
"Mungkin foto-foto ini tidak membuat anda percaya. Baiklah. Kita lihat bagaimana reaksi anda setelah mendengar cerita saya."
⭐⭐⭐⭐
Erina tetap mencoba menahan segala emosi yang mulai bergejolak di dalam dirinya. Tanpa menyahuti ucapan si princess blasteran, Erina malah menikmati saladnya. Sejujurnya, asam lambung Erina mulai memberontak saat melihat foto-foto itu.
"Sebaiknya anda berpikir ulang rencana untuk menikah dengan dia."
"Apa urusannya dengan anda?" Erina balik bertanya. "Bahkan saya tidak tahu apa hubungan anda dengan calon suami saya."
"Apakah anda tega merusak kebahagiaan mereka?" Gadis blasteran itu menunjuk foto yang ada di hadapannya.
"Bagaimana mungkin saya merusak kebahagiaan mereka? Sementara saya tidak mengenal siapa mereka." Erina menatap sinis lawan bicaranya.
"Mereka tanggung jawab calon suami anda."
"Kenapa calon suami saya harus bertanggung jawab terhadap hidup mereka? Bisa aja itu bukan foto calon suami saya, tapi hasil editan. Saya tidak tahu apa tujuan anda melakukan hal ini. Satu hal yang saya pasti, anda tak lebih dari seorang penipu."
Gadis blateran yang duduk di hadapan Erina tertawa dengan gaya elegan namun membuat Erina muak melihatnya.
"Karena calon suami anda telah merenggut nyawa orang yang kami sayangi. Dia telah membunuh ayah kami setelah sebelumnya memper**** gadis itu. Dia adalah adikku."
Lagi-lagi asam lambung Erina bergejolak. Erina sekuat tenaga menahan rasa sakit di ulu hatinya. Tangannya mengepal kuat sementara keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Namun ia tetap mencoba tak bereaksi dengan penjelasan gadis tersebut.
Sementara itu dari kejauhan Ardian menatap khawatir. Ia dapat membaca jelas reaksi Erina walau hal itu tak terlihat di permukaan. Tangan yang mengepal erat itu menunjukkan betapa gadis yang dicintainya menahan berbagai emoai dalam dirinya.
"Apa buktinya ucapan anda bukan kebohongan?" tanya Erina dengan suara sedikit bergetar. "Apa anda menginginkan uang? Atau mungkin justru andalah yang berperan sebagai perampas kebahagiaan orang?"
"Tunjukkan foto-foto ini pada dia. Tanyakan siapa Honey dan gadis kecil yang ada di dalam foto itu."
"Apa buktinya bahwa gadis kecil itu adalah anak dari calon suami saya?"
"Silahkan anda hubungi nomor ini. Kalau anda tidak percaya omongan saya, anda bisa menanyakan langsung kepada Honey." Gadis itu melemparkan secarik kertas bertuliskan sederet nomor. Nomor London, batin Erina.
__ADS_1
"Kalian ini tak lebih dari para penipu yang mencoba menggagalkan hubungan kami. Atau mungkin sebenarnya andalah yang tidak rela Daffa menikah dengan saya?" Gadis itu terkejut mendengar ucapan Erina. Bingo! Gadis ini menginginkan Daffa.
"Terserah apa pendapat anda. Tapi saran saya, sebaiknya kamu tanyakan langsung kepada Honey atau calon suami Anda mengenai kebenarannya. Selamat siang." Princess blasteran itu beranjak dari kursinya dan meninggalkan Erina yang masih terdiam di kursinya.
Ardian yang melihat princess blasteran itu pergi, buru-buru menghampiri Erina. Wajah gadis itu memucat. Bulir-bulir keringat terlihat di pelipisnya. Ardian langsung menarik Erina ke dalam pelukannya. Ditepuknya perlahan punggung gadis itu. Tangan dan tubuh Erina terasa dingin dalam pelukan Ardian.
Selama beberapa saat tak ada satupun yang bersuara. Ardian tetap memeluk erat tubuh Erina. Kini tubuh gadis itu tak lagi sedingin tadi. Pelukan Ardian memberikan kehangatan bagi Erina.
"Di, apa benar yang diucapkan wanita itu?" tanya Erina
"Apa yang wanita itu katakan? Siapa dia?"
