
"Nggak, kamu nggak boleh makan bareng daddy dan mommy," cegah Erina. Tentu saja Yuna, bi Imas dan Ardian kaget mendengarnya.
⭐⭐⭐⭐
"Erin, kamu kok begitu? Ardian kan sekarang anak daddy dan mommy juga. Kenapa dia nggak boleh makan bareng daddy?" tanya Yuna sewot.
"Iya, kenapa sayang?" Ardian ikut bertanya.
"Dia nggak boleh kemana-mana. Dia harus nemenin Erin disini." ucap Erina tegas.
Yuna dan bi Imas langsung tersenyum maklum mendengar ucapan Erina, namun tidak begitu halnya dengan Ardian. Ia bingung dengan sikap Erina. Sekali waktu dia tak ingin didekati. Lain waktu dia tak mau ditinggal. Sama seperti tadi malam. Dia yang tak membolehkanku tidur di ranjang, namun tengah malam dia juga yang menyuruhku pindah ke ranjang. Dasar bumil aneh, batin Ardian.
"Maksudmu gimana, sayang? Kamu nggak mau jauh-jauh dari aku ya?" goda Ardian pada akhirnya.
"Ih ge-er banget lo! Bukannya elo yang bilang mau jadi suami siaga dan nggak mau jauh-jauh dari gue?" balas Erina tak mau kalah. "Kalau elo mau makan sama daddy dan mommy ya silakan saja, tapi gue nggak akan sarapan."
"Lho, kok gitu? Jangan gitu dong. Nanti kamu sakit."
"Sudahlah Di. Istrimu itu lagi pengen dimanja suaminya. Nanti biar mbok Siti antar makananmu kesini." Akhirnya Yuna menengahi sebelum perdebatan di antara suami istri itu semakin memanas.
"Nggak! Erin nggak pengen dimanja sama dia kok!" bantah Erina cepat. "Kan dia sendiri yang pernah janji akan urusin Erin."
"Iya, iya istriku sayang. Pagi ini aku akan menemanimu sarapan disini. Mau aku suapin?" tanya Ardian sambil menahan senyum.
"Ya ampun Erin, bilang aja kalau kamu butuh dia. Nggak usah gengsi," goda Yuna.
"Ih, mommy kok gitu sih?"
"Sudah, sudah. Mommy temani daddy sarapan. Mommy nggak mau lama-lama mengganggu pengantin baru. Ayo bi!" Yuna dan bi Imas kuar dari kamar sambil tertawa geli melihat sikap Erina yang jual mahal.
"Elo, ngapain senyum-senyum nggak jelas gitu?!" sengit Erina kepada Ardian.
"Sabar dong sayang. Masih pagi jangan marah-marah melulu. Nanti kalau kamu keseringan marah, anak-anak kita juga akan jadi pemarah. Ya sudah sini aku suapin ya."
"Nanti dulu. Itu masih panas. Elo mau membakar bibir gue?"
"Ya nggak mungkin dong aku bakar bibirmu. Bibir kamu itu enaknya di ...." Ardian memandang bibir istrinya yang pagi itu tampak menggoda.
"Apaan sih?! Nggak usah mesum deh!" omel Erina sambil memukul bibir Ardian dengan tangannya.
"Ouch.. sakit Rin. Daripada ditabok mendingan dicium. Sudahlah enak, dapat pahala tau!" gerutu Ardian sambil mengusap-usap bibirnya yang ditabok Erina.
"Pikiran lo tuh yang harus ditata. Masih pagi sudah mesum!" balas Erina tak mau kalah.
"Lho, wajar dong kalau pagi-pagi dapat morning kiss dari istri," goda Ardian sambil tersenyum jahil.
"Mau gue kasih morning kick?" ancam Erina galak.
"Kamu mau ajak aku sparing? Ayo, tapi di kasur ya." balas Ardian sambil tersenyum jahil.
"ARDIAN!!" Muka Erina merah padam karena marah plus malu.
"Maksudku, kalau sparing di kasur kan nggak membahayakan kandunganmu, sayang. Kalau di matras, kasihan kamu. Hayoo.. kamu mikirin apa? Jangan-jangan otakmu yang mesum," goda Ardian sambil menaikturunkan alisnya.
__ADS_1
"Tau ah! Gue nggak jadi makan." Erina mendadak ngambek.
"Eh, jangan begitu dong. Aku kan cuma bercanda. Masa begitu aja marah."
"Nyebelin!" Erina membuang muka. Namun apa daya, kali ini perutnya tak mau diajak kerja sama. Terdengar suara dari dalam perut Erina.
"Nggak papa aku dibilang nyebelin. Yang penting kamu mau makan. Kasihan tuh si kembar sudah mulai kelaparan." Kali ini dengan lebut Ardian kembali membujuk Erina. "Mau minum obat mualnya dulu?"
"Nggak usah. Sudah nggak mual lagi."
Erina menyantap bubur yang disuapi oleh Ardian.
"Elo nggak makan?" tanya Erina disela-sela suapannya.
"Nanti saja. Tunggu kamu selesai."
"Memangnya nggak kepengen makan ini?" tanya Erina sambil menunjuk mangkok yang isinya masih tersisa setengah.
"Mama Amel buatin itu untuk kamu dan anak-anak," jawab Ardian lembut. Tangannya terulur menghapus bubur di sudut bibir Erina. "Makan kok kayak anak kecil."
"Nggak usah modus." omel Erina. Tangannya tiba-tiba menekan sebuah nomor di ponselnya.
"Assalaamu'alaykum ma."
