayangan mengenai malam itu.


Ardian mendekati Erina yang masih mengipas-ngipas dengan majalah yang ada di atas meja. Wajahnya berkeringat. Bahkan di atas bibirnya terlihat butiran keringat. Ardian menatap lekat bibir yang setengah terbuka itu. Lalu ia mencium bibir Erina. Biarlah setelah ini gue digampar Erin. Paling tidak gue bisa merasakan manisnya bibir Erin, batin Ardian.


Erina yang mendapat serangan mendadak dari sang suami mencoba mendorong dada Ardian. Namun kini posisinya terkunci. Tubuh dan tenaga Ardian lebih mendominasi. Apalagi satu tangan Ardian menahan tengkuknya sementara tangan yang satu lagi memegang tangan Erina yang berusaha mendorong dadanya. Erina yang awalnya mencoba melepaskan tautan bibir mereka, lama kelamaan malah menikmati permainan bibir Ardian. Tangan yang tadi berusaha mendorong, kini malah mencengkeram baju sang suami.


Ardian merasa mendapat angin dengan sikap pasrah Erina. Perlahan ia mencoba mendesakan lidahnya ke dalam mulut Erina. Gayung bersambut, Erina membuka bibirnya dan membiarkan lidah Ardian dengan leluasa masuk. Ardian yang sudah berbulan-bulan menahan hasratnya, tak mampu menahan tangannya yang mulai bergerilya mengusap-usap punggung Erina.


Entah malaikat mana yang menyenggol pasangan suami istri itu, mereka menikmati pergulatan bibir mereka. Bahkan ******* kecil lolos dari bibir Erina saat tangan Ardian mulai meraba dadanya. Tiba-tiba ....


"Kak Ardian!" Nathalie menerobos masuk. Ia sangat terkejut saat melihat pemandangan yang ada di dalam kantor Ardian. Kini tubuh Erina berada di bawah tubuh Ardian.


"Ma-maaf bos, saya nggak berhasil menahan nona Nathalie yang memaksa bertemu," ucap asisten Ardian dengan gugup dan takut. Lalu ia segera keluar dari ruangan.


Erina langsung mendorong Ardian yang masih belum merubah posisinya. Ia buru-buru merapikan penampilannya yang ia yakini pasti berantakan. Ia merasa malu pada Ardian dan dirinya sendiri karena terlena dalam pusaran gairah. Masih teringat bagaimana mulutnya mengeluarkan ******* saat tangan Ardian meraba tubuhnya.


"Kak Ardian apa-apaan sih?!" tanya Nathalie kesal. Ia menatap marah kepada Erina. "Jadi gara-gara ini kak Ardian menolak menemani Nat?"


"Kamu kenapa mendadak kesini, Nat? Bukankah tadi aku sudah bilang kalau aku nggak bisa menemani kamu hari ini!" balas Ardian kesal.


"Di, gue duluan ke kantor papa. Kasihan kalau papa menunggu terlalu lama." Erina berdiri hendak meninggalkan Ardian, namun tangannya ditarik sehingga ia kembali terduduk di sofa.


"Kamu jangan kemana-mana, sayang. Kita sama-sama ke kantor papa," ucap Ardian sambil membelai pipi Erina.


"Sayang? Kak Ardian memanggil dia sayang? Dia itu nggak pantas dipanggil sayang! Istri seperti dia nggak pantas mendapat cinta kak Ardian!" jerit Nathalie marah. "Dia nggak cinta sama kakak! Cuma aku yang tulus mencintai kak Ardian!"


"Di, gue ....." Erina terlihat kaget melihat Nathalie menjerit marah.


"Sadar Nat, aku nggak pernah cinta sama kamu," jawab Ardian.


"Apa arti perhatian kakak selama kepadaku? Kak Ardian selama ini selalu meluangkan waktu untukku. Kakak selalu memperhatikanku. Bahkan aku bisa merasakan kakak menyukai kebersamaan kita!" ucap Nathalie di sela isak tangisnya. Sementara itu Erina merasa canggung melihat Nathalie menangis dan marah di hadapannya.


"Bahkan tak jarang kak Ardian bersikap mesra kepadaku. Kak Ardian nggak menolak kalau kupeluk. Apa arti kemesraan kak Ardian kepadaku kalau ternyata kakak nggak cinta aku?" tanya Nathalie. Kini matanya menatap Erina nyalang. "Kamu.. kamu nggak pantas memiliki lelaki baik seperti kak Ardian! Kamu nggak pantas memiliki anak dari dia! Lebih baik kamu menyingkir dari kehidupan dia!"


"Nathalie! Jaga ucapanmu!" bentak Ardian. Nathalie menatap Ardian marah.

__ADS_1


"Kak Ardian berubah. Gara-gara dia, kak Ardian berani membentakku."


"Nat, kakak nggak bermaksud membentakmu. Maaf kalau selama ini kamu sudah salah sangka dengan sikap kak Ardian. Selama ini aku hanya menganggapmu adik kecil yang harus dilindungi. Nggak lebih." ucap Ardian dengan nada lembut.


"Di, lebih baik gue yang pergi," ucap Erina pelan. "Gue duluan ke kantor papa."


"Nggak Rin. Kalau ada yang harus pergi, itu dia. Bukan kamu."


"Kak..... "Nathalie menatap Ardian tak percaya. "Kakak lebih memilih dia? Kakak memilih wanita yang tidak mencintaimu?"


"Tapi aku sangat mencintai dia." jawab Ardian tegas. "Dan di hatiku hanya ada tempat untuk dia dan anak-anak kami. Jadi kuharap kamu tak lagi menyalahartikan sikapku kepadamu."


Nathalie menatap nyalang Erina dan Ardian. Lalu dengan kesal ia meninggalkan ruangan Ardian sambil menghentak-hentakan kakinya.


"Di, sorry kalau gue hadir sebagai orang ketiga di antara kalian," ucap Erina pelan. "Benar kata Nathalie, gue bukan istri yang baik dan gue nggak pantas menerima cinta lo. Gue bisa lihat dia sangat mencintai elo. Dia lebih pantas menerima cinta lo."


Ardian menarik Erina berdiri lalu memeluknya erat.


"Cuma aku yang boleh menentukan siapa yang akan menerima cinta ini. Dan sejak awal aku sudah menitipkan cinta ini pada dirimu. Anak-anak kita adalah bukti cintaku padamu. Cuma tuhan yang bisa merenggutnya dariku."


"Walaupun gue belum bisa menerima cinta lo?"


"Kata siapa kamu belum menerima cintaku? Mungkin kamu belum menyadarinya atau bahkan mengingkarinya. Aku yakin Allah akan membantuku."


"Iih kepedean banget."


"Aku nggak kepedean. Ini buktinya." Ardian kembali memagut bibir Erina. Kali ini Erina langsung mengalungkan lengannya di leher Ardian dan membalas ciuman sang suami.


"Bestie with benefits?" tanya Erina setelah mereka melepaskan tautan bibirnya.


"As you wish my queen. Ayo kita temui papa sebelum dia mengirim orang-orangnya untuk menyeret kita ke sekolahan."


Keduanya meninggalkan kantor sambil bergandengan tangan. Langkah keduanya terasa ringan dengan adanya rekonsiliasi di antara mereka.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2