
Erina yang baru terbangun tak lantas membuka matanya. Tidurnya tadi malam lumayan nyenyak. Baru kali ini bisa tertidur lelap dalam kehangatan pelukan. WHAT?! PELUKAN?! Erina tak berani membuka matanya. Ia merasakan sebuah lengan yang mengganjal lehernya. Ia pun dapat merasakan kehangatan lengan yang memeluk pinggangnya. Bahkan di bawah sana kaki pria itu menjadikan dirinya sebagai guling.
ERINA AURELIA SMITH, YOU'RE SO STUPID! makinya pada diri sendiri. Oh my god, aku tertidur lelap dalam pelukan seseorang. Ia yakin seyakin yakinnya kalau telah berbagi ranjang dengan seorang pria. Pria asing yang ditemuinya di club. Tanpa membuka matanya ia merasakan kulit pria itu bersentuhan langsung dengan tubuhnya. Erina memberanikan diri membuka matanya sedikit untuk melihat ke balik selimut. Dan apa yang ia takutkan terjadi. Di bawah selimut itu tubuh mereka tak mengenakan apa-apa. Erina dapat merasakan nafas hangat pria tersebut di keningnya. Bahkan ia dapat mendengar dengkuran halusnya.
Pelan-pelan Erina mencoba bergerak menjauh. Ah, ia merasa sakit di bagian intinya. Erina kembali terkejut. Ia hanya mampu menahan jeritan yang akan keluar dari mulutnya dengan menutup mulutnya sendiri dengan tangannya. Ya tuhan, apa yang kulakukan? Apakah aku sangat mabuk sehingga berani melakukan one night stand? Pikiran dan perasaan Erina campur aduk. Apa yang harus kulakukan bila pria ini membuka matanya? Haruskah aku memukulinya? Atau apakah aku diam saja karena yang telah kulakukan sebuah kesalahan akibat mabuk? Tapi bagaimana dengan Daffa? Ingatannya pada Daffa membuatnya benar-benar terjaga.
Erina memberanikan diri melihat wajah pria yang memeluknya. Perlahan ia mengangkat wajahnya dan... what the ...... Erina tak melanjutkan makiannya karena ia melihat wajah tampan yang tak asing di hadapannya. Wajah Ardian. ARDIAN? WHAT?! GUE DAN ARDIAN?!
"ARDIAN PUTRO PRABUYUDHONO! DASAR BA*****N LO!" Kali ini Erina berusaha melepaskan diri dari pelukan Ardian. Dengan membabi buta ia memukuli dada Ardian yang sontak terbangun akibat teriakan dan pukulan Erina.
"DASAR B*****T LO! KURANG AJAR! LEPASIN GUE!!" Bukannya melepaskan pelukannya, Ardian malah memeluk erat tubuh Erina sehingga sulit bagi gadis itu untuk memukuli dadanya. "LEPASIN NGGAK?!"
"Rin, sabar! Please dengarkan gue dulu! PLEASE RIN!!"
__ADS_1
Ardian terus berusaha membujuk Erina yang masih terus memaki sambil memukuli dada Ardian. Merasa usahanya tak membuahkan hasil, akhirnya Ardian melakukan kenekatan. Ia bungkam bibir Erina dengan bibirnya sendiri. Tentu saja Erina tak begitu saja menyerah. Ia terus memberontak. Kembali Ardian melakukan tindakan nekat, ia berguling ke atas tubuh Erina sambil terus mencium sementara tangannya menahan kedua tangan Erina di atas kepalanya.
Ciuman yang awalnya untuk membungkam mulut Erina yang tadi memakinya, kini berubah menjadi ciuman penuh gairah. Tanpa Ardian sadari setan berhasil membujuknya melakukan perbuatan itu. Ciumannya yang penuh nafsu kini berpindah ke leher Erina. Saat bibirnya mulai menjelajah ke bagian lain, tiba-tiba ia mendengar tangisan yang keluar dari mulut Erina. Dueeeng!! Kesadaran tiba-tiba menyergap Ardian, membuatnya menghentikan semua kegiatannya dan melepaskan tangannya yang tadi menahan tangan Erina.
Ya tuhan, apa yang telah kulakukan, rutuk Ardian. Ia menjauhkan dirinya dari tubuh Erina. Dengan tergesa ia menarik selimut yang berantakan, agar menutupi tubuh Erina yang terekspos. Sementara itu ia duduk menjauh dari Erina. Ia bersandar pada headboard. Dengan kesal Ardian menjambak rambutnya sendiri sambil menutup mata. Lalu ia berkali-kali menampar wajahnya sendiri.
"Rin, maafin gue. Please maafin gue," ucap Ardian lemah sambil menatap Erina yang kali ini menyembunyikan tubuh polosnya di balik selimut. Erina tak menyahuti ucapan Ardian. Ia terus menangis di balik selimut. Ardian langsung meraih bathrobe yang semalam ia pakai, yang kini tergeletak di lantai. Ia menemukan pakaian dalam Erina yang ia buang sembarangan tadi malam.
Setelah beberapa lama Erina menangis di balik selimut, akhirnya hanya tersisa isakan lemah yang terdengar. Ardian yang kini duduk di kursi hanya mampu menunduk sambil terus menjambak rambutnya. Erina masih terus bersembunyi di balik selimut. Tiba-tiba ponsel Ardian berbunyi. Ardian mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas, namun panggilan tersebut terputus. Betapa terkejutnya Ardian saat melihat banyaknya miss call yang masuk sejak dini hari tadi. Dilihatnya nama Yuna dan Daffa di list miss call. Bahkan telpon terakhir yang masuk adalah nomor Daffa.