"Wa'alaykumussalaam sayang. Kamu sudah makan bubur yang mama kirim?" Ternyata Erina menghubungi Amelia. Ia menyalakan speaker ponselnya agar Ardian dapat mendengar pembicaraannya.
"Rin, ngapain telpon mama?" tanya Ardian heran. Erina tak menghiraukan pertanyaan Ardian.
"Ma, kata Ardian dia nggak suka bubur buatan mama."
"Erin bohong ma!" seru Ardian panik. "Ardian doyan banget kok masakan mama."
"Kalau memang doyan, kenapa dari tadi nggak makan bubur Manadonya?" tanya Erina.
"Lho, itu kan mama kirim buat kamu. Bukan buat aku, sayang."
"Mama kan kirimnya banyak. Semangkok besar gitu. Bisa buat makan 2 sampai 3 orang. Bilang aja kalau elo nggak doyan," balas Erina. "Ma, mama kirim bubur itu bukan cuma buat Erin kan?"
"Iya sayang. Mama kirim banyak biar anak mama juga ikut makan." jawab Amel. Dari suaranya terdengar ia menahan tawanya.
"Tuh kan. Dengar apa kata mama. Elo sengaja ya nyuruh gue ngabisin semangkok besar bubur supaya gue jadi gendut ya?"
"Ya ampun sayang. Aku nggak pernah punya niatan seperti itu. Aku cuma nggak mau ganggu makan kamu. Aku khawatir kalau aku ikut makan, nanti kurang. Kamu kan harus makan yang banyak karena masih ada 2 bayi di dalam kandunganmu," jelas Ardian. "Nanti aku ikut makan, deh. Beneran ma, Ardian masih doyan banget masakan mama."
Sementara itu disisi lain Amelia tergelak mendengar percakapan absurd Erina dan Ardian.
"Ma, Erin makan dulu ya. Nanti siang Erin mau ke rumah mama."
"Iya sayang. Kamu mau mama masakin apa?" tanya Amelia.
"Erin pengen makan udang saos padang yang pedas, ma. Tapi nanti Ardian jangan dibagi ya, ma."
"Oke. Nanti mama masakin buat kamu. Ardian nggak usah kita bagi."
__ADS_1
Ardian menatap memelas ke arah Erina. Terbayang lezatnya udang saos padang buatan mama Amel. Nasib, nasib.
"Buruan makan buburnya. Nanti keburu dingin." perintah Erina sambil menahan tawa. Entah kenapa sifat jahilnya muncul. Itulah sebabnya ia menelpon mama Amel.
"Oke, aku akan makan tapi setelah kamu ya. Satu suap kamu, satu suap aku. Bagaimana?"
"Aah lama banget sih. Siniin sendoknya!" ucap Erina tak sabar sambil merebut sendok dari tangan Ardian. "Buka mulut!"
"Kok jadi kamu yang nyuapin aku?" tanya Ardian.
"Nggak usah protes! Buruan buka mulut!" perintah Erina lagi. Mau tak mau Ardian membuka mulutnya dan menerima bubur yang disuapi Erina.
"Astagaaaa... Eriiiiin...." teriak Ardian kesal. Mulut Ardian megap-megap karena kepedasan.
Tak lama pintu kamar terbuka dan masuklah Yuna, bi Imas dan mbok Siti ke dalam kamar.
"Kenapa Ardian?" tanya Yuna kebingungan karena mendengar teriakan Ardian
"Kenapa den Ardi?" tanya bi Imas dan mbok Siti bersamaan.
Sementara itu Erina hanya nyengir tanpa rasa bersalah sambil memegang sendok. Ardian masih megap-megap kepedesan. Ia meminum teh hangat yang ada di hadapannya.
"Sssshhhh... aaaahh... ssssshhh... aaaah... nggak papa mom," jawab Ardian terbata-bata.
"Beneran kamu nggak papa?" tanya Yuna khawatir.
"Be-benar mom. Ardi nggak apa-apa."
"Kepedesan ya den?" tanya mbok Siti hati-hati sambil menahan tawa. Pasti non Erina ngerjain den Ardi lagi nih, batin mbok Ani.
"Sssshhh... aaaaahhhhh.... i-iya mbok," jawab Ardian.
"Sebentar mbok ambilkan susu UHT ya."
"Cemen amat sih. Makan segitu aja kepedesan." Dengan santai Erina memakan bubur yang sama. Rupanya tanpa sepengetahuan Ardian, Erina menuang semua sambal ke dalam bubur.
"Ini beneran pedas banget sayang. Memangnya kamu nggak kepedesan?" tanya Ardian.
"Biasa aja. Buka mulut lagi, biar gue suapin. Buruan! Katanya tadi mau makan bareng."
Ardian menoleh ke arah Yuna dengan wajah memelas. Yuna hanya bisa tertawa kecil sambil angkat bahu.
"Mommy pikir terjadi sesuatu."
"Katanya elo cinta sama gue. Coba buktikan." tantang Erina.
"Nggak gini juga caranya Rin. Kamu kan tahu kalau aku nggak terlalu kuat makanan sepedas itu." sahut Ardian dengan wajah memelas. Bibirnya memerah karena kepedasan.
"Ini kemauan si kembar. Katanya elo bakal nurutin keinginan si kembar." Erina mengeluarkan senjata pamungkas. Mau tak mau Ardian menuruti keinginan sang istri.
Sementara itu yang lain tergelak melihat Ardian pasrah dikerjai oleh ibu hamil yang sedang kumat jahilnya.
Ya tuhan, gini amat ya jadi suami siaga.🙈
__ADS_1
⭐⭐😅😅⭐⭐