TAKLUK

TAKLUK
JUST LET IT FLOW


__ADS_3

"Bukan itu syaratnya, Rin. Walau aku nggak akan menolak kalau kamu memang mau dicium." Daffa terkekeh melihat raut wajah Erina yang kebingungan. "Syaratnya adalah, weekend depan kamu ikut aku berlibur ke vila. Bagaimana?"


⭐⭐⭐⭐


Happy reading


"Minum, Rin?" Ardian mengulurkan segelas wine kepada Erina. Saat ini keduanya berada di balkon kamar Ardian.


Erina menggeleng sambil tersenyum. Sikap yang tak biasa hingga membuat Ardian heran. Dipegangnya dahi Erina. Normal.


"Lo kenapa? Sakit?" Erina kembali menggeleng. Dimainkannya kotak rokok yang sedari tadi dipegangnya. "Tumben nggak minum. Gue dengar dari uncle Andrew, elo mau berhenti minum. Kenapa? Disuruh Zafran atau Daffa?"


"Bukan keduanya. Gue memang mau berhenti minum," jawab Erina sambil tersenyum tipis.


"Baguslah."


"Di, menurut lo si Daffa itu orangnya gimana? Elo kenal keluarganya? Mereka moderat atau kolot?"


"Daffa? Kenapa tiba-tiba elo tertarik sama keluarganya?"


"Ya pengen tau aja. Gue cuma tahu kalau orang tuanya adalah salah satu pebisnis sukses di negara kita."


"Wait, elo serius sama dia?" Erina hanya mengangkat bahu.


"Mungkin."


"Wow, gue nggak nyangka kali ini elo sangat cepat move on. Padahal biasanya butuh waktu buat elo melupakan dan menjalin hubungan dengan yang baru."


"He's so different. Gue baru dua kali bertemu tapi dibuat terpukau dengan pemikiran-pemikiran dia."


"Are you really serious about him?" tanya Ardian penasaran. Kembali Erina hanya mengangkat bahu.


"Jawab dulu pertanyaan gue tentang orang tuanya Daffa. Elo pasti kenal mereka kan?"


"Gue dan Daffa memang sekelas waktu SMA dulu dan gue pernah beberapa kali main ke rumah dia. Tapi gue nggak mengenal terlalu dekat orang tuanya. Hanya beberapa kali ketemu."


"Menurut lo gimana?"


"Mereka baik dan ramah. Menurut gue mereka juga nggak kolot-kolot banget. Buktinya mereka nggak keberatan waktu Daffa menjalin hubungan dengan Britt yang notabene beda keyakinan."


"Satu lagi yang gue pengen tau. Kenapa waktu itu elo berniat menjodohkan gue dengan Daffa?"


"Entahlah. Nama dia terlintas begitu saja di kepala gue saat memikirkan siapa cowok yang akan gue suruh nge-date sama elo. Menurut gue dia cukup ok." Erina manggut-manggut mendengar cerita Ardian. "Pilihan gue nggak salah kan?"


"Semoga tepat."


"Wait.. wait... are you in love with him?"


"Is it important about love?" Erina balik bertanya.


"Menurut gue penting."


"Hmm..."


"Rin, elo kenapa sih? Kok hari ini beda banget?"


"Nggak apa-apa."


"Malam minggu double date yuk," ajak Ardian. "Gue mau ngenalian elo ke Giana. Biar dia tau kalau gue punya sahabat kayak elo."


"Sorry nggak bisa Di."


"Kenapa? Elo mau ngedate sama Daffa? Pas dong kalau gitu."

__ADS_1


"Gue mau ke vila sama dia."


"What?! OMG.. apa nggak terlalu cepat Rin?"


"Maksud lo?"


"Erina yang gue kenal nggak akan semudah itu menyerahkan diri kepada seorang lelaki. Sekian tahun elo mempertahankannya buat suami lo. Masa sekarang mau menyerah," ucap Ardian heran. "Jangan melakukan dosa lagi Rin. Tunggu sampai kalian sah dalam pernikahan."


"Oh my god... pikiran lo terlalu jauh Di." Erina tergelak.


"Elo mau ke vila dengan Daffa kan?" Erina mengangguk sambil tertawa.


"Gue memang mau ke vila dengan dia, tapi bukan untuk itu. Gue nggak sesinting itu. Gue juga tau norma-norma yang harus gue jaga."


"Terus ngapain elo liburan ke vila?"


"Dia mau ngenalin gue ke orang tuanya."


"Oooh ...... wait, wait.. ini serius? Kalian baru kencan sekali lho. Apa nggak terlalu cepat?"


"Nggak ada yang namanya terlalu cepat dalam sebuah keseriusan. Ini lebih baik daripada menunggu bertahun-tahun untuk dikenalkan kepada keluarganya."


"Lo beneran mau nikah sama dia?" tanya Ardian tak percaya.


"Maybe," jawab Erina singkat.


"Tapi kalian kan nggak... eh sorry, belum saling cinta."


"Tadi gue kan sudah bilang kalau cinta nggak terlalu penting. Gue sudah berkali-kali jatuh cinta dan berkali-kali dikecewakan oleh cinta."


Ardian terdiam mendengar ucapan Erina. Kali ini ia tak ingin membantah hal tersebut. Mengingat apa yang dikatakan Erina adalah sebuah kebenaran.