Ardian menaruh minuman yang dibuatnya di atas nakas. Di dalam kamar ia tak menemukan Erina. Sepertinya Erina di dalam kamar mandi. Ardian dapat mendengar bunyi shower yang dinyalakan. Ia mendengar teriakan kemarahan Erina dari dalam kamar mandi. Ardian bergegas mencari bathrobe lain dari dalam lemari. Untung saja ada. Ia letakkan bathrobe bersama pakaian dalam bersih di atas meja rias.
Sambil menunggu Erina keluar dari kamar mandi, Ardian merapikan ranjang yang berantakan akibat perbuatannya tadi malam. Di atas sprei ia melihat bercak darah. Sh**! Dasar ba*****n! kembali Ardian memaki dirinya. Ia telah memperkosa sahabatnya sendiri yang ternyata masih perawan. Ia tahu bagaimana prinsip Erina mengenai virginitas, namun ia pikir hal itu hanya ucapan belaka. Ia pikir dengan rencana menikah dengan Daffa, prinsipnya berubah. Tapi ternyata gadis ini benar-benar menjaga prinsipnya.
__ADS_1
Ya tuhan, elo benar-benar ba*****n Ardian! Ardian termangu menatap bercak darah tersebut. Lalu ia bergegas mengganti sprei dengan sprei yang bersih. Namun tak bisa dipungkiri di salah satu sudut hatinya ada rasa bahagia dan bangga karena dirinyalah yang berhasil merenggut keperawanan gadis yang dicintainya, bukan Daffa. Kuharap dengan kandasnya hubungan Erina dengan Daffa dan apa yang kulakukan tadi malam bisa membuat Erina menikah denganku.
Setelah selesai mengganti sprei dan merapikan kamar, ia masukkan sprei dan pakaian dalam Erina ke dalam mesin cuci. Ah, untunglah mesin cucinya cukup canggih, sehingga pakaian yang ia cuci semalam sudah kering. Diambilnya pakaian tersebut. Kusut. Ah, gimana caranya gue ke kantor?
Sementara itu di dalam kamar mandi Erina masih terus berdiri di bawah shower yang menyala. Ia masih bisa merasakan sakit di bagian inti tubuhnya. Dengan susah payah ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Ya tuhan, kenapa ini harus terjadi? Bagaimana aku bisa menghadapi Daffa? Daffa?! Ingatannya kembali pada pertemuannya semalam dengan calon suaminya itu. Ups, dia mantan calon suami. Erina menatap miris jari manisnya yang kini kosong. Ya, semalam ia memutuskan pertunangan mereka. Kembali Erina merasakan sakit di hatinya. Lagi-lagi Erina menangis sambil terus memaki dirinya.
"Rin!" Terdengar suara Ardian dan ketukan di pintu kamar mandi. Bukan ketukan tapi lebih mirip gedoran. "Are you okay? Please maafin gue. Please dengarkan penjelasanku."
Apalagi yang mau ia jelaskan? Apa kurang jelas yang telah ia lakukan terhadap diriku. Apa tubuh telanjang mereka di bawah selimut bukan bukti yang kuat atas apa yang telah terjadi. Ya tuhan, aku gagal menjaga keperawananku. Sebenarnya Erina bukan gadis lemah, namun ia pun hanya seorang gadis biasa yang dapat terpuruk dengan berbagai kejadian buruk yang ia alami. Apakah aku masih pantas hidup? Apakah tuhan tengah menghukumku? Apakah tuhan tak sayang padaku?
"Rin, keluarlah! Gue nggak mau elo sakit." Erina tak bergeming. Ia kini hanya mampu terduduk lemas di bathtub di bawah guyuran shower. Ia tak peduli tubuhnya akan sakit karena air dingin yang sedari tadi membasahinya. Ia merasa tak memiliki nilai sebagai seorang wanita. Ia ingin menghilang saja dari muka bumi ini. Ya tuhan, gue nggak kuat.
Sementara itu Ardian sudah mengabari Yuna dan Daffa tentang keberadaan Erina. Bahkan Daffa juga sudah menelponnya kembali. Pria itu ingin menjemput Erina namun ia cegah. Ia katakan pada Daffa kalau Erina saat ini tak ingin bertemu dengannya. Ardian lalu menggedor pintu kamar mandi. Sudah setengah jam lebih Erina berada di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Ardian mulai cemas. Terbayang kembali tubuh lemas Erina saat dulu mencoba bunuh diri. Ia takut gadis itu melakukan hal yang sama. Ardian mulai mengingat-ingat apakah ada benda tajam di dalam kamar mandi. Ia khawatir Erina berbuat nekat. Ardian kembali menggedor pintu. Tak lagi di dengarnya jeritan marah Erina. Yang terdengar hanya suara shower yang menyala. Karena pintu tak juga dibuka, akhirnya Ardian terpaksa menendang pintu tersebut. Benarlah. Ia menemukan Erina terkulai lemas di dalam bathtub dengan bibir membiru. Tanpa mempedulikan bajunya yang baru saja kering, Ardian mematikan shower lalu mengangkat tubuh polos Erina.
⭐⭐⭐⭐