Erina menunjukkan foto-foto yang tadi diberikan. Ardian mengambil foto-foto tersebut. S**t, siapa yang melakukan ini? Siapa wanita itu? Ardian memandang Erina dengan prihatin.
"Wanita itu kakak dari Honey, wanita yang ada di foto itu. Mereka itu siapa Di? Apakah Daffa sudah memiliki anak dan istri? Kenapa tadi wanita itu bilang kalau Daffa telah membunuh ayah mereka?" desak Erina.
"Gue nggak berhak menjelaskan ini semua. Sebaiknya elo tanyakan langsung kepada Daffa." Ardian berusaha mengelak.
Tak dipungkiri, hatinya merasa senang akhirnya kebenaran itu terungkap. Seandainya Erina tak bisa menerima masa lalu yang disembunyikan oleh Daffa, itu artinya ia memiliki kesempatan menggantikan posisi Daffa. Tapi di sisi lain ia tak tega melihat Erina mengalami kegagalan dalam bercinta. Ia khawatir Erina benar-benar tak percaya lagi pada cinta dan komitmen.
Ardian tak menjawab. Ia melepaskan pelukannya. Ia membuang pandangannya ke arah lain. Ia benar-benar tak tega mengatakan kebenaran itu.
"Jawab Di!" tuntut Erina. "Jangan bikin gue makin penasaran."
"Begitu menurut cerita yang gue dengar dari Brit. Detail kejadiannya gue nggak tau pasti. Elo bisa tanyakan langsung hal itu pada Daffa atau Brit."
Erina tak tahu harus berkata apa setelah mendengar perkataan Ardian. Yang kini ia rasakan adalah kekecewaan dan kesedihan.
"Yang gue dengar dari Brit, itu alasan sebenarnya mereka gagal menikah. Padahal saat itu orang tua Brit sudah tidak mempermasalahkan seandainya Brit pindah keyakinan."
"What?! Really? Daffa pernah bilang kalau penyebab mereka putus adalah perbedaan keyakinan. Daffa nggak pernah cerita kalau ia hampir menikah dengan Brit." Kembali Erina merasakan kekecewaan yang mendalam akibat ketidakjujuran Daffa.
"Rin, jangan ikuti emosimu. Pikirkan dengan kepala dingin. Tanyakan baik-baik pada Daffa." Ardian berusaha menenangkan Erina.
__ADS_1
"Di, temenin gue."
"Kemana?" Perasaan Ardian mulai was-was.
"Gue butuh minum."
"Jangan Rin."
"Di, percuma segala perubahan yang gue sudah lakukan kalau akhirnya gue dikecewain kayak gini." Erina memandang cincin berlian yang terpasang di jemari tangan kirinya. "Apakah hubungan ini pantas dilanjutkan bila tak ada kejujuran?"
"Jangan mengambil keputusan apa pun sebelum elo menanyakan langsung kepada Daffa. Elo harus dengar cerita yang lengkap dari Daffa, bukan dari orang lain."
⭐⭐⭐⭐
Daffa menatap ponselnya. Entah mengapa ada perasaan tak enak yang menggelitik hatinya. Ditambah lagi sejak pagi Erina tak bisa dihubungi.
"Bos, ditunggu meeting oleh pak Irwan." Haris mengingatkan Daffa yang sejak tadi hanya termenung menatap ponselnya. Bos mudanya terlihat gelisah dan tak fokus. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada kekasih bosnya?
"Ris, tolong hubungi ponsel Erina. Sejak tadi aku nggak berhasil menghubungi dia."
"Bos bertengkar dengan nona Erin?" tanya Haris hati-hati. Daffa
menggeleng lemah.
"Hubungan kami baik-baik saja. Tapi memang sejak aku keluar dari rumah sakit, kami belum pernah bertemu lagi."
"Mungkin nona Erin marah karena anda mengabaikan dia."
"Aku nggak mengabaikan dia. Kami tetap berkirim pesan atau saling menelepon. Kemarin malampun tak ada yang aneh dalam percakapan kami."
"Bos, bagaimana kalau nanti malam kalian menghabiskan waktu berdua? Anda dan nona Erin bisa diner. Saya akan reservasi tempat di restauran favorit kalian. Kalian perlu membahas situasi yang saat ini terjadi."
"Oke. Kamu reserved tempat. Beritahu Erin aku akan menjemputnya malam ini."
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