⭐⭐⭐⭐


"Insyaa allah bun," jawab Daffa.


"Bawa calon istri ya, mas," ledek Rinda yang kebetulan malam itu datang berkunjung dengan Boy, suaminya.


"Mas Daffa sudah punya calon istri?" tanya Boy penasaran. "Wah berita baru nih. Dijodohin ya bun?"


"Mas kalian ini mana mau dijodohin. Bukan sekali dua kali kami berusaha menjodohkan dia dengan anak-anak kolega ayah kalian. Tapi kalian tahulah gimana mas kalian ini," keluh Mira.


"Mas, kemarin ayah bertemu dengan mister Andrew."


"Mister Andrew, kontraktor yang sedang mengerjakan Prince Building?" tanya Daffa. Irwan mengangguk. Daffa tersenyum kecil.


"Kenapa senyum-senyum mas?" tanya Rinda ingin tahu.


"Anak kecil nggak boleh kepo."


"Mister Andrew cerita ke ayah kalau malam minggu kemarin kamu nge-date sama putrinya." Semua kepala langsung menoleh ke arah Daffa yang masih asyik menyuap nasi.


"Mas Daffa nge-date? Beneran mas?" tanya Rinda penasaran.


"Bun, mas mau tanya dong."


"Tanya apa mas?"


"Apakah bunda memiliki kriteria khusus untuk dijadikan menantu?" tanya Daffa.


"Mas, bunda nggak memiliki kriteria khusus calon menantu. Yang terpenting adalah mas bisa bahagia bersama pilihanmu."


"Kalau dia gayanya urakan dan nggak bisa masak gimana?"

__ADS_1


"Hmm.. kamu membicarakan putrinya mister Andrew ya mas? Siapa itu namanya? Kalau ayah nggak salah ingat namanya Erina. Benar mas?" tanya Irwan. Daffa hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Irwan.


"Namanya cantik. Orangnya pasti cantik ya mas?" Lagi-lagi Rinda ingin tahu.


"Yah, Erina yang waktu itu datang ke kantor?" tanya Boy. Irwan mengangguk. "Wah, kalau itu Boy setuju. Cantik banget, agak bule gitu walau agak jutek."


"Cantik mana sama aku?" tanya Rinda kesal karena sang suami memuji kecantikan wanita lain.


"Pastinya cantikan kamu dong, bidadariku," rayu Boy supaya istrinya yang sedang hamil tidak ngambek.


"Menurut ayah gimana?" tanya Daffa hati-hati.


"Sama seperti yang Boy bilang. Cantik. Tomboy. Dan setahu ayah dia wanita yang cerdas serta pekerja keras. Kebetulan yang meng-handle project kita si Erina itu."


"Beneran cantik, yang?" tanya Mira penasaran. Irwan mengangguk.


"Dia sering menemani mister Andrew ke acara-acara resmi."


"Kamu mau ajak dia ke vila?" Daffa mengangguk.


"Sebagai teman dekat atau sebagai... "


"Sebagai calon istri.... mungkin," jawab Daffa singkat. Sontak meja makan penuh dengan berbagai komentar.


"Mas, ada fotonya? Bunda penasaran ingin lihat. Jangan bilang kamu nggak punya foto dia."


"Sebentar bun. Nah ini dia, foto setelah kita diner." Daffa menyerahkan ponselnya kepada sang bunda. Sekejap saja ponsel tersebut telah berpindah tangan. Semua ingin melihat foto Erina.


"Wah, kalau ini malah lebih cantik dari kak Brit. Seiman kan mas?" tanya Rinda.


"Iya. Mister Andrew itu seorang mualaf," jawab Irwan.


"Wah, mas Daffa memang hebat kalau pilih pasangan," puji Boy. "Aku doain semoga jadi sama dia ya mas."


"Thanks Boy."


"Mas, kamu sudah lama pacaran sama dia? Kok nggak pernah kamu kenalin ke bunda?" tanya Mira penasaran sekaligus kesal.


"Jangan-jangan selama ini kalian menjalin hubungan tapi tidak memberitahu orang tua," tebak Irwan.


"Kami satu SMA tapi nggak pernah sekelas. Baru ketemu lagi saat reunian 3 bulan lalu."


"Itu kamu langsung pacaran sama dia?" Daffa menggeleng.


"Lalu?"


"Jangan-jangan mas Daffa baru sekali jalan sama dia. Benar kan mas?" todong Rinda.


"Benar begitu mas?" desak Mira ingin tahu.


"Iya bun."


"Kok bisa yakin dia yang akan jadi istri kamu? Kamu sudah naksir dia sejak SMA."


"Nggak juga. Bunda kan tahu kalau SMA aku cuma pacaran dengan Britt."


"Lalu apa yang membuatmu yakin?"


"Aku belum yakin 100%, tapi aku ingin mencoba. Lagipula kita kan nggak akan menikah minggu depan. Kami baru penjajakan. Tapi tujuan kami kurang lebih sama. Menikah."


Mira terlihat ragu. Irwan menggenggam tangan istrinya. "Biarkan dia mencoba, sayang. Bukankah dia sudah mencoba menuruti keinginan kita untuk mencari calon istri. Semoga saja mereka berjodoh."


"Terima kasih, yah. Daffa pun nggak tahu akan seperti apa hubungan ini berjalan. Kami hanya akan mengikuti seperti apa jalan ceritanya."

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